“Jauh sebelum manusia diciptakan, malaikat dan setan sudah diciptakan lebih dulu dan semua hidup damai di surga. Sampai suatu saat, saat Tuhan berkehendak untuk menciptakan manusia sebagai pemimpin di dunia, ada salah satu malaikat yang tidak terima. Malaikat itu bernama Lucifer. Dia menganggap bahwa makhluk yang paling mulia dan paling kuat adalah malaikat. Dia membangkang dan akhirnya Tuhan mengurungnya di neraka, tempat segala pendosa berada. Tapi Lucifer bersumpah untuk tidak pernah tunduk pada manusia dan akan menghancurkan Adam dan keturunannya sampai hari kiamat tiba nanti. Dalam ajaran Islam, Lucifer dikenal sebagai Iblis, yang mempunyai segala cara untuk menghancurkan umat manusia dan mengajaknya masuk ke dalam neraka..”
Namja itu ikut menutup kitabnya saat pemuka agama yang berbicara di mimbar di dekat altar gereja itu menutup bukunya dan mengakhiri misanya dengan doa panjang seperti biasa. Seorang yeoja paruh baya yang duduk di sampingnya menjatuhkan kitabnya ke lantai tanpa sengaja dan sepertinya susah sekali bagi yeoja itu untuk mengambilnya. Lalu namja yang sejak tadi duduk di sampingnya membungkuk dan mengambilkannya untuknya.
“Terima kasih. Kau baik sekali, anak muda..” kata yeoja paruh baya itu kepadanya. Dan namja tersenyum sopan membalas pujian yeoja paruh baya itu.
“Jarang sekali untuk anak muda sepertimu mengikuti misa pagi seperti ini. Ahh, semoga Tuhan memberkatimu..” yeoja itu berdiri dari tempat duduknya dengan susah payah. Lalu berjalan menuju pintu keluar setelah mengucapkan salam hangat pada namja itu.
Para jemaat misa pagi sudah meninggalkan ruangan sebagian besar. Dan tinggal beberapa orang yang masih tinggal di ruangan itu. Termasuk namja itu. Namja itu masih duduk di sana, menatap ke ornamen kaca yang bergambar malaikat bersayap yang mengelilingi ruangan itu dalam diam. Beberapa orang terlihat menghampiri pemuka agama yang baru beberapa saat yang lalu memberikan ceramah agama dan masih berdiri di mimbar itu.
“Memang benar apa yang dikatakan pria tua di sana itu..” seseorang tiba-tiba duduk di samping tempat duduknya yang beberapa saat lalu kosong sekarang sudah ada yeoja muda berparas cantik di sana. Namja itu terlonjak kaget karena tidak menyangka yeoja itu tiba-tiba duduk di sana.
“Sudah selesai berdoa-nya?” tanya yeoja berambut panjang itu.
Park Jung Min mendesah panjang.
“Kau mengagetkanku..” katanya kemudian.
“Aku hanya ingin tahu caramu berdo’a seperti apa..” jawab yeoja itu.
Jung Min menatapnya penuh selidik.
“Bukankah hari ini ada pemeriksaan kesehatan? Kenapa kau membawa tubuh itu jalan-jalan ke sini?” tanyanya.
“Aku tahu. Kau mau tahu sesuatu? Yeoja ini sudah hampir pulih dari komanya. Kesadarannya sudah mulai kembali..” jawab yeoja di sampingnya itu.
“Lalu?” tanya Jung Min mau tahu.
Yeoja di sampingnya itu tidak segera menjawab. Dia terdiam untuk beberapa saat sambil menatap patung besar di dekat altar.
“Penggambaran manusia tentang Tuhan kadang terlalu sederhana. Kau juga percaya Tuhan seperti itu? Bisa digambarkan dengan patung seperti itu?” yeoja itu menunjuk patung besar di dekat altar.
“Tidak. Entahlah.. Ya! Apa sebenarnya yang ingin kau katakan tadi?” tanya Jung Min tak sabar.
“Kau sudah tahu masalahnya ‘kan? Kau bisa jadi manusia sepenuhnya, asal kau bisa menolong yeoja ini. Yeoja ini dijauhi orang-orang di sekitarnya karena melakukan kesalahan sepele. Dia ingin bunuh diri, tapi karena belum takdirnya untuk meninggal, Dia memberinya kesempatan untuk hidup. Dan tugasmu adalah, membuatnya kembali merasa dicintai..” ujar yeoja di sebelahnya dengan panjang lebar.
“Kalau aku tidak mencintainya?” tanya Jung Min.
Yeoja itu tersenyum geli menatapnya.
“Kau tahu siapa aku ‘kan? Aku Anael. Aku satu level lebih tinggi dibanding Cupid.. Cupid melakukan kesalahan dengan merubah takdir seseorang tanpa sengaja beberapa waktu yang lalu. Aku tidak pernah melakukan kesalahan sepertinya..” ujar yeoja itu. Jung Min tertawa kecut.
“Aku pikir malaikat tidak pernah berbuat kesalahan..” katanya.
“Yang tidak pernah melakukan kesalahan hanya satu. Dan dia adalah Yang Maha Tinggi..” sahut yeoja itu.
“Lalu kenapa kau tidak segera saja membuat aku jatuh cinta pada yeoja ini?” ujar Jung Min tidak sabar.
“Perasaan manusia tidak bisa dipaksakan begitu saja. Cinta itu akan tumbuh dengan perlahan-lahan. Ahh, dan pasti indah sekali nanti. Baiklah. Temui yeoja ini di rumah sakit. Aku pergi dulu..” yeoja di sampingnya itu menepuk bahunya keras sebelum akhirnya menghilang dari tempat itu dengan cepat sekali. Jung Min menatap sekeliling dan sepertinya orang-orang di sekitarnya tidak memperhatikan kedatangan maupun kepergian yeoja itu dengan tiba-tiba. Dalam hati dia bernapas lega.
Dengan helaan napas panjang, dia berdiri dari tempat itu dan berjalan menuju pintu keluar.
@ @ @
Hwang Va Ni sedang mengamati gaun pengantin yang dipajang di salah satu butik yang sedang dikunjunginya. Dia berencana akan melakukan fitting baju pengantin untuk pernikahannya yang akan dilangsungkan dua bulan ke depan. Dan butik ini adalah pilihannya, karena rekomendasi dari salah satu sahabatnya. Va Ni belum menentukan gaun seperti apa yang akan dia pakai nanti, karena dia belum mempunyai gambaran mengenai itu. Makanya dia pergi ke sini untuk melihat-lihat lebih dahulu. Semua rencana pernikahannya sudah benar-benar matang kecuali yang satu. Belum ada gambaran yang jelas tentang gaun macam apa yang akan dipakainya nanti.
Tapi Va Ni beruntung karena Yang Seung Ho tidak terlalu menuntut bagaimana dia harus melakukan semuanya menjelang hari pernikahan mereka. Va Ni tersenyum tipis. Hari ini memang dia sengaja datang ke sini tanpa mengajak tunangannya itu. Dia ingin memberi kejutan pada calon suaminya itu tentang gaun apa yang akan dikenakannya nanti saat hari pernikahan mereka.
Seung Ho oppa suka kejutan ‘kan? Batin Va Ni geli.
Dia melihat-lihat gaun-gaun yang dipajang di butik itu sambil sesekali memegangnya untuk mengetahui terbuat dari kain seperti apa. Seorang karyawan butik itu menemaninya dan menjelaskan beberapa gaun yang menarik perhatian Va Ni.
Pandangan Va Ni jatuh pada sebuah gaun berukuran panjang yang dipajang di etalase toko. Gaun itu mempunyai kesan anggun sekali. Dengan beberapa hiasan mirip mutiara kecil yang di bagian bawahnya. Kerah leher pendek serta bagian transparan yang menutupi bagian dadanya. Ada kerudung jaring yang terikat di kepala manekin itu, yang membuatnya terkesan cantik sekali. Va Ni tersenyum. Dia selalu memimpikan akan mengenakan gaun putih yang indah sekali di hari pernikahannya nanti. Gaun yang ada di etalase toko itu hampir sesuai dengan keinginannya itu.
“Apakah aku bisa memesan gaun yang seperti ini? Dengan ukuran yang lebih kecil mungkin?” tanya Va Ni pada karyawan butik itu yang berdiri di belakangnya.
“Tentu saja Anda bisa. Kami tinggal mengukur ukuran tubuh yang sesuai dengan bentuk tubuh Anda, Nona..” jawab yeoja berwajah bulat itu.
“Ah.. Kalau begitu, aku akan ambil yang ini saja..” kata Va Ni, seraya menunjuk gaun itu.
“Anda bisa langsung segera pergi ke ruang di sebelah, untuk mengukur ukuran yang sesuai..” kata yeoja karyawan itu.
“Oh, apakah aku bisa meminta sedikit modifikasi untuk gaunnya?” tanya Va Ni lagi. Yeoja itu tersenyum pada Va Ni.
“Designer kami akan dengan senang hati membantu Anda nanti..” jawab yeoja itu. Va Ni mengangguk seraya balas tersenyum ke arah yeoja itu.
Va Ni kembali melihat ke arah gaun yang ada di etalase toko itu. Beberapa orang melewati butik itu dengan acuh, walaupun sebagian ada yang tertarik dan mengerling sekilas untuk melihat ke dalam butik. Tapi beberapa hanya berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikitpun ke arah butik.
Ada seorang yeoja yang berbisik-bisik pada temannya seraya menunjuk gaun yang dipajang di etalase butik itu. Seorang yeoja lain lewat di depan butik tanpa menoleh sekilas ke arah butik dan membenarkan mantel musim dinginnya dengan rapat. Salju memang sedang turun di luar sana. Dan jalanan tampak memutih karena salju turun sejak pagi tadi. Tidak heran banyak orang mengenakan topi musim dingin untuk menghangatkan tubuh mereka di hari yang dingin ini.
DEG!
Va Ni tiba-tiba terpaku di tempat dengan cepat. Entah kenapa seperti ada yang menusuk ulu hatinya begitu saja. Matanya masih menatap etalase kaca dengan pandangan kaget luar biasa.
Apa yang aku lihat baru saja? batinnya takut. Sekarang seluruh perasaannya mulai berkecamuk tak menentu setelah matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di jalanan bersalju sesaat baru saja.
Dia masih berdiri di sana dengan sikap membeku dan mata terus menatap etalase toko.
Aku salah ‘kan? Ini hanya khayalanku saja ‘kan? Yang aku lihat tadi salah ‘kan? Batinnya kalut.
Dia mencoba menenangkan pikiran dan perasaannya yang mulai bergemuruh tak karuan.
Berkali-kali dia mencoba meyakinkan perasaannya sendiri.
Tapi aku sangat mengenal sosok itu. Cara berjalan. Perawakannya dari segala arah. Aku sangat mengenalnya.. Tapi aku juga melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.. Saat tubuh namja itu dikuburkan. Semuanya sangat terpatri dengan jelas dalam kepalaku..
Va Ni merasa merinding sendiri mengingat sosok yang berjalan sekilas melewati etalase butik ini tadi. Sosok yang sangat mirip dengan Kim Hyun Joong, yang sudah meninggal setahun yang lalu.
Tidak ada orang meninggal yang bisa hidup lagi ‘kan? Oke, Va Ni.. Jadi itu pasti orang lain..
Va Ni menarik napas panjang dan menghelanya pelan, meredakan segala perasaan kalut yang menyerangnya tiba-tiba tadi. Apakah dia masih se-shock itu sampai tidak bisa melupakan sosok yang seharusnya dia lupakan itu?
Va Ni menggeleng keras-keras seraya mengikuti karyawan butik tadi.
@ @ @
“Apa kau percaya berita yang beredar itu, Ezekiel?” Cassiel berdiri di samping Ezekiel yang sedang menyelesaikan tugasnya dengan tenang.
“Aku belum tahu pasti. Tapi saudara-saudara kita sudah membicarakan tentang itu..” jawab Ezekiel.
“Semua sudah mendengarnya. Berita tentang keturunan Lucifer yang turun ke Bumi itu..” kata Cassiel.
“Apa kita semua yakin kalau itu adalah keturunan Lucifer. Kita semua tahu kalau namja bernama Kim Hyung Jun itu satu-satunya nephilim yang dibiarkan hidup oleh-Nya karena dia mengabdikan dirinya untuk surga dan bekerja pada malaikat..” kata Ezekiel.
“Kau tahu kalau saudara kita Lucifer sudah jatuh terlalu dalam. Dia sudah jauh dari kodratnya sebagai seorang malaikat. Dia sama sekali tidak menggubris perintah dan laranganNya. Tidak heran kalau umat manusia di bawah sana menjulukinya Iblis..” kata Cassiel.
“Aku tahu, Cassiel. Tapi kalau memang ada keturunan Lucifer di bawah sana, dan dia belum dimusnahkan.. Itu adalah rahasia-Nya. Kita akan tahu jawabannya, kalau kita diperintahkan untuk memusnahkannya nanti..” sahut Ezekiel bijak.
“Aku hanya berpikir..” Cassiel tidak melanjutkan perkataannya. Dia terdiam untuk beberapa saat.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan, Saudaraku.. Serahkan semua pada keputusan-Nya..” kata Ezekiel dengan suara yang menenangkan.
Cassiel tahu seharusnya ini bukan menjadi tugasnya. Tapi sejak dia bergabung dan menjadi manusia, dia tahu banyak hal tentang dunia manusia. Dan dia tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada para manusia itu, meskipun itu adalah perintah-Nya. Tapi dia tidak mau membuat kesalahan lagi. Dia tidak akan ikut campur ketentuan yang sudah dibuat oleh-Nya lagi.
@ @ @
Saat membuka matanya untuk pertama kali, yang ada di hadapan yeoja itu adalah seorang namja yang tidak dia kenal, sedang duduk di kursi kosong di samping ranjang tempat dia berbaring saat ini. Kepala dan tubuhnya masih sangat lemah sekali untuk sekedar digerakan. Jadi dia hanya menatap namja itu dengan tatapan heran dan bingung. Bukankah seharusnya dia sudah ada di surga atau neraka? Tapi kenapa dia masih terbaring di atas ranjang dan masih bisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya?
“Anda.. siapa?” suaranya terdengar lirih sekali dan masih lemah.
Namja itu tersenyum dengan sopan dan ramah ke arahnya.
“Park Jung Min. Anda ditemukan tidak sadarkan diri setelah tertabrak mobil di jalan raya beberapa malam yang lalu. Maafkan saya.. Saya ceroboh mengendarai mobil sampai mengenai seseorang dan membuat Anda harus menginap di rumah sakit ini untuk beberapa hari..” jelas namja itu panjang lebar.
Park Gyu Ri mengernyitkan dahi bingung.
Seingatnya, dia bukannya tidak sengaja berjalan di tengah jalan raya seperti itu. Dia sendiri yang melemparkan diri di depan mobil yang sedang melaju dengan kencang itu. Dia bahkan ingat sekali saat tubuhnya terhempas ke tanah dengan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. Saat itu dia sudah merasa tidak ada harapan untuk hidup lagi. Tapi sekarang dia benar-benar terkejut saat tahu kalau dirinya masih terbaring di atas tempat tidur dan masih merasakan sakit.
“Anda yang membawa saya kemari?” tanya yeoja itu lagi.
“Ne. Tapi untunglah, Anda sudah sadar sekarang..” kata namja itu lagi.
Yeoja itu tidak mengucapkan apa-apa pada namja itu. Dia hanya menunduk dalam diam. Bukan ini yang dia inginkan. Rasanya dia ingin meneriakkan pada namja itu, kenapa dia harus menyelamatkannya? Tapi dia tidak bisa melakukannya. Mengingat namja itu sudah susah payah membawanya kemari dan membuatnya sadar dari koma.
“Terimakasih..” akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut yeoja itu.
Dia tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa mempercayainya sekarang. Semua orang yang dekat dengannya mulai meninggalkannya satu per satu, dan dia tidak punya apa-apa lagi. Apa yang bisa dilakukannya sekarang tanpa orang-orang yang mencintainya seperti dulu?
“Kalau Anda butuh bantuan.. Aku siap membantu..” suara namja itu membuyarkan lamunannya.
Gyu Ri menatap namja itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Terima kasih banyak..” dan lagi-lagi hanya itu yang terucap dari bibirnya.
@ @ @
Kim Hyung Jun sedang membalik berkas-berkas file yang akan digunakannya untuk presentasi saat sesuatu dalam kepalanya menyuruhnya untuk berhenti. Seseorang sedang bicara kepadanya. Di dalam kepalanya.
“Ya, Aragiel?” tanyanya dari dalam hati.
Aragiel adalah salah satu dari malaikat yang mempunyai tugas untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan di bumi.
“Kau sudah mendengar berita itu? Apa benar? Apa kau sudah bertemu dengannya?” suara Aragiel terdengar menggema dalam kepalanya.
“Berita? Tentang apa?” tanya Hyung Jun bingung.
“Tentang keturunan dari Lucifer yang berkeliaran di bumi..” jawab Aragiel.
“Apa? Aku bahkan baru mendengarnya sekarang. Apa ada seorang Nephilim lagi di sini?” tanya Hyung Jun kaget.
“Tidak ada seorangpun dari kami yang tahu tentang itu. Yang tahu hanya sepuluh malaikat utama, dan tidak ada seorangpun dari kami yang berani menanyakan tentang itu..” jawab Aragiel.
“Kenapa begitu?” tanya Hyung Jun lagi.
“Karena kalau kami tidak diberitahu tentang itu, itu artinya itu adalah rahasia-Nya..” jawab Aragiel.
“Tapi kenapa Dia membiarkan keturunan Lucifer berkeliaran di bumi ini? Bukankah itu artinya, dia akan menimbulkan bencana di muka bumi ini?” tanya Hyung Jun lagi.
“Kami belum tahu tentang itu. Tidak ada satupun dari kami bisa menemukannya. Mungkin karena dia adalah seorang keturunan malaikat dan manusia sepertimu. Jadi, dia bisa menyembunyikan kekuatan malaikatnya dari kami. Bisakah kau menemukannya?” kata Aragiel.
“Lalu membunuhnya?” tanya Hyung Jun segera.
“Tidak.. Jangan.. Dia hanyalah keturunan Lucifer. Bagaimanapun juga.. Dia terlahir dari seorang manusia. Temukan dia.. “ kata Aragiel kemudian.
“Lalu apa yang akan dilakukan para malaikat saat aku bisa menemukannya?” Hyung Jun kembali bertanya.
Aragiel tidak segera menjawab pertanyaannya.
“Kita akan tahu apa yang akan kami lakukan saat itu tiba. Tapi kalau memang benar kemunculan keturunan Lucifer adalah pertanda datangnya bencana, Azazel dan Raphael tidak akan tinggal diam..” jawabnya kemudian.
“Baiklah. Aku mengerti..” sahut Hyung Jun.
Lalu suara yang menggema dalam kepalanya itu menghilang begitu saja, meninggalkan ruang kosong di dalam sana. Hyung Jun membuka matanya seraya menghela napas panjang.
Keturunan Lucifer? Apa benar dia seorang Nephilim sepertinya? Sejak kapan malaikat bahkan tidak tahu tentang adanya keturunan Lucifer? Apa Lucifer sendiri yang membuat keturunannya tidak terlihat oleh para malaikat? Tapi bukankah dia sekarang sedang dikurung di bawah sana? Menunggu para pengikutnya untuk membuka segel neraka dan membuatnya terlepas dari kurungan itu. Tidak. Tidak mungkin. Neraka di bawah sana sudah dijaga oleh malaikat utama yang kuat sekali. Tidak mungkin seorang Lucifer yang sudah jatuh itu bisa mengendalikan keturunannya di muka bumi ini.
***
"Apa kabar yang kami dengar itu benar, Ketua? Bahwa ada keturunan Lucifer yang turun ke bumi ini?" tanya salah seorang dari orang-orang yang semuanya mengenakan tudung kepala berwarna hitam di ruangan yang miskin cahaya itu. Ruangan itu hanya diterangi beberapa lilin yang dinyalakan di meja mereka dan dibantu penerangan seadanya.
"Aku hanya mendengar dari bisikan-bisikan di sekitarku.. Yang Agung memberitahu itu kepada para pengikutnya.. Dan prajuritnya memberitahukan pada kita.." jawab seseorang yang duduk di kursi paling tinggi dan paling megah di ruangan itu.
"Jadi tugas kita sekarang adalah melindungi keturunan Yang Mulia Lucifer?" tanya salah seorang bertudung yang duduk di pojok ruangan.
"Iya.. Benar begitu, Saudaraku.." jawab sang Ketua.
"Bagaimana kita bisa melindunginya kalau kita saja tidak tahu seperti apa keturunannya.." suara seorang wanita terdengar di balik salah satu tudung kepala di ruang itu.
"Ada banyak cara, Saudariku.. Bagaimanapun juga, dia adalah keturunan manusia seperti kita.." jawab Sang Ketua dengan suara tenang.
Lalu mulai terdengar bisik-bisik di ruangan itu, tanda semua orang saling berbicara dengan suara pelan satu sama lain.
"Apakah Ketua sendiri sudah tahu siapa keturunan Yang Mulia itu?" tanya salah seorang laki-laki yang duduk tersembunyi di pojok ruangan.
"Masih belum. Tapi dengan bantuan pasukannya, aku akan segera mengetahuinya. Untuk itulah, kita harus menunjukkan kesetiaan kita pada Yang Mulia Lucifer.." jawab Sang Ketua.
Beberapa orang di ruangan itu terlihat mengacungkan sesuatu yang berbentuk cawan ke atas kepala mereka.
"Hidup, Yang Agung Lucifer.." seru mereka bersamaan.
"Hidup Lucifer!" seru mereka berkali-kali dalam ruangan yang sempit dan gelap itu. Suara mereka menggema di seluruh ruangan itu berkali-kali.
***
"Aku akan memberimu kekuatan dan kekayaan serta mengabulkan permintaanmu asal kau menuruti syarat yang aku ajukan.." ujar namja yang mengenakan hoodie tebal dan topi hitam yang hampir menutupi wajahnya kepada seseorang yang terlentang tak berdaya di atas lantai kotor dan dingin itu. Seorang namja paruh baya yang berpenampilan kusam dan kotor menatapnya dengan pandangan sinis.
"Kau pikir kau siapa, Anak Muda? Apa kau malaikat?" tanyanya skeptis.
"Kau bisa menyebutku begitu.." jawab namja itu dengan sikap tubuh yang tenang dan suara yang terdengar datar.
"Ch~! Malaikat.. Aku tidak percaya. Kalau memang malaikat benar-benar ada, Tuhan pasti akan memperingatkan mereka untuk membantu orang-orang seperti kami dari hidup yang sulit seperti ini.." jawab namja paruh baya itu.
"Tuhan sudah mati. Kau tahu artinya? Aturan Tuhan sudah tidak berlaku lagi di muka bumi ini.." kata namja bertopi yang wajahnya tidak kelihatan itu.
Namja paruh baya itu tidak menyahut dan menatap penuh ingin tahu ke arah namja yang berdiri di hadapannya tanpa menunjukkan wajahnya kepadanya itu.
"Sama saja. Tuhan ada atau tidak.. Dia tidak mendengar doa kami bertahun-tahun.." sahut namja paruh baya itu.
"Kalau kau ikut perkataanku.. Aku akan membuat hidupmu lebih baik.." ujar namja bertopi itu.
Namja paruh baya itu kembali menatapnya penasaran.
"Ikut perkataanmu.. apa?" tanyanya kemudian.
Namja bertopi di depannya itu tidak segera menjawab. Dia mengulurkan kedua tangannya ke depan. Lalu hanya dengan sekali hembusan napas, kedua tangannya mengeluarkan api yang menjilat-jilat. Namja paruh baya itu terbelalak kaget melihat pemandangan itu dan tidak bisa bicara apa-apa saking kagetnya. Lalu hanya dengan sekali kibasan tangan, api itu sudah berderik-derik di pojok ruangan, membentuk api unggun yang lumayan menghangatkan.
"Api itu akan bertahan sampai besok pagi. Tidak akan berkurang. Dan akan tetap membuat kalian semua merasakan hangat.." ujar namja bertopi itu.
"S-siapa.. kau?" namja paruh baya itu menatap namja di depannya dengan wajah pucat saking takutnya.
"Sudah aku bilang padamu.. Aku akan mengabulkan keinginanmu.. Aku bisa melakukan yang lebih dari ini," jawab namja bertopi itu.
"S-semuanya?" tanya namja paruh baya itu.
"Semuanya.. Tapi dengan satu syarat.." kata namja bertopi itu dengan segera.
"Eh?" namja paruh baya itu menatapnya ingin tahu.
Terlihat sebuah senyuman tipis di bibir namja bertopi itu.
"Kau harus tunduk pada Lucifer.." ujar namja bertopi itu dengan suara yang dalam.
***
Ezekiel dengan segera turun dan menghampiri Cassiel yang sedang membantu malaikat utama menyelesaikan tugasnya.
"Cassiel.. Kau sudah mendengarnya?" tanyanya Ezekiel dengan sedikit terburu.
"Mendengar apa?" Cassiel balas bertanya padanya.
"Aku baru saja mendengar Azazel dan malaikat utama penjaga neraka berbicara.." jawab Ezekiel.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Cassiel penuh ingin tahu.
Ezekiel balas menatapnya dengan pandangan tajam.
"Jiwa Kim Hyun Joong yang sudah dibawa Uriel.. Belum sepenuhnya terbawa bersamanya.." jawabnya kemudian.
Cassiel menatap Ezekiel tidak mengerti.
"Aku tidak paham apa yang kau maksud.." katanya kemudian.
"Itu artinya.. Ada jiwa lain yang masih di sana yang belum dibawa Uriel.." kata Ezekiel.
Cassiel makin tidak mengerti apa yang dibicarakan Ezekiel.
"Tapi bukankah kita sendiri melihat Uriel membawa jiwanya pergi saat itu.."
"Itu benar. Itu adalah jiwa manusianya.. Jiwanya yang satu masih ada di sana. Apa kau tidak mengerti maksudku, Cassiel?"
Cassiel terdiam untuk beberapa saat. Jiwanya yang satu? Jiwa yang belum dibawa oleh Uriel? Jiwa manusianya?
"Apa itu artinya...?" Cassiel menatap Ezekiel dengan kalimat yang belum diselesaikan.
"Dugaanmu benar. Mungkin dia adalah yang dimaksud keturunan Lucifer itu.." kata Ezekiel kemudian.
Untuk pertama kalinya sejak dia menjadi malaikat yang diciptakan tanpa perasaan dan hawa napsu, Cassiel merasakan sebuah ketakutan yang muncul begitu saja. saat dia mendengar jawaban itu.
Namja itu.. Adalah keturunan Lucifer???
***
Va Ni terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Dan tanpa dia sadari matanya juga ikut mengeluarkan air mata dengan sendirinya. Dia bahkan tidak sempat melirik jam mejanya hanya untuk sekedar melihat sekarang jam berapa. Dia terlalu takut dengan mimpi yang baru saja dia lihat.
Kedua tangannya mencengkeram selimut tebalnya dengan erat. Kelebatan mimpinya masih terlintas dengan jelas dalam kepalanya. Peristiwa saat kematian Kim Hyun Joong kembali melintas dalam kepalanya. Saat bagaimana namja itu terbujur kaku di atas ranjang dengan wajah datar seperti biasa. Saat dia melihat bagaimana namja itu dikubur dan akhirnya membuatnya berpikir itu adalah saat terpahit dalam hidupnya. Melihat namja yang sangat dicintai pergi dengan cara seperti itu selama-lamanya. Membuat Va Ni berpikir untuk berhari-hari setelah itu bahwa tidak ada lagi namja yang akan dicintainya.
Sebelum dia bertemu dengan Yang Seunh Ho, tunangannya yang sekarang dan membuatnya melupakan kenangan pahit itu.
Tapi malam ini mimpi buruknya kembali mengingatkannya tentang kenangan menyesakkan itu. Dan akhirnya membuatnya menangis dalam tidurnya.
Dia melihat Hyun Joong yang masih hidup menyatakan perasaannya padanya dan memintanya untuk menikah dengannya. Lalu tiba-tiba namja itu menjadi namja yang dingin dan angkuh dengan cepat sekali. Va Ni bahkan merasa takut sekali membayangkan wajah Hyun Joong yang menatapnya dengan pandangan dingin dan tajam seperti itu. Seolah ada sesuatu yang merasukinya.
Va Ni merasa tangannya gemetar luar biasa saat kembali mengingat kalau namja itu sudah pergi selama-lamanya. Mengingat kalau namja itu sudah berada di tempat yang tidak mungkin dia raih.
Tapi ketakutan kembali menyergapnya saat dia mengingat beberapa hari yang lalu.. Saat dia merasa melihat seseorang yang mirip sekali dengan Kim Hyun Joong.
Dan tanpa dia sadari, tangisnya kembali meledak mengingat semua perasaannya. Kalau sampai saat detik ini dia masih menyimpan perasaan yang sama pada namja itu. Yeoja itu kembali tergugu tanpa siara dalam tangisnya di kamarnya gelap itu.
Sementara salju di luar sudah mulai turun malam itu.