Ji Ho sengaja mengambil jalan memutar dari kediaman Perdana Menteri agar
tak harus melewati hutan yang menjadi tempat eksekusi Young Hee dan Kyu Jong.
Keputusan yang diambilnya untuk berhenti sebagai pengawal Hyung Jun memang
berat. Dia bahkan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada tuan mudanya
nantinya di masa yang akan datang apabila ayahnya tak bisa menemukan pengawal
yang bisa bertahan dengan sikap kekanakan putra bungsunya itu. Namun Ji Ho
sudah berkeras untuk meninggalkan tempat itu. Hatinya tak bisa lagi dipaksa
untuk tetap tinggal disana dengan semua kenangan menyakitkan itu. Yah, paling
tidak ada Park Jung Min yang akan bisa menjaga Kim Hyung Jun dengan baik.
Sementara anak sulung Perdana Menteri sudah dewasa untuk menjaga dan bertanggung
jawab atas dirinya sendiri.
Ji Ho melanjutkan perjalanannya melewati jalan setapak sendirian. Dia sudah
bisa membayangkan ekspresi kaget ayah dan ibunya saat dia tiba di rumah nanti.
Ji Ho ingin kembali menjalani kehidupannya sebagai yeoja normal dan merawat
kedua orang tuanya yang sudah tua. Dia mengerling pedang yang ada di tangan
kirinya dan tersenyum kecut. Saat dia tiba di rumahnya nanti, Ji Ho memutuskan untuk menyimpan pedang ini dan tak
akan menggunakannya lagi. Mungkin nanti dia akan menemukan seorang namja yang
mau menerimanya apa adanya dan hidup bahagia sebagai seorang yeoja biasa dan
membesarkan anak-anaknya kelak dengan tenang dan juga melupakan kejadian
menyakitkan yang disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri. Itu juga alasan
kenapa Ji Ho ingin kembali ke rumahnya yang ada jauh dari Seoul. Jauh dari
kehidupan politik yang mau tak mau dijalaninya dengan segala konspirasi busuk
yang ada di dalamnya.
“Permisi. Apa anda Kim Ji Ho?” ji Ho menghentikan langkahnya dan berbalik
saat ada yang memanggil namanya.
“Siapa...”
Ucapan itu belum sampai selesai terucap saat sebuah sayatan dalam dari
sesuatu yang sangat tajam tiba-tiba muncul di bagian depan tubuhnya. Ji Ho
langsung ambruk setelah sebuah pekikan tertahan keluar dari mulutnya. Hanbok
yang digunakannya terkoyak dan darah mulai membasahi bagian depannya, merembes
hingga warna hanbok yang digunakannya berubah menjadi merah basah. Pedangnya
terjatuh begitu saja dan tergeletak di atas tanah.
“Singkirkan tubuhnya! Jangan sampai ada yang melihat!”
Sebuah suara namja yang berat terdengar.
“Ne!” sahut suara yang lain tegas dan tubuh Ji Ho yang berlumuran darah
diseret ke balik semak-semak dan dibawa masuk jauh ke dalam hutan yang rimbun.
****
Jung Min berjalan melewati sebuah pasar dengan jajaran kios yang sangat
padat di setiap sisinya. Dia sedang mendampingi Hyung Jun yang keluar untuk
mencari panah baru untuk berburu. Tuan mudanya berjalan dengan wajah sumringah
karena di sepanjang jalan banyak yeoja yang berbisik dan berkasak-kusuk
membicarakan keelokan wajah tampannya dan kulitnya yang begitu menyilaukan saat
tersinari matahari musim semi yang hangat. Jung Min hanya berjalan di
sampingnya tanpa mau ambil pusing sikap Hyung Jun maupun orang-orang di
sekelilingnya karena memang seperti ini jadinya kalau Hyung Jun keluar rumah
dengan jubah berburu dan tanpa menggunakan topi lebar kebangsawaannya.
“Hyung Jun ssi, tempatnya disini.” Kata Jung Min yang berhenti di depan
sebuah toko persenjataan yang terlihat megah di pasar tradisional itu.
Hyung Jun yang sudah melewatinya beberapa meter langsung berhenti dan
segera membaca plakat yang ada di atas pintu ganda toko.
“Oh! Kurae!” sahutnya seraya kembali ke depan toko lalu melangkahi
ambangnya dan masuk lebih dulu ke dalam disusul Jung Min.
Suasana peperangan segera menyambut mereka. Toko ini dipenuhi oleh berbagai
macam senjata seperti panah, pedang, tombak, belati, pisau kecil yang biasanya
beracun bahkan baju besi dan pelana kuda dari besi. Ruangannya cukup sempit dan
dijejali dengan semua peralatan yang di tata rapi di semua sisinya.
“Oh? Tuan Muda Kim.” Seorang namja separuh baya tergopoh menyambut Hyung
Jun dan Jung Min yang sudah berdiri di depan sebuah meja yang biasanya
digunakan untuk bertransaksi. Hyung Jun mengangguk sopan dan tersenyum simpul
pada namja itu. “Apa kiranya yang membawa anda datang kemari kali ini?”
“Aku mau panah yang baru, ahjussi. Yang paling baik kualitasnya.” Kata
Hyung Jun segera.
“Eh? Anda hanya berdua dengan pengawal? Dimana kakak anda?” tanya pemilik
toko itu ramah.
“Kakakku sedang sakit jadi dia di rumah.” Jawab Hyung Jun yang merasa agak
tak nyaman.
“Oh? Begitu?” ahjussi itu mengangguk paham.
“Jadi panah yang aku maksud, adakah?” tanya Hyung Jun lagi.
“Ne. Tentu saja ada. Tunggu sebentar. Silakan duduk. Aku menaruh benda seperti
itu di tempat khusus di belakang toko.” Jawab ahjussi itu senang hati. Dia
menghilang tak lama kemudian ke belakang toko sementara Hyung Jun mulai
mengelilingi bagian dalam toko itu untuk melihat-lihat benda yang dipajang
disana.
“Jung Min ah! Lihat ini!” panggil Hyung Jun. Dia menunjuk sebuah belati
kecil yang terbuat dari tembaga dan kuningan di salah satu sudut. Namun Jung
Min tak kunjung mendatanginya jadi Hyung Jun membalikkan tubuhnya untuk melihat
dimana Jung Min.
“Jung Min ah?”
Jung Min terdiam menghadap tembok yang di depannya terjajar beberapa buah
pedang. Hyung Jun heran dan dia menghampiri Jung Min yang mematung disana. Jung
Min sedang terbelalak tak percaya menatap salah satu pedang yang ada di antara
pedang yang dijajarkan itu. Hyung Jun mengikuti arah mata Jung Min memandang.
“Waekurae?” tanya Hyung Jun penasaran.
“Ini.. pedang ini.. saya mengenal pedang ini.” Jawab Jung Min
terpotong-potong.
“Nuga?”
“Pedang milik Ji Ho.” Kata Jung Min. Mata Hyung Jun membulat dan langsung
berpaling lagi ke arah pedang yang dimaksud Jung Min. Pedang yang sarungnya
berwarna ungu tua dengan gantungan giok hijau pucat.
“Jangan bohong.” Kata Hyung Jun tak percaya.
Jung Min langsung mengambilnya dan mengamatinya dengan lebih seksama.
Wajanya berubah menjadi tegang.
“Ji Ho tak pernah meninggalkan pedangnya kecuali saat dia tidur di malam
hari.” Kata Jung Min serius. Hyung Jun hanya diam. Bingung.
“Tuan Muda, ini panah yang anda inginkan.” Sebuah suara terdengar dari
belakang mereka dan keduanya langsung berbalik menghadap sumber suara. Ahjussi
pemilik toko sudah berdiri di sana dengan sebuah panah yang sangat bagus di
tangannya.
“Jogiyo!” kata Jung Min. “Pedang ini, darimana anda mendapatkannya?”
Si pemilik toko mengamatinya sebentar lalu segera tersenyum.
“Oh.. pedang itu tiba beberapa bulan yang lalu sesaat sebelum musim dingin
tiba. Seorang namja muda menjualnya padaku dengan harga yang sangat murah.
Pedang itu sangat baik dilihat dari segi kualitas dan bentuknya. Apa kau
tertarik?” ahjussi pemilik toko menjelaskan.
“Lalu darimana pemuda itu menemukan pedang ini?” desak Jung Min. Dahinya
bahkan berkerut saat bertanya pada namja separuh baya itu hingga namja itu
mundur selangkah.
“Di-dia bilang di hutan di pinggir kota.. pedang itu ditemukan diantara
semak..”
Jung Min berlari bahkan sebelum pemilik toko itu selesai dengan jawabannya.
Dia sudah melesat ke arah pintu dengan pedang ungu tua itu masih ada di
genggamannya.
“Jung Min ah!” panggil Hyung Jun yang kaget tapi Jung Min sudah tiba di
depan pintu dan segera menghilang ke jalanan. “Jung.. ah! Ahjussi! Tolong
simpankan ini untukku, kurae? Dan pedang itu juga. Aku akan membayarnya. Kalau
aku tak kembali hari ini, kau tahu dimana rumahku kan?” kata Hyung Jun
buru-buru. Tanpa menunggu jawaban, Hyung Jun ikut melesat keluar toko dan
mengejar Jung Min yang sudah agak jauh menuju arah hutan yang terletak lumayan
jauh di pinggir kota. Hyung Jun adalah pelari yang cepat juga dibalik sikap
kekanakannya dan dia bisa mengejar Jung Min tanpa tertinggal terlalu jauh.
Sementara Jung Min terus berlari dengan dua pedang di kedua tangannya. Dia
tak tahu mengapa tapi dia tahu ada yang tak beres. Ji Ho tak mungkin
meninggalkan pedangnya sembarangan di hutan seperti itu. Dia juga ingat benar
betapa keras kepalanya yeoja itu kalau sudah menyangkut pedangnya jadi mana
mungkin dia membuang pedangnya begitu saja. Lagipula sejak kepergiannya Jung
Min juga sama sekali tak pernah mendengar lagi kabar dari Ji Ho. Pikirannya
mulai kalut. Dia mendengar suara Hyung Jun memanggilnya beberapa kali di
belakangnya tapi dia tak peduli dan terus saja berlari.
“Andwae.. andwae..” ucapnya di tengan sengal nafasnya saat terus berlari
ketika pikiran-pikiran buruk mulai menyusup di kepalanya. Tidak! Dia harus
menemukan Ji Ho. Dia harus menemukan yeoja itu.
****
EPILOG
- -
Seoul saat ini -
Namja muda bertubuh agak berisi itu berjalan mendekati seorang yeoja yang
tertidur dengan kepala menempel di atas meja batu di tengah taman. Rambut
panjangnya menjuntai hingga menggantung di sisi meja dan melambai sedikit tertiup
angin. Tasnya tergeletak begitu saja di kursi batu yang ada di sampingnya tanpa
penjagaan dengan beberapa buku terlihat mencuat dari dalamnya.
“Young Hee ah!” panggil namja itu. Namun yeoja yang tertidur itu tak
bergeming. “Heo Young Hee!”
Namja itu mengguncang lembut tubuhnya dan Young Hee mulai bergerak.
Perlahan dia membuka mata dan mengangkat kepalanya lalu mendongak melihat siapa
yang membangunkannya dari tidur.
“Oh.. oppa?” sapanya dengan suara serak.
“Kenapa kau tidur disini? Bukannya oppa sudah memberitahumu tadi untuk
menunggu sebentar? Kenapa malah tidur?” tanya namja itu sambil duduk di kursi
kosong yang ada di hadapan Young Hee. Young Hee menepuk-nepuk wajahnya dan
menyibak rambutnya yang menutupi wajahnya yang hanya dihiasi make up sangat
tipis.
“Aku mengantuk sekali. Tugas kuliahku benar-benar membunuhku semalam.”
Jawab Young Hee malas. “Aku tak punya tenaga.”
Young Saeng tersenyum ketika melihat adiknya menguap lebar dan kembali
menempelkan kepalanya di atas meja. Dia tahu benar adiknya kelelahan dan nyaris
tak tidur semalaman karena tugasnya yang begitu bertumpuk.
“Oppa akan membelikanmu sesuatu kalau begitu. Tapi sebentar, kita harus
menunggu seseorang dulu disini.” Kata Young Saeng seraya mengeluarkan ponselnya
dari dalam saku celana lalu mencari-cari di layarnya.
“Siapa?” tanya Young Hee yang sudah mengangkat wajahnya kendati masih
terlihat sembab dengan lingkaran hitam di sekeliling matanya.
“Teman.” Jawab Young Saeng singkat. Dia sudah mengangkat ponselnya ke
telinga. “Eodiya?” sapanya pada seseorang di seberang telpon.
Young Hee juga mengecek ponselnya dan mendengus berat saat membaca sesuatu
di layarnya. Dia kembali meletakkan ponselnya begitu saja tanpa minat.
“Dia akan segera datang.” Kata Young Saeng. Kali ini dia melongok ke arah
jalan setapak yang mengarah ke pintu masuk.
“Temanmu yang mana lagi, oppa? Kenapa temanmu banyak sekali? Kapan kau akan
mengenalkan pacarmu padaku?” tanya Young Hee dengan suara bosan.
“Ch~! Pacar apa? Aku tak punya. Kau sendiri justru tak punya teman.” Ejek
Young Saeng seenaknya.
“Tentu saja aku punya!!” seru adiknya tak terima. Kali ini yeoja itu
menegakkan duduknya dan mulai merapihkan rambutnya, menyisirnya dengan jari.
“Oppa saja yang tak pernah mau bertemu dengan mereka. Oppa terlalu sibuk dengan
gadget dan games di rumah, lalu pergi entah kemana dengan semua temanmu yang
satupun sama sekali tak aku kenal. Bagaimana mungkin oppa tahu siapa saja
temanku?”
Young Saeng terkekeh. Poninya yang panjang menutupi sebagian dahinya turun
sampai ke mata saat dia tertawa mendengar adiknya mengeluh, memperlihatkan
lesung pipit khas yang muncul di kedua pipi chubby-nya.
“Young Saeng ah!”
Keduanya menoleh ketika mendengar suara namja lain memanggil nama Young
Saeng. Young Hee terkesima melihat orang yang baru saja tiba itu dan dia terus
memandangnya dengan tatapan kagum.
“Kau sudah datang? Hyun Joong ah?” sapa Young Saeng akrab. Dia langsung
berdiri dan memukul bahu namja itu pelan.
“Ne. Maaf terlambat. Dosen memanggilku untuk segera menyelesaikan
penelitianku tentang cerita rakyat yang berkembang disini yang sedang aku
kerjakan. Sudah lebih dari dua bulan dan masih sulit sekali mencari sumber
datanya mengingat cerita itu sudah lama sekali dan menjadi sejarah yang mulai
dilupakan oleh masyarakat.” Kata namja bernama Kim Hyun Joong itu panjang
lebar, tanpa basa basi. Wajahnya tampak lelah dan tak secerah Young Saeng.
“Kenapa kau tertarik dengan cerita yang sudah terlupakan?” tanya Young
Saeng penasaran. “Masih banyak cerita lain yang ada di Korea, kenapa kau justru
tertarik dengan cerita rakyat yang seperti itu? Kurang kerjaan!”
Hyun Joong mengangkat bahu dan mengedarkan pandang ke sekeliling taman.
“Entahlah. Tapi ada sesuatu yang membuatnya menarik. Cerita itu sangat unik
dan belum pernah diangkat sebagai bahan penelitian. Kalau aku berhasil
menemukan semua sumber data yang bersangkutan dengan cerita ini, pasti hebat
sekali dan aku akan mendapat nilai sempurna!” kata Hyun Joong menggebu-gebu.
Wajahnya yang manis terlihat mendadak lebih cerah dengan mata berbinar-binar.
“Ha!! Uri Hyun Joongie... kenapa kau tak meneliti tentang aliens saja?”
ejek Young Saeng.
“Kita mengambil jurusan Sejarah Korea, mana ada aliens di Sejarah Korea,
bodoh!” umpat Hyun Joong tak terima.
“Kurae! Kurae! Terserah padamu! Oh~ Hyun Joong ah! Kenalkan ini adikku,
Young Hee.” Kata Young Saeng.
Hyun Joong langsung mengalihkan pandangannya ke arah Young Hee yang sejak
tadi duduk diam mendengarkan pembicaraan kakaknya dan temannya yang baru saja
tiba.
“Oh? Adik Young Saeng?” tanya Hyun Joong datar.
“Ne!” jawab Young Hee canggung. Dia yakin Hyun Joong sempat menyadari
tatapannya tadi. Gadis itu berdiri dan segera menundukkan kepalanya sopan.
“Nama saya Heo Young Hee.”
“Aku berkali-kali memberitahumu kan tentang adikku. Dia mengambil jurusan
Sastra Inggris di Universitas Seoul.” Young Saeng menjelaskan.
“Kau pandai bahasa inggris?” celetuk Hyun Joong penasaran. “Bahasa yang
paling ruwet di dunia yang memakai alfabet itu?” Young Hee mengangguk kikuk.
“Wah! Kenapa kau tak mengajari kakakmu? Dia bodoh sekali dalam bahasa inggris.”
“Memang kau pikir kau bisa? Kau bahkan lebih bodoh daripadaku!” protes
Young Saeng. Wajahnya mengeras tak terima.
“Kurae! Kita sama-sama bodoh kalau begitu.” Kata Hyun Joong mengakui dengan
nada polos.
Young Hee tersenyum tipis mendengar kedua namja itu.
“Haish! Young Hee ah~ oppa akan membelikan minuman untukmu sebentar. Kau
tunggu disini dengan namja ini.” Kata Young Saeng.
“Oppa.. kenapa harus pergi?” cegah Young Hee agak bingung.
“Lihat wajahmu itu. Kau terlihat seperti panda yang lepas dari kandang.
Oppa akan belikan sesuatu agar kau lebih segar, kurae? Hanya sebentar. Disana
ada toko kecil.” Kata Young Saeng lagi. “Dan kau! Awas, jangan sentuh adikku!”
Hyun Joong mengangkat tangannya serampangan dengan gerakan seperti mengusir
Young Saeng tanpa suara. Young Saeng mendengus meremehkan dan dia segera
berlalu meninggalkan mereka berdua: Hyun Joong dan adiknya.
Diam.
Tak ada yang bicara diantara keduanya. Young Hee duduk dengan sikap
canggung sementara Hyun Joong sudah menarik sebuah buku yang terlihat sudah
sangat tua dengan lembar yang mulai menguning dari dalam tas ranselnya. Dia tak
memperhatikan apa yang dilakukan Young Hee.
“Bolehkah aku tahu... buku apa itu.. sunbaenim?” tanya Young Hee beberapa
saat kemudian dengan nada takut-takut.
Hyun Joong mengangkat wajahnya dan menurunkan buku tuanya. Young Hee
menatapnya dengan sikap malu-malu.
“Ini? Buku sejarah lokal yang tadi pagi aku temukan di perpustakaan kota.
Catatan tentang sejarah jaman Juseon ratusan tahun yang lalu. Sifatnya lokal
sih, bukan nasional.” Jawab Hyun Joong datar.
“Sejarah? Tentang apa?” tanya Young Hee lagi ingin tahu.
“Cerita rakyat yang terjadi beratus tahun yang lalu tentang Perdana Menteri
Kim dan kedua putranya. Yang jadi sorotan disini adalah kisah tentang anak
sulungnya.” Jawab Hyun Joong mulai antusias. “Kau pasti juga tak tahu tentang
kisah ini.”
Young Hee menggeleng.
“Aku sama sekali tak pernah tertarik dengan sejarah, sunbaenim.” Kata Young
Hee malu. “Selain bahasa inggris, aku hanya tertarik dengan seni.”
“Ah!! Arasseo. Kisah lokal seperti ini tak banyak disorot seperti kisah
yang terjadi di dalam istana ” Sahut Hyun Joong. Dia membuka-buka lembaran tua
buku yang ada di tangannya dengan sikap semaunya. “Kisah ini dulu sangat
terkenal di daerah ini sebagai cerita rakyat dan diceritakan secara
turun-menurun. Apa kau mau mendengarnya? Aku juga belum sempat membaca buku
yang satu ini sih.”
“Ne.”
Hyun Joong menatapnya dengan pandangan yang agak janggal. Dia menatap tepat
ke kedua mata Young Hee yang lebar, tak seperti kakaknya yang bermata lumayan
sipit.
“Agak aneh rasanya.” Kata Hyun Joong kemudian.
“Oh? Waeyo?” tanya Young Hee bingung.
“Bukan. Tapi ada banyak mitos tua di dalam kisah nyata berumur ratusan
tahun ini..” jawab Hyun Joong. “Tapi aku akan memberitahumu apa yang aku tahu.”
Young Hee menyimak dengan seksama sementara Hyun Joong sudah mulai
berdehem.
“Dikisahkan anak sulung perdana menteri yang sangat tampan.. oh, mwoya! Apa
harus disebutkan yang semacam ini? Memang setampan apa wajahnya dulu saat belum
ada kamera? Memang bisa dijelaskan setampan apa? Mana konfirmasi gambar
wajahnya?” Hyun Joong justru mengoceh sendiri hanya karena membaca satu kalimat
yang tertera di buku, membuat Young Hee mengernyit heran.
“Apa itu juga dijadikan pokok masalah dalam penelitianmu, sunbaenim?
Setampan apa wajah namja itu?” tanya Young Hee kebingungan.
“Tentu saja tidak.” Kata Hyun Joong. “Tapi.. ya sudahlah, kita lanjutkan
saja.”
Young Hee mengangguk paham.
“Anak sulung Perdana Menteri dijodohkan lewat seleksi para yeoja chaebol yang ada di seluruh Korea dan
terpilihlah seorang yeoja dari kalangan bangsawan keturunan pejabat dari Kwang
Ju. Yeoja yang terlihat sangat sempurna sebagai seorang istri dan sangat
anggun. Namun ternyata ada sesuatu yang membuat semua tak berjalan sesuai
rencana. Yeoja yang dijodohkan itu ternyata seorang penyusup. Dia puteri
seorang pejabat yang keluarganya tewas dibantai oleh orang-orang suruhan
Perdana Menteri untuk mendapatkan jabatannya dengan cara licik. Yeoja itu
menyusup untuk membalas dendam atas keluarganya dengan jalan menjadi bagian
dari keluarga sang Perdana Menteri yang jahat itu. Anak sulung mereka dan
adiknya yang juga sangat tampan.. jeongmal! Ini buku sejarah atau buku dongeng?
Kenapa dari tadi memuji-muji wajah anak Perdana Menteri itu? Memang di saat itu
tak ada namja tampan atau stok namja sangat terbatas disana?!” Hyun Joong
berhenti lagi sambil menggerutu kesal.
Young Hee menatapnya keheranan. Apa itu suatu masalah besar untuk Hyun
Joong?
“Jadi tentang konspirasi dan dendam.” Young Hee menarik kesimpulan.
“Ne. Cepat juga kau menangkap inti permasalahan.” Sahut Hyun Joong datar.
“Siapa nama anak sulung dan anak bungsu Perdana Menteri itu?” tanya Young
Hee penasaran.
“Belum aku temukan siapa namanya.” Kata Hyun Joong seraya membuka-buka
dengan asal buku tua yang ada di tangannya.
“Lalu? Bagaimana kisah selanjutnya?”
“Ah! Penyusupan itu akhirnya terbongkar dua hari sebelum pernikahan. Si
yeoja berniat untuk menghabisi anak sulung Perdana Menteri namun adiknya memergokinya
kendati tak bisa melakukan apapun. Namun ayah mereka ternyata juga sudah tahu
rencana calon menantunya itu dan menghabisi yeoja itu di depan mata kedua
puteranya tanpa ampun. Pernikahan dibatalkan.” Hyun Joong mengakhiri ceritanya.
“Lalu mitos yang tadi kau katakan, tentang cerita ini..”
“Mitos yang berkembang dan yang aku dapat dari para manula yang dulu masih
mendengar cerita ini secara turun menurun dari generasi sebelum mereka
mengatakan bahwa si yeoja itu berharap mereka bertemu di kehidupan yang lain
nantinya dan dia akan terus menunggu sampai entah kapan reinkarnasi
mempertemukan mereka di kehidupan yang lain.” Kata Hyun Joong. “Dan namja itu
sendiri akhirnya tak pernah hidup bahagia sampai akhir hayatnya.”
“Benarkah?” desak Young Hee yang terlihat begitu tertarik dengan cerita
Hyun Joong. “Sayang sekali.”
“Menurut sejarah, taman ini dulunya kemungkinan adalah letak rumah Perdana
Menteri itu dan tempat terjadinya pembunuhan terakhir yang disaksikan kedua
putranya.” Ujar Hyun Joong. Dia menegakkan diri dan mulai mengedarkan pandangan
ke sekelilingnya.
Young Hee ikut melihat ke sekeliling taman.
“Jadi pernah terjadi pembunuhan di taman ini?” bisiknya. Dia merasakan ada
sesuatu yang berdesir di dalam dadanya dan perasaan sedih yang terasa dingin
–yang sama sekali tak ada hubungannya dengan cuaca- tiba-tiba menyergapnya.
“Anak sulung Perdana Menteri akhirnya meninggal beberapa tahun setelah itu,
tak lama berselang dengan yeoja itu. Karena sakit. Penyakit yang tiba-tiba
dideritanya sejak kejadian di malam itu. walaupun akhirnya dia menikah dengan
seorang puteri selir, dia tak pernah menyentuh yeoja itu. Jadi mereka tak
mempunyai keturunan. Adiknya juga meninggal bahkan sebelum sempat menikah
karena diseruduk kijang yang ekornya ditariknya sendiri ketika berburu. Oh!
Mwoya! Sampai saat ini aku masih heran, cara mati macam apa itu?” kata Hyun
Joong. Dia mengernyit setelah mengatakan sebab kematian si anak bungsu Perdana
Menteri.
Diam.
Hyun Joong kembali membuka-buka isi buku tua yang ada di tangannya dan
mulai membaca dengan penuh minat. Young Hee juga tanpa disadarinya menjadi
tertarik dengan kisah yang baru saja diceritakan namja teman kakakknya itu.
“Kau sering kesini, sunbaenim? Ke taman ini.” Ujar Young Hee dengan suara
lembut.
Hyun Joong mendongak dari bukunya dan menatap Young Hee sekilas.
“Ne.” Sahut Hyun Joong antusias. “Sering sekali malah. Aku sering
mendatangi sudut yang jarang didatangi orang dan berharap menemukan sesuatu
disana. Peninggalan mungkin.. atau artefak yang mungkin berhubungan dengan
kisah ratusan tahun yang lalu itu. Tapi aku tak menemukan apapun. Kecuali satu
hal.”
“Satu hal?” celetuk Young Hee ingin tahu.
Hyun Joong mengangguk.
“Ada beberapa sudut yang sepertinya memiliki sesuatu yang rahasia dan
membuatku merasakan hal aneh. Semacam deja
vu. Seolah aku sudah pernah berada di tempat itu namun rasanya tempat itu
ada di dimensi lain yang pernah aku kunjungi. Tapi kenyataannya di depanku
hanya ada pohon dan area kosong.” Hyun Joong menjelaskan dengan raut wajah
serius.
“Kau bukan cenayang kan, sunbaenim?” gurau Young Hee. Gadis itu tersenyum
saat Hyun Joong menoleh kepadanya. Hyun Joong menatapnya selama beberapa saat
sebelum akhirnya dia kembali mengedarkan pandang ke sekeliling taman.
“Tentu saja bukan. Aku manusia normal.” Hyun Joong menanggapi dengan datar.
Young Hee mengangguk dan ikut mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman
sementara angin berdesir lembut di sekitar mereka. Hyun Joong sudah kembali
menekuni bukunya dengan sikap serius sementara Young Hee tenggelam dalam
pikirannya sendiri. Young Saeng belum kunjung kembali.
“Dan ada sebuah surat yang ditemukan... oh! Bagus! Aku menemukan surat yang
ditulis oleh namja itu! Ada disini! Semoga buku ini juga mencantumkan nama-nama
orang kuno yang mengalaminya.” seru Hyun Joong kegirangan.
Young Hee menoleh kepadanya dengan cepat, agak terlonjak mendengar seruan
Hyun Joong yang lumayan keras.
“Boleh aku mendengarnya?” pintanya sopan.
“Ah! Akan aku bacakan. Untung saja aku menemukan buku ini. Wah! Lengkap
sekali. Aku juga tak perlu mengartikan hanja, sudah ada hangul disini! Hanja
memnbuatku gila, sama gilanya dengan alfabet!” kata Hyun Joong bersemangat.
Dia mendongak dengan senyum terkembang di bibirnya. Young Hee terkesiap
melihat senyum di wajah Hyun Joong yang begitu menawan.
“Aku akan menunggu.” Hyun Joong memulai dengan suara yang lembut seperti
sedang membaca kisah roman. “Aku juga akan menunggu sampai kita bertemu di
kehidupan selanjutnya. Entah kapanpun itu, entah berapa kehidupan yang harus
aku lalui sebelum kita bisa berjumpa lagi, aku akan mencarimu. Aku tak pernah
bisa melupakan caramu tersenyum walaupun kau begitu membenciku... walaupun kau
telah banyak menderita karena keluargaku. Sampai saat kau menutup matamu di
hadapanku, aku yang bodoh ini tak sanggup berbuat apapun untuk menyelamatkanmu.
Aku hanya terdiam melihatmu sekarat, melihatmu menghembuskan nafas terakhir di
pangkuan Ji Ho. Aku hanya melihatmu tanpa sanggup menyentuhmu dan bahkan
berpaling dan pergi darimu begitu saja seperti seorang pengecut. Seharusnya aku
mengatakan sesuatu padamu. Harusnya aku mengatakan bahwa aku memiliki perasaan
yang sama padamu. Aku hanya orang bodoh yang tak sanggup mengakui perasaanku
sendiri dan bersembunyi di balik sikap dinginku padamu walaupun hatiku terus
mendorongku untuk mengakui perasaan hangat yang aku rasakan tiap kali aku
melihatmu. Aku terus menekan perasaan itu sampai aku benar-benar menyadari aku
kehilangan sesuatu yang begitu berharga yang aku tak tahu kapan muncul dan
tiba-tiba lenyap dari tanganku bahkan sebelum aku sepenuhnya menyadari hal apa
itu. Maafkan aku. Kini aku tak tahu bagaimana caraku untuk menemukanmu. Entah
kapan... tapi aku bersumpah bahkan setelah aku mati aku akan menemukanmu suatu
saat di kehidupan yang lain. Aku tak akan pernah menyerah pada takdir kita. Aku
akan membuatnya, kita akan menciptakan takdir kita sendiri. Penyesalan yang ada
di dalam hati kita akan menjadi awal bagi semuanya menuju sebuah takdir yang
baru dan aku percaya keyakinan ini tak akan pudar dan hilang walaupun akan tergerus
oleh waktu. Sampai saat itu tiba, aku tak akan pernah berhenti. Aku tahu kau
juga mengharapkan hal yang sama. Aku akan hidup sebagai orang lain, begitu juga
dirimu. Aku berharap ketika aku menemukanmu aku akan bisa memilikimu. Aku akan
memilikimu sebagai Heo Young Hee-ku dan kau akan memilikiku sebagai Kim Hyu...”
Hyun Joong berhenti dan mendongak menatap kaget Young Hee yang masih menatapnya
seksama dan ekspresi serius...
“Apa? Apa lanjutannya?” tanya Jung Hee sangat penasaran.
Hyun Joong menelan ludah dan menatap kembali lembar kekuningan itu tak
percaya lalu kembali mendongak kepada Young Hee.
“Kau bukan hantu kan?” tanya Hyun Joong dengan kening berkerut.
“Eh?” Young Hee sampai membuka mulutnya karena kaget bercampur bingung.
“Aku... aku akan memilikimu sebagai Heo Young Hee-ku...” ulang Hyun Joong
dengan suara yang tiba-tiba bergetar. Young Hee mengerjab. Ekspresinya berubah.
“Dan.. dan kau akan memilikiku sebagai... sebagai...” Hyun Joong berhenti lagi.
Menelan ludah lagi lalu membuka mulutnya. “...sebagai Kim Hyun Joong yang kau
inginkan.”
Keduanya saling bertatapan. Tak percaya. Bingung. Tak mengerti...
“Apa-apaan ini? Aku tak tahu kalau nama anak sulung Perdana Menteri sama
persis dengan namaku.” Hyun Joong berkata kikuk. Dia membuka-buka lembaran
kekuningan di tangannya dengan sikap sangat aneh sementara Young Hee terlihat
kebingungan.
“Apa tadi nama yeoja itu juga sama denganku? Heo Young Hee?” Young Hee
berkata lirih membuat Hyun Joong mengalihkan tatapannya dari buku kepada yeoja
yang duduk di hadapannya. “Kau pasti bercanda, sunbaenim.”
Diam.
Hanya terdengar suara desiran angin yang berhembus melewati dedaunan yang
ada di sekeliling mereka berdua...
NB: FINISH!!!! Tar OST nya lagu HJL yang "The Reason
I'm Livibg ya~~~~ \^o^/ hohohohoho
Bonus:
The Reason I'm Living
I blankly stand here, not able to
say anything
It feels crazy, you are coming to me
My heart rushed so much that I
laughed for a while like a fool
Actually, I have so much pain that I can’t easily open my heart to anyone
You really did it, you really
overcame a person like me
My one and only person, who made me not able to speak
The reason I live is you, only you
Everyone told me I can’t and I really couldn’t with you
When you tightly hold my hand, I
feel the reason I live
I live and live, the reason I live is you
Only my sighs have increased, it
presses down my heart every day
You’re not by my side so living is not like living at all
The closest sound to my heart beat
is your voice
The reason I live is you, only you
Everyone told me I can’t and I
really couldn’t with you
When you tightly hold my hand, I feel the reason I live
I live and live, the reason I live
is you
Born as a man, for all my life
I have never hung my head low but I thank you for being you
The reason I live, the reason I live
is you, it’s only you
Everyone told me I can’t and I really couldn’t with you
The tears in your eyes tell me,
let’s live, let’s live, let’s live
The reason I live…