expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

OPENING

Opening

Blog ini berisi konten-konten terlarang.. Hehehe. Bo'ong, diiiing.. Blog ini khusus buat para Triple S dan orang-orang yang dengan sukarela menghargai karya orang lain.. Dikhususkan buat para penggemar fanfiction yang gak suka bashing dan suka menghargai karya orang lain. If you don't like it, JUST LEAVE THIS PAGE!! We don't need bashing.. Kalau kritikan, fine.. Tapi bukan untuk dicaci maki dan dihina. Jadi, sekali lagi.. We need your supports. Dan yang terpenting dari segala yang terpenting adalah.. DILARANG MENGCOPY TANPA IJIN APALAGI MENGKLAIM DENGAN SENANG HATI KALAU INI ADALAH HASIL KARYANYA. Semua yang ada di sini ditulis oleh kami sendiri. Bukan saduran maupun plagiat dari mana-mana. Atas perhatiannya. Saya ucapkan terima kasih..


NOTE: Komen dan kritikan dan saran saaaaangaaat ditunggu.. ^^

Author

Selasa, 24 Desember 2013

Fallen Angels (1) *season 2*

“Jauh sebelum manusia diciptakan, malaikat dan setan sudah diciptakan lebih dulu dan semua hidup damai di surga. Sampai suatu saat, saat Tuhan berkehendak untuk menciptakan manusia sebagai pemimpin di dunia, ada salah satu malaikat yang tidak terima. Malaikat itu bernama Lucifer. Dia menganggap bahwa makhluk yang paling mulia dan paling kuat adalah malaikat. Dia membangkang dan akhirnya Tuhan mengurungnya di neraka, tempat segala pendosa berada. Tapi Lucifer bersumpah untuk tidak pernah tunduk pada manusia dan akan menghancurkan Adam dan keturunannya sampai hari kiamat tiba nanti. Dalam ajaran Islam, Lucifer dikenal sebagai Iblis, yang mempunyai segala cara untuk menghancurkan umat manusia dan mengajaknya masuk ke dalam neraka..”
Namja itu ikut menutup kitabnya saat pemuka agama yang berbicara di mimbar di dekat altar gereja itu menutup bukunya dan mengakhiri misanya dengan doa panjang seperti biasa. Seorang yeoja paruh baya yang duduk di sampingnya menjatuhkan kitabnya ke lantai tanpa sengaja dan sepertinya susah sekali bagi yeoja itu untuk mengambilnya. Lalu namja yang sejak tadi duduk di sampingnya membungkuk dan mengambilkannya untuknya.
“Terima kasih. Kau baik sekali, anak muda..” kata yeoja paruh baya itu kepadanya. Dan namja tersenyum sopan membalas pujian yeoja paruh baya itu.
“Jarang sekali untuk anak muda sepertimu mengikuti misa pagi seperti ini. Ahh, semoga Tuhan memberkatimu..” yeoja itu berdiri dari tempat duduknya dengan susah payah. Lalu berjalan menuju pintu keluar setelah mengucapkan salam hangat pada namja itu.
Para jemaat misa pagi sudah meninggalkan ruangan sebagian besar. Dan tinggal beberapa orang yang masih tinggal di ruangan itu. Termasuk namja itu. Namja itu masih duduk di sana, menatap ke ornamen kaca yang bergambar malaikat bersayap yang mengelilingi ruangan itu dalam diam. Beberapa orang terlihat menghampiri pemuka agama yang baru beberapa saat yang lalu memberikan ceramah agama dan masih berdiri di mimbar itu.
“Memang benar apa yang dikatakan pria tua di sana itu..” seseorang tiba-tiba duduk di samping tempat duduknya yang beberapa saat lalu kosong sekarang sudah ada yeoja muda berparas cantik di sana. Namja itu terlonjak kaget karena tidak menyangka yeoja itu tiba-tiba duduk di sana.
“Sudah selesai berdoa-nya?” tanya yeoja berambut panjang itu.
Park Jung Min mendesah panjang.
“Kau mengagetkanku..” katanya kemudian.
“Aku hanya ingin tahu caramu berdo’a seperti apa..” jawab yeoja itu.
Jung Min menatapnya penuh selidik.
“Bukankah hari ini ada pemeriksaan kesehatan? Kenapa kau membawa tubuh itu jalan-jalan ke sini?” tanyanya.
“Aku tahu. Kau mau tahu sesuatu? Yeoja ini sudah hampir pulih dari komanya. Kesadarannya sudah mulai kembali..” jawab yeoja di sampingnya itu.
“Lalu?” tanya Jung Min mau tahu.
Yeoja di sampingnya itu tidak segera menjawab. Dia terdiam untuk beberapa saat sambil menatap patung besar di dekat altar.
“Penggambaran manusia tentang Tuhan kadang terlalu sederhana. Kau juga percaya Tuhan seperti itu? Bisa digambarkan dengan patung seperti itu?” yeoja itu menunjuk patung besar di dekat altar.
“Tidak. Entahlah.. Ya! Apa sebenarnya yang ingin kau katakan tadi?” tanya Jung Min tak sabar.
“Kau sudah tahu masalahnya ‘kan? Kau bisa jadi manusia sepenuhnya, asal kau bisa menolong yeoja ini. Yeoja ini dijauhi orang-orang di sekitarnya karena melakukan kesalahan sepele. Dia ingin bunuh diri, tapi karena belum takdirnya untuk meninggal, Dia memberinya kesempatan untuk hidup. Dan tugasmu adalah, membuatnya kembali merasa dicintai..” ujar yeoja di sebelahnya dengan panjang lebar.
“Kalau aku tidak mencintainya?” tanya Jung Min.
Yeoja itu tersenyum geli menatapnya.
“Kau tahu siapa aku ‘kan? Aku Anael. Aku satu level lebih tinggi dibanding Cupid.. Cupid melakukan kesalahan dengan merubah takdir seseorang tanpa sengaja beberapa waktu yang lalu. Aku tidak pernah melakukan kesalahan sepertinya..” ujar yeoja itu. Jung Min tertawa kecut.
“Aku pikir malaikat tidak pernah berbuat kesalahan..” katanya.
“Yang tidak pernah melakukan kesalahan hanya satu. Dan dia adalah Yang Maha Tinggi..” sahut yeoja itu.
“Lalu kenapa kau tidak segera saja membuat aku jatuh cinta pada yeoja ini?” ujar Jung Min tidak sabar.
“Perasaan manusia tidak bisa dipaksakan begitu saja. Cinta itu akan tumbuh dengan perlahan-lahan. Ahh, dan pasti indah sekali nanti. Baiklah. Temui yeoja ini di rumah sakit. Aku pergi dulu..” yeoja di sampingnya itu menepuk bahunya keras sebelum akhirnya menghilang dari tempat itu dengan cepat sekali. Jung Min menatap sekeliling dan sepertinya orang-orang di sekitarnya tidak memperhatikan kedatangan maupun kepergian yeoja itu dengan tiba-tiba. Dalam hati dia bernapas lega.
Dengan helaan napas panjang, dia berdiri dari tempat itu dan berjalan menuju pintu keluar.

@ @ @

Hwang Va Ni sedang mengamati gaun pengantin yang dipajang di salah satu butik yang sedang dikunjunginya. Dia berencana akan melakukan fitting baju pengantin untuk pernikahannya yang akan dilangsungkan dua bulan ke depan. Dan butik ini adalah pilihannya, karena rekomendasi dari salah satu sahabatnya. Va Ni belum menentukan gaun seperti apa yang akan dia pakai nanti, karena dia belum mempunyai gambaran mengenai itu. Makanya dia pergi ke sini untuk melihat-lihat lebih dahulu. Semua rencana pernikahannya sudah benar-benar matang kecuali yang satu. Belum ada gambaran yang jelas tentang gaun macam apa yang akan dipakainya nanti.
Tapi Va Ni beruntung karena Yang Seung Ho tidak terlalu menuntut bagaimana dia harus melakukan semuanya menjelang hari pernikahan mereka. Va Ni tersenyum tipis. Hari ini memang dia sengaja datang ke sini tanpa mengajak tunangannya itu. Dia ingin memberi kejutan pada calon suaminya itu tentang gaun apa yang akan dikenakannya nanti saat hari pernikahan mereka.
Seung Ho oppa suka kejutan ‘kan? Batin Va Ni geli.
Dia melihat-lihat gaun-gaun yang dipajang di butik itu sambil sesekali memegangnya untuk mengetahui terbuat dari kain seperti apa. Seorang karyawan butik itu menemaninya dan menjelaskan beberapa gaun yang menarik perhatian Va Ni.
Pandangan Va Ni jatuh pada sebuah gaun berukuran panjang yang dipajang di etalase toko. Gaun itu mempunyai kesan anggun sekali. Dengan beberapa hiasan mirip mutiara kecil yang di bagian bawahnya. Kerah leher pendek serta bagian transparan yang menutupi bagian dadanya. Ada kerudung jaring yang terikat di kepala manekin itu, yang membuatnya terkesan cantik sekali. Va Ni tersenyum. Dia selalu memimpikan akan mengenakan gaun putih yang indah sekali di hari pernikahannya nanti. Gaun yang ada di etalase toko itu hampir sesuai dengan keinginannya itu.
“Apakah aku bisa memesan gaun yang seperti ini? Dengan ukuran yang lebih kecil mungkin?” tanya Va Ni pada karyawan butik itu yang berdiri di belakangnya.
“Tentu saja Anda bisa. Kami tinggal mengukur ukuran tubuh yang sesuai dengan bentuk tubuh Anda, Nona..” jawab yeoja berwajah bulat itu.
“Ah.. Kalau begitu, aku akan ambil yang ini saja..” kata Va Ni, seraya menunjuk gaun itu.
“Anda bisa langsung segera pergi ke ruang di sebelah, untuk mengukur ukuran yang sesuai..” kata yeoja karyawan itu.
“Oh, apakah aku bisa meminta sedikit modifikasi untuk gaunnya?” tanya Va Ni lagi. Yeoja itu tersenyum pada Va Ni.
“Designer kami akan dengan senang hati membantu Anda nanti..” jawab yeoja itu. Va Ni mengangguk seraya balas tersenyum ke arah yeoja itu.
Va Ni kembali melihat ke arah gaun yang ada di etalase toko itu. Beberapa orang melewati butik itu dengan acuh, walaupun sebagian ada yang tertarik dan mengerling sekilas untuk melihat ke dalam butik. Tapi beberapa hanya berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikitpun ke arah butik.
Ada seorang yeoja yang berbisik-bisik pada temannya seraya menunjuk gaun yang dipajang di etalase butik itu. Seorang yeoja lain lewat di depan butik tanpa menoleh sekilas ke arah butik dan membenarkan mantel musim dinginnya dengan rapat. Salju memang sedang turun di luar sana. Dan jalanan tampak memutih karena salju turun sejak pagi tadi. Tidak heran banyak orang mengenakan topi musim dingin untuk menghangatkan tubuh mereka di hari yang dingin ini.
DEG!
Va Ni tiba-tiba terpaku di tempat dengan cepat. Entah kenapa seperti ada yang menusuk ulu hatinya begitu saja. Matanya masih menatap etalase kaca dengan pandangan kaget luar biasa.
Apa yang aku lihat baru saja? batinnya takut. Sekarang seluruh perasaannya mulai berkecamuk tak menentu setelah matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di jalanan bersalju sesaat baru saja.
Dia masih berdiri di sana dengan sikap membeku dan mata terus menatap etalase toko.
Aku salah ‘kan? Ini hanya khayalanku saja ‘kan? Yang aku lihat tadi salah ‘kan? Batinnya kalut.
Dia mencoba menenangkan pikiran dan perasaannya yang mulai bergemuruh tak karuan.
Berkali-kali dia mencoba meyakinkan perasaannya sendiri.
Tapi aku sangat mengenal sosok itu. Cara berjalan. Perawakannya dari segala arah. Aku sangat mengenalnya.. Tapi aku juga melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.. Saat tubuh namja itu dikuburkan. Semuanya sangat terpatri dengan jelas dalam kepalaku..
Va Ni merasa merinding sendiri mengingat sosok yang berjalan sekilas melewati etalase butik ini tadi. Sosok yang sangat mirip dengan Kim Hyun Joong, yang sudah meninggal setahun yang lalu.
Tidak ada orang meninggal yang bisa hidup lagi ‘kan? Oke, Va Ni.. Jadi itu pasti orang lain..
Va Ni menarik napas panjang dan menghelanya pelan, meredakan segala perasaan kalut yang menyerangnya tiba-tiba tadi. Apakah dia masih se-shock itu sampai tidak bisa melupakan sosok yang seharusnya dia lupakan itu?
Va Ni menggeleng keras-keras seraya mengikuti karyawan butik tadi.

@ @ @

“Apa kau percaya berita yang beredar itu, Ezekiel?” Cassiel berdiri di samping Ezekiel yang sedang menyelesaikan tugasnya dengan tenang.
“Aku belum tahu pasti. Tapi saudara-saudara kita sudah membicarakan tentang itu..” jawab Ezekiel.
“Semua sudah mendengarnya. Berita tentang keturunan Lucifer yang turun ke Bumi itu..” kata Cassiel.
“Apa kita semua yakin kalau itu adalah keturunan Lucifer. Kita semua tahu kalau namja bernama Kim Hyung Jun itu satu-satunya nephilim yang dibiarkan hidup oleh-Nya karena dia mengabdikan dirinya untuk surga dan bekerja pada malaikat..” kata Ezekiel.
“Kau tahu kalau saudara kita Lucifer sudah jatuh terlalu dalam. Dia sudah jauh dari kodratnya sebagai seorang malaikat. Dia sama sekali tidak menggubris perintah dan laranganNya. Tidak heran kalau umat manusia di bawah sana menjulukinya Iblis..” kata Cassiel.
“Aku tahu, Cassiel. Tapi kalau memang ada keturunan Lucifer di bawah sana, dan dia belum dimusnahkan.. Itu adalah rahasia-Nya. Kita akan tahu jawabannya, kalau kita diperintahkan untuk memusnahkannya nanti..” sahut Ezekiel bijak.
“Aku hanya berpikir..” Cassiel tidak melanjutkan perkataannya. Dia terdiam untuk beberapa saat.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan, Saudaraku.. Serahkan semua pada keputusan-Nya..” kata Ezekiel dengan suara yang menenangkan.
Cassiel tahu seharusnya ini bukan menjadi tugasnya. Tapi sejak dia bergabung dan menjadi manusia, dia tahu banyak hal tentang dunia manusia. Dan dia tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada para manusia itu, meskipun itu adalah perintah-Nya. Tapi dia tidak mau membuat kesalahan lagi. Dia tidak akan ikut campur ketentuan yang sudah dibuat oleh-Nya lagi.

@ @ @

Saat membuka matanya untuk pertama kali, yang ada di hadapan yeoja itu adalah seorang namja yang tidak dia kenal, sedang duduk di kursi kosong di samping ranjang tempat dia berbaring saat ini. Kepala dan tubuhnya masih sangat lemah sekali untuk sekedar digerakan. Jadi dia hanya menatap namja itu dengan tatapan heran dan bingung. Bukankah seharusnya dia sudah ada di surga atau neraka? Tapi kenapa dia masih terbaring di atas ranjang dan masih bisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya?
“Anda.. siapa?” suaranya terdengar lirih sekali dan masih lemah.
Namja itu tersenyum dengan sopan dan ramah ke arahnya.
“Park Jung Min. Anda ditemukan tidak sadarkan diri setelah tertabrak mobil di jalan raya beberapa malam yang lalu. Maafkan saya.. Saya ceroboh mengendarai mobil sampai mengenai seseorang dan membuat Anda harus menginap di rumah sakit ini untuk beberapa hari..” jelas namja itu panjang lebar.
Park Gyu Ri mengernyitkan dahi bingung.
Seingatnya, dia bukannya tidak sengaja berjalan di tengah jalan raya seperti itu. Dia sendiri yang melemparkan diri di depan mobil yang sedang melaju dengan kencang itu. Dia bahkan ingat sekali saat tubuhnya terhempas ke tanah dengan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. Saat itu dia sudah merasa tidak ada harapan untuk hidup lagi. Tapi sekarang dia benar-benar terkejut saat tahu kalau dirinya masih terbaring di atas tempat tidur dan masih merasakan sakit.
“Anda yang membawa saya kemari?” tanya yeoja itu lagi.
“Ne. Tapi untunglah, Anda sudah sadar sekarang..” kata namja itu lagi.
Yeoja itu tidak mengucapkan apa-apa pada namja itu. Dia hanya menunduk dalam diam. Bukan ini yang dia inginkan. Rasanya dia ingin meneriakkan pada namja itu, kenapa dia harus menyelamatkannya? Tapi dia tidak bisa melakukannya. Mengingat namja itu sudah susah payah membawanya kemari dan membuatnya sadar dari koma.
“Terimakasih..” akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut yeoja itu.
Dia tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa mempercayainya sekarang. Semua orang yang dekat dengannya mulai meninggalkannya satu per satu, dan dia tidak punya apa-apa lagi. Apa yang bisa dilakukannya sekarang tanpa orang-orang yang mencintainya seperti dulu?
“Kalau Anda butuh bantuan.. Aku siap membantu..” suara namja itu membuyarkan lamunannya.
Gyu Ri menatap namja itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Terima kasih banyak..” dan lagi-lagi hanya itu yang terucap dari bibirnya.

@ @ @

Kim Hyung Jun sedang membalik berkas-berkas file yang akan digunakannya untuk presentasi saat sesuatu dalam kepalanya menyuruhnya untuk berhenti. Seseorang sedang bicara kepadanya. Di dalam kepalanya.
“Ya, Aragiel?” tanyanya dari dalam hati.
Aragiel adalah salah satu dari malaikat yang mempunyai tugas untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan di bumi.
“Kau sudah mendengar berita itu? Apa benar? Apa kau sudah bertemu dengannya?” suara Aragiel terdengar menggema dalam kepalanya.
“Berita? Tentang apa?” tanya Hyung Jun bingung.
“Tentang keturunan dari Lucifer yang berkeliaran di bumi..” jawab Aragiel.
“Apa? Aku bahkan baru mendengarnya sekarang. Apa ada seorang Nephilim lagi di sini?” tanya Hyung Jun kaget.
“Tidak ada seorangpun dari kami yang tahu tentang itu. Yang tahu hanya sepuluh malaikat utama, dan tidak ada seorangpun dari kami yang berani menanyakan tentang itu..” jawab Aragiel.
“Kenapa begitu?” tanya Hyung Jun lagi.
“Karena kalau kami tidak diberitahu tentang itu, itu artinya itu adalah rahasia-Nya..” jawab Aragiel.
“Tapi kenapa Dia membiarkan keturunan Lucifer berkeliaran di bumi ini? Bukankah itu artinya, dia akan menimbulkan bencana di muka bumi ini?” tanya Hyung Jun lagi.
“Kami belum tahu tentang itu. Tidak ada satupun dari kami bisa menemukannya. Mungkin karena dia adalah seorang keturunan malaikat dan manusia sepertimu. Jadi, dia bisa menyembunyikan kekuatan malaikatnya dari kami. Bisakah kau menemukannya?” kata Aragiel.
“Lalu membunuhnya?” tanya Hyung Jun segera.
“Tidak.. Jangan.. Dia hanyalah keturunan Lucifer. Bagaimanapun juga.. Dia terlahir dari seorang manusia. Temukan dia.. “ kata Aragiel kemudian.
“Lalu apa yang akan dilakukan para malaikat saat aku bisa menemukannya?” Hyung Jun kembali bertanya.
Aragiel tidak segera menjawab pertanyaannya.
“Kita akan tahu apa yang akan kami lakukan saat itu tiba. Tapi kalau memang benar kemunculan keturunan Lucifer adalah pertanda datangnya bencana, Azazel dan Raphael tidak akan tinggal diam..” jawabnya kemudian.
“Baiklah. Aku mengerti..” sahut Hyung Jun.
Lalu suara yang menggema dalam kepalanya itu menghilang begitu saja, meninggalkan ruang kosong di dalam sana. Hyung Jun membuka matanya seraya menghela napas panjang.
Keturunan Lucifer? Apa benar dia seorang Nephilim sepertinya? Sejak kapan malaikat bahkan tidak tahu tentang adanya keturunan Lucifer? Apa Lucifer sendiri yang membuat keturunannya tidak terlihat oleh para malaikat? Tapi bukankah dia sekarang sedang dikurung di bawah sana? Menunggu para pengikutnya untuk membuka segel neraka dan membuatnya terlepas dari kurungan itu. Tidak. Tidak mungkin. Neraka di bawah sana sudah dijaga oleh malaikat utama yang kuat sekali. Tidak mungkin seorang Lucifer yang sudah jatuh itu bisa mengendalikan keturunannya di muka bumi ini.
***

"Apa kabar yang kami dengar itu benar, Ketua? Bahwa ada keturunan Lucifer yang turun ke bumi ini?" tanya salah seorang dari orang-orang yang semuanya mengenakan tudung kepala berwarna hitam di ruangan yang miskin cahaya itu. Ruangan itu hanya diterangi beberapa lilin yang dinyalakan di meja mereka dan dibantu penerangan seadanya.
"Aku hanya mendengar dari bisikan-bisikan di sekitarku.. Yang Agung memberitahu itu kepada para pengikutnya.. Dan prajuritnya memberitahukan pada kita.." jawab seseorang yang duduk di kursi paling tinggi dan paling megah di ruangan itu.
"Jadi tugas kita sekarang adalah melindungi keturunan Yang Mulia Lucifer?" tanya salah seorang bertudung yang duduk di pojok ruangan.
"Iya.. Benar begitu, Saudaraku.." jawab sang Ketua.
"Bagaimana kita bisa melindunginya kalau kita saja tidak tahu seperti apa keturunannya.." suara seorang wanita terdengar di balik salah satu tudung kepala di ruang itu.
"Ada banyak cara, Saudariku.. Bagaimanapun juga, dia adalah keturunan manusia seperti kita.." jawab Sang Ketua dengan suara tenang.
Lalu mulai terdengar bisik-bisik di ruangan itu, tanda semua orang saling berbicara dengan suara pelan satu sama lain.
"Apakah Ketua sendiri sudah tahu siapa keturunan Yang Mulia itu?" tanya salah seorang laki-laki yang duduk tersembunyi di pojok ruangan.
"Masih belum. Tapi dengan bantuan pasukannya, aku akan segera mengetahuinya. Untuk itulah, kita harus menunjukkan kesetiaan kita pada Yang Mulia Lucifer.." jawab Sang Ketua.
Beberapa orang di ruangan itu terlihat mengacungkan sesuatu yang berbentuk cawan ke atas kepala mereka.
"Hidup, Yang Agung Lucifer.." seru mereka bersamaan.
"Hidup Lucifer!" seru mereka berkali-kali dalam ruangan yang sempit dan gelap itu. Suara mereka menggema di seluruh ruangan itu berkali-kali.

***
"Aku akan memberimu kekuatan dan kekayaan serta mengabulkan permintaanmu asal kau menuruti syarat yang aku ajukan.." ujar namja yang mengenakan hoodie tebal dan topi hitam yang hampir menutupi wajahnya kepada seseorang yang terlentang tak berdaya di atas lantai kotor dan dingin itu. Seorang namja paruh baya yang berpenampilan kusam dan kotor menatapnya dengan pandangan sinis.
"Kau pikir kau siapa, Anak Muda? Apa kau malaikat?" tanyanya skeptis.
"Kau bisa menyebutku begitu.." jawab namja itu dengan sikap tubuh yang tenang dan suara yang terdengar datar.
"Ch~! Malaikat.. Aku tidak percaya. Kalau memang malaikat benar-benar ada, Tuhan pasti akan memperingatkan mereka untuk membantu orang-orang seperti kami dari hidup yang sulit seperti ini.." jawab namja paruh baya itu.
"Tuhan sudah mati. Kau tahu artinya? Aturan Tuhan sudah tidak berlaku lagi di muka bumi ini.." kata namja bertopi yang wajahnya tidak kelihatan itu.
Namja paruh baya itu tidak menyahut dan menatap penuh ingin tahu ke arah namja yang berdiri di hadapannya tanpa menunjukkan wajahnya kepadanya itu.
"Sama saja. Tuhan ada atau tidak.. Dia tidak mendengar doa kami bertahun-tahun.." sahut namja paruh baya itu.
"Kalau kau ikut perkataanku.. Aku akan membuat hidupmu lebih baik.." ujar namja bertopi itu.
Namja paruh baya itu kembali menatapnya penasaran.
"Ikut perkataanmu.. apa?" tanyanya kemudian.
Namja bertopi di depannya itu tidak segera menjawab. Dia mengulurkan kedua tangannya ke depan. Lalu hanya dengan sekali hembusan napas, kedua tangannya mengeluarkan api yang menjilat-jilat. Namja paruh baya itu terbelalak kaget melihat pemandangan itu dan tidak bisa bicara apa-apa saking kagetnya. Lalu hanya dengan sekali kibasan tangan, api itu sudah berderik-derik di pojok ruangan, membentuk api unggun yang lumayan menghangatkan.
"Api itu akan bertahan sampai besok pagi. Tidak akan berkurang. Dan akan tetap membuat kalian semua merasakan hangat.." ujar namja bertopi itu.
"S-siapa.. kau?" namja paruh baya itu menatap namja di depannya dengan wajah pucat saking takutnya.
"Sudah aku bilang padamu.. Aku akan mengabulkan keinginanmu.. Aku bisa melakukan yang lebih dari ini," jawab namja bertopi itu.
"S-semuanya?" tanya namja paruh baya itu.
"Semuanya.. Tapi dengan satu syarat.." kata namja bertopi itu dengan segera.
"Eh?" namja paruh baya itu menatapnya ingin tahu.
Terlihat sebuah senyuman tipis di bibir namja bertopi itu.
"Kau harus tunduk pada Lucifer.." ujar namja bertopi itu dengan suara yang dalam.

***

Ezekiel dengan segera turun dan menghampiri Cassiel yang sedang membantu malaikat utama menyelesaikan tugasnya.
"Cassiel.. Kau sudah mendengarnya?" tanyanya Ezekiel dengan sedikit terburu.
"Mendengar apa?" Cassiel balas bertanya padanya.
"Aku baru saja mendengar Azazel dan malaikat utama penjaga neraka berbicara.." jawab Ezekiel.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Cassiel penuh ingin tahu.
Ezekiel balas menatapnya dengan pandangan tajam.
"Jiwa Kim Hyun Joong yang sudah dibawa Uriel.. Belum sepenuhnya terbawa bersamanya.." jawabnya kemudian.
Cassiel menatap Ezekiel tidak mengerti.
"Aku tidak paham apa yang kau maksud.." katanya kemudian.
"Itu artinya.. Ada jiwa lain yang masih di sana yang belum dibawa Uriel.." kata Ezekiel.
Cassiel makin tidak mengerti apa yang dibicarakan Ezekiel.
"Tapi bukankah kita sendiri melihat Uriel membawa jiwanya pergi saat itu.."
"Itu benar. Itu adalah jiwa manusianya.. Jiwanya yang satu masih ada di sana. Apa kau tidak mengerti maksudku, Cassiel?"
Cassiel terdiam untuk beberapa saat. Jiwanya yang satu? Jiwa yang belum dibawa oleh Uriel? Jiwa manusianya?
"Apa itu artinya...?" Cassiel menatap Ezekiel dengan kalimat yang belum diselesaikan.
"Dugaanmu benar. Mungkin dia adalah yang dimaksud keturunan Lucifer itu.." kata Ezekiel kemudian.
Untuk pertama kalinya sejak dia menjadi malaikat yang diciptakan tanpa perasaan dan hawa napsu, Cassiel merasakan sebuah ketakutan yang muncul begitu saja. saat dia mendengar jawaban itu.
Namja itu.. Adalah keturunan Lucifer???

***

Va Ni terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Dan tanpa dia sadari matanya juga ikut mengeluarkan air mata dengan sendirinya. Dia bahkan tidak sempat melirik jam mejanya hanya untuk sekedar melihat sekarang jam berapa. Dia terlalu takut dengan mimpi yang baru saja dia lihat.
Kedua tangannya mencengkeram selimut tebalnya dengan erat. Kelebatan mimpinya masih terlintas dengan jelas dalam kepalanya. Peristiwa saat kematian Kim Hyun Joong kembali melintas dalam kepalanya. Saat bagaimana namja itu terbujur kaku di atas ranjang dengan wajah datar seperti biasa. Saat dia melihat bagaimana namja itu dikubur dan akhirnya membuatnya berpikir itu adalah saat terpahit dalam hidupnya. Melihat namja yang sangat dicintai pergi dengan cara seperti itu selama-lamanya. Membuat Va Ni berpikir untuk berhari-hari setelah itu bahwa tidak ada lagi namja yang akan dicintainya.
Sebelum dia bertemu dengan Yang Seunh Ho, tunangannya yang sekarang dan membuatnya melupakan kenangan pahit itu.
Tapi malam ini mimpi buruknya kembali mengingatkannya tentang kenangan menyesakkan itu. Dan akhirnya membuatnya menangis dalam tidurnya.
Dia melihat Hyun Joong yang masih hidup menyatakan perasaannya padanya dan memintanya untuk menikah dengannya. Lalu tiba-tiba namja itu menjadi namja yang dingin dan angkuh dengan cepat sekali. Va Ni bahkan merasa takut sekali membayangkan wajah Hyun Joong yang menatapnya dengan pandangan dingin dan tajam seperti itu. Seolah ada sesuatu yang merasukinya.
Va Ni merasa tangannya gemetar luar biasa saat kembali mengingat kalau namja itu sudah pergi selama-lamanya. Mengingat kalau namja itu sudah berada di tempat yang tidak mungkin dia raih.
Tapi ketakutan kembali menyergapnya saat dia mengingat beberapa hari yang lalu.. Saat dia merasa melihat seseorang yang mirip sekali dengan Kim Hyun Joong.
Dan tanpa dia sadari, tangisnya kembali meledak mengingat semua perasaannya. Kalau sampai saat detik ini dia masih menyimpan perasaan yang sama pada namja itu. Yeoja itu kembali tergugu tanpa siara dalam tangisnya di kamarnya gelap itu.
Sementara salju di luar sudah mulai turun malam itu.

Kamis, 19 Desember 2013

Through the Ages (part 2)

“Jung Hee sendiri, siapa namja idamanmu? Kau selalu bilang kalau appa-mu adalah yang terbaik ‘kan?” Sun Mi, teman sekelas JungHee menatap ke arah Jung Hee dengan penuh ingin tahu. Yang ditatap tidak segera menjawab dan tetap meminum susu capuccinonya dari sedotan sambil menatapnya temannya satu per satu.
“Ne. Appa-ku tentu saja..” jawabnya kemudian.
“Appa-mu seorang idol. Tentu saja semua orang ingin punya appa seperti itu. Eh, tapi omong-omong.. Bukankah kau juga dekat dengan Kim Young Jae sunbae yang di jurusan musik itu?” seorang temannya yang bernama Da Reum menimpali. Jung Hee hanya mengangguk malas. Semua yeoja yang kenal dengannya, terutama yang tahu dia dekat dengan Young Jae akan mulai bertanya-tanya tidak penting seputar namja itu.
“Namja itu jadi idola di kampus ini setelah banyak yang tahu kalau dia adalah putra mantan seorang Hallyu Star. Dia memang tampan, sih.. Tapi dia tidak begitu suka diperhatikan banyak yeoja sepetinya..” kata Sun Mi. Jung Hee mengangguk-angguk tanpa minat.
“Dia ikut band universitas ‘kan? Para dosen memujinya karena permainan gitarnya bagus sekali..” sahut Da Reum. Jung Hee menghela napas lelah.
“Teman satu angkatan kita bahkan ada yang omma-nya sengaja memberikan banyak makanan padanya karena omma-nya dulu adalah fans appa-nya..” kata Sun Mi.
Jung Hee meniup-niup poninya yang menutupi dahinya dengan bosan.
“Jung Hee ah.. Kau ini kenapa? Kau selalu merasa bosan tiap ada yang membicarakan namja itu. Apa jangan-jangan.. Kau menyukainya, ya? Ahh.. Wajar, sih.. Kalian ‘kan bersama sejak kecil..” Da Reum menepuk bahunya keras. Jung Hee balas menatapnya kesal.
“Ish. Suka padanya? Yang benar saja. Jae oppa itu sudah aku anggap seperti kakak kandungku sendiri. Dan asal kau tahu.. Dia itu namja paling menyebalkan yang pernah aku temui di dunia ini..” kata Jung Hee seraya menatap kedua temannya bergantian. Kedua temannya itu balas menatapnya dengan tatapan ingin tahu.
“Mwo? Apa maksudnya?” tanya Sun Mi antusias.
Jung Hee kembali meniup poninya dengan keras.
“Kalian jangan pernah berpikir untuk tinggal satu atap dengannya. Kau pikir dia se-charming kelihatannya. Andwae! Junnie samchon-ku bahkan bilang, saat aku baru bisa belajar berjalan dia sudah mengejarku dan membuatku terjatuh dengan keras sekali. Dia adalah momok terbesarku sejak aku lahir di dunia ini!” Jung Hee meletakkan botol minumannya dengan keras di atas meja kayu di depannya dengan wajah geram. Kedua temannya menatapnya dengan tatapan membeku.
“Y-ya.. Jung Hee ah.. Apa kau baik-baik saja?” tanya Da Reum takut-takut.
Jung Hee membuang napas keras-keras dan menatap kedua temannya dengan pandangan memelas.
“Namja itu.. dia merusak gadget-ku terbaru! Padahal di sana ada banyak file pentingku.. Dan entengnya dia bilang tidak tahu lalu mengembalikannya dengan keadaan rusak seperti itu. Apa kalian tahu? Ini bukan pertama kalinya dalam hidupku!” ujar Jung Hee seraya marah-marah.

Flashback..
“Kalau aku sudah besar, aku tidak mau menikah dengan Jae oppa!” Jung Hee yang kala itu masih berusia 10 tahun berseru dengan keras pada seorang anak laki-laki yang sedang serius bermain tablet di tangannya dan hanya mengerling tanpa minat ke arahnya.
“Aku juga tidak mau denganmu..” sahut Young Jae dengan malas. Dan dia kembali melihat ke tabletnya seraya menyentuh layarnya untuk memainkan game sepakbola yang sedang dimainkannya.
“Kalau begitu cepat perbaiki boneka yang digigit anjingmu itu. Itu hadiah dari appa saat dia pergi ke Eropa. Di sini tidak ada. Dan kau malah memberikannya pada anjingmu. Gara-gara itu bonekanya rusak.. Apa kau menggantinya?” Jung Hee berseru dengan kesal ke arah namja itu sambil memegangi boneka kuda kecil yang ekornya hampir terlepas.
“Aishh.. Kau ini berisik sekali. Aku akan minta appa untuk menggantinya begitu dia pulang dari turnya nanti. Kau tenang saja..” sahut Young Jae enteng, tidak menoleh sedikitpun ke arah Jung Hee.
“Oppa.. Apa kau ingat kau juga bilang begitu saat kau membuat rusak sepedaku yang kau tabrakan di halaman belakang rumahku bulan yang lalu? Kau juga bilang seperti ini dan sepedaku masih belum diganti..” Jung Hee masih menatap Young Jae dengan kesal.
“Ah, benarkah? Apa aku bilang begitu? Baiklah. Akan aku catat dan nanti akan aku berikan pada appa..” jawab Young Jae, mengerling sekilas ke arah Jung Hee dan kembali lagi melihat ke tabletnya.
Jung Hee benar-benar tidak bisa menahan kesabaran kali ini. Anak laki-laki di depannya ini lebih tua beberapa bulan lamanya darinya, tapi tingkahnya benar-benar menyebalkan.
Dia menghampiri Young Jae dengan tidak sabar dan merebut tablet dari tangan Young Jae dengan gemas.
“M-mwo? Ya! Ya!” Young Jae masih memegangi tablet itu dengan erat. Tapi Jung Hee masih bersikeras untuk merebut tablet itu dari tangan anak laki-laki itu. Sekali dia dibuat kesal oleh seseorang, terutama anak laki-laki bernama Kim Young Jae ini, dia akan membalas membuatnya kesal.
“Kau tidak mendengarku bicara dengan sungguh-sungguh!” kata Jung Hee kesal.
“Aku mendengarmu. Ya! Park Jung Hee! Lepaskan!” seru Young Jae, berusaha memegangi tabletnya agar tidak bisa diambil yeoja itu.
“Omma... Oppa dan Jung Hee unnie bertengkar lagi..”
Jung Hee menoleh ke arah suara kecil di dekat mereka. Seorang bocah perempuan dengan rambut panjang yang diikat dua arah sedang menatap mereka dengan pandangan khawatir.
“Ya! Kim Young Hee.. Ini urusan orang dewasa. Oppa! Berikan ini padaku!” Jung Hee tetap menarik tablet di tangan Young Jae dengan keras. Sampai akhirnya dia merasa kedua tangannya dapat menarik tablet itu dari tangan namja itu. Tapi sesaat kemudian dia menyadari tangannya licin dan tablet yang sudah ada di tangannya itu, melayang dengan lurus, terlempar dari tangannya dan terjatuh dengan suara keras di atas lantai. Jung Hee terperangah melihat layar tablet yang tadinya menyala langsung mati seketika.
Baik dia maupun Young Jae hanya menatap tablet yang sudah mati di atas lantai itu dengan mulut terbuka dan tidak ada yang bicara untuk beberapa saat.
“Ya! Park Jung Hee.. Kau..” terdengar suara Young Jae yang sudah menahan amarah di dekatnya.
“Aku tidak berniat menjatuhkannya..” elak Jung Hee.
“Tapi nyatanya kau menjatuhkannya!” seru Young Jae kesal.
“Aku..” belum sempat Jung Hee menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan itu. Jung Hee langsung terperanjat dan menundukkan kepalanya ke lantai.
“Ada apa ini?” tanya yeoja yang datang ke ruangan itu dengan suara lembut. Itu ahjumma. Walaupun Jung Hee tahu ibu Young Jae oppa-nya tidak mungkin memarahinya, tetap saja dia merasa bersalah.
“Jung Hee menjatuhkan tabletku..” adu Young Jae kepada ibunya. Jung Hee tidak berani menatap yeoja itu. Dia tahu dia tidak sengaja menjatuhkannya, tapi tetap saja memang dia yang menjatuhkannya.
“Gwaenchana, kita perbaiki ini nanti..” kata yeoja itu seraya mengambil tablet yang sudah mati di atas lantai kayu itu.
“Ahjumma.. Aku.. Aku minta maaf..” ujar Jung Hee lirih, masih belum berani menatap yeoja di depannya itu.
“Gwaenchana, Jung Hee ah.. Kau tidak sengaja melakukannya ‘kan? Apa yang dilakukan Jae sampai kau sekesal itu padanya? Young Hee bilang kau marah padanya lalu merebut tablet dari tangannya. Katakan saja pada ahjumma. Kalau Jae salah, dia harus minta maaf padamu..” Jung Hee merasakan kepalanya sedang diusap dengan lembut oleh yeoja itu.
“Jae oppa.. Aku kesal padanya.. Karena dia tidak mendengarku dan asik dengan tabletnya. Padahal dia janji akan menggantikan bonekaku..” jawab Jung Hee polos.
“Omma.. Aku tidak.. Ya! Aku bilang akan menggantinya ‘kan?” sahut Young Jae, tak kalah kesal.
“Kim Young Jae.. Kau akan dapat waktu untuk bicara nanti. Jangan menyela saat ada orang sedang bicara..” ibunya berkata dengan tegas ke arahnya, dan membuat anak laki-laki itu langsung terdiam.
“Jae oppa tidak salah. Tapi dia membuatku kesal.. Jadi aku marah padanya.. Boneka itu hadiah dari appa saat aku masih kecil. Jadi aku menyimpannya baik-baik..” jelas Jung Hee.
Yeoja di dekatnya menghela napas pelan.
“Aku akan bicara pada appa-mu tentang ini. Dan kau sendiri yang harus menjelaskan padanya nanti..” kata yeoja itu berkata kepada Young Jae dengan tajam seraya berdiri dari tempatnya.
“M-mwo.. Appa? Omma, tapi aku tidak..” Young Jae langsung merasa tidak nyaman saat mendengar ibunya mulai mengeluarkan ultimatum seperti itu.
“Jung Hee ah.. Omma-mu sebentar lagi akan datang kemari. Kau tunggu saja beberapa saat lagi..” kata ibu Young Jae seraya meninggalkan mereka berdua dan kembali ke dapur.
Tinggal Young Jae yang mendesis kesal ke arah Jung Hee, tapi tidak berkata apa-apa dan menyusul omma-nya masuk dapur.

@@@
Jung Hee menggeleng keras-keras dan meminum minumannya lagi dengan sekali tegukan.
“Lalu apa Young Jae sunbaenim benar-benar menggantinya?” tanya Sun Mi penasaran. Jung Hee menggeleng mantap.
“Tentu saja tidak. Yang mengganti appa-nya, tentu saja. Apa kau pikir anak kecil bisa mengganti barang-barang seperti itu?” Jung Hee menatap Sun Mi gemas. Yeoja berwajah bulat itu mengangguk mengerti. Rambut ikalnya yang diikat ke belakang bergoyang saat dia menggerakkan kepalanya.
“Aku pikir Young Jae sunbaenim adalah seseorang yang punya karisma kuat. Tapi kalau mendengar cerita Jung Hee, sepertinya dia benar-benar troublemaker, ya?” tanya Da Reum.
Jung Hee tidak segera menjawab. Dia terdiam untuk beberapa saat sambil mengingat-ingat sesuatu.
“Tidak sepenuhnya. Dia tidak seburuk itu. Dia memang terlihat menyebalkan sekali di mataku. Tapi.. Dia tidak benar-benar melakukannya..” kata Jung Hee.
“Mwo? Apa maksudnya?” kedua temannya menatap ke arahnya dengan pandangan bingung.
Jung Hee menghela napas panjang.
Jung Hee ingat sekali kejadian saat dia berusia 6 tahun. Itu adalah peristiwa yang tidak mau dia ingat-ingat lagi. Tapi tetap saja dia mengingatnya. Karena peristiwa itu berkesan sekali dalam ingatannya dan tidak bisa dia hapus begitu saja.

Flashback..
Jung Hee awalnya senang sekali saat melihat appa-nya sudah pulang ke rumah setelah beberapa hari pergi untuk pekerjaannya. Dia ingin sekali menyambut namja itu dan memeluknya erat karena dia rindu sekali setelah beberapa hari tidak bertemu dengannya. Tapi saat melihat namja itu masuk dengan wajah tertekuk dan hanya mengusap rambut Jung Hee sekilas, Jung Hee tidak berani memeluknya dan hanya diam melihat appa-nya masuk ke kamarnya dengan langkah terburu.
Jung Hee tidak tahu harus melakukan apa. Jadi dia pergi ke kamar Jung Bi dan bermain dengan adiknya itu. Jung Bi baru bisa berjalan dan karena dia akan berjalan ke mana-mana, ommanya memberinya ruangan khusus di kamarnya. Ada pagar kecil supaya anak itu tidak pergi ke mana-mana saat orangtuanya tidak melihatnya. Lalu Jung Hee masuk ke sana dan ikut bermain dengan adiknya.
Tapi baru beberapa saat dia ikut menemaninya adiknya bermain, Jung Hee mendengar seruan dari kamar di samping kamar Jung Bi.
Jung Hee tidak bisa mendengar dengan jelas, tapi yang pasti itu suara kedua orangtuanya.
Lalu dengan rasa penasaran yang sangat kuat, Jung Hee akhirnya keluar dari kamar itu dan berjalan ke kamar orangtuanya. Tapi langkah kakinya berhenti di depan pintu kamar yang terbuka sedikit itu saat dia mendengar suara appa-nya yang terdengar kesal sekali.
“Selalu seperti ini yang kau permasalahkan. Aku lelah, kau tahu?” suara appa-nya terdengar lelah.
“Aku tidak mempermasalahkan itu. Kau yang mulai membahasnya ‘kan?” Jung Hee mendengar suara omma-nya menyahut dengan nada tak kalah kesal.
“Kau bersikap seperti itu lagi dan aku harus membahasnya denganmu. Ayolah, Ai.. Ini sudah kesekian kalinya. Kau tidak pernah membuka hati dan pikiranmu untuk pekerjaanku. Aku bekerja untukmu dan anak-anak. Mau bagaimana lagi kalau memang tuntutannya seperti itu?” sahut appa-nya dengan nada yang agak tinggi.
Jung Hee merapat ke dinding di sampingnya. Seandainya dia tidak pernah ke sini dan mendengar ini semua..
“Oh? Apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih berkelas? Apa kau tidak tahu bagaimana saat Jung Hee bertanya padaku kenapa appa-nya bersenang-senang dengan yeoja lain padahal kau bilang padanya sedang bekerja..” sahut omma-nya.
“Kenapa kau tidak menjauhkannya dari infotainment yang tidak mendidik itu?” sahut appa-nya.
“Sekarang kau menyalahkanku? Aku harus mengurus rumah ini sendirian. Menyiapkan segala kebutuhan Jung Hee dan Jung Bi masih suka mengompol sembarangan. Apa aku bisa mencegah Jung Hee menonton tayangan itu di manapun? Aku bilang jangan mengajarinya memegang gadget di usia sedini itu ‘kan?” omma-nya terdengar kesal sekali sekarang.
Jung Hee semakin merapat ke dinding dan perasaannya yang tadinya senang karena bisa melihat appa-nya lagi sekarang jadi ketakutan yang sangat besar. Baru kali ini dia mendengar orangtuanya berbicara dengan nada seperti ini, dan berseru satu sama lain dengan marah.
“Apa itu salahku juga? Aku hanya memenuhi kebutuhannya. Tugasmu yang mengawasinya sementara aku bekerja di luar,” sahut appa-nya.
“Aku tidak mengerti definisimu tentang bekerja itu seperti apa. Yang pasti, Jung Hee tidak suka kau dekat-dekat dengan yeoja manapun dengan sikap berlebihan seperti itu. Apa tidak bisa kau hentikan kebiasaanmu memeluk yeoja-yeoja itu sembarangan?” suara omma-nya masih terdengar kesal.
“Kau bilang saja kau yang tidak suka melihatku seperti itu..”
“Kalau iya memang kenapa? Apa salah kalau aku cemburu? Oh? Kalau kau nyaman dengan yeoja yang lebih cantik dan seksi itu, ya sudah.. Kau juga tidak akan menggubrisku walaupun aku marah atau pergi dari rumah ‘kan? Apa kau tidak pernah mengerti yang seperti itu? Apa kau.. Hah~!”
Hening. Tidak ada yang bicara di dalam kamar itu untuk beberapa saat. Dan Jung Hee masih di sana, dengan harapan kecil dalam hatinya kalau kedua orangtuanya akan mulai bicara dengan nada hangat seperti biasanya lagi.
“Kalau begitu mulai sekarang jangan ijinkan Jung Hee melihat infotainment-infotainment itu..” suara appa-nya terdengar lagi.
“Terserah kau. Bekerja-lah semaumu..” jawab omma-nya datar.
“Aku harus bekerja, Ai. Mengertilah~~” suara appa-nya terdengar lelah dan setengah kesal.
“Aku tahu. Makanya aku bilang bekerjalah semaumu..” sahut omma-nya.
“Aku benar-benar tidak mengerti yeoja seperti apa kau ini..”
Jung Hee mendengar sesautu terjatuh dari dalam kamar itu. Lalu suara gesekan kursi dan sesaat kemudian pintu kamar itu terbuka lebar. Jung Hee terlonjak kaget melihat appa-nya keluar dari kamar itu membawa jaketnya. Jung Hee tidak berani mengatakan apapun, dia terlalu takut untuk bicara sepatah katapun. Tapi appa-nya hanya tersenyum tipis seraya mengelus ujung kepalanya sesaat sebelum akhirnya berlalu dari hadapannya.
Jung Hee masih diam di tempatnya saat dia mendengar suara pintu mobil dibanting tertutup dari bagasi rumahnya. Lalu beberapa saat kemudian terdengar mesin mobil dinyalakan, dan suara mobil yang melaju keluar dari bagasi. Sampai dia tidak mendengar apa-apa lagi.
Jung Hee bahkan hanya terdiam terpaku di tempat saat dia mendengar suara tangisan adiknya yang menangis dengan keras dari kamar di sebelahnya. Dia melihat omma-nya keluar dengan wajah sembab dan berjalan terburu ke kamar Jung Bi.
Jung Hee tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia melihat ke sekeliling ruangan dan melihat sebuah ponsel tergeletak di atas meja di ruang tengah itu. Dia berjalan menghampiri ponsel itu. Itu adalah ponsel milik omma-nya. Dia tidak tahu kenapa dia membawa ponsel itu masuk ke kamarnya. Yang ada dalam pikirannya saat itu hanyalah dia ingin menghubungi seseorang. Entah itu neneknya, bibinya, paman Jun-nya atau Bibi Va Ni.
Jung Hee belum bisa membaca dengan benar. Tapi dia hapal tulisan hangul nama-nama yang ada di ponsel itu. Daftar riwayat panggilan di ponsel itu ada banyak sekali. Dan Jung Hee hanya bisa membaca dua nama, bibi Va Ni dan paman Jun-nya.
Dia memencet nama bibi Va Ni-nya dengan asal. Dia hanya ingin menangis saat itu. Dan ada orang dewasa yang membuatnya tenang. Bukan omma-nya. Ataupun appa-nya.
“Yeoboseyo..” terdengar suara seorang anak laki-laki dari seberang.
Jung Hee terdiam. Kenapa Jae oppa yang mengangkatnya? Kenapa bukan bibi Va Ni?
“Yeoboseyo?” sekali lagi terdengar suara Young Jae dari seberang.
Dan tiba-tiba tanpa bisa dikendalikan lagi, Jung Hee akhirnya menangis sesunggukan.
“Kenapa kau yang mengangkatnya? Kenapa bukan bibi Va Ni?” kata Jung Hee seraya menangis dengan keras.
“M-mwo? Ya.. Park Jung Hee. Kau kenapa?” terdengar suara Young Jae yang kebingungan di seberang. Jung Hee tidak menjawab dan hanya menangis sesunggukan.
“Aku tidak mau bicara denganmu. Aku mau bicara dengan bibi Va Ni..” katanya di sela-sela tangisnya yang semakin menjadi.
“Omma.. Omma sedang di kamar mandi. Ada apa, Jung Hee ah? Kenapa kau menangis? Ada yang nakal padamu lagi?” tanya Young Jae.
“Omma.. Omma menangis. Dan appa.. marah-marah lalu pergi..” jawab Jung Hee dengan isakan yang semakin menjadi.
“Mwo? Lalu.. Ya~ jangan menangis. Aku akan ke sana dengan omma. Kau tidak perlu menangis lagi. Akan aku bawakan makanan kesukaanmu nanti..” kata Young Jae mencoba menenangkan Jung Hee. Tapi Jung Hee tidak sanggup menjawab dan hanya menangis.
“Jung Hee ah.. Kau jangan menangis terus seperti itu. Kau tahu kau jadi tambah jelek ‘kan kalau menangis? Jadi jangan menangis lagi. Ne? Akan aku bawakan kura-kuraku kalau aku ke sana nanti..” kata Young Jae.
“Aku tidak mau! Jariku digigit lagi nanti..” jawab Jung Hee masih sambil tergugu.
“Ya kalau begitu kau jangan menangis. Aku akan ke sana.. Asal kau jangan menangis lagi. Ne?” sahut Young Jae.
Jung Hee mengangguk dan berusaha menghentikkan tangisannya.
Lalu Jung Hee tertidur karena kelelahan menangis dan saat bangun, Young Jae sudah ada di dekat tempat tidurnya. Dia benar-benar membawakan makanan kesukaannya, dan memberikan mainan favoritnya pada Jung Hee. Dan setelah itu Jung Hee sudah lupa dengan segala kesedihannya karena asik bermain dengan Young Jae dan adiknya. Sementara bibi Va Ni-nya yang sedang mengandung adik Young Hee, berada di kamar dengan omma-nya untuk beberapa lama.
Yang Jung Hee ingat, malamnya omma-nya minta maaf padanya dan berjanji tidak akan membuat Jung Hee menangis lagi lalu menemaninya tidur semalaman seraya memeluknya dengan erat. Lalu appa-nya pulang keesokan paginya dengan membawakan boneka besar sekali dan juga minta maaf padanya seraya memberikan pelukannya yang hangat seperti biasa.
Setelah itu Jung Hee tidak pernah melihat orangtuanya bertengkar lagi di depannya. Tidak tahu kalau mereka bertengkar di belakang mereka.
Tapi setidaknya kalau mereka mulai membuat Jung Hee menangis lagi, ada seseorang yang bisa dia hubungi.
“Kalau kau sedih, jangan menangis lagi. Hubungi Jae oppa-mu ini langsung. Arachi?”

Beberapa tahun kemudian..
“Jung Hee anak multikultural ‘kan? Darimana orangtuamu?” tanya salah satu anak yang duduk di bangku di depannya. Jung Hee tidak menjawab. Dia hanya menunduk. Ini adalah hari pertamanya masuk ke sekolah menengah pertama. Dan masing-masing anak diminta untuk memperkenalkan profil dirinya dan keluarganya. Saat tahu kalau dia adalah anak multikultural, semua anak mulai memandangnya dengan aneh.
“Aku mendengarnya.. sesuatu seperti Indonesia ‘kan?” timpal seseorang yang lain. Suara namja. Jung Hee tidak menjawab.
“Kalau begitu kenapa kau tidak sekolah di sekolah khusus untuk anak-anak sepertimu saja? Kami tidak mengerti bahasamu. Bahasa Korea-mu agak aneh..” ujar salah seorang anak perempuan yang Jung Hee tidak tahu yang mana orangnya. Jung Hee tidak menjawab. Dia tidak menyangka reaksi seluruh teman sekelasnya akan seperti ini. Dia pikir menjadi anak multikultural bukanlah hal aneh lagi. Tapi kenapa semua orang jadi membicarakannya?
“Negara Ibumu itu bukankah.. negara yang banyak masalah itu, ya? Heran saja kenapa appa-mu yang terkenal itu mau dengan seseorang dari negara itu..” kata salah seorang yeoja.
Jung Hee menarik napas panjang. Kali ini ada sesuatu yang menusuk ulu hatinya dan rasanya sakit sekali. Matanya mulai memanas mendengar kata-kata itu.
“Bukan urusan kalian tentang darimana Ibuku berasal..” katanya kemudian dengan susah payah, mengabaikan perasaan tercekat dalam dadanya.
“Ne. Selama appa-mu adalah seorang yang punya nama.. Aku rasa tidak masalah kalau kau bisa sekolah di sini..” seseorang berujar di belakangnya.
Jung Hee menelan ludahnya dengan susah payah.
“Ya, Indonesia! Kau harusnya duduk di bangku belakang. Kau menghalangi penglihatanku..” seseorang berseru di belakang Jung Hee. Kali ini matanya mulai berair dan penglihatannya mulai kabur. Aku tidak boleh menangis, ujarnya tegas pada dirinya sendiri.
“Jung Hee ah! Bawa tasmu sekarang. Aku akan bilang pada appa-mu untuk segera mengeluarkanmu dari sekolah ini!” tiba-tiba seseorang berseru dari depan kelasnya. Jung Hee mendongak dan melihat Young Jae sudah berdiri di sana seraya menatapnya tajam.
“Oh, Young Jae oppa.. kenapa dia ke sini?”
Jung Hee mulai mendengar bisik-bisik di sekitarnya. Hampir semua teman yeoja-nya mulai berbisik-bisik saat Young Jae berjalan melewati deretan meja mereka. Beberapa terpekik kaget. Tapi Young Jae balas menatap mereka dengan galak. Dia lalu mengambil tas Jung Hee dengan paksa.
“Cepat. Sebelum guru datang..” ujar Young Jae seraya menenteng tasnya.
“Kim Young Jae.. Apa yang kau lakukan di sini?” seorang namja berusia 30 tahunan sudah berdiri di depan kelas, dengan membawa beberapa buku di tangannya, dan melihat ke arah Young Jae dengan pandangan bingung.
“Saya hanya akan membantu Park Jung Hee keluar dari sekolah ini. Mulai hari ini dia tidak bersekolah di sini lagi. Saya akan menyampaikan pada orangtuanya. Jadi urusan selanjutnya biar diurus orangtuanya. Kajja..” Young Jae menatap Jung Hee untuk mengajaknya pergi dari kelas itu.
Jung Hee masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Tapi dia mengikuti namja itu keluar dari kelas dengan kepala masih dipenuhi banyak pertanyaan.
“Op-oppa.. Ya~! Appa bisa marah nanti..” Jung Hee melangkah dengan susah payah, berusaha menyamai langkah kaki Young Jae yang panjang.
“Sudah aku bilang, jangan ikut-ikut sekolah di sini. Kau tetap keras kepala ingin bersekolah yang sama denganku. Sekolah ini ternama, tapi orang-orang yang ada di sini konyol semua. Apa kau mau bersekolah dengan teman-teman aneh seperti mereka? Tidak ‘kan?” Young Jae menatap Jung Hee dengan tatapan tak sabar. Dia sepertinya gerah sekali.
“Tapi biaya masuk sekolah ini mahal sekali ‘kan?” sahut Jung Hee.
“Appa-mu pasti juga tidak mau melihatmu dihina seperti itu. Itu sudah diskontinyu. Eh, apa, sih? Diskriminasi. Kau tahu istilah itu? Tidak tahu ‘kan?” sahut Young Jae setengah kesal.
Jung Hee tidak segera menjawab. Dia hanya diam saja mengikuti Young Jae melewati koridor sekolah yang mulai sepi itu.
“Sudah. Cepat pulang. Katakan pada appa-mu sejujurnya yang terjadi. Dia pasti akan mengerti. Aku harus masuk ke kelas..” Young Jae memberikan tas Jung Hee dengan sembarangan sampai tas itu hampir jatuh kalau Jung Hee tidak segera menerimanya.
Jung Hee menatap Young Jae dengan gemas.
“Kalau ada yang menghinamu lagi dengan membawa-bawa negara omma-mu, katakan padaku. Biar aku pukul dengan tabletku!” ujar Young Jae kesal.
Jung Hee menatapnya sambil mengerucutkan bibir. Yang dia khawatirkan adalah reaksi appa-nya kalau dia pulang nanti.
“Sudahlah.. Aku yang akan bertanggung jawab kalau appa-mu marah. Sudah cepat pulang dan segera cari sekolah lain!” Young Jae mengacak kepala Jung Hee dengan asal sebelum akhirnya berlari kembali ke koridor di belakangnya dengan terburu.
Jung Hee lalu berbalik dan berjalan menuju gerbang keluar sekolah.

Di rumah Young Jae, beberapa jam kemudian..
Young Jae menunduk dan tidak berani mendongak ke atas untuk melihat raut wajah omma-nya yang sekarang berdiri di depannya ini.
“Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau pikirkan, Kim Young Jae.. Kau menyuruh Jung Hee keluar dari sekolah di hari pertama dia masuk sekolah? Oppa macam apa kau ini?” suara omma-nya kali ini terdengar marah sekali. Young Jae tidak berani melihat wajah omma-nya. Dia tahu peraturannya, saat omma-nya belum menyuruhnya bicara, dia tidak boleh bicara. Jadi dia diam saja.
“Jae ah.. Kemari. Jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya..” suara seorang namja di ruangan itu membuat dadanya yang tadi sesak sedikit lega. Suara appa-nya bagaikan suara malaikat yang menyelamatkannya dari maut saat dia sedang dimarahi omma-nya seperti itu tadi. Young Jae menatap omma-nya dan menunjuk ke arah appa-nya yang sedang membaca koran di sofa di ruang tengah itu.
“Appa memanggilku..” katanya takut-takut.
Omma-nya menghela napas lelah dan melihat ke arah appa-nya dengan gemas.
Tanpa pikir panjang Young Jae segera menghampiri appa-nya dan duduk di hadapannya.
“Apa yang terjadi? Jung Min menghubungiku dan bilang Jung Hee tiba-tiba menangis saat sampai di rumah..” tanya appa-nya. Young Jae melirik ke arah omma-nya yang masih menatapnya ingin tahu.
“Teman-temannya.. Aku mendengar mereka menghinanya.. karena dia anak multikultural. Dan mereka mulai menghina negara omma-nya Jung Hee..” jawab Young Jae takut-takut. Sekali lagi dia mengerling ke arah omma-nya. Wajahnya omma-nya mulai melembut, tidak segalak tadi.
“Lalu kenapa kau menyuruhnya pulang dan keluar dari sekolah itu? Kau seharusnya menghubungi orangtuanya dulu ‘kan? Itu seharusnya jadi keputusan Jung Min. Bukan keputusanmu..” kata appa-nya.
“Appa.. Jung Hee tidak berani melawan mereka. Dia sudah hampir menangis saat aku tiba di sana. Ya sudah, aku bilang saja padanya untuk keluar dari sekolah itu. Daripada dia menangis setiap hari..” jawab Young Jae sekenanya.
Dia kembali mengerling pada omma-nya. Omma-nya menggeleng-geleng sambil menghela napas panjang sebelum akhirnya menghilang ke ruang makan.
“Kau selalu bertindak tanpa pikir panjang. Lain kali jangan lakukan itu. Ne? Kau harus memikirkannya matang-matang sebelum memutuskan sesuatu..” ujar appa-nya dengan tegas tapi lembut.
“Appa.. kenapa omma selalu marah-marah padaku? Apa aku senakal itu di matanya?” tanya Young Jae dengan suara pelan, hampir berbisik, takut kalau omma-nya akan mendengar suaranya.
Appa-nya tidak segera menjawab, kelihatan berpikir untuk sesaat.
“Omma-mu.. Sangat menyayangimu. Dia tidak mau melihatmu melakukan sesuatu yang buruk di masa depan. Kau tahu, saat kau kecil.. Dia menjagamu dengan sungguh-sungguh. Jadi jangan mengecewakannya. Ne? Jadilah oppa yang baik untuk adik-adikmu..” kata appa-nya seraya tersenyum lembut. Namja itu berdiri dari tempatnya, mengusap ujung kepala Young Jae dengan lembut sebelum akhirnya pergi meninggalkan Young Jae yang masih duduk di sana.

@@@
“Jung Hee ah! Kenapa malah melamun sendiri??”
Sebuah tepukan keras di pipinya membuat Jung Hee tersadar dari lamunannya. Sun Mi menatapnya dengan wajahnya yang polos, dan Da Reum juga sedang menatapnya dengan bingung di balik kacamatanya.
“Tidak apa-apa..” elak Jung Hee buru-buru.
“Nah. Itu Young Jae oppa-mu! Omo.. kenapa dia ke sini? Ya ampun.. Sun Mi ah.. Bagaimana wajahku? Rambutku berantakan..” Da Reum tiba-tiba salah tingkah sendiri.
Jung Hee menatap temannya itu dengan dahi berkerut.
“Kau ini kenapa?” tanyanya.
“Jung Hee ah.. Ya! Pony! Ayo, cepat. Kalau tidak cepat-cepat, aku tinggal!” Jung Hee mendengar sebuah suara yang sangat dikenalnya di belakangnya.
Young Jae sudah berdiri di sana dengan wajah bosan dan lelah. Dan beberapa yeoja menatapnya dengan wajah tersipu-sipu malu. Tapi yang dijadikan pusat perhatian hanya berdiri di sana dengan wajah mengantuk.
“Berhenti memanggilku begitu!” seru Jung Hee kesal. Dia merapikan tasnya, dan mengeluarkan dompet untuk membayar minumannya pada kasir.
“Palli~~ Jangan banyak bicara..” sahut Young Jae malas.
Aishh.. Jinjja.. Namja ini benar-benar.. Jung Hee mendesis kesal ke arahnya.
“Kau mau ke mana, Jung Hee ah?” tanya Sun Mi.
“Annyeong.. Aku pergi dulu. Ada perayaan kecil-kecialn di rumah orangtua Young Jae oppa. Aku tidak tahu.. Tapi itu semacam.. Hari jadi group. Kita bertemu lagi besok, ne? Bye bye!” Jung Hee melambaikan tangan ke arah kedua temannya sebelum akhirnya berlari mengejar Young Jae yang sudah berjalan mendahuluinya meninggalkan tempat itu.

Minggu, 01 Desember 2013

No Title


“Oke! Bagus! Pertahankan gaya yang seperti itu, Va Ni ssi!”
 
Photoshot berakhir...

“Kau harus segera naik ke mobil. Palli! Member yang lain sudah ada di mobil. Lari!” ucap managerku seraya mendorongku dengan agak keras hingga aku nyaris tersungkur karena hampir tak bisa menahan keseimbanganku di atas heels setinggi lima belas sentimeter yang sedang aku pakai. Aku berlari dengan tergopoh, berusaha secepat mungkin sampai ke mobil.. berusaha secepat mungkin berlari susah payah dengan sepatu bertumit jarum yang super lancip seperti ini.. berusaha menahan rasa sakit yang sudah mulai merambat sampai ke betisku...

Sekali lagi tubuhku di dorong masuk ke dalam mobil dan langsung menabrak sesuatu yang empuk di dalamnya. Ji Ho sudah duduk di jok yang ada di sampingku, sama terengahnya denganku walaupun dia sudah lebih dulu sampai disini dan duduk untuk mengatur nafasnya. Aku tahu dia juga baru saja diperlakukan sama sepertiku.

“Gwaenchana?” tanyanya saat melihatku dengan peluh di pelipisku yang belum sempat aku lap. Aku hanya mengangguk dan menerima sebotol air mineral yang disodorkannya padaku.

“Gomawo.” Sahutku penuh terimakasih sesaat sebelum aku meneguk isinya dengan rasa syukur yang melimpah. Tenggorokanku rasanya sudah sangat kering karena selama pemotretan kami tadi tak ada yang memberikan kami minum. Mereka takut lipstik yang kami gunakan akan luntur dan membuat hasil pemotretannya tak maksimal. Penyiksaan? Bukan... tapi inilah hidup kami...

Mobil melaju dengan kencang di jalanan dan membelah Kangnam dalam diam. Baik aku dan Ji Ho hanya diam, berusaha untuk beristirahat sebentar saja di dalam mobil selama kami menuju venue selanjutnya yang akan kami pakai untuk perform promosi single terbaru kami sebagai grup idol. Yah.. jadwal yang mulai menggila ini bukanlah hal yang baru untuk kami. Kurang makan, kurang tidur, kurang segala hal yang harus kami korbankan di usia kami yang masih tergolong sangat muda adalah hal wajar.. sebuah hal wajar apabila kau adalah seorang idol yang harus selalu tampil maksimal dan sempurna di hadapan publik. Selelah apapun kau, sesakit apapun kau... mereka tak akan mau tahu. Yang mereka tahu, selama kau ada di dunia entertainment, yang harus kau lakukan adalah menjadi boneka publik yang selalu di setting dengan ‘cheer up mode’ dan harus selalu tersenyum seburuk apapun keadaanmu di belakang.

“Turun! Ingat! Kalian harus tetap bersikap ramah dan tersenyum. Arasseo?!” manager mempertingatkan kami dengan nada galak seperti biasa. Aku menyahut seperlunya sementara Ji Ho hanya diam saja dan turun dari mobil.

Hari ini mendung dan tampaknya akan segera hujan setelah ini. Aku memandang langit yang kelabu dan tersenyum getir. Aku ingin hujan turun saat ini juga agar tubuhku bisa merasakan segarnya air yang menguyurku. Di sampingku, Ji Ho hanya diam. Berkali-kali dia menghembuskan nafas keras dan sedikit memijat betisnya juga. Sepatu yang dipakainya memang tak setinggi sepatuku karena pada dasarnya Ji Ho memang lebih tinggi dariku namun tetap saja efeknya akan sama. Aku tahu dia juga lelah, aku tahu kakinya sakit karena terus menggunakan sepatu itu sepanjang hari.

“Apa yang kalian lakukan? Masuk! Palli! Member yang lain sudah bersiap di dalam.”

Kami tersentak. Ji Ho memberi kode dengan tatapan matanya yang berkantung dan sudah berubah menjadi sangat sipit dibandingkan saat aku mengenalnya pertama kali dulu. Kami berjalan dengan langkah cepat mengikuti manager dan stylist kami.

“Itu Uni-line Butterfly!”

Teriakan fans... suara kamera yang mengambil gambar... nama kami yang dipanggil tanpa henti.. terus saja semua suara itu bersahut-sahutan.

Melambai.. tersenyum... tampil sempurna... berjalan dengan anggun namun sekaligus harus cepat... semua ini hanya seperti pengulangan dari hari ke hari, seperti deja vu yang terus terjadi tanpa henti... seperti kaset permanen yang sudah di set dan terus diputar setiap hari...

Membungkuk saat bertemu semua sunbae baik yang kami kenal atau tidak, memberi salam pada orang yang kami sukai atau tidak sepanjang jalan menuju ruang tunggu kami.. itu juga sudah menjadi semacam rutinitas untuk kami. Monoton? Tidak. Hanya saja semua hidup keseharian dan apa yang kami lakukan sudah ditentukan oleh atasan: manager dan agency tempat kami bernaung.

Saat pintu terbuka, dua orang member yang lain sudah ada disana dan sedang menikmati makan siang mereka dengan wajah yang jauh lebih segar daripada aku dan Ji Ho yang baru saja tiba. Mereka hanya melihat kami sekilas untuk kemudian mengobrol lagi dengan sikap acuh. Aku sempat mendengar pembicaraan mereka saat lewat di samping mereka. EXO. Shinee.. aku mengabaikan mereka dan mengikuti Ji Ho duduk di sofa yang tersedia di sudut.

“Lapar?” tanyaku pada Ji Ho yang sudah sibuk dengan ponsel di tangannya. Dia mengerling padaku sebentar dengan wajah lelah.

“Kau bertanya pada dirimu sendiri?” sindirnya. Aku terkekeh singkat. Aku tahu, Ji Ho memang seperti itu. Aku juga sama saja. Aku sudah tahu jawabannya dan masih saja terus berbasa-basi pada rekan kerja yang paling sering se-frame denganku ini. Ada sub-unit yang dibentuk di grup ini dan kami ada di sub-unit yang sama: Uni-line Butterfly.

Aku melepaskan sepatuku yang benar-benar menyiksa dan meletakkannya di bawah meja agar tak terinjak staf yang sering baerlalu-lalang. Ji Ho masih sibuk dengan ponselnya, entah apa yang dilakukannya tapi yang aku tahu dia sedang melihat update dari orang yang dikaguminya.

Paakk!!!

Aku terkaget luar biasa ketika sebuah benda yang tak cukup berat menimpa sisi kepalaku.

“HWANG VA NI! APA KAU GILA?!”

Seraya memegang sisi kepalaku dan menutup telingaku yang tiba-tiba mendengung karena pukulan itu, aku mendongak dan melihat seorang namja menatapku gusar. Manager utama kami sedang berdiri di hadapanku dengan wajah memerah.

“Ada apa, manager?” tanyaku bingung.

“Ada apa? Baca artikel itu dan lihat komen dari para netizen! Ya! kau mau menghancurkan namamu sendiri?!” sembur managerku, marah.

Ji Ho segera mengambil artikel itu dan membacanya dengan cepat lalu menyerahkan beberapa kertas yang sudah disobek dari sebuah majalah itu kepadaku. Aku meraihnya dan menatap judul yang terpampang dengan ekspresi datar. Tak ada yang menarik..

“Apa salah Va Ni? Dia hanya memilih idol mana yang paling baik menurutnya kan? Kenapa anda semarah itu?” tanya Ji Ho membela.

Aku melempar potongan majalah itu tanpa minat ke kursi kosong di sebelahku dan membuang nafas keras.
“Apa kau tak bisa menjawab dengan jawaban yang membuat netizen puas? Kenapa kau mengesampingkan dan mengeliminasi semua idol dari SM Entertainment? Variety show itu sangat terkenal dan memiliki rating tinggi, disiarkan ke seluruh negara melalui chanel Youtube resmi. Hampir semua orang melihatnya. Apa kau gila? Ha?! Ya! Kau malah memilih idol dari agency kecil seperti JYJ, lalu MBLAQ? Apa kau gila?” maki manager. Aku diam saja. Ini bukan satu dua kali terjadi, sudah berkali-kali dan tiap kali artikel seperti ini muncul aku selalu di bash habis-habisan oleh netizen stand dari agency terbesar di Korea itu. Aku memilih diam. Ji Ho juga sama. Dia pernah diserang netizen karena lebih memilih Big Bang dibandingkan Super Junior dan Shinee.

“Lalu apa, manager? Aku harus berpura-pura memilih artis dari agency itu? Aku tak menyukai satupun dari mereka!” kataku kesal. “Aku tak mau harus mengikuti setiap kemauan netizen. Kalau mereka menyukaiku, aku ingin mereka menyukaiku karena prestasiku bukan karena aku idol yang mengidolakan grup minim bakat dari agency sampah seperti mereka!”

BAAAKKKK!!!!

Sebuah pukulan lain dari segulung majalah mendarat di sisi kepalaku dengan lumayan keras. Ji Ho ikut berdiri.

“Kenapa memukunya lagi?” serunya berang.

BAAAKKKK!!!

Satu pukulan lain lagi juga mendarat di sisi kepala Ji Ho dan membuatnya langsung terdiam. Seisi ruangan menjadi diam. Bahkan dua rekan kami yang tadinya sibuk mengobrolpun sudah ikut diam dan menatap kami dengan ekspresi ganjil di wajah mereka.

“Sekali lagi aku ingatkan pada kalian berdua, ini yang terakhir kalinya! Kalian adalah publik figur! Kalian tak bisa seenaknya keluar dengan keinginan kalian sendiri dengan pilihan kalian. Setiap gerakan kalian akan sangat disorot oleh netizen, fans dan antis! Kau, Va Ni!” dia menunjukkan jari telunjuknya ke wajahku. “Jangan pernah lagi menolak ajakan Kyu Hyun ssi atau Hee Chul ssi di setiap variety show yang sama saat mereka memintamu maju bersama mereka! Apa sulitnya berakting di depan kamera? Semua idol melakukan itu! Kalian sedang naik daun saat ini dan kau leader grup! Apa kau tak bisa menjadi contoh untuk membermu yang lain, ha?!”

“Aku tak mau.” Tolakku tegas.

“Kau mau aku pukul?!” ancam manager dengan suara mengerikan.

Aku mendongak menatapnya.

“Aku memang bekerja sebagai seorang entertain, manager. Tapi bukan berarti aku adalah budak yang harus selalu menuruti apa yang diinginkan fans dan netizen. Aku punya hidup. Aku punya orang yang aku kagumi dan itu bukan mereka yang berasal dari agency SM Entertainment. Aku tak suka sikap mereka semua. Aku punya pilihanku sendiri. Kalau anda ingin Butterfly dikenal karena kami terlihat seperti pengagum idol dari agency yang anda maksud, anda bisa memakai jasa mereka berdua!” kataku menantang. Aku menunjuk dua rekanku yang langsung terperanjat mendengar perkataanku. “Min Ji dan Seun Young akan dengan senang hati melakukannya.”

“Aku juga, manager. Lebih baik aku tak dapat job dan tak diundang di variety show daripada aku harus berpura-pura menyukai mereka.” Timpal Ji Ho dingin. Aku menoleh kepadanya yang juga sedang menatapku. Kami tak tersenyum saat mata kami saling bertemu tapi ada sebuah kesepakatan tak terucap diantara kami tentang hal ini.

“Kurae!” raung manager frustasi. “Terserah kalian! Ya! Stylist Jang, bereskan make up mereka segera. Dan kalian berdua tak akan dapat makan sampai jadwal berakhir!”

Aku membuang nafas pasrah. Bukan karena dihukum tak boleh makan namun karena ada rasa sakit yang terasa sekarang. Inikah harga yang harus kami bayar demi sebuah kepopuleran? Harus terus menerus bersandiwara dan mengikuti kemauan manager dan juga publik tapi dengan seenaknya aku dan Ji Ho menentang semua itu di sebuah poin. Kami sepaham tentang itu sejak kami menginjakkan kaki pertama kalinya di dunia hiburan sebagai rookie. Agency yang dimaksud memiliki idol dengan karakter yang kebanyakan tak baik dan menyebalkan. Sombong. Semaunya. Kami berdua muak dengan itu semua.

“Ya! Bagaiamana bisa kau menunjukku seperti itu?” 

Aku memalingkan wajahku. Aku tahu siapa yang bicara bahkan tanpa harus melihat ke arahnya. Min Ji. Dan suaranya terdengar sangat tak mengenakkan didengar.

“Aku sedang malas berdebat denganmu.” Tukasku seraya berjalan ke arah kaca rias dan duduk di kursi putar berpunggung yang ada di depan kaca.

“Kau membenci mereka semua. Aku tahu. Tapi kenapa kau begitu merendahkan mereka? Kau sama sekali tak pernah menghargai atau menghormati mereka.” Kejar Min Ji. Dia berdiri di sampingku. Aku bisa melihat bayangannya di kaca lebar yang terpampang di hadapanku. Min Ji sudah siap dengan kostum yang akan digunakannya perform.

“Ya sudah kan?” sahutku dingin. “Kau tahu aku membenci mereka. Lalu apa?”

“AKU MENYUKAI MEREKA! Aku dan Seun Young menyukai mereka dan kau harus menghormati mereka!” teriak Min Ji. Ekspresi wajahnya mengeras karena marah. Aku hanya menatap bayangannya sambil diam.

“Hanya aku?” tanyaku datar.

“Kau sangat merendahkan mereka dengan menolak setiap ajakan mereka di semua variety show. Kau terang-terangan menyingkirkan Lee Taemin tanpa perasaan. Juga Donghae ssi.. ani.. bukan hanya dia, Luhan ssi pun kau tolak.. seakan-akan mereka tak pantas bersamamu. Aku tahu kau leader dan kau cukup dikenal para namja itu karena bakat dan kemampuanmu. Tapi kau membuatku jengkel dengan sikapmu pada mereka!” kata Min Ji panjang lebar penuh emosi.

Aku bertahan pada posisiku, tanpa mengeluarkan apa yang sebenarnya ingin aku ungkapkan.

“Apa sudah cukup? Apa kau benar-benar ingin mengajakku bertengkar sekarang?” aku berdiri dan menatap langsung wajahnya yang sudah dipoles dengan make up panggung yang tebal.

“Ani.” Kata Min Ji sedikit menggeram. “Aku hanya ingin kau menghormati idol yang aku suka. Aku tak pernah menghina idolmu jadi jangan menghina idolku!”

“Kapan aku menghina idolmu? Apa aku pernah menghina mereka secara terbuka? Apa aku mengatakan hal yang merendahkan idolmu di depan umum seperti yang dilakukan idolmu pada idolku??” aku membalas dengan suara rendah. “Kau bilang jalan kita sudah berbeda kan? Jadi kenapa kau masih mengurusiku?”

Min Ji mendorongku sampai aku terdorong ke belakang dan pergi setelah melempar tatapan tajam ke arahku. Dia berjalan ke arah pintu dan menutupnya dengan sebuah bantingan lumayan keras. Seun Young langsung bangkit dari kursinya, menatapku dengan tatapan dengki yang sama lalu segera bergegas menyusul Min Ji keluar ruang tunggu.

Aku masih berdiri di tempatku. Terpaku. Inilah kenyataan yang terjadi di belakang panggung saat sebuah idol grup tak sedang disorot kamera. Kami tak ubahnya seperti gadis-gadis lain yang memiliki konflik dan masalah sama seperti yang lain di usia kami. Namun hal semacam ini baru-baru ini saja terjadi, sebelumnya kami sangat akrab dan dekat. Sebelum para namja dari idol grup yang disukai Min Ji dan Seun Young membuat kami menjadi seperti ini. Semua staff dan manager tahu kenyataan seperti ini terjadi di hampir semua idol grup. Kami terlihat dekat, kompak, bersahabat dan menyenangkan di depan kamera namun ketika kamera off, kenyataan seperti inilah yang terjadi. Pertengkaran. Perselisihan..

“Jangan pikirkan dia.” Hibur Ji Ho seraya menatapku dengan tatapannya yang hangat. Aku tersenyum getir dan segera duduk di kursiku. “Aku rasa kita memang sudah harus terbiasa dengan ini semua.”

Aku hanya diam dan menatap bayanganku sendiri di kaca. Aku masih mengingat sedekat apa dulunya aku dan Min Ji sebelum dia berubah menjadi pribadinya yang seperti sekarang. Diantara rasa lelah yang mendera tubuhku dan sakit yang aku rasakan di sekujur kakiku, aku bisa merasakan sebuah rasa sakit lain yang merambat perlahan-lahan di dalam diriku yang sepertinya sudah mulai menjadi teman baikku. Saat kau menjadi idol, kau harus siap kehilangan apapun yang kau miliki termasuk sahabat terdekatmu yang mungkin paling kau sayangi di dunia ini karena tak berarti saat kau menyayangi seseorang dengan setulus hatimu, orang itu juga akan merasakan hal yang sama walau kau selalu berusaha untuk menjadi yang diinginkannya selama ini. Dan setiap orang juga memiliki batasnya masing-masing.

----- 

Flashlight... spotlight...
Musik yang berdentum...
Teriakan fans... fanchant...

Gerakan tari yang harus kami lakukan berbarengan dengan lagu yang kami bawakan...

Sorakan yang membahana...

Kamera... panggung yang diatur khusus untuk Butterfly...

Aku segera mengganti kostum yang aku kenakan sebelumnya di panggung dengan pakaian yang lebih santai ketika jadwal sudah selesai. Aku membersihkan lipstik dan riasan wajah tebal yang ada di wajahku dengan hanya menyisakan foundation saja. Aku minta ijin untuk tak pulang dengan mobil van yang disediakan agency malam ini dan manager juga tak akan peduli kami pulang dengan siapa kalau memang jadwal sudah selesai seperti ini. Aku dengan cepat meninggalkan ruang ganti bersama dengan tasku bahkan sebelum Ji Ho selesai mengganti pakaiannya.

Aku berjalan dengan menundukkan kepala menghindari tatapan orang-orang dan beberapa fans yang punya link khusus masuk ke koridor gedung. Namun begitu tetap saja ada yang mengenaliku. Aku berusaha menghindar dengan sikap yang tak terlihat mencolok saat beberapa fans mulai membidikkan kameranya untuk mengambil gambarku. Ini adalah hal yang paling mereka suka, mengambil gambarku saat aku sudah tak menggunakan make up yang biasa menempel di wajahku sepanjang waktu. Setelah beberapa waktu aku berhasil lepas dari para fans itu dan berjalan di lorong sendiran menuju sebuah balkon di sisi gedung yang sudah pernah aku datangi dua kali sebelum ini. Malam sudah hampir tiba di puncaknya. Saat aku menilik arloji yang aku gunakan, jarumnya menunjukkan angka sepuluh. Aku membuang napas lelah dan mengambil sebuah botol air minum dari dalam tasku dan segera meneguknya sedikit. Aku mendesah keras setelah air manis yang aku minum melewati tenggorokanku lalu menatap area parkir gedung broadcast ini dengan perasaan yang tak menentu. Pertengkaran yang terjadi siang tadi membuatku agak terpukul juga walaupun hal itu sudah sangat sering terjadi pada kami, padaku dan Min Ji terutama. Ada rasa sakit yang tak kunjung hilang sejak siang tadi yang tak bisa aku abaikan begitu saja sekeras apapun aku mencobanya.

Aku mulai bergumam pelan menyanyikan beberapa bait lirik lagu yang aku sukai. Tempat ini tenang sekali seperti tak pernah ada orang yang mau datang kemari. Walaupun gedung ini digunakan selama dua puluh empat jam dalam sehari namun tak pernah ada orang yang mau repot-repot menginjakkan kakinya di balkon yang sepi dan terletak di sudut jauh di lantai tujuh seperti ini. Jutru hal inilah yang membuatku nyaman dan memilih tempat ini untuk menenangkan pikiranku saat aku punya waktu luang yang sangat jarang aku dapatkan.

I told you everything... opened up and let you in..
You made me feel alright for once in my life..
Now that is left to me is what I pretend to be.. so together but so broken up inside...
Now I can’t breath.. no, I can’t sleep.. I’m barely hanging on...
Here I am once again I’m torn into pieces~
Can’t deny can’t pretend just thought you were the one
Broken up deep inside..

“But you won’t get to see the tears I cry~ behind these hazel eyes~”

Aku terlonjak dan segera memutar tubuhku untuk menemukan asal suara yang tiba-tiba saja menyambung lagu yang sedang aku gumamkan. Mataku menangkap sebuah sosok namja yang sedang berjalan mendekat ke arahku. Aku mundur selangkah dan merasa tubuhku membeku perlahan-lahan. Wajahnya belum terlihat karena penerangan yang tak begitu baik dan juga karena aku lupa tak menggunakan kacamataku. Aku terus berusaha mengenali sosok itu dengan sikap waspada, siapa tahu dia sassaeng yang membuntutiku dan semua orang tahu hal seperti ini bisa menjadi sangat membahayakan untuk seorang idol.

“Aku melihatmu saat kau membawakan lagu ini di acara akhir tahun beberapa bulan yang lalu. Aku pembawa acaranya saat itu.” kata namja itu dengan suara khasnya yang berat tapi bernada seperti anak kecil.

“Sunbae?” ucapku lega. Kim Hyung Jun sunbaenim sedang berjalan ke arahku dengan ponsel masih berada di tangannya. Sepertinya dia baru saja selesai menelpon seseorang.

Namja tinggi berwajah tampan dan berkulit putih namun berpakaian sangat seenaknya itu sudah berada sangat dekat denganku dan menyunggingkan senyumnya. Aku bernapas dengan lega.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya penasaran.

Aku membungkuk sedikit memberi hormat dan kembali menatapnya dengan canggung. Namja ini adalah sunbae idol yang sudah debut selama delapan tahun dan sangat terkenal. Sangat senior dibandingkan aku yang baru debut dengan grupku selama tiga tahun belakangan, tepat sesaat setelah grupnya mengumumkan untuk hiatus sementara dari dunia entertain karena masalah kontrak yang berakhir dan ingin mencoba karier solo masing-masing.

“Aku hanya sedang ingin menghirup udara malam sebentar setelah jadwal berakhir. Sunbae sendiri sedang apa disini?” aku balik bertanya.

“Aku baru saja menyelesaikan recording untuk Music High.” Jawabnya enteng. Music High adalah program radio yang sudah dipandunya selama lebih dari empat tahun. Aku mengangguk paham.

Hyung Jun sunbae berjalan ke ujung balkon dan melongok ke bawah, ke arah area parkir yang lengang dan gelap.

“Kau tak berpikir untuk bunuh diri, kan?” tanyanya tiba-tiba. Mataku melebar kaget.

“Tentu saja tidak.” Elakku.

“Baguslah. Ah~ kalau kau sampai mati saat ini artinya aku tak akan bisa mengajakmu duet lagi untuk laguku seperti tahun lalu. Hey Girl~ neol barabwa...” guraunya sambil menyayikan sebaris lirik di lagunya.

Aku memang pernah bekerja sama dengannya untuk menjadi rekan duet di lagu ciptaannya yang cukup fenomenal di salah satu stasiun televisi nasional dan respon yang kami dapat sangat memuaskan, sama memuaskannya seperti saat Ji Ho berkolaborasi dengan Lee Seung Gi sunbaenim untuk menhgisi sebuah sountrack drama yang sangat terkenal.

Diam. Hyung Jun sunbae sibuk dengan ponsel di tangannya menjawab pesan-pesan yang masuk tanpa henti. Aku tahu dari suara yang bersahut-sahutan terus menerus sejak tadi.

“Jadi... tak akan ada idol yang mau berdiam sendirian di tempat sepi seperti ini kalau dia tak sedang bermasalah.” Kata Hyung Jun sunbae kemudian. Aku tertunduk malu. Ahh~ jadi dia juga tahu apa artinya sikapku ini rupanya? “Aku juga kadang berdiam seperti yang kau lakukan di tempat ini saat merasa sedang depresi atau rindu pada memberku. Aku heran saja ternyata ada orang lain yang tahu tempat rahasiaku ini.”
“Darimana sunbae tahu? Aku bahkan tak mengatakan apapun.” Kataku sopan.

Hyung Jun sunbae terkekeh sekali.

“Tentu saja. Aku juga punya grup dan menyedihkannya adalah aku sudah tidak bersama grupku lagi sekarang.” Ujarnya. Aku berpaling menatap wajahnya. Dari samping seperti ini aku bisa melihat bentuk hidungnya yang panjang dan sempurna tanpa sentuhan operasi. Wajah itu akan benar-benar membuat iri orang yang melihatnya kendati dia tak memakai make up.

“Aku tahu..”

“Tentu saja kau tahu, kau mengakui terang-terangan di banyak interview dan variety show baik televisi, majalah ataupun radio kalau kau adalah fangirl kami kan? SS501. Gomawo. Ah~ sudah berapa kali aku mengucapkan terimakasih padamu?” kata Hyung Jun sunbae. Dia menatapku tiba-tiba. Aku tersenyum secara reflek.

“Aku hanya ingin jujur pada publik dan diriku sendiri.” Jelasku.

“Tapi aku juga tahu kau mengalami banyak waktu yang sulit dengan netizen yang tak menyukai sikap blak-blakanmu itu. Kau dan membermu yang satu. Kim Ji Ho.” Sahut Hyung Jun. “Aku juga banyak membaca tentang itu jujur saja. Kau terlalu polos tapi juga keras kepala untuk hitungan seorang idol.”

Aku tersenyum getir. Aku tahu. Tanpa harus dijelaskan padakupun aku tahu seperti apa karakterku sendiri.
“Jadi kau sedang punya masalah saat ini?” tanya Hyung Jun sunbae penasaran.

“Eh?”

“Kau pasti sedang bermasalah kan? Lagu yang kau nyanyikan tadi sangat menyedihkan. Aku juga tahu lagu itu. Wae? Kau sedang bertengkar dengan membermu?” tebaknya.

“Mworagoyo?” aku kaget.

“Jangan mengelak. Aku juga pernah hidup dalam grup dan tinggal bersama mereka. Hyung-hyungku di grup. Tapi sebagai fangirl kau pasti tahu aku sering sekali bertengkar dengan Jung Min.” Cerita Hyung Jun sunbae. “Dan saat aku benar-benar kesal padanya aku akan memaki dan mengatainya. Bahkan seringkali aku menyanyi dengan lantang di hadapan member lain sebuah lagu yang liriknya tentang Park Jung Min adalah kuda nakal yang sangat egois.”

Aku tersenyum geli.

“Keuresso?”

Hyung Jun sunbae mengangguk.

“Kau bisa menceritakannya pada orang lain, saat kau benar-benar tertekan dan butuh teman untuk bicara. Kau terlihat agak seperti leader kami. Dia juga selalu menyendiri saat ada masalah, tanpa membiarkan kami tahu masalah apa yang sedang dihadapinya. Dia hanya tak mau terlihat sebagai kakak yang lemah di hadapan kami semua, terutama di depanku. Dia sangat kuat kan? Tapi hyung akan menangis saat kerapuhannya tak bisa ditahan lagi. Itu menyedihkan.” Cerita Hyung Jun sunbae. Aku tak mengerti kenapa dia menceritakan ini semua padaku. “Leader kami orang yang keras kepala namun dia juga sangat bertanggung jawab. Aku belajar banyak darinya. Dia selalu melindungi kami dengan caranya sendiri agar kami tak terluka, yah.. walaupun akhirnya dia sendiri yang terluka dan terpuruk sendirian di belakang kami. Kami baru akan mengetahuinya saat leader sudah kembali bangkit. Keren kan?” namja itu menolehkan wajahnya padaku. “Dan sorot matamu memberitahuku bahwa kau sedang ada di posisi yang juga sulit saat ini. Walau aku tak tahu apa masalah yang sedang kau hadapi, kau harusnya mencari seseorang yang mau kau ajak berbagi. Kita sama-sama idol, kita tahu bagaimana kerasnya kehidupan yang harus kita jalani. Dan wajahmu yang suram itu mengingatkanku pada wajah sedih adikku beberapa tahun yang lalu. Itu sebabnya aku bertanya kau tak akan berniat bunuh diri dari sini kan? Adikku pernah hampir bunuh diri karena depresi dan itu benar-benar membuatku hampir gila.”

“Sunbae..”

“Jangan katakan kau tak pernah melihatku depresi karena aku selalu terlihat bersikap konyol dari waktu ke waktu. Jadi penyanyi adalah impianku sejak aku masih sangat kecil. Tapi ada banyak  waktu dimana aku benar-benar merasa nyaris putus asa berjalan di dunia hiburan seperti ini. Ada banyak waktu dimana aku menangis dan ingin keluar dari semuanya, mengakhiri segalanya dan hidup normal.. tapi setelah aku mengingat ada banyak orang yang begitu mendukung dan menyayangiku aku mengurungkan semuanya. Member dan keluargaku adalah para pendukung utamaku.” Lanjutnya dengan suara yang sangat lembut. “Aku beruntung memiliki mereka dalam hidupku. Aku anak sulung yang menanggung beban kehidupan keluargaku namun aku memiliki empat orang kakak laki-laki yang benar-benar menyayangi dan memperhatikan setiap gerakanku. Aku sangat beruntung. Bless~! B-l-e-s-s!”

Dia mengakhirinya dengan senyuman. Aku hanya terdiam. Aku memikirkan setiap kata yang diucapkannya baru saja.

“Ada saatnya kau harus membayar harga kepopuleran yang kau dapat dengan sangat mahal, bahkan lebih mahal dari yang seharusnya. Kau harus kehilangan masa mudamu, privacy yang kau miliki, ruang gerak, waktu istirahat, bahkan teman-teman termasuk sahabat terdekatmu. Itu menyakitkan. Tapi lihatlah lebih jauh ke depan. Kau memiliki banyak cinta yang diberikan semua penggemarmu yang selalu mendukungmu dengan setulus hati mereka. Walaupun itu semua belum bisa menggantikan apa yang telah terenggut darimu, kau masih tetap harus bersyukur karena Tuhan memberimu kesempatan untuk membuat banyak orang bahagia dengan apa yang kau lakukan untuk mereka. Dalam hal ini kau menghibur mereka dan membuat mereka tersenyum senang tiap kali mereka melihatmu.” tambah Hyung Jun sunbae.

“Aku..” aku memulai. “Aku tak tahu sunbae bisa berpikir sampai sejauh itu. Semua yang kau katakan benar. Aku masih sangat kekanakan setelah mendengar semua ini darimu, sunbae.”

“Bukan kekanakan.” Katanya mengoreksi. “Hanya saja mungkin beban yang ada di pundakmu lebih berat dariku. Kau leader kan? Tentu saja tugasmu jauh lebih berat daripada aku yang memiliki posisi sebagai magnae. Aku selalu memperhatikan leaderku juga dan betapa berat tanggung jawabnya menjaga dan melindungi semua membernya sendirian. Be strong, Hwang Va Ni!” Hyung Jun sunbae menepuk bahuku lembut dan aku agak berjengit karenanya, seperti ada listrik yang tiba-tiba mengaliri tubuhku.

Aku tersenyum. Aku tak dekat dengan sunbae ini, idolaku tepatnya. Tapi saat kami melakukan proyek duet, kami banyak menghabiskan waktu untuk persiapan bersama dan aku jadi tahu karakternya yang sangat bertanggung jawab di balik sikapnya yang kadang kekanak-kanakan itu.

“Gomawo.. ah~~”

Aku meringis malu saat perutku tiba-tiba mengeluarkan suara yang sangat mengerikan. Seperti auman singa yang ingin menerkam mangsanya.

Hyung Jun sunbae meledak tertawa.

“Ya! Whaaa~! Daebak! Ternyata kau kelaparan ya?!” serunya keheranan. Aku mengernyitkan wajahku menahan malu. Kenapa berbunyi sekeras ini? Aku lupa. Karena dihukum tak boleh makan oleh manager, aku dan Ji Ho benar-benar tak diberi makanan apapun kecuali air. Yang benar saja, perutku benar-benar tak ada isinya.

“Mianhaeyo..” rintihku.

“Kajja~! Kebetulan aku sedang akan makan malam juga bersama beberapa temanku. Ikutlah!” ajaknya.
“Eh?” aku menatapnya keheranan.

“Kau tahu aku. Aku tak akan berbuat macam-macam padamu. Aku tak tega mendengar rintihan perutmu itu. Pantas saja kau kurus kering seperti ini. Jangan katakan managermu memaksamu melakukan diet super ekstrim saat melakukan promosi album seperti saat aku di agency lama.” Ujar Hyung Jun sunbae.

“Tapi aku tak mungkin naik van perusahaanmu kan?” tanyaku sanksi.

“Aku tak naik van. Aku naik taksi kesana. Nanti aku harus mengemudi masalahnya. Kajja!” ajaknya sekali lagi.

Aku mengikuti Hyung Jun sunbae yang sudah berdiri beberapa meter di hadapanku lalu kami meninggalkan balkon gelap itu bersama apa yang tadi kami ungkapkan... aniya... bersama nasehat yang diberikan Hyung Jun oppa padaku. Namun aku menyimpan juga semua nasehat itu di dalam hatiku.