expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

OPENING

Opening

Blog ini berisi konten-konten terlarang.. Hehehe. Bo'ong, diiiing.. Blog ini khusus buat para Triple S dan orang-orang yang dengan sukarela menghargai karya orang lain.. Dikhususkan buat para penggemar fanfiction yang gak suka bashing dan suka menghargai karya orang lain. If you don't like it, JUST LEAVE THIS PAGE!! We don't need bashing.. Kalau kritikan, fine.. Tapi bukan untuk dicaci maki dan dihina. Jadi, sekali lagi.. We need your supports. Dan yang terpenting dari segala yang terpenting adalah.. DILARANG MENGCOPY TANPA IJIN APALAGI MENGKLAIM DENGAN SENANG HATI KALAU INI ADALAH HASIL KARYANYA. Semua yang ada di sini ditulis oleh kami sendiri. Bukan saduran maupun plagiat dari mana-mana. Atas perhatiannya. Saya ucapkan terima kasih..


NOTE: Komen dan kritikan dan saran saaaaangaaat ditunggu.. ^^

Author

Sabtu, 05 April 2014

Addy's Blog: Cerita Detektif I

Addy's Blog: Cerita Detektif I: Kemarin waktu jelajah ke forum-forum di internet, saya menemukan kumpulan cerita detektif yang menarik. Memang nggak ada kunci jawabanya sih...

Rabu, 29 Januari 2014

Kiss B

“Aku rasa.. Aku butuh bantuanmu, Ai..”  ujar Kim Hyun Joong dengan wajah serius kepada seorang yeoja yang berumur lebih muda tiga tahun di bawahnya yang sedang duduk di sampingnya sambil menikmati ttokboki-nya. Yeoja berambut sebahu itu menoleh ke samping dan menatap namja itu dengan tatapan bingung.
“Bantuanku?” Kim Ji Ho menatap kakak sepupunya itu dengan pandangan penuh ingin tahu.
“Ne. Bantuanmu..” jawab Hyun Joong lagi, tanpa ekspresi yang berarti di wajahnya.
“Bantuan macam apa sampai seorang Kim Hyun Joong sepertimu meminta bantuanku? Aku hanya bercanda..” Ji Ho berkata dengan nada setengah bercanda tapi langsung diralat saat melihat wajah kakak sepupunya itu tidak berubah sama sekali. Biasanya juga seperti ini, tapi kali ini wajahnya benar-benar serius. Ji Ho menelan potongan ttokboki terakhirnya dengan susah payah dan meletakkan wadahnya di atas meja di depannya. Lalu dia beralih menghadap kakak sepupunya itu dengan wajah yang sama seriusnya.
“Baiklah.. Oppa, apa yang bisa aku bantu?” tanyanya dengan nada yang melembut. Wajah namja di depannya ini masih seperti tadi. Tidak berubah dan hanya menatap wadah ttokboki di atas meja dalam diam. Ji Ho maklum. Setelah beberapa tahun tinggal bersama di rumah ini, dia memahami karakteristik namja di depannya ini. Tidak semua orang bisa memahami sikap diam namja di depannya ini.
“Aku butuh bantuanmu.. tentang perasaanku pada seseorang..” kata Hyun Joong kemudian.
Ji Ho membelalakkan mata kaget mendengar perkataan namja di depannya itu.
“M-mwo?” tanyanya kemudian, mencoba memastikan pendengarannya. Masalahnya, langka sekali untuk seorang Kim Hyun Joong mengatakan apa yang dirasakannya terang-terangan pada orang lain.
“Aku bilang ini karena kau mempelajari psikologi. Dan aku merasa kalau aku membutuhkan bantuanmu..” jawab Hyun Joong lagi.
Ji Ho mulai mengernyitkan dahi bingung.
“Apa itu, oppa? Dan kenapa harus dengan ‘psikologi’?” tanyanya heran sekaligus ingin tahu.
“Karena aku merasa, yang sedang aku rasakan saat ini.. tidak normal..” jawab Hyun Joong kemudian.
“Oke. Lalu apa masalah intinya?” tanya Ji Ho hati-hati.
“Aku menyukai seseorang.. Tapi.. Aku tidak yakin dengan itu..” Hyun Joong masih tidak mau beralih untuk menatap ke arah adik sepupunya.
“Apa yang membuatmu tidak yakin dengan perasaanmu? Oppa, apa kau ragu-ragu kalau kau mempunyai perasaan pada orang itu?” tanya Ji Ho lagi.
Hyun Joong menggeleng pelan.
“Tidak. Aku hanya.. Aku rasa aku menyukainya. Aku selalu bahagia tiap melihatnya. Tiap berada di dekatnya, perasaanku yang semula suntuk langsung berubah jadi ringan.. Dan lama kelamaan, aku jadi selalu ingin melihatnya dan berada dekat dengannya..” jelas Hyun Joong panjang lebar dengan wajah datar. Tapi ada sedikit kebingungan dalam pandangan matanya.
Ji Ho mengangguk-angguk paham seraya mengambil cangkir yang berisi teh ginseng di atas meja di depannya.
“Tidak salah lagi.. Kau sedang jatuh cinta, oppa.. Wahh.. Siapa yeoja yang beruntung itu?” Ji Ho bertanya dengan nada menggoda ke arah Hyun Joong dan menyeruput tehnya yang masih panas dengan hati-hati.
Hyun Joong tidak segera menjawab untuk beberapa saat. Dan hanya terdiam melihat Ji Ho yang sedang meminum tehnya dengan hati-hati.
“Tidak ada yeoja yang aku maksud..” katanya kemudian dengan ragu-ragu.
“Mwo? Apa maksudnya?” Ji Ho kembali menatap kakak sepupunya itu dengan pandangan bingung dan kembali menyeruput tehnya.
“Yang aku ceritakan tadi.. Dia seorang namja..” ujar Hyun Joong kemudian.
Ji Ho tidak bisa menahan rasa kekagetannya yang luar biasa, sampai dia tersedak tehnya dengan hebat sekali mendengar pernyataan kakaknya itu.
“Mwo??? Namja??!”

@ @ @

Yeoja itu sedang berdiri di samping gerbang dekat dengan taman yang ada di gedung perusahaan besar yang ada di belakangnya. Menunggu dengan hati-hati dari balik tembok pagar yang tinggi itu dengan bersikap sebiasa mungkin, agar sekuriti yang berjaga di dekat gerbang itu tidak mencurigainya. Kedatangan Kim Ji Ho ke tempat ini bukan tanpa alasan. Sejak dia mendengarkan curahan hati kakak sepupunya yang notabene adalah pewaris tunggal di perusahaan fashion terbesar itu, dia jadi benar-benar memikirkan itu. Dia tidak ingin menghakimi kakak sepupunya begitu saja tentang ucapannya tempo hari. Ji Ho hanya berpikiran.. Kakak sepupunya menyukai seorang.. namja? Yang benar saja! Bahkan akal sehatnya menolak mentah-mentah kalau memang benar itu kenyataannya. Jadi, namja macam apa yang membuat kakak sepupunya itu jadi berpikiran kalau dia tidak normal? Apa dia semanis itu? Ji Ho menggeleng kuat-kuat.
Dia melirik jam tangannya. Sudah hampir jam makan siang. Seharusnya Hyun Joong oppa sudah membawanya keluar untuk makan siang ‘kan kalau memang mereka jadi membuat pertemuan untuk kerjasama bisnis perusahaan?
“Ai?” seseorang tiba-tiba berdiri di samping yeoja itu dan seketika membuat yeoja itu terlonjak kaget.
Ji Ho menatap ke arah orang yang memanggilnya dengan suara mengagetkan dari belakangnya tadi. Seorang namja yang mengenakan jas denim yang rapi sedang menatapnya bingung. Rambutnya yang dicat kecoklatan tertempa cahaya matahari di belakangnya.
“JaeJoong oppa~ Kau mengagetkanku~!” kata Ji Ho setengah kesal melihat namja itu.
“Wae~? Aku hanya memanggilmu karena tidak biasanya kau ke sini..” ujar namja yang dipanggil JaeJoong itu.
“Aku sedang mencari tahu sesuatu..” jawab Ji Ho.
“Tentang apa? Kenapa tidak masuk saja dan temui Hyun Joong di sana?” tanya JaeJoong.
“Tidak. Oppa.. Apa kau mengenal namja bernama Kim Hyung Jun?” tanya Ji Ho pada namja di sebelahnya. Jae Joong langsung mengangguk dengan mantap.
“Tentu saja. Dia anak pewaris perusahaan bisnis paling sukses di Korea Selatan. Keluarganya menggeluti beberapa bisnis. Furniture, fashion, aksesoris.. dan segala macam. Dan perusahaan ini sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan itu..” jawab JaeJoong.
“Lalu.. Apa hubungan orang itu dengan Hyun Joong oppa?” tanya Ji Ho ingin tahu. JaeJoong menatapnya bingung.
“Mwo? Mereka rekan bisnis tentu saja..” jawabnya kemudian.
“Maksudku.. Apa mereka punya.. Hubungan yang lebih dari sekedar rekan bisnis?” tanya Ji Ho ragu-ragu. JaeJoong menatapnya penuh selidik untuk beberapa saat.
“Kenapa kau menanyakan hal itu? Kau aneh..” katanya kemudian.
“Sudah. Jawab saja, oppa~~” desak Ji Ho tidak sabar.
“Mereka pernah satu sekolah dulu. Dan lumayan dekat saat di sekolah menengah dulu..” jawab JaeJoong oppa.
Ji Ho mengangguk-angguk mengerti.
“Ah~~ Jadi mereka sudah kenal sebelum ini? Pantas saja..” katanya pada diri sendiri.
“Ada apa memangnya? Apa kau ada hubungannya dengan bisnis mereka yang baru?” tanya JaeJoong.
Ji Ho mengibaskan tangannya.
“Tentu saja tidak.. “ jawabnya kemudian.
“Karena kau sudah ada di sini, ayo temani aku makan siang..” kata JaeJoong.
“Eh?” Ji Ho menatap namja itu dengan kaget.
“Aku hampir pergi sendirian tadi. Karena Hyun Joong sedang sibuk sekali akhir-akhir ini, aku jadi sering pergi makan siang sendirian. Kajja.. Aku akan mentraktirmu..” ajak JaeJoong seraya menarik tangan Ji Ho.
“T-tapi, oppa.. Aku ingin melihat Kim Hyung Jun ssi..” kata Ji Ho.
JaeJoong kembali menatapnya dengan penuh ingin tahu.
“Kenapa kau sebegitu ingin tahu tentang orang itu? Mencurigakan..” katanya dengan pandangan penuh selidik. Ji Ho jadi salah tingkah karena tidak tahu harus menjawab apa.
“Ah-ahh~~ Kalau begitu.. Ayo, kita makan sekarang. Kau pasti sudah lapar sekali ‘kan, oppa?” katanya buru-buru seraya mendorong tubuh namja itu untuk menjauh dari tempat itu.

@ @ @

Bar itu penuh dengan orang-orang seperti malam-malam sebelumnya. Beberapa orang terlihat mengikuti gerakan lagu yang diputar dengan keras sekali di lantai dansa. Lagu yang diputar berdentum-dentum memenuhi ruangan yang gelap dan remang-remang ini. Sebagian orang yang ada di tempat itu sudah setengah sadar karena minuman keras yang mereka minum. Seorang yeoja terlihat sedang duduk di sudut ruangan seorang diri sambil meminum dari botol minumannya yang sudah setengahnya kosong. Dia hanya menatap sekelilingnya tanpa minat dan setengah melamun. Beberapa namja yang melewatinya menatapnya dengan tatapan liar karena pakaian yang dikenakannya sangat minim dengan belahan dada rendah dan ukuran yang sangat pas dengan tubuhnya sehingga memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya. Tapi yeoja itu mengabaikan pandangan orang-orang itu. Perasaannya sudah kebal ditatap dengan pandangan penuh napsu dari namja-namja hidung belang yang ada di sini. Hwang Va Ni tetap meneguk minumannya dengan sikap acuh.
“Nona.. Mau aku temani minum?” seorang namja paruh baya tiba-tiba menghampirinya dan duduk di sampingnya.
“Hanya menemani minum? Boleh..” jawab Va Ni singkat. Rambut panjangnya yang lurus disibakkan di salah satu sisi bahunya. Dia membuka botol yang belum dibuka di atas meja dan menuangkannya ke gelas namja paruh baya itu.
Dan baru saja dia akan meneguk minuman itu ke mulutnya, dua orang namja yang mengenakan pakaian serba hitam menghampiri meja mereka. Va Ni meletakkan botolnya sambil menghela napas panjang.
“Tuan Muda ingin kau menemuinya.. Sekarang..” kata salah satu namja yang mengenakan pakaian serba hitam itu dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Va Ni memutar bola matanya bosan.
“Atau kami akan memaksamu kalau kau lari lagi seperti tempo hari..” kata salah satu namja itu.
“Kurae~!” sahut Va Ni kesal. Dia lalu beranjak dari tempat duduknya, berjalan dengan sikap angkuh melewati dua orang namja yang berdiri dengan sikap kaku itu, dan berjalan melintasi lantai dansa yang dipenuhi dengan beberapa orang yang mulai menari dengan gerakan yang semakin liar. Va Ni tetap tidak peduli saat ada seorang namja jatuh tersungkur di depannya karena mabuk berat, dan dia terus berjalan menuju ruang khusus yang ada di tempat itu.
Ruangan itu terletak di salah satu sudut lain di bar itu, dan memang khusus diperuntukkan untuk seorang namja pemilik bar ini yang datang sewaktu-waktu.
Seorang namja lain yang mengenakan pakaian serba hitam menyambutnya di depan ruangan itu dan membukakan pintu untuknya. Va Ni melenggang masuk ke ruangan itu tanpa mengucapkan apa-apa.
Hanya ada seorang namja yang duduk manis di salah satu sofa sambil menyesap bir kalengnya saat Va Ni datang ke sana.
Namja itu menatap tubuh Va Ni dari atas sampai bawah sebelum akhirnya tersenyum dengan setengah menyeringai ke arah yeoja itu.
“Hwang Va Ni.. Sudah berapa kali kau selalu menghindar dariku? Kau tahu kau tidak bisa menghindar dariku begitu saja..” kata namja itu. Va Ni menatap namja di depannya itu dengan tajam.
Namja itu kembali menyesap bir kalengnya dengan sikap santai.
“Aku tidak pernah menghindar darimu,Park JungMin ssi..” sahut Va Ni kemudian. Namja yang dipanggil Park Jung Min itu tidak bereaksi dan balas menatap yeoja itu dengan tatapan tajam.
“Kau tahu selama kau di sini, kau harus mengikuti peraturanku. Kau belum membayar tagihanmu bulan lalu kepadaku ‘kan? Dan kau tahu.. Apa yang akan aku lakukan kalau kau sampai lari dariku? Aku tidak akan segan-segan menelanjangimu di depan umum. Seperti yang sudah dilakukan ayahmu pada kakakku..” ujar Jung Min dengan wajah sadis. Dia menatap yeoja di depannya itu dengan tajam saat mengucapkan itu.
Va Ni menelan ludah dengan susah payah. Seperti ada yang meremas dadanya dengan erat sekali saat dia mendengar perkataan namja itu baru saja. Walau itu hanya satu kalimat, tapi itu mampu mengaduk-aduk ingatan Va Ni tentang masa lalu ayahnya, keluarganya.. dan kehidupan pahitnya yang sekarang. Selama ini dia benar-benar memendam semua ingatan itu dalam-dalam, tapi namja ini selalu berhasil membuatnya ingat lagi. Va Ni berusaha sekuat tenaga bersikap setenang mungkin di hadapannya.
Namja itu berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arahnya dengan sikap perlente. Dan dia berhenti di depan Va Ni yang hanya setinggi bahunya. Dia meraih wajah Va Ni dengan tangannya dengan sikap kasar.
“Jadi.. Jangan coba-coba untuk menghindar dariku lagi. Kau mengerti?” katanya.
Park Jung Min melepaskan tangannya dari wajah yeoja itu dengan keras sampai Va Ni memalingkan wajahnya. Lalu namja itu berjalan keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Dan hanya Va Ni yang tinggal di ruangan itu. Sendirian. Dengan perasaan yang mulai berkecamuk tidak karuan saat ini.
Walau hatinya terluka, tapi matanya masih kering dan tidak ada airmata yang keluar dari sana. Mungkin airmatanya sudah mengering.

@ @ @

Kim Ji Ho menatap namja yang sekarang duduk bersebarangan dengannya di salah satu kedai kopi di distrik Kangnam itu sambil mengaduk cangkir kopinya. Namja yang duduk di kursi di depannya, balas menatapnya dengan wajah angkuh. Sementara hujan turun deras sekali di luar sana, terlihat dari kaca transparan yang mengelilingi kedai itu.
“Kenapa? Untuk apa kau menemuiku di sini?” tanya namja itu dengan nada angkuh. Dia melihat Ji Ho dengan tatapan seolah Ji Ho adalah pengemis yang sedang meminta belas kasihan padanya. Sikapnya benar-benar menyebalkan, batin yeoja itu dengan kesal.
“Tidak. Aku hanya.. Oppa sering bercerita banyak tentang Anda..” kata Ji Ho kemudian.
Namja itu mengernyitkan dahi menatapnya.
“Lalu? Apa itu tujuanmu mengajakku bertemu di sini?” tanya namja bernama Kim Hyung Jun itu dengan raut wajah tidak percaya.
“Eh? Ya.. Tidak.. Aku hanya.. Ingin mengenal Anda..” kata Ji Ho buru-buru. Pilihan jawaban yang bodoh sekali, Ji Ho ya~~
Kim Hyung Jun semakin mengernyitkan dahi mengenalnya. Dia berdecak pelan.
“Kalau kau ingin menyatakan perasaan padaku, katakan dengan cepat. Aku tidak punya waktu untuk basa basi seperti ini..” ujarnya tajam.
Ji Ho membelalakkan mata menatapnya.
“Mwo? Aku tidak.. Apa kau pikir aku mengajakmu ke sini hanya untuk menyatakan kalau aku menyukaimu? Maaf, tidak. Yang benar saja..” katanya dengan dahi berkerut.
“Lalu? Kalau tidak ada hal penting yang lain.. Aku akan pergi. Kau membuang-buang waktuku saja..” namja itu beranjak dari tempat duduknya dengan agak kesal.
Ji Ho mendongak menatapnya dengan tak percaya.
“M-mwo?”
Namja itu berbalik dan menatapnya dengan tak sabar.
“Apa lagi? Kau tahu aku sedang sibuk sekali.. Dan kau malah mengundangku ke acara tidak penting begini..” ujarnya kesal.
Ji Ho menatap pakaiannya dengan dahi berkerut. Celana tiga perempat dan kaos yang warnanya sudah hampir kusam begitu, dia bilang sedang sibuk sekali? Ji Ho menghela napas sambil menggeleng menahan kesal.
“Ne. Pergilah. Hyung Jun ssi.. Aku juga tidak butuh kau lagi..” ujarnya.
Hyung Jun yang kini ganti terbelalak menatap yeoja itu.
“Ch~!” Ji Ho beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan namja itu dengan hati kesal. Namja menyebalkan itu? Apanya yang bisa membuat senang kalau ada di sampingnya?
Aku rasa Hyun Joong oppa benar-benar bermasalah sepertinya.. batinnya saat dia melangkahkan kaki keluar dari kedai kopi itu.

@ @ @

Kim Hyun Joong meneguk gelas minumnya untuk yang kesekian kalinya malam ini seraya menatap sekelilingnya dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya. Dia memang sengaja datang ke tempat ini untuk bersenang-senang, mengosongkan segala pikiran melelahkan setelah bekerja seharian. Ini adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukannya tiap dia mengalami kejenuhan yang tinggi dengan pekerjaan dan rutinitasnya sebagai seorang pengusaha muda.
“Hyun Joong ah.. Cukup. Kau sudah minum terlalu banyak..” Kim JaeJoong yang sedari menemaninya minum dan hanya melihatnya minum sebanyak itu, kini angkat bicara.
“Aku masih kuat untuk minum tiga botol lagi..” sahut Hyun Joong.
“Tapi kau harus menyetir untuk pulang ke rumah ‘kan?” tanya JaeJoong.
Hyun Joong menatapnya.
“Kau tidak akan mengantarkanku pulang?” tanyanya.
“Tidak. Masih ada hal yang harus aku selesaikan. Maaf sekali.. Kau harus menyetir sendiri malam ini..” sahut JaeJoong. Dia mengisap rokok di tangannya dan meneguk minuman di botol satunya.
“Hyung.. Kau juga banyak merokok, kau tahu? Padahal kau sendiri mengeluh sering sesak napas akhir-akhir ini..” ujar Hyun Joong.
JaeJoong menghembuskan napas dan kepulan asap kecil keluar dari mulut dan hidungnya.
“Hanya ini satu-satunya cara untuk membuatku sedikit rileks..” jawabnya kemudian.
Hyun Joong hanya tersenyum sinis. Dia lalu bangkit dari tempat duduknya seraya meletakkan gelasnya di atas meja.
“Aku akan ke toilet sebentar..” katanya seraya berjalan meninggalkan JaeJoong.
“Ne..” jawab JaeJoong.
Hyun Joong berjalan melewati beberapa orang yang sedang berpesta dan minum-minum di tempat itu. Beberapa orang melakukan tarian gila di lantai dansa saat musik diputar dengan suara keras sekali dan memenuhi segala penjuru tempat itu. Hyun Joong mendengar beberapa yeoja berpenampilan norak dan sangat terbuka memanggilnya dengan suara menggoda. Tapi dia bergeming. Dia tidak tertarik pada yeoja-yeoja yang suka cari perhatian seperti mereka. Lagipula, tujuannya ke sini bukan untuk mencari yeoja.
Namja itu berjalan melewati dua orang pasangan kekasih yang sedang berciuman dengan liar di dekat dengan pintu masuk toilet. Hyun Joong mengerling ke arah mereka berdua dengan sinis. Yang benar saja..
Dia melangkahkan kaki masuk ke dalam koridor toilet yang memang sengaja dibuat agar jalan masuk ke toilet lebih panjang. Koridor itu sempit dan gelap, hanya diterangi oleh lampu remang-remang yang menyala di ujung koridor yang satunya.
PLAK!Saat namja itu baru saja melangkahkan kakinya ke lorong sempit itu, dia mendengar sesuatu yang terdengar seperti sebuah tamparan tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
“Dasar yeoja sok jual mahal! Kau pikir kau bekerja di sini untuk jadi apa? Kau pikir kau akan dapat uang dengan bersikap sombong seperti itu?” terdengar suara seorang namja yang berteriak marah pada seseorang. Hyun Joong melihat siluet tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Dia bisa melihat siluet seorang yang sedang berdiri di depan seseorang yang terpojok di dinding sambil memegangi wajahnya.
“Aku lebih baik dipukul dan ditampar berkali-kali daripada harus melayani kalian..” sahut suara seorang yeoja yang terdengar tegas dan tajam tapi sekaligus menyimpan pilu yang sangat dalam.
“Ch~! Jangan sok suci.. Ayo, ikut aku! Layani aku sepuasnya malam ini!” namja bertubuh agak besar itu menarik rambut yeoja di depannya dan menyeretnya untuk mengikutinya.
Yeoja itu menjerit keras sekali. Dan dia berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan namja yang menariknya itu.
Jiwa namja dan kemanusiaan seorang Hyun Joong tergerak sekaligus teruji melihat pemandangan itu. Di lain sisi, itu sama sekali bukan urusannya. Tapi di sisi lain, dia tidak tega melihat seorang yeoja diperlakukan semena-mena dan kasar seperti itu. Siapapun dan apapun profesinya.
Dan saat namja itu berjalan hampir melewatinya, tangan Hyun Joong tiba-tiba mencekal tangan namja itu dengan erat. Dia mengeryitkan dahi dan melihat pakaian yang dikenakan namja itu. Sepertinya dia mengenal lambang yang ada di jasnya yang kusam itu.
“Lepaskan yeoja ini..” ujarnya tegas seraya menatap tajam ke arah namja paruh baya itu.
Namja paruh baya yang sudah setengah mabuk itu menatapnya dengan mata terbelalak.
“Apa katamu?” tanyanya.
“Yeoja ini tidak mau ikut denganmu, jadi lepaskan dia..” kata Hyun Joong.
“Kau pikir kau siapa sampai-sampai kau melarangku, Anak Muda?” kata namja paruh baya itu, dengan nada suara seakan terhina.
“Kim Hyun Joong. NorthWest Corporation..” jawab Hyun Joong singkat.
Dan dengan hitungan detik saja wajah namja paruh baya di depannya yang semula menatapnya dengan tatapan sinis dan menghina, langsung berubah menjadi sedikit takut dan dia melepaskan tangannya dari rambut yeoja itu dengan buru-buru.
“Oh.. Tuan Muda.. Kim Hyun Joong ssi.. Ne~ Ne. Saya akan segera pergi..” ujar namja paruh baya itu dengan nada suara yang langsung berubah tergagap dan dengan langkah cepat dan sedikit terhuyung pergi dari tempat itu.
Hyun Joong melihat yeoja yang masih berdiri di depannya dengan tubuh bergetar itu.
“Kau.. tidak apa-apa, Nona?” tanya Hyun Joong lembut. Dia membungkuk sedikit untuk melihat wajah yeoja itu dengan lebih jelas. Ada memar sedikit di wajahnya yang putih bersih itu.
“Kau.. Luka..” kata Hyun Joong kaku. Dia tidak biasa menghadapi seorang yeoja yang sedang menangis seperti ini.
“Aku mungkin tidak banyak membantu. Tapi.. Pakailah ini.. Setidaknya, aku harap tidak ada lagi namja hidung belang yang akan mengganggumu..” ujar Hyun Joong seraya melepaskan jas denimnya yang hangat dan menyampirkannya begitu saja ke tubuh yeoja yang sedang menggigil itu.
Yeoja itu masih tidak mengatakan apa-apa saat Hyun Joong beranjak dan berjalan meninggalkannya di tempat itu.

@ @ @

Ji Ho
Mobil yang kami tumpangi melaju di jalanan licin kota Seoul yang dingin malam ini. Salju turun tidak begitu lebat seperti biasanya, tapi tetap saja membuat jalanan licin dan itu membuat para pengendara harus berhati-hati saat turun ke jalan raya. Walaupun salju tidak turun selebat biasanya, tapi flu-ku masih belum sembuh juga. Penghangat di mobil ini tidak membantuku sama sekali, dan aku masih merasa kedinginan.
“Apa kau tidak apa-apa? Bersinmu belum sembuh juga dari pertemuan kita yang kemarin..” JaeJoong oppa melirik sekilas ke arahku sambil mengendarai mobilnya, dan sesekali melihat ke kaca spion di luar mobil.
“Sudah biasa seperti ini. Aku tidak tahan dengan cuaca dingin..” sahutku dengan susah payah. Kali ini hidungku tersumbat dan aku jadi kesulitan bernapas.
“Tapi flu-mu parah sekali.. Kau sudah memeriksakannya ke dokter?” tanya JaeJoong oppa.
“Aku tidak pernah pergi ke dokter. Tapi aku sudah minum suplemen. Biasanya akan berkurang perlahan-lahan..” jawabku.
“Kau harus ke dokter. Mau aku antarkan ke sana?” JaeJoong oppa menatapku. Aku menggeleng cepat-cepat.
“Tidak. Tidak perlu.. Aku akan baik-baik saja, oppa.. Kau tenang saja..” kataku buru-buru.
“Kau benar-benar mengkhawatirkan..” Jae Joong oppa menatapku cemas.
“Hanya flu biasa. Aku akan baik-baik saja.. Lalu bagaimana Jiji? Dia sudah sembuh ‘kan?” tanyaku, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah.. Aku segera membawanya ke dokter saat kau bilang dia mungkin kena flu kucing. Tapi untungnya, sejauh ini tidak apa-apa..” jawab JaeJoong oppa.
“Baguslah kalau begitu.. Karena Jiji termasuk kucing ras, dia rentan kena penyakit ‘kan? Beda dengan Angelo. Biasanya kucing domestik punya ketahanan tubuh yang lebih kuat dibanding kucing ras pada umumnya..” kataku panjang lebar.
“Kau seharusnya mengambil jurusan sekolah kedokteran dan jadi dokter hewan saja..” ujar JaeJoong oppa dengan nada bercanda.
“Aku hanya tertarik pada kucing. Selain itu aku tidak suka. Oh, tapi.. Bagaimana keadaan ayahmu? Kau bilang beliau juga sedang tidak enak badan ‘kan?” tanyaku lagi.
JaeJoong oppa malah tertawa simpul.
“Ne. Biasa.. Penyakit orangtua..” jawabnya kemudian.
“Mwo?” aku mengernyitkan dahi menatapnya bingung.
“Abeoji.. Dia sudah tua sekali. Kau belum bertemu dengannya ‘kan? Dan dia agak banyak bicara. Semua kakakku sudah menikah dan punya anak. Hanya aku satu-satunya yang masih belum menikah. Abeoji berkali-kali mengatakan kalau dia belum akan mati sampai aku memberinya cucu. Dia mendesakku terus menerus untuk cepat menikah dan memberinya cucu sampai sakit begitu.. Ada-ada saja..” jelas Jaejoong oppa panjang lebar. Dia tidak melihat ke arahku dan fokus menyetir dan melihat jalanan di depannya.
Entah kenapa suasana di antara kami jadi secanggung ini. Aku berusaha bersikap biasa saja.
“Ah, kalau begitu cepat menikah dan berikan dia cucu..” sahutku sekenanya. Tapi sepertinya aku salah bicara.
JaeJoong oppa menepikan mobil dan menghentikannya lalu melihat ke arahku dengan tatapan serius.
“Apa kau sudah siap?” tanyanya kemudian.
“E-eh?” aku menatapnya dengan sikap kikuk dan jadi salah tingkah sendiri. Apa-apaan ini?
“Kau yang bilang padaku untuk segera menikah ‘kan? Kau sudah siap untuk itu?” tanya Jaejoong oppa lagi. Kenapa dia jadi menatapku seserius itu??
“Maksudku.. Kau bisa saja menjawab.. Kau sedang mencari yeoja yang tepat..” jawabku kemudian dengan sedikit tergagap. Dan kenapa aku segugup ini?
Lalu tiba-tiba JaeJoong oppa tertawa dengan keras sekali. Dia menatapku dengan tatapan geli seraya tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa kau jadi segugup itu? Tenang saja.. Kurae. Kita sudah sampai di depan gerbang rumahmu..” kata Jaejoong oppa di sela-sela tawa gelinya melihat wajahku yang kebingungan. Aku membuang napas lega sekaligus kesal.
“Kau benar-benar menyebalkan. Kau tahu?” ujarku dengan setengah kesal. Tapi JaeJoong oppa masih tertawa-tawa geli tanpa berdosa.
Aku melepaskan ikatan sabuk pengamanku dengan keras. Tidak lucu sama sekali. Aku hampir kena serangan jantung dengan pertanyaannya tadi, dan dia masih bisa tertawa-tawa seperti itu? Benar-benar mengesalkan. Aku mencoba melepaskan sabuk pengamanku. Tapi sepertinya alatnya macet dan sabuk pengamannya tidak bisa dilepaskan.
“Ini tidak bisa dilepaskan dengan buru-buru seperti itu.. Kau marah padaku?” JaeJoong oppa akhirnya mengulurkan tangannya untuk membantuku melepaskan kaitan sabuk pengaman itu.
“Aku tidak marah. Tapi kau menyebalkan..” sahutku kesal dan mendongak dari sabuk pengamanku untuk menatapnya. Dan baru aku sadari kalau wajahnya sudah dekat sekali dengan wajahku. Tangannya yang satu masih memegangi sabuk pengamanku dan kini namja itu juga ikut menatapku.
Aku membeku di tempatku. Kenapa dia menatapku dengan tatapan seperti itu?
“Op-oppa.. Aku rasa sabuk pengamannya sudah lepas..” ujarku lirih.
Tapi namja itu seperti tidak menggubris kata-kataku. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku perlahan. Dan saat wajah kami sudah mulai berdekatan, tanganku menahan bahunya dengan tiba-tiba.
“Tung- Hatchii~~!!” aku pura-pura bersin dengan keras. Dua kali.
JaeJoong oppa memundurkan tubuhnya dan kembali duduk dengan sikap seperti tadi sambil menatapku.
“Kau benar-benar harus pergi ke dokter, Ai..” ujarnya kemudian. Aku tidak berani menatapnya.
“Ne.. Aku akan pergi ke dokter besok..” kataku kemudian.
“Ya, sudah.. Cepat masuk ke dalam dan segera istirahat. Jangan tidur malam-malam..” kata JaeJoong oppa.
“Ne.. Oppa, gomawoyo. Aku pergi dulu.. Hati-hati di jalan..” jawabku kemudian.
Aku segera membuka pintu mobil dan berjalan buru-buru masuk ke dalam apartemenku tanpa melihat ke arah Jaejoong oppa lagi. Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku sendiri. Aku masih berdebar-debar kalau ingat kejadian di dalam mobil tadi. Walaupun JaeJoong oppa tidak pernah mengatakannya secara terang-terangan padaku, tapi Hyun Joong oppa bilang kalau dia menyukaiku. Aku tidak pernah mengharapkan itu. Maksudku, aku menganggapnya oppa.. sama seperti Hyun Joong oppa. Jadi, saat di mobil tadi dia melakukan itu.. Aku benar-benar tidak menduganya sama sekali.
Fiuhh.. Aku menarik napas dalam-dalam.

@ @ @

Hwang Va Ni sedang mengeringkan rambut panjangnya yang basah dengan handuk malam ini dan tangannya yang satu memegangi ponsel yang menempel di pipinya.
“Sudah aku bilang.. Kau berhenti saja bekerja di tempat itu. Aku akan mencarikan pekerjaan yang lebih baik di sini..” kata suara seorang namja di seberang telepon terdengar agak kesal.
Va Ni menarik napas panjang dan menghelanya dengan cukup keras.
“Tidak bisa, oppa.. Aku harus melakukan ini..” sahutnya.
“Tapi kalau kau harus melayani namja-namja hidung belang itu tiap malam, aku yang tidak bisa mendengarnya..” kata namja di ujung telepon di seberang sana.
“Aku bisa apa, oppa? Aku bahkan tidak punya kekuatan lagi untuk mempertahankan diri..” kata Va Ni pasrah.
“Ya~! Jangan bilang seperti itu. Kau harus tetap menjadi seorang Va Ni yang sekarang. Jangan mulai bicara yang macam-macam. Kalau uangku sudah cukup untuk pergi ke Seoul, aku akan menjemputmu dan kita cari pekerjaan saja di desa..” kata namja itu lagi.
Va Ni tidak segera menjawab. Ada yang bercokol di dadanya saat ini. Yang bahkan lebih menyakitkan dibanding luka memar di sekujur tubuhnya saat ini.
“Kyu Jong oppa.. Bagaimana kalau seumur hidup aku harus bekerja untuk namja itu?” tanya Va Ni.
“Aku tidak akan membiarkan itu.. Sudahlah, jangan berbicara dengan suara putus asa seperti itu. Kau harus tetap kuat, Va Ni ah~ Ingat kata omma-mu? Tetaplah jadi Hwang Va Ni yang tidak pernah menyerah..” kata suara namja yang dipanggil Kyu Jong tadi. Terdengar suara kontruksi bangunan di belakangnya dan beberapa orang terdengar meneriaki namanya.
“Oppa.. Kau sepertinya harus kembali bekerja..” kata Va Ni kemudian.
“Oh.. Ne. Nanti aku akan menghubungimu lagi.. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku lagi, ne?” kata Kyu Jong.
“Emm. Aku pasti menghubungimu.. Oppa, selamat bekerja..” kata Va Ni kemudian.
Lalu telepon di seberang ditutup.
Tinggal Va Ni yang sekarang sendirian di kamarnya yang sempit di apartemen sederhananya. Matanya menatap foto yang terpajang di meja kecil dekat tempat tidurnya. Foto masa kecilnya dengan seorang yeoja yang adalah ibunya. Va Ni menghela napas panjang.
Mengingat semua kenangan dengan ibunya adalah hal yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Walaupun di masa lalu dia memiliki semua hal yang tidak dimiliki anak perempuan pada umumnya, tapi kenangan dengan ibunya adalah salah satu hal yang sangat berharga. Hanya ibunya yang ada di sampingnya saat ayahnya bekerja entah di mana.
Ayahnya.. Ch~! Va Ni tersenyum sinis kalau mengingat nama itu. Dia bahkan akan mempertaruhkan semuanya agar dia tidak punya ayah sepertinya. Namja itu yang membuatnya sekarang menjadi seperti ini. Ibunya koma karena trauma dan sekarang ada di rumah sakit entah untuk waktu berapa lama. Hanya uang dari pekerjaan Va Ni yang sekarang yang mampu menopang hidupnya yang di ambang kematian itu. Va Ni tidak bisa merelakan ibunya pergi begitu saja sebelum dia mengatakan terima kasih banyak pada yeoja itu untuk terakhir kalinya.
Tanpa terasa kedua matanya mengeluarkan airmata secara bersamaan walau Va Ni tidak menginginkannya. Perasaannya perih sekali setiap dia mengingat keadaan ibunya.
Va Ni selalu mencoba tegar di hadapan semua orang. Tapi dia tidak setegar kelihatannya. Kamar ini yang menjadi saksi bisu di saat dia tidak sanggup lagi menahan beban hidupnya yang sekarang. Seperti malam ini.
Tanpa terasa dia menangis lagi dengan sesunggukan. Dan segera dihapus air matanya dengan cepat. Walau pada akhirnya airmatanya akan keluar lagi.
Lalu pandangan matanya tiba-tiba tertuju pada sudut kamarnya. Pada sebuah jas denim mahal berwarna hitam yang tergantung di gantungan pakaiannya. Dan dia mulai teringat dengan kejadian malam ini tadi, kepada seorang namja yang memberikannya jas ini.
Dia mengingat namanya. Kim Hyun Joong.
Siapapun dia.. Dia namja pertama yang ada di tempat itu yang tidak memandang rendah dirinya. Kalau dia bisa, dia ingin keluar dari pekerjaannya yang sekarang dan mulai mencintai namja normal seperti namja bernama Kim Hyun Joong itu.

@ @ @

Ji Ho

Aku melihat secara bergantian dua namja yang ada di depanku ini dengan tatapan ingin tahu. Hyun Joong oppa sedang menikmati birnya dengan diam, sambil sesekali menghela napas panjang saking enaknya. Namja yang satunya lagi hanya minum air jus lemon dari botolnya dan sesekali tertawa-tawa sambil bercanda dengan yeoja-yeoja berpenampilan seksi di sebelahnya. Hyun Joong oppa kelihatan tidak suka saat menatap Hyun Jun ssi mulai bercanda dengan para yeoja itu. Walaupun sikap duduk namja itu tidak sedekat itu dengan para yeoja dan hanya melontarkan lelucon konyol, tapi sepertinya Hyun Joong oppa tidak menyukainya. Dan saat namja bernama Hyung Jun itu menumpahkan minuman ke jaketnya, Hyun Joong oppa dengan segera mengambilkan tisu dan membersitkan tisu itu ke jaket namja itu.
Aku mengernyit heran ke arah kakak sepupuku. Apa-apaan ini? Aku membelalakkan mata menatapnya.
Hyung Jun ssi dengan santai dan tanpa dosa membiarkan saja saat sepupuku melakukan itu. Ini.. Aku rasa aku hampir muntah melihat ini.
“Omong-omong, Ai.. Kenapa kau tiba-tiba ingin ikut dan bergabung dengan kami?” sebuah suara terdengar di sampingku. JaeJoong oppa bertanya dan menatap penuh ingin tahu ke arahku.
“Ah-ahh, itu karena.. Bibi khawatir sekali kalau Hyun Joong oppa akan pulang dengan keadaan mabuk berat seperti beberapa waktu yang lalu..” jawabku sekenanya. Aku masih agak kaku dan sedikit salah tingkah tiap dekat-dekat dengan JaeJoong oppa, mengingat kejadian di mobilnya beberapa waktu yang lalu.
“Aku kira karena yang lainnya..” kata JaeJoong oppa. Sebenarnya memang karena ada alasan lain, batinku seraya menatap Hyung Jun ssi yang sekarang menatapku dengan tatapan sinis. Apa-apaan lagi orang ini?Hyun Joong hyung.. Adikmu ini menemuiku beberapa hari yang lalu..” kata namja itu tiba-tiba. Aku terkesiap kaget dan menatapnya dengan tatapan protes. Ya~!!
“Benarkah? Wae?” Jae Joong oppa juga menatapku kaget sekarang. Orang ini benar-benar..
“Ah.. An-niyoo.. Kita hanya tidak sengaja bertemu. Iya ‘kan?” sahutku, menatap namja di depanku. Tapi Hyung Jun ssi hanya angkat bahu acuh dan meneruskan minumnya.
Aku mengalihkan pandanganku pada Hyun Joong oppa yang sekarang balas menatapku dengan tatapan penuh tanya. Ahh.. Aku harus menjelaskan ini padanya.
Aku lalu beranjak dari tempat dudukku, menghampiri Hyun Joong oppa dan menarik tangannya untuk keluar dari ruang ini dulu.
“Wae?” Hyun Joong oppa bertanya saat aku menyeretnya keluar dengan agak paksa.
Saat sudah berada di luar ruang VIP itu, aku segera berdiri menghadap namja yang lebih tinggi dariku itu.
“Oppa.. Aku rasa kau benar-benar butuh bantuan..” kataku kemudian.
Hyun Joong oppa tidak menjawab dan hanya menghela napas panjang seraya menatap sekeliling kami tanpa minat.
“Aku tidak tahu, Ai.. Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya..” katanya kemudian.
“Oppa.. Jujur saja. Aku tidak suka melihatmu seperti itu tadi. Baiklah, kau memang hanya sekedar menyayanginya karena kalian sudah sedekat ini semasa sekolah menengah dulu. Tapi bisakah.. Tatapan matamu padanya benar-benar membuatku ingin membantumu..” ujarku putus asa.
“Kau pikir aku sudah sampai di level seperti itu?” tanya Hyun Joong oppa.
“Kau sendiri yang membuatku berpikiran seperti itu. Kau kelihatan tidak suka saat namja itu bicara dengan yeoja-yeoja itu.. Dan kau bahkan melakukan semua hal yang paling kecil pun untuk namja itu. Itu benar-benar membuatku berpikiran yang tidak-tidak..” kataku dengan nada setengah protes.
Hyun Joong oppa mengusap ujung kepalaku dengan tangannya.
“Kalau begitu, pikiranmu yang perlu dibersihkan. Harus diprogram ulang..” katanya.
Aku mendesis pelan.
“Kalau kau.. paling tidak, menyukai satuuu saja yeoja yang pernah aku kenalkan padamu, aku tidak akan berpikiran yang seperti ini..” kataku kemudian.
“Omong-omong.. Bagaimana perkembangan hubungan kalian? JaeJoong hyung sudah mengatakan sesuatu padamu?” Hyun Joong oppa tidak menggubrisku dan malah merubah topik pembicaraan. Aku membuang napas kesal. Namja ini benar-benar tidak bisa diajak bicara serius.
“Terserah kau saja.. Aku akan pulang!” ujarku kesal. Aku lalu berbalik dari hadapannya dan pergi berjalan meninggalkannya. Kalau sudah mulai seperti itu, Hyun Joong oppa benar-benar jadi namja menyebalkan di mataku.
Seorang yeoja berpenampilan minim dengan parfum yang harumnya menyengat sekali, menabrakku saat aku berjalan keluar dari tempat itu. Beberapa yeoja di sekelilingnya terlihat menertawakannya dan terkikik-kikik geli. Aku lalu berhenti berjalan dan sesuatu terlintas dalam kepalaku begitu saja. Aku rasa aku punya ide.
Kalau yeoja biasa tidak bisa membuat seorang Hyun Joong oppa berpaling, bagaimana dengan yeoja yang sedikit liar? Paling tidak, ada seorang yeoja yang bisa menaikan libidonya sebagai seorang namja.
Aku menoleh ke belakang dan melihat beberapa yeoja berpakaian minim sedang berkumpul sambil tertawa-tawa dan sesekali menyesap bir kaleng yang mereka bawa. Seorang bartender namja sedang meracik minumannya di balik meja bar. Aku menghampiri namja yang usianya sepertinya lebih muda dariku itu.
“Oh.. Jogiyo.. Aku ingin bertanya.. Di sini.. Apa ada seorang yeoja yang.. paling menarik?” tanyaku dengan sikap hati-hati.
Namja itu menatapku dengan pandangan aneh dan sedikit meremehkan.
“Park Hae Rin..” tunjuknya pada seseorang yang tak jauh dari kami. Aku mengikuti arah telunjuknya. Pandanganku jatuh pada yeoja yang sedang duduk di salah satu dan dikelilingi banyak namja. Yeoja itu berpakaian sangat minim dengan make up tebal serta rambut panjang yang dicat merah menyala. Aku mengernyitkan dahi saat yeoja itu tertawa dengan suara sangat keras. Hyun Joong oppa tidak akan suka dengan yeoja norak seperti itu. Aku menggeleng keras-keras.
“Apa tidak ada yeoja lain.. yang lebih.. berkelas?” tanyaku.
Bartender muda itu kembali menatapku dengan pandangan aneh dan sedikit bingung.
“Hwang Va Ni. Tapi dia sedang menemui pemilik bar. Di bilik yang di sana. Kau bisa menunggunya kalau kau mau..” namja itu menunjuk sebuah ruangan yang ada di sudut tempat ini. Ruangan itu agak tersembunyi di antara ruang-ruang lain yang ada di tempat itu.
“Kurae.. Terimakasih banyak..” kataku kemudian. Aku lalu segera berjalan ke tempat yang dimaksud bertender itu tadi.
Ada beberapa namja berpakaian hitam yang berdiri di luar ruangan itu dengan sikap kaku dan tegak. Dilihat dari penampilannya sepertinya mereka adalah bodyguard yang berjaga di sana. Jadi daripada aku kena masalah, lebih baik menunggu di sini saja.
Aku menyandarkan tubuhku ke dinding kosong di belakangku sambil mengeluarkan ponselku. Seorang namja dan seorang yeoja melewatiku sambil berdekapan dengan mesra, sambil sesekali namja itu meyentuh bagian sensitif tubuh yeoja itu dan si yeoja terpekik centil. Aku menggelengkan kepala dan mengabaikan mereka. Suara dentuman musik mulai diputar semakin keras dan beberapa orang mulai berdansa dengan liar di lantai dansa.
Beberapa saat kemudian, pintu bilik itu terbuka dan seorang yeoja keluar dari ruangan itu dengan wajah yang tanpa ekspresi dan terkesan dingin sekali. Ini Hwang Va Ni itu? Aku melihat penampilan yeoja itu dengan seksama. Pakaiannya yang minim dan sedikit terbuka dan memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambut panjangnya digelung ke belakang dan dia mengenakan high heels tinggi sekali. Make up-nya tidak terlalu tebal, dan terkesan sederhana tapi berkelas. Dia berjalan dengan wajah tanpa ekspresi dan menampik dengan keras tangan seorang namja paruh baya yang mencoba meraih bahunya.
Yeoja itu berjalan ke arahku dengan sedikit terburu.
“Oh. Hwang Va Ni ssi?” tanyaku seraya menghentikan langkah yeoja itu.
Yeoja itu berhenti berjalan dan menatapku dengan pandangan penuh tanya.
“Kau Hwang Va Ni?” tanyaku lagi.
“Ne..” jawab yeoja itu seraya mengangguk. Aku tersenyum kepadanya.
“Ahh.. Bisa kita bicara sebentar?” tanyaku ragu-ragu.
Yeoja itu mengernyitkan dahi menatapku.
“Tentang?” tanyanya.
“Bagaimana kalau kita bicara di tempat yang agak sepi?” aku mencoba bicara dengan nada yang aku buat sebiasa mungkin.
“Maaf, tapi aku harus segera bekerja.. Jadi kalau ingin membicarakan sesuatu, lebih baik cepat dibicarakan di sini saja..” ujar yeoja di depanku ini. Aku agak terkesiap dengan cara bicaranya yang tajam dan dingin itu.
“Oh.. Baiklah. Begini.. Bisakah aku meminta bantuanmu?” tanyaku.
“Bantuan.. semacam apa?” Hwang Va Ni balik bertanya dengan dahi berkerut.
Aku tidak segera menjawab dan masih mempertimbangkan apa yang harus aku katakan pada yeoja.
“Bisakah kau membuat seseorang jatuh cinta?” tanyaku pada akhirnya.
Sekali lagi dalam hidupku, aku dipandang dengan tatapan aneh berkali-kali oleh beberapa orang malam ini. Va Ni ssi kelihatan sekali menatapku dengan tatapan kebingungan.
“Aku tidak mengerti..”
“Begini.. Aku ingin kau membuat seseorang jatuh cinta padamu. Itu saja. Aku akan membayarmu berapapun yang kau minta. Asal kau bisa membuatnya jatuh cinta pada yeoja.. Maksudku, padamu..” ujarku buru-buru.
“Nona.. Perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan begitu saja..” kata yeoja di depanku.
“Aku tahu. Tapi ini darurat. Dan ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan. Lakukan apa saja untuk membuat namja itu kembali menyukai.. Maksudku, menyukaimu, Va Ni ssi..” selaku.
Va Ni ssi kelihatan masih mempertimbangkan jawabannya.
“Ahh.. Mungkin kau harus melihatnya dulu sebelum kau mau menerimanya atau tidak.. Ini fotonya. Dia kakak sepupuku.. Dan, dia butuh bantuan..” ujarku seraya mengeluarkan ponselku dari tasku dan menunjukkan foto Hyun Joong oppa padanya.
“Butuh bantuan?” Va Ni ssi kembali menatapku bingung.
“Sudah.. Kau lihat saja dulu fotonya..” kataku seraya menyerahkan ponselku padanya. Untuk beberapa saat, yeoja itu tidak bicara dan hanya menatap foto Hyun Joong oppa dengan diam.
“Namanya Kim Hyun Joong. Pewaris tunggal perusahaan fashion terkenal, NorthWest Corporation.. Otteyo?” tanyaku.
Tanpa aku duga reaksi yeoja itu melebihi dugaanku. Yeoja itu mendongak dan menatapku dengan cepat sekali.
“Kim Hyun Joong ssi?” tanyanya dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. Apa dia mengenal Hyun Joong oppa?
“Ne..” aku mengangguk.
Yeoja itu diam lagi untuk beberapa saat seraya mengembalikan ponselku. Dia tidak segera menjawabnya dan hanya menghela napas pelan.
“Aku akan menghubungimu lagi setelah ini, Nona. Bisa aku minta nomor ponselmu?” tanya Va Ni ssi. Aku melebarkan mataku dengan antusias.
“Ah, ne.. Tunggu sebentar..” aku sudah hampir menyalakan lagi ponselku saat aku mendengar seseorang bicara dengan suara kasar di belakangku.
“Kenapa kau masih berdiri di sini? Aku tidak membayarmu hanya untuk mengobrol di sini..” sebuah suara namja terdengar di belakangku.
Aku menoleh ke belakang dan mendapati seorang namja bertubuh tinggi berdiri di belakangku dengan dua orang berpakaian serba hitam di belakangnya.
Aku mundur ke belakang beberapa langkah.
Va Ni ssi segera meninggalkan tempat itu tanpa bicara padaku dan langsung pergi begitu saja tanpa menoleh ke arahku.
“Aiisss~~~” aku mendesis kesal.
Lalu aku melihat ke arah namja tinggi yang masih berdiri di sana dengan penuh ingin tahu. Namja itu balas menatapku dengan sedikit mengernyit dan melihat penampilanku dengan pandangan aneh. Aku balas menatapnya dengan dahi berkerut. Ada masalah dengan penampilanku? Batinku kesal.
Namja itu berjalan melewatiku dengan sikap angkuh dan tidak mengatakan apa-apa.
“Semua orang di sini aneh..” desisku pelan seraya menggeleng tak percaya.
“Apa katamu? Aku mendengarmu, Nona..” namja itu tiba-tiba berbalik dan menatapku dengan tatapan tajam.
Aku terkesiap dan mencoba mengabaikan tatapan namja itu dan segera berjalan terburu meninnggalkan tempat itu. Ayo, Ai~~~ Segera pergi dari tempat ini dan jangan buat masalah lagi..

Rabu, 22 Januari 2014

Tak Ada Judul

PROLOG

Saat ini..

"Biarkan aku menggantikan posisi namja itu di sini, untuk menjaga dan melindungi kalian.." namja itu berdiri di depan yeoja berambut sebahu yang sedang sibuk membuat kopi di dapur rumahnya yang seketika menghentikan akftifitasnya mendengar pernyataan namja itu dan melihat namja itu dengan kaget.
"Mwo?" dia mengernyitkan dahi balas menatap namja di depannya dengan bingung.
"Yang aku katakan tempo hari benar-benar serius. Aku menyukaimu. Aku tidak bisa membiarkanmu seorang diri dan berjuang sendirian seperti ini. Jadi biarkan aku menggantikan posisinya.. Untuk melindungimu dan anak itu.." namja itu berkata seraya menatap lekat-lekat yeoja di depannya.
Yeoja itu kelihatan kaget sekali dengan ucapannya dan dia hanya berdiri mematung di tempatnya, mengalihkan tatapannya dari namja itu. Lalu dia pura-pura tertawa dan kembali menyeduh kopinya dengan sedikit gugup.
"Kau masih muda sekali. Yang benar saja... Lebih baik kau fokus dengan bisnismu.." katanya kemudian.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan.. Kalau aku bisa berhasil membuatmu menyukaiku, apa yang akan kau lakukan? Apa kau bersedia membuka hatimu untuk namja lain? Namja sepertiku?" namja itu berkata dengan senyum menantang pada yeoja di depannya.
Yeoja itu kembali terdiam dan tidak segera menjawab. Dia tidak tahu harus mengatakan apa padanya.

Setahun yang lalu..

"..sementara ini, korban dari pesawat Air Asia yang terjatuh di tepi laut Miami pagi ini sedang dievakuasi. Belum diketahui berapa korban yang tewas. Laporan sementara menyatakan kalau bangkai pesawat Air Asia hampir terbakar sepenuhnya..."
Tubuh yeoja itu langsung ambruk seketika di atas kursi begitu mendengar berita yang ditayangkan di televisi baru saja. Tubuhnya lemas dan dia merasa seluruh persendiannya lumpuh begitu saja. Airmatanya tiba-tiba memenuhi matanya dan tanpa bisa dia bendung, airmatanya keluar begitu saja.
"Andwae~~" ujarnya lirih. Matanya masih menatap ke layar televisi dengan setengah melamun.
Dia baik-baik saja 'kan? batinnya kalut. Yeoja itu segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja di depannya. Dan dengan segera dia menghubungi nomor telepon yang paling sering dia hubungi.
Dia menunggu.
Suara operator jaringan telepon di seberang mengatakan kalau nomor yang sedang dia hubungi berada di luar jangkauan dan sedang tidak aktif.
Yeoja itu kembali memencet nomor itu berkali-kali.
Dan yang tersambung adalah pesan yang sama yang mengatakan nomor yang dia hubungi sedang tidak aktif.
Yeoja itu mulai panik, dan airmatanya masih terus menerus keluar dari matanya. Perasaannya berkecamuk tidak karuan. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah wajah namja yang baru tadi malam berpamitan padanya untuk menyelesaikan pekerjaannya di Amerika Selatan dan akan segera pulang begitu urusannya sudah selesai. Dan namja itu menaiki pesawat dengan penerbangan yang sama dengan yang diberitakan di televisi baru saja.
"Kumohon.. Jawablah.." katanya pada ponselnya yang masih belum terhubung dengan nomor yang dia hubungi.
Suara tangisan seorang bayi tiba-tiba terdengar dari salah satu kamar di rumah itu. Yeoja itu segera beranjak dari tempat duduknya, masih membawa ponselnya, dan buru-buru masuk ke dalam kamar di mana bayi itu berada.
Seorang bayi perempuan sedang menangis dengan keras sekali di atas ranjang bayi di kamar itu.
Kim Ji Ho meraih putri-nya yang baru berusia 7 bulan itu dan segera menggendongnya untuk menenangkannya. Dia mengecek popoknya, Tidak lembab. Dia juga baru saja minum susu dan makan makanan bayi sebelum tidur tadi. Tapi kenapa dia menangis sekencang ini?
Ji Ho terus menepuk- nepuk punggung putrinya dengan lembut untuk menenangkannya.
"Gwaenchana, gwaenchana.. Appa akan segera pulang.." Ji Ho berkata setengah berbisik ke telinga putrinya. Walaupun dalam hati dia sama sekali tidak tenang dan terus menerus memikirkan keberadaan suaminya. Suara tangisan putrinya tambah keras sekali saat terdengar suara gemuruh dari luar rumahnya.
Ji Ho menahan isak tangisnya sendiri. Dia tidak bisa menahan perasaan perih saat membayangkan kalau terjadi apa-apa dengan namja.
Kau akan pulang 'kan.. Jung Min ah? batinnya seraya mendekap tubuh putrinya dengan erat.

5 Bulan kemudian...

"Ya, Va Ni ah~~! Minta anakmu untuk tidak mengacak-acak makanannya seperti itu.." namja bernama Kim Hyung Jun itu berkata dengan nada setengah mengomel.
Yeoja berambut panjang di depannya tampak menurut dan menghentikan anak laki-laki berusia dua tahun yang sedari tadi mengacak-acak makanan di depannya.
"Hahh.. Anak ini benar-benar.. Sudah lama tidak bertemu sekarang sudah sebesar ini. Padahal dulu appa-nya tidak seperti ini. Oh.. Lalu appa-nya sekarang bagaimana kabarnya? Apa dia benar-benar keluar dari perusahannya?" tanya Hyung Jun, seraya mengaduk cangkirnya yang berisi coklat panas.
"Ne.. Oppa bilang dia ingin mengembangkan bakatnya. Dia tidak terlalu suka bisnis.. Tapi kalau kau yang menawari, dia baru akan mau. Sayangnya, dia tidak bisa ikut ke sini.." jelas Hwang Va Ni panjang lebar, seraya menyuapi anaknya.
"Karakternya memang dari dulu seperti itu 'kan? Tapi aku lihat bisnis restorannya berkembang pesat sekali.." kata Hyung Jun.
"Ne. Sudah ada beberapa cabang.. Jae ah.. Jangan membuang-buang makanan begitu.. Oh, oppa.. Lalu kau sendiri bagaimana?" Va Ni mendongak menatap namja itu.
"Aku meneruskan bisnis appa. Yah.. sekedar menjadi pembicara di mana-mana. Haha.. Hanya bermodalkan wajahku, semua klien  akan langsung  setuju untuk menandatangani kontrak denganku.. Hahaha! ujar Hyung Jun dengan bangga. Va Ni hanya menggeleng sambil tersenyum mafhum.
"Tapi omong-omong, oppa.. Adikmu benar-benar akan ke sini kan?" tanya Va Ni.
"Ki Bum sedang dalam perjalanan kemari. Dia bilang mampir ke tempat adik sepupumu itu.." kata Hyung Jun.
"Kiseob? Mau apa?" Va Ni menatap Hyung Jun dengan tatapan ingin tahu.
"Ini bisnis baru mereka berdua. Tapi karena hubungan KiBum dengan suamimu tidak terlalu baik, dia mengandalkanku! Dia tahu hyung tidak akan menolak kalau aku yang meminta. Tapi aku tidak diajak kerjasama.. Menyebalkan sekali.." Hyung Jun berkata dengan nada setengah kesal.
"Kemampuan KiBum dalam berbisnis semakin meningkat, ya? Dia CEO di perusahaan kalian berdua 'kan? Kenapa bukan kau saja, oppa?" tanya Va Ni seraya kembali menyuapi anaknya.
"Karena aku tidak punya banyak waktu mengurusi perusahaan. Jadi aku serahkan padanya saja. Tapi sepertinya adik sepupumu itu tertarik ikut bergabung dengan perusahaanku. Yo man~! Semakin banyak yang ikut bergabung, semakin berkembang perusahaan milikku. Iya 'kan, Jae Jae ah~? Ya~ Lihat aku! Jangan abaikan aku.." Hyung Jun berkata kepada anak laki-laki umur dua tahun yang sedang memakan makanannya dengan lahap dan tidak menghiraukannya.
"Nah.. Itu mereka, oppa.." kata Va Ni. Pandangannya menatap ke arah pintu masuk restoran itu. Hyung Jun mengikuti arah pandangannya. dan dia melihat dua orang namja yang sedang berjalan ke arah meja yang sedang dia duduki. Adiknya, yang mengenakan jas musim gugur itu segera berjalan ke arah mereka sambil melambaikan tangan ke arah Va Ni dengan heboh.
"Jae ah~~~ annyeong~~" katanya seraya mengambil tempat duduk di samping anak Va Ni, dan mencubit pipi anak itu dengan gemas. Namja yang satu membungkuk dengan sopan ke arah Hyung Jun sebelum akhirnya mengambil tempat duduk di samping namja itu.
"Kenapa baru datang?" tanya Hyung Jun kepada adiknya, yang kini mengambil alih menyuapi anak Va Ni.
"Jalannya macet. Tertutup salju.." jawab KiBum sekenanya.
"Ya~! Mana ada salju di musim gugur??" Hyung Jun menatap adiknya setengah kesal. Tapi KiBum malah asik menyuapi Young Jae yang juga girang sekali dengan kehadiran KiBum baru saja.
"Mengisi bensin sebentar.. Apa kami terlambat sekali? Aku pikir tidak terlalu terlambat.." ujar namja yang duduk di samping Hyung Jun.
"Ya, Lee Kiseop.. Kau bahkan tidak bilang apa-apa padaku kalau akan bekerjasama dengan suamiku.." kata Va Ni.
"Noona.. Aku sudah dewasa. Namja yang dewasa itu bekerja dengan cara yang rahasia.." jawab Kiseop sekenanya.
"Mworago? Kau menyebut dirimu namja dewasa?" kata Va Ni.
"Tapi namja dewasa di sampingmu itu, bekerja agar semua orang tahu kalau dia bekerja. Dia selalu pamer pada semua orang kalau baru saja melakukan pekerjaan penting.." KiBum menyahut dengan tiba-tiba, dan melempar pandang sinis ke arah kakaknya.
"Kau ini benar-benar... ishh!" Hyung Jun kelihatan kesal sekali dengan adiknya. Va Ni menghela napas panjang dan menggeleng pelan. Selalu seperti ini.. batinnya.
Saat dia menyesap kopi di cangkirnya, dia baru teringat sesuatu.
"Oh, oppa.. Bagaimana dengan unnie? Aku belum bertemu dengannya sejak saat itu.." katanya kemudian.
Raut wajah Hyung Jun seketika berubah mendengar pertanyaan Va Ni baru saja. Seketika wajahnya menjadi serius dan tidak seceria tadi.
"Ai bersikap seperti biasanya.. Kau tahu bagaimana dia.." jawabnya dengan wajah serius. Va Ni mengangguk pelan.
"Ne. Aku sangat mengerti. Apa kau sering mengunjunginya?" tanya Va Ni lagi.
Hyung Jun mengangguk.
"Aku sudah berjanji pada JungMin. Walau aku tidak pernah mengatakannya pada orang itu, tapi aku sudah berjanji padanya untuk menjaga Ai dan JungHee saat dia tidak di sini. Bahkan di saat seperti ini.." katanya kemudian.
"Kau juga sama terlukanya dengan unnie 'kan? Semua orang terluka, tentu saja. Tapi kau dan JungMin oppa.. Kalian berdua sangat dekat satu sama lain.." ujar Va Ni.
Hyung Jun menarik napas panjang dan menghelanya perlahan.
"Aku tidak bisa menunjukkan kalau aku sama terlukanya dengan Ai di saat seperti ini. Dia membutuhkan seseorang untuk menjaganya.. Tapi dia tidak pernah menganggapku oppa yang baik! Yang benar saja!" Hyung Jun mengakhiri kata-katanya dengan sedikit kesal.
"Apa masih belum ada informasi tentang JungMin hyung?" tanya Kiseop.
Hyung Jun menggeleng.
"Jungmin masih dinyatakan hilang sampai sekarang. Itu yang membuat Ai jadi sedikit tertekan. Kalau memang benar dia sudah.. meninggal.. setidaknya, kami masih bisa melihat tubuhnya untuk terakhir kalinya.." jawab Hyung Jun. Dia meneguk coklat hangatnya sampai habis. Ada yang bercokol dalam dadanya saat dia mulai membicarakan sahabatnya itu. Walaupun polisi bilang tidak bisa menemukan tubuhnya, semua orang yang ada di sini sudah pasrah. Di lautan seluas itu, tidak ada satupun orang yang bisa bertahan hidup sendirian tanpa bantuan orang lain.
"JungMin hyung orang yang baik.. Tentu berat untuk semuanya.." ujar KiBum.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara di meja itu. Semua terdiam dan hanya Young Jae yang sibuk sekali dengan makanannya. Sambil sesekali KiBum menyuapinya tanpa mengucapkan apapun.
Sampai beberapa saat kemudian, Hyung Jun membuka keheningan yang ganjil itu.
"Aku tadi menghubungi Ai untuk menyusulku ke sini. Aku sudah tidak bertemu dengan JungHee seminggu lebih karena Ai membawanya ke desa. Jadi aku menyuruhnya untuk menyusulku ke sini.." katanya kemudian sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Sepertinya kau tidak perlu menghubunginya, hyung.." kata KiBum kemudian. Hyung Jun menatap adiknya dengan tatapan bingung. KiBum mengedikkan kepalanya ke arah pintu masuk restoran itu.
Hyung Jun menoleh ke arah yang ditunjuk KiBum.
Seorang yeoja berambut sebahu yang diikat asal ke belakang sedang berjalan menuju ke meja mereka sambil agak tergopoh mengikuti anak perempuan kecil yang berlari di depannya.
"JungHee ah.. Pelan-pelan.. Nah, benar 'kan?"
Anak itu terjatuh terjengkang ke depan. Yeoja itu segera menghampirinya dan membantunya berdiri. Tapi anak itu tidak menangis dan kembali berlari ke meja tempat Hyung Jun sedang duduk.
"Benar-benar anak Jung Min.. JungHee ah.. Paman tampan di sini~~! Whoa.. Tunggu, ya ampun.. Kau berat sekali.." Hyung Jun segera menggendong anak kecil yang rambutnya diikat jadi dua bagian itu  dan mendudukannya di kedua kakinya.
"Unnie ah!" Va Ni beranjak dari tempat duduknya dan segera memeluk yeoja itu dengan erat.
"Who, whoa.."
"Maaf, aku tidak mengunjungi kalian beberapa bulan ini.. Bagaimana kabar kalian? Aku rasa JungHee sudah tumbuh dengan cepat sekali. Dia baru bisa merangkak saat terakhir aku bertemu dengannya dulu.." Va Ni duduk kembali di kursinya.
"Gwaenchana, gwaenchana.. Oh.. Annyeonghaseyo.." Kim Ji Ho membungkuk sopan saat dia melihat ke arah adik sepupu Va Ni yang juga langsung berdiri membalas salamnya.
Lee Kiseop memberikan tempat duduknya untuk Ji Ho dan dia sendiri duduk di samping Va Ni.
"JungHee ah.. Jae oppa.. Bilang annyeong padanya.." Ji Ho bicara pada putrinya yang sudah duduk dengan nyaman di pangkuan Hyung Jun. Anak perempuan itu menatap YoungJae dengan wajah tanpa minat.
"Annyeong.." katanya dengan suara lirih.
"Whoooaa.. Dia sudah bisa bicara.. Jae ah.. Ya! Kenapa kau makan terus?? Apa kau tidak mau menyapa JungHee?" KiBum menoleh ke arah Young Jae yang kini minum susunya dengan lahap.
"JungHee benar-benar mirip appa-nya, ya?" ujar Va Ni, menatap anak perempuan itu lekat. Dan sesaat dia baru menyadari kalau dia baru saja mengatakan sesuatu yang tidak tepat. Ji Ho hanya menanggapi kata-katanya dengan senyum samar.
"Ahh, unnie ah.. Ini adik sepupuku yang sering aku ceritakan padamu dulu.." kata Va Ni kemudian, seraya menunjuk namja yang duduk di sampingnya.
"Ahh.. Siapa.. Yang Lee Kiseop itu? Ne.. Va Ni sering cerita padaku.." kata Ji Ho seraya tersenyum ke arahnya.
"Oh, benarkah? Noona.. Kau cerita apa saja tentangku?" Kiseop bertanya Va Ni dengan sedikit protes.
"Wae?? Kenapa kau kelihatan tidak suka?" sahut Va Ni.
"Karena kau selalu mengatakan pada orang-orang kalau aku agak sedikit aneh. Padahal suamimu sendiri juga begitu.. Kau tahu, appa mana yang mengajak anaknya yang baru berumur dua tahu belajar berenang di udara sedingin ini? Ahh, jeongmal~~" namja itu menatap Va Ni dengan tidak percaya.
"Apa kalian berdua sekarang membentuk koalisi anti-Hyun Joong hyung? Kompak sekali.." Hyung Jun menatap adiknya dan Kiseop secara bergantian dengan tidak percaya.
"Kau dan adikmu sama sekali belum berubah dari dulu.. JungHee ah, mau makan apa?" Ji Ho menatap putrinya yang masih diam saja dari tadi dengan lembut.
"Dia tidak banyak mengoceh hari ini. Apa dia sakit?" Hyung Jun menyibakkan poni JungHee dan menyentuh keningnya.
"Tidak panas. Ya~~ Kau ini kenapa sedari tadi melihat ke arah Kiseop terus? Kau naksir padanya? Andwae! Kau masih kecil. Jangan kegenitan seperti appa-mu.." Hyung Jun merapikan rambut JungHee yang ikatannya mengendur. JiHo hanya tersenyum simpul.
"Whoo.. Hyung benar. JungHee melihat ke arahnya terus sedari tadi. Wae, JungHee ah?" KiBum ikut-ikutan memperhatikan anak perempuan itu.
"Mungkin karena dia baru bertemu dengan KiSeop hari ini. Dia mungkin bertanya-tanya siapa dia.." jawab Va Ni.
"Ahh.. Ne. Benar juga.. Bilang annyeong padanya. Annyeonghaseyo.." Hyung Jun menggerak-gerakkan tangan JungHee dan melambaikan ke arah Kiseop. Namja itu hanya tertawa dan ikut melambai ke arah JungHee.
"Ya~~ Jangan melihatnya terus! Lihat Paman Jun yang tampan saja.. Jae ah! Cukup makanmu.. Kau ini sudah gemuk sekali!" Hyung Jun mengomel pada Young Jae yang masih makan sambil sesekali KiBum ikut-ikutan mencomot makanannya.

@ @ @

“Ne, oppa.. Aku sedang berteduh di depan department store karena hujannya deras sekali. Ahh, gwaenchana.. Aku akan pulang naik taksi..” Kim Ji Ho berbicara pada seseorang ddengan ponselnya yang ditempelkan di telinganya dan salah satu tangannya menggandeng tangan yeoja kecil yang berdiri di sampingnya. Dia melihat ke atas, hujan terlihat mengguyur dengan deras dari atap transparan yang dipasang di lobi department store yang baru saja dia datangi itu.
“Kau bawa payung tidak? Jung Hee bisa masuk angin kalau kau ajak hujan-hujan nanti..” suara Hyung Jun terdengar mengomel dari seberang.
“Aku akan menunggu sampai hujan reda. Kau jangan khawatir. Keponakanmu akan baik-baik saja..” kata Ji Ho, meyakinkan namja itu.
“Ya sudah, tunggu sampai hujan reda. Kalau saja aku tidak sedang di Busan, aku akan menjemput kalian. Eh, tapi Kibum ada di Seoul. Kau tunggu di sana. Biar aku suruh anak itu untuk menjemputnya. Diam di sana dan jangan ke mana-mana. Mengerti? Ya~ Jawab aku!” suara namja di seberang telepon terdengar agak keras karena Hyung Jun bicara sambil setengah berteriak. Ji Ho menghela napas panjang.
“Baiklah.. Aku mengerti..” katanya kemudian.
“Baiklah. Aku akan menghubungi KiBum..” kata Hyung Jun. Sedetik kemudian terdengar sambungan telepon diputus begitu saja dari seberang. Ji Ho menatap ponselnya dan angkat bahu acuh. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lalu beralih menatap JungHee yang sedang asik menatap curahan hujan di atas atap lobi yang transparan.
“Apa yang kau lihat, JungHee ah?” tanya Ji Ho, seraya berjongkok di samping putrinya.
“Aku mencari appa..” jawab anak itu.
Ji Ho merasa ada sesuatu yang menohok dadanya dengan keras sekali.
“Eh?” dia menatap JungHee dengan bingung.
“Paman Jun bilang appa ada di atas sana.. Apa dia akan ikut turun saat hujan turun?” tanya JungHee polos. Ji Ho menatap putrinya dengan tatapan sedih yang tidak bisa dia sembunyikan. Ada yang mencabik-cabik perasaannya tiap dia mendengar anak itu membicarakan tentang appa-nya. Anak itu tidak tahu apa-apa. Yang dia tahu tentang sosok appa-nya adalah, seseorang yang kini sedang bekerja di suatu tempat, dan hanya foto dan beberapa video-nya yang bisa disimpan untuk mengingatkannya tentang figur ayahnya.
JiHo sendiri tidak bisa menyembunyikan perasaan terlukanya tiap ada yang membahas namja itu di depannya, apalagi kalau putrinya sendiri yang menanyakannya.

*Flashback*
“Kau ini benar-benar tidak bisa diandalkan. Kenapa selalu datang telat? Aku sudah menunggumu hampir setengah jam di sini..” namja bertubuh tinggi itu menatap galak ke arah Ji Ho yang baru saja datang dengan payung di tangannya serta mantel hujan yang basah kuyup dan sepatu bot yang kotor terkena lumpur.
“Apa kau tidak lihat hujannya lebat sekali seperti ini?” sahut Ji Ho tak kalah kesal menatap namja di depannya.
“Kalau kau datang tepat waktu, kau tidak akan kehujanan. Aku ke sini sebelum hujan tadi..” sahut namja di depannya masih dengan nada kesal.
“Aku sudah bilang padamu kalau aku akan sedikit terlambat ‘kan? Aku bekerja paruh waktu, setengah jam yang lalu aku baru selesai bekerja..” Ji Ho tidak beranjak dari tempatnya dan masih berdiri di sana dengan perasaan kesal. Dia sudah susah payah datang ke sini di bawah guyuran hujan yang deras ini, malah kena omel sesampainya di sini.
Tiba-tiba suara gemuruh disertai kilat terdengar keras sekali di dekat mereka. Park Jung Min segera menarik tangan yeoja itu dengan keras dan membawanya masuk ke restoran tradisional di belakangnya. Hampir setengah jam yang lalu dia menunggu yeoja itu di depan restoran tradisional itu.
“Jangan ceroboh. Cepat buka mantelmu..” katanya dengan nada dingin dan masih terdengar kekesalan dalam nada suaranya. Dia mengambil payung yeoja itu, menutupnya dan menaruhnya di tempat khusus payung tamu yang tersedia di dekat pintu keluar restoran itu. Ji Ho menghela napas panjang dan menuruti kata-kata namja itu. Dia melepas mantel hujannya yang basah kuyup, dan menggantungkannya di gantungan khusus yang ada di dekat pintu keluar juga.
Saat melepas mantel hujannya, yeoja itu bersin keras sekali.
“Nah, benar ‘kan? Kau tahu kalau kau gampang terkena flu, kenapa malah hujan-hujanan seperti itu?” Jung Min kembali berbicara dengan nada setengah mengomel pada Ji Ho.
Tapi yeoja itu tidak menggubrisnya. Dia sendiri yang memintanya datang ke sini, sekarang malah memarahinya. Kalau JiHo tidak datang, dia akan tambah marah lagi.
“Sudah, ayo makan.. Aku sudah lapar..” ujar yeoja itu sambil berjalan melewatinya tanpa menghiraukan Jung Min.
Suara gemuruh kembali terdengar dari luar restoran itu. Dan hujan semakin deras mengguyur jalanan kota Seoul. JungMin menggenggam sesuatu dalam saku jaketnya dengan erat. Dia sudah membayangkan akan memberikan benda ini dalam suasana romantis di tengah hujan rintik-rintik, tapi malah hujan menakutkan seperti ini yang muncul. Dan suasana hati yeoja itu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja sepertinya. Tapi dia tidak bisa menundanya lebih lama lagi untuk memberikan benda ini pada Ji Ho. Sudah saatnya untuk memberikan benda yang disimpan rapi dalam kotak kecil yang indah ini untuk diberikan pada yeoja itu sekarang.
Atau dia akan menunda lebih lama lagi..
JungMin berjalan menyusul JiHo yang masih mencari tempat duduk, dan gemuruh masih terdengar dari luar sana.

*flashback END*

“Ji Ho.. ssi?” sebuah suara terdengar di belakang Ji Ho dan membuat lamunannya buyar seketika. Baik dia maupun JungHee sama-sama menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya.
Seorang namja berdiri di belakangnya dan langsung membungkuk dengan sopan saat Ji Ho berdiri dari jongkoknya. Ji Ho menatap namja itu dengan tatapan bingung.
“Ne.. Kau..”
“Lee Kiseop. KiBum memintaku untuk menjemputmu.. Karena dia sedang mengurus sesuatu di Ilsan dengan Hyun Joong hyung.. Jadi, aku yang ke sini..” jawab namja itu.
“Ahh.. Ya ampun, aku jadi merepotkanmu. Sebenarnya aku bisa pulang sendiri. Maaf merepotkan. Jinjja.. Hyung Jun oppa kadang terlalu berlebihan..” kata Ji Ho, sedikit merasa bersalah pada namja itu.
“Gwaenchanayo.. Lagipula kebetulan aku juga sedang dalam perjalanan pulang. Kita searah. Kangnam ‘kan?” tanya namja itu.
“Ne. Apa benar tidak apa-apa? Ahh, aku benar-benar minta maaf karena sudah merepotkanmu..” kata Ji Ho. Dia benar-benar merasa tidakenak hati pada namja itu. Pasalnya, dia baru bertemu sekali dengan namja itu dan sekarang malah memintanya mengantarkannya pulang. Ini semua gara-gara sikap Hyung Jun oppa yang terlalu protektif padanya.
“Aku tidak apa-apa. Sungguh. Kecuali kalau aku diminta mengantarkanmu ke Busan, mungkin aku akan menolaknya..” jawab Kiseop dengan nada bercanda. Ji Ho tertawa simpul.
“Terimakasih banyak. Ayo, JungHee ah.. Wae~?” Ji Ho menarik tangan JungHee untuk pergi dari tempat itu. Tapi anak itu sepertinya tidak mau pergi. Tangannya mengusap matanya berkali-kali dan dia tidak mau melihat ke arah Ji Ho.
“Apa kau lelah? Ayo, omma akan menggendongmu..” Ji Ho mengulurkan tangannya untuk menggendong anak itu dan menahan dengan kedua tangannya. JungHee mengangguk dan JiHo lalu mengangkatnya dengan susah payah.
“Aigo~~ Kau berat sekali sekarang..” kata Ji Ho.
“Biar aku membantumu, Ji Ho ssi..” ujar Kiseob. Ji Ho melihatnya dengan ragu.
“Oh, tapi JungHee jarang sekali mau dengan orang yang baru dikenalnya. Jung Hee ah.. Kau mau ikut dengan oppa ini?” Ji Ho bertanya pada Jung Hee yang sepertinya sudah ingin segera tidur saja.
Dan tanpa dia duga, anak itu mengangguk tanpa mengatakan apapun.
“Wahh.. Biasanya dia jarang sekali mau ikut dengan orang yang belum dikenalnya. Oh, mian..” Ji Ho menyerahkan Jung Hee pada namja di sampingnya yang langsung menggendong Jung Hee di tangannya.
“Untuk anak seusianya, tubuhnya termasuk tinggi sekali..” ujar Kiseop.
Ji Ho tersenyum getir.
“Semua orang bilang seperti itu. Mirip appa-nya, ne? Aku bahkan tidak dapat apa-apanya..” kata Ji Ho. Mereka berjalan menuju tempat parkir yang ada di basement dengan kedua tangan JiHo membawa dua keranjang belanjaan.
“Aku mengenal Jung Min hyung dengan baik.Karena dia bersahabat baik dengan kakak Kibum. Dia namja yang baik sekali..” ujar Kiseop.
“Ne..” sahut Ji Ho singkat. Tiap ada seseorang yang membahas tentang Jung Min, dia tidak bisa mengatakan apa-apa selain kalimat pendek seperti “ne” dan “begitu, ya?”
"Ahh, maaf.. Aku mengatakan sesuatu yang tidak enak.." kata Kiseob.
Ji Ho tersenyum simpul.
"Tidak apa-apa. Memang kenyataannya begitu 'kan?" ujarnya kemudian.
"Apa boleh? Aku bertemu dengannya beberapa kali saat di rumah KiBum. Kadang dia juga menceritakan tentangmu, Noona.. Oh, maaf, Ji Ho ssi.." Kiseob buru-buru meluruskan kata-katanya.
"Gwaenchana.. Panggil aku 'noona'.." kata Ji Ho kemudian.
"Tapi aku sering mendengar mereka memanggilmu 'Ai'.. Aku hanya heran.."
Ji Ho sekali lagi tersenyum.
"Ne. Jung Min yang awalnya memanggilku seperti itu. Lalu Hyung Jun oppa bilang kalau JungMin memanggilku begitu, artinya dia juga harus memanggilku dengan cara yang sama. Ya sudah, semua orang jadi ikut-ikut memanggilku dengan nama itu." terang JiHo panjang lebar.
"Ai? Manis sekali.. Kau pasti sangat spesial di matanya karena JungMin hyung sampai memanggilmu dengan nama khusus.." ujar KiSeob. Ji Ho membuang napas pelan.
"Sangat spesial sampai-sampai dia mengomeliku terus sepanjang hari.." sahutnya kemudian. Dia menghela napas berat. Sulit sekali untuk melupakan semua memori tentang namja itu dari ingatannya.
"Oh.. Aku rasa JungHee sudah tidur.." ujar KiSeob seraya melihat ke wajah anak kecil itu yang disandarkan ke bahunya.
"Oh, benarkah? Dia tidak pernah tidur sepulas itu selain di bahu appa-nya.." Ji Ho menatap ke arah JungHee yang sedang tertidur pulas di bahu Kiseob.
"Mungkin dia benar-benar kelelahan. Bahkan saat tidur wajahnya mirip JungMin hyung.." kata Kiseob saat melihat wajah JungHee.
"Aku benar-benar merepotkanmu hari ini, Kiseob ssi.. Terimakasih banyak, ne?" ujar JiHo.
"'Ne. Gwaenchanayo.." sahut namja itu.

@ @ @

Hwang Va Ni menatap adik sepupunya yang sedang duduk di atas sofa di ruang tengahnya itu dengan tatapan kaget.
"Apa katamu?" tanyanya tak percaya. Dia sedang menyuapi anak laki-lakinya yang sedang bermain mobil-mobilan di atas lantai.
"Sepertinya aku menyukainya.." jawab Lee Kiseob dengan santai.
"Kau jangan mengatakan hal itu dengan sesantai itu.. Ya~ Lee Kiseop, apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" kata Va Ni.
"Aku tahu, Noona.. Mau bagaimana lagi, perasaan seseorang tidak bisa dibohongi.." jawab KiSeob.
"Kau tahu dia istri JungMin oppa, dan dia masih berduka dengan kematian suaminya. Dan kau bahkan beberapa tahun lebih muda darinya. Apa yang kau pikirkan? Jae ah~~ Jangan lari-larian!" Va Ni berkata sambil mengikuti anaknya yang berlari mengitari ruangan.
"Aku juga tahu itu, Noona. Aku sudah mengenal yeoja itu beberapa bulan terakhir ini. Makanya aku bisa bilang padamu kalau sepertinya aku menyukainya. Aku jatuh cinta padanya.." ujar Kiseob.
"Coba kau pikirkan dua kali lagi sebelum kau menyatakan perasaanmu pada Ai unnie.. Dia masih berduka, KiSeob ah.. Jangan menambah beban pikirannya juga.." Va Ni berkata sambil menangkap lengan anaknya supaya diam. Tapi anak laki-laki itu berontak, dan akhirnya dia melepaskannya lagi.
"Aku sudah bilang 'kan? Aku akan berusaha menggantikan posisi JungMin hyung. Melindungi dan menjaganya serta JungHee. Lagipula anak itu sangat menyukaiku.." jawab Kiseob.
Va Ni menghela napas panjang. Kelelahan antara menyuruh anaknya untuk diam dan menasehati adik sepupunya itu.
"Kalau Ai unnie tidak mau menerimamu, kau jangan menyesal.." kata Va Ni tegas.
"Aku akan terus berusaha untuk membuatnya menyukaiku.. Kau tidak lihat, Noona?" kata Kiseob.
Va Ni melihat penampilan adik sepupunya itu dengan maklum. Beberapa bulan ini penampilan namja itu berubah drastis dari sebelumnya. Sifatnya yang awalnya seenaknya sendiri, berubah menjadi pendiam dan dewasa sekali. Penampilannya pun bukan seperti KiSeob yang dulu.
"Walaupun kau merubah penampilanmu seperti JungMin oppa, itu tidak menjamin Ai unnie akan menyukaimu juga 'kan?" kata Va Ni.
"Aku sedang berusaha.. Kau lihat saja hasilnya nanti, noona. Kurae? Aku pergi dulu.." KiSeob beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri keponakan laki-lakinya yang sedang berusaha menaiki meja di ruang tamu itu dan segera dicegah Va Ni. Kiseob mengacak rambut anak itu sebelum akhirnya pamit pada Va Ni dan berjalan menuju pintu rumah yang sedari tadi dibiarkan tertutup.
Va Ni menatap adik sepupunya itu dengan sedikit was-was. Apa dia serius dengan apa yang baru saja dia ucapkan tadi??
Saat memikirkan hal itu, tangannya yang sedari tadi memegangi tubuh anaknya terlepas dan anak itu jatuh ke karpet yang ada di bawahnya. Dan kakinya terbentur pinggiran meja dengan keras sekali. Anak itu langsung menangis keras sekali.
"Nah.. Omma sudah bilang jangan naik-naik ke atas 'kan?" Va Ni menggendong anaknya ke sofa dan berusaha menenangkannya.

@ @ @

Minggu, 19 Januari 2014

Fallen Angels (2) *season 2*

Kim Ji Ho
Aku membersit hidungku dengan tisu dan membuangnya ke tempat sampah di dekatku. Aku mengusap kaca jendelaku yang berembung untuk melihat pemandangan dari luar kamarku. Salju di luar turun dengan lebat sekali, padahal ini sudah memasuki pertengahan musim dingin akhir. Sepertinya salju tahun ini turun lebih banyak dibanding tahun kemarin. Aku kembali membersit hidungku dan bersin dengan keras sekali. Musim dingin berarti juga, musim flu untukku.
Aku terlonjak kaget saat mendengar suara keras dari jalanan di dekat apartemenku. Seperti suara sebuah benda berat yang jatuh dan diikuti teriakan kaget seorang yeoja. Aku membuka jendelaku dan melongok keluar jendela untuk melihat apa yang terjadi.
Aku melihat sebuah mobil box yang mengangkat makanan kaleng menabrak tiang besi di pinggir jalan, dan membuat pedagang kaki lima yang biasa berjualan di sana kaget dan marah-marah.
Beberapa orang datang menolong yeoja paruh baya dengan mengangkat barang-barang dagangannya, dan seorang namja keluar keluar dari mobil itu dan membungkukkan tubuhnya berkali-kali minta maaf pada yeoja paruh baya itu.
Pagi-pagi begini sudah ada kejadian tidak mengenakan seperti ini.. batinku.
Saat tanganku meraih kusen jendela dan akan menatapnya, mataku tak sengaja menangkap sesuatu di ujung jalan itu. Seorang namja berpakaian serba hitam dan bertopi rajut hitam berdiri sambil bersandar di salah satu dinding toko yang belum buka di jalan itu, sambil menatap lurus ke arah sesuatu. Aku mengernyitkan dahi secara otomatis. Tidak ada yang aneh dengan penampilan namja itu. Hanya saja aku menangkap ada sesuatu yang membuatku tertarik untuk memperhatikannya. Namja itu bahkan hanya diam saja tak bereaksi saat ada kejadian menghebohkan itu, padahal kejadiannya hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya. Dia sama sekali tidak menunjukkan minat apapun terhadap insiden itu.
Aku langsung menggeleng keras-keras. Kim Ji Ho~~ Cukup mengurusi orang lain.. Sudah, sudah..
Aku segera menutup jendelaku dan beranjak dari tempat itu. Aku melihat jam beker berbentuk kucing di atas meja di samping ranjangku. Hari ini aku ada janji dengan Dae Jong untuk pergi ke pameran lukisan pacarnya di Museum Seoul. Sebenarnya aku malas sekali karena udaranya benar-benar dingin di luar sana. Tapi karena Dae Jong adalah teman dekatku yang aku kenal sejak kami di sekolah menengah dan dia merengek-rengek dengan agak memaksa minta ditemani, akhirnya aku mengiyakan juga.
Aku mengenakan mantel musim dinginku dengan malas. Mengambil syal berwarna abu-abu kebiruan yang tergeletak sembarangan di atas tempat tidur dan menalikan dengan sembarangan mengelilingi leherku sampai menutupi daguku. Terakhir aku mengambil kaos tangan dan memakainya sebelum aku keluar dari kamarku.
Ponselku berdering pelan saat aku menutup kamarku dan berjalan ke ruang tengah. Kamarku letaknya di antara ruang tengah dan ruang makan, cukup strategis menurutku. Aku mengambil ponsel dari dalam tasku dan membaca pesan teks yang masuk.
Dari Jae Joong oppa.
“Ai.. Kau tidak lupa kalau hari ini akan pergi menonton ‘kan? Aku sudah membeli tiket dan akan segera menuju ke sana setelah memandikan Jiji di salon hewan..”
Aku membelalak kaget menatap pesan di ponsel itu. Lalu menepuk dahiku sendiri seraya masih menatap ponsel di tanganku.
Bagaimana aku bisa lupa kalau hari ini aku akan pergi menonton dengan namja itu? Aku juga tidak bisa membatalkan janjiku dengan Dae Jong begitu saja. Dia akan marah padaku nanti. Tapi Jae Joong oppa.. Aku juga tidak mungkin membatalkan pergi janji dengannya. Dia sudah susah payah meluangkan waktu di tengah-tengah kesibukannya. Ahh, benar-benar bodoh..
“Apa ponselmu semenarik itu sampai-sampai kau tidak melihat jalan di depanmu?” sebuah suara bariton mengejutkanku seketika. Aku berhenti melangkah dengan agak kaget karena suara itu.
Seseorang sudah berdiri di depanku dan aku harus mendongak dengan susah payah untuk melihat wajah orang itu.
“Oh.. Oppa.. Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku pada namja yang sudah berdiri di depanku itu.
“Menurutmu apa lagi aku ke sini dengan peralatan ini?” sahut namja itu seraya menunjukkan kotak dan peralatan yang ada di tangannya. Aku mengangguk mengerti.
“Apa krannya rusak lagi? Omma?” tanyaku pada ibuku yang ada suaranya sedari tadi terdengar dari ruang tengah.
“Ahjumma bilang bukan krannya yang rusak. Tapi airnya membeku. Jadi saluran airnya tersumbat..” jawab namja itu.
“Oh, benarkah? Baiklah kalau begitu. Selamat bekerja, Seung Hyun oppa..” aku berjalan melewatinya seraya menepuk bahunya agak keras.
“Ini masih pagi sekali. Tidak biasanya kau pergi pagi-pagi di hari libur seperti ini..” kata namja itu. Aku menatapnya dengan sedikit protes.
“Waeyo?” tanyaku.
“Ya, tidak apa-apa, sih..” sahut namja itu seraya berbalik dan berjalan ke dapur. Aku angkat bahu dan berjalan menuju pintu keluar.
Saat tiba di depan apartemen aku mengenakan topi rajutku dan menutupi sebagian rambut sebahuku yang aku biarkan tergerai begitu saja. Pandanganku menyapu ke jalanan sekelilingku yang memutih karena butiran salju. Dan mataku masih melihat namja berpakaian serba hitam yang masih berdiri di tempatnya beberapa saat yang lalu. Siapapun dia.. Aku harap dia bukan orang jahat yang sedang merencanakan sesuatu yang jahat juga. Aku menggeleng pelan untuk mengabaikan segala pikiran burukku itu.

@ @ @
Namja itu diam tidak bergerak menatap di tempatnya berdiri saat ini. Dia tidak peduli dengan lalu lalang orang-orang di sekelilingnya. Dia mengabaikan seluruh pandangan setiap orang yang melihatnya dengan tatapan curiga dan aneh. Tapi dia tidak peduli. Bukan mereka yang dia cari. Tujuannya datang ke tempat ini adalah karena dia ingin menemui seorang Alpha dari klan vampir yang tertinggi di sini. Menurut informasi terakhir yang dia dapat, Alpha itu terlihat ada di sekitar sini. Di apartemen sederhana di seberang jalan itu tepatnya. Kalau dia bisa mendapatkan Alpha itu, dia akan dengan mudah mendapatkan seluruh klan vampir untuk membantunya menghadapi para penghuni langit yang sok suci itu. Itulah tugasnya. Para setan sudah menjalankan tugasnya dengan baik untuk membujuk para manusia agar membelot dari rahmat-Nya. Beberapa dari mereka sudah tidak mempercayai-Nya lagi dan mengikuti perintah Lucifer yang agung. Kalau dia bisa menguasai semua makhluk yang kasat mata maupun tak kasat mata untuk menyembah Lucifer, maka hukum Tuhan sudah tidak berlaku lagi. Dia yang telah membuang Lucifer ke dalam neraka dan membuatnya dikenal sebagai Iblis yang jahat di mata manusia, sehingga para manusia itu memusuhinya dan memeranginya.
Tugaskulah membuat para manusia ini berpaling dari Tuhan mereka dan menyembah Lucifer.. batin namja itu.

@ @ @

Jung Min
“Apa kau yakin ingin pergi ke sana dengan keadaan seperti ini?” tanyaku, menatap yeoja di sampingku dengan wajah khawatir.
“Aku tidak apa-apa, oppa.. Aku sudah lebih baik. Sudah lama aku tidak pergi ke pameran lukisan seperti ini..” jawab Park GyuRi seraya tersenyum lemah meyakinkanku.
“Tapi wajahmu masih pucat sekali..” kataku.
“Aku tidak apa-apa. Sungguh.. Kalau aku melihat lukisan-lukisan itu, perasaanku akan jadi lebih baik. Percayalah padaku..” sahut yeoja itu. Dia menatapku serius, mencoba meyakinkanku. Aku menghela napas panjang.
“Baiklah kalau begitu.. Kalau kau kelelahan di sana, kau harus bilang padaku. Karena besok kau harus kontrol ke rumah sakit..” kataku.
“Baiklah, Jung Min oppa.. Kau terlalu mengkhawatirkanku.. Aku tidak selemah itu..” kata GyuRi seraya tersenyum geli.
“Pakai ini..” aku mengalungkan syal tebal ke lehernya dan melilitkannya.
“Aku bisa melakukannya sendiri kalau hanya seperti ini..” sahut yeoja itu seraya melilitkan syal mengelilingi lehernya.
Aku keluar dari mobil dan membantu yeoja itu turun dari mobil. Untuk sesaat Gyuri hanya menatap museum itu dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. Dia menatap museum itu dengan agak lama sebelum akhirnya melangkah mendahuluiku. Aku memang belum terlalu tahu seluk beluk yeoja ini. Yang aku tahu hanyalah, yeoja ini pernah menjalani kehidupan kelam yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Tapi aku belum tahu semua hal tentangnya, dan alasan kenapa dia harus sampai ingin bunuh diri seperti itu. Aku hanya melihatnya sebagai yeoja lemah yang harus dilindungi. Dan benar kata malaikat bernama Anael itu, mungkin waktulah yang membuatnya seperti ini. Perasaanku yang dulu menolak untuk membuka hatiku pada yeoja yang belum aku kenal ini, lama kelamaan luluh juga. Aku hanya ingin melindungi yeoja ini.
Aku berjalan menyusul GyuRi yang sudah berjalan beberapa langkah menuju museum. Beberapa orang terlihat berlalu lalang di sekitar kami. Gerombolan yeoja yang mengenakan pakaian yang sama terlihat melewatiku sambil mengobrol sambil tertawa-tawa. Beberapa orang terlihat berjalan sendirian dengan wajah serius dan membawa beberapa peralatan di tangan mereka. Banyak orang-orang dari berbagai karakter datang ke sini. Aku baru pertama kali datang ke museum ini. Buat apa? Toh aku sudah melihat benda-benda yang di museum itu saat benda-benda itu masih asli dan bukan replika seperti sekarang ini.
Kami tiba di pintu depan museum. Harus antri untuk mendaftar sebagai pengunjung dan mendapat souvenir dari museum itu. Antriannya lumayan panjang, karena ini hari libur dan banyak yang ingin datang ke sini.
Menunggu beberapa menit sebelum akhirnya kami bisa keluar dari antrian dan dapat masuk ke dalam museum. Gyuri berjalan mendahuluiku seperti biasa. Dia melewati beberapa lukisan dan hanya melihatnya sekilas tanpa minat sambil terus berjalan ke suatu tempat. Aku mengernyitkan dahi menatapnya. Aku tidak tahu apa yang diinginkan yeoja ini sebenarnya. Dia bilang dia ingin melihat lukisan-lukisan ini, tapi dia hanya melihatnya sekilas tanpa minat begini. Dia bahkan berjalan mendahuluiku tanpa menungguku.
“Ya~! Hati-hati kalau berjalan~!” sebuah suara berseru dengan agak keras di dekatku. Entah kenapa aku reflek menoleh dengan cepat sekali ke asal suara. Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini. Tapi kepalaku masih mencari-cari asal suara tadi di antara kerumunan orang-orang yang berjalan melewatiku.
Apa yang sebenarnya aku cari? Bodoh! Aku segera mengingatkan diriku sendiri dan kembali mengikuti yeoja tadi. Gyuri sudah.. Ya!
Aku tidak melihat GyuRi berjalan di depanku lagi. Di mana dia? Aku mulai mencari-cari berkeliling untuk menemukan yeoja itu. Yang benar saja! Ke mana dia? Baru saja aku berpaling sebentar, dia sudah menghilang. Aku mencari berkeliling museum itu, sambil melihat ke sana kemari. Dia tidak berpikir untuk melakukan sesuatu yang buruk lagi kan?
Beberapa saat setelah aku mencari hampir ke seluruh museum ini, aku menemukan yeoja itu sedang berdiri di depan sebuah ruangan dengan sikap diam.
“Ya~! Ke mana saja kau? Aku mencarimu berkeliling ruangan..” kataku dengan napas sedikit tersengal. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan, tapi sesaat tadi aku benar-benar mencemaskannya.
Yeoja itu menoleh ke arahku dan menatapku dengan tatapan bersalah.
“Oh, oppa.. Maafkan aku.. Aku sedang melihat itu..” dia menunjuk pada sesuatu yang ada di ruangan itu. Aku mengikuti arah telunjuknya yang menempel pada pintu kaca di depannya.
Sebuah piano besar berwarna hitam ada di ruangan itu.
“Ada apa dengan itu?” tanyaku bingung.
Gyu Ri terdiam untuk beberapa saat. Lalu dia tersenyum samar.
“Aku hanya ingin mendengarkan sebuah musik yang dimainkan dari piano itu..” jawabnya tanpa melihat ke araku, dan menatap piano itu. Aku semakin tidak paham dengan ucapannya.
“Kau ingin memainkannya?” tanyaku.
Yeoja itu menggeleng seraya tersenyum.
“Tidak. Aku tidak bisa memainkannya dengan bagus.. Tapi aku suka mendengar dentingan musik dari piano.. Kau bisa memainkannya, oppa?” tanyanya, kini dia menatapku.
“Aku juga tidak begitu lihai memainkannya..” jawabku kemudian.
Gyu Ri tidak menyahut dan hanya mengangguk.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat itu. Ayo, kita lihat lukisan-lukisannya..” ajaknya kemudian. Dia menarik lenganku dengan lembut dan membawaku pergi dari tempat itu. Tapi aku merasa masih ada sesuatu yang disembunyikan yeoja itu dariku.

@ @ @

Va Ni
Aku berdiri di ambang pintu tanpa mengucapkan apa-apa dan hanya menatap seorang namja yang sedang duduk di depan keyboard sambil memainkan sebuah nada dari keyboard itu dengan wajah serius. Sesekali matanya terpejam seraya jemarinya menekan tuts-tuts dengan lembut. Wajah namja itu seperti sedang benar-benar menghayati lagu yang sedang dia mainkan. Kalau sudah seperti ini, aku tidak bisa mengganggunya. Seung Ho oppa akan lupa padaku kalau dia jari-jarinya sudah menyentuh tuts piano maupun keyboard. Dia seperti mempunyai dunia sendiri dalam musik yang dia mainkan itu.
Aku berniat bersandar pada daun pintu di sampingku sambil mengamatinya bermain piano, tanpa aku sadari kalau daun pintunya malah membentur tembok di belakangnya sampai menimbulkan suara yang agak keras. Aku sendiri kaget.
Seung Ho oppa menghentikan permainan pianonya begitu saja. Dia lalu berpaling ke arahku yang masih berdiri di sana dengan sikap kaku.
“Oh.. Maaf, sudah mengganggumu, oppa..” kataku salah tingkah.
Seung Ho oppa tersenyum simpul.
“Gwaenchana.. Aku juga hanya bermain karena menunggumu selesai turun..” jawabnya seraya mematikan keyboard-nya.
“Kau sepertinya menyukai lagu itu, oppa. Lagu favorit-mu?” tanyaku ingin tahu.
Seung Ho oppa tidak segera menjawab. Dia kelihatan sedang memikirkan jawabannya.
“Karena ini adalah lagu ciptaan pertamaku saat aku di sekolah menengah. Bagus ‘kan? Bagaimana menurutmu?” tanyanya bangga.
“Bagus sekali. Aku suka mendengarnya. Apa kau yang menciptakannya sendiri? Untuk orang yang kau sukai?” tanyaku lagi, dengan senyum menggoda ke arahnya. Seung Ho oppa balas tersenyum.
“Aku menyukainya karena kau juga menyukainya. Aku sengaja menciptakan lagu ini untuk orang yang aku sukai. Jadi, karena kau yang bilang menyukai lagu ini, itu artinya lagu ini untukmu..” jawabnya kemudian. Aku menggeleng seraya tersenyum malu.
“Yang benar saja.. Kau menciptakan lagu itu saat sekolah menengah, hanya untuk orang yang kau sukai di masa mendatang? Tapi aku memang menyukainya.. Walaupun sebenarnya aku lebih suka mendengar petikan gitar..” aku berhenti bicara seketika. Tenggorokanku rasanya tercekat saat aku mengucapkan kata-kata itu. Entah kenapa saat aku mengatakan kata-kata terakhir itu, yang terlintas dalam benakku adalah sesosok namja yang sangat aku kenal sedang bermain gitar dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Aku menggelengkan kepalaku keras-keras. Hentikan, Va Ni ah..
“Kau lebih suka mendengar permainan gitar? Aku tidak begitu mahir bermain gitar, sih. Aku lebih suka bereksplorasi dengan piano. Tapi kalau kau menyukai permainan gitar, aku akan menciptakan lagu untukmu dengan gitarku.. Untuk hadiah pernikahan kita nanti..” kata Seung Ho oppa, sambil tersenyum menggoda ke arahku.
Aku kembali tersenyum malu mendengarnya.
“Kau benar-benar tipe namja yang pintar memikat hati yeoja.. Aku tidak heran kau punya banyak pacar saat remaja dulu..” kataku.
Seung Ho oppa pura-pura berpikir keras.
“Ada beberapa.. Apa kau cemburu? Ahh, sudahlah.. Itu hanya masa lalu. Ayo, kita pergi sekarang.. Nanti antriannya tambah panjang..” kata Seung Ho oppa seraya berdiri dari tempatnya dan merapikan jaket tebalnya. Aku keluar mendahuluinya menuju pintu depan, dan dia berjalan di belakangku.

Ji Ho
Aku memilih duduk sambil menatap sekelilingku daripada aku mati kebosanan melihat lukisan-lukisan yang dipajang di ruangan itu. Aku tidak begitu suka dengan lukisan. Aku melihat bangku kosong di salah satu sudut yang terletak di antara lukisan-lukisan yang dipajang itu, jadi aku mendudukinya. Sambil  melihat orang-orang yang berjalan di sekitarku, yang sesekali menatapku dengan padangan aneh. Tapi aku tidak peduli. Dae Jong lebih mengesalkan. Dia meninggalkanku dan menemani pacarnya begitu tiba di sini dan mengabaikanku begitu saja. Menyebalkan sekali, gerutuku dalam hati.
“Boleh aku duduk di sini?” sebuah suara lembut terdengar di dekatku. Aku menoleh ke asal suara dan melihat seorang yeoja menatap ke arahku.
Wajahnya pucat dan dia kelihatan sedang tidak enak badan.
“Oh, ne.. Silakan..” ujarku kemudian seraya menggeser tempat dudukku.
Yeoja itu lalu duduk di sampingku dengan hati-hati. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai tertutup mantel yang melilit di lehernya. Sebenarnya wajanya cantik sekali kalau saja dia tidak seperti sedang kesakitan begitu.
“Kau menunggu seseorang?” tanya yeoja itu tiba-tiba. Aku agak kaget ditanya secara mendadak begitu.
“Ahh.. Tidak. Urusanku dengan temanku sudah selesai. Kau sendiri?” tanyaku kemudian. Yeoja yang kelihatannya seumuran denganku itu terbatuk pelan sebelum tersenyum ke arahku.
“Dengan seseorang. Tapi dia sedang mengurus sesuatu untukku, jadi aku menunggunya di sini..” katanya kemudian. Aku mengangguk mengerti.
“Ahh, begitu?” kataku kemudian.
Lalu untuk beberapa saat tidak ada yang bicara di antara. Aku menyibukkan diriku untuk melihat sebuah lukisan yang terpajang di sebuah ruang dinding di depanku. Sebuah lukisan yang menampilkan lekuk-lekuk erotis tubuh seorang yeoja. Walaupun wajahnya tidak jelas, tapi jelas itu tubuh seorang yeoja. Tapi selama apapun aku menatap lukisan-lukisan yang ada di ruangan ini, aku sama sekali belum tertarik dengan salah satunya.
“Kau menyukai lukisan?” tanya yeoja di sampingku.
“Mmm.. Tidak begitu. Aku hanya menemani temanku saat ke sini tadi..” jawabku kemudian.
“Ah, begitu? Aku lebih menyukai fotografer dibanding lukisan..” kata yeoja itu.
Aku kembali mengangguk mengerti. Dan saat itu juga ponselku yang ada dalam tasku tiba-tiba berdering dengan keras sekali dan membuatku sedikit terlonjak. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berdiri membelakangi yeoja itu untuk menerima panggilan telepon itu.
Dari Jae Joong oppa.
“Oh, yeoboseyo..” kataku.
“Kau sekarang ada di mana? Aku akan menjemputmu ke sana..” kata suara di seberang.
“Oh.. Aku ada di museum Seoul, seperti yang aku katakan tadi..” sahutku.
“Kurae. Tunggulah sebentar. Aku akan menjemputmu di sana..” kata JaeJoong oppa.
“Oppa.. Tidak usah repot-repot. Kita bertemu saja di gedung bioskopnya. Aku akan ke sana dengan taksi..” kataku.
“Oh, begitu? Ah, ani.. Aku akan menjemputmu sekarang. Tunggu sebentar, ne?” ujar JaeJoong oppa dari seberang.
“Ne. Baiklah kalau begitu..” sahutku.
Telepon dimatikan. Aku mengunci layar ponselku dan memasukkan ke dalam tasku. Saat aku berbalik untuk melihat apakah yeoja berwajah pucat tadi masih duduk di sana atau tidak, aku mendapati bangku di belakangku sudah kosong.
Aku melihat yeoja itu sudah berjalan menjauh dari tempatku berdiri saat ini. Dia sedang berjalan dengan pelan melewati lorong panjang ini. Dan aku hanya terpaku di tempatku sekarang. Entah kenapa aku sendiri tidak bisa melepaskan pandanganku pada sosok tinggi yang berjalan di sampingnya itu. Ada sebuah perasaan kuat untuk terus melihat ke arah sosok itu. Aku tidak mengenalnya kan? Tapi kenapa sepertinya aku mengenal sekali sosok tubuh itu? Yang pasti dia seorang namja. Dengan bahu bidang dan rambut sebahu yang diikat ke belakang itu.. Apa aku mengenalnya?
Baru saat mereka berbelok di salah satu lorong dan menghilang dari pandanganku, aku baru bisa mengalihkan pandanganku. Aku menggeleng keras-keras. Apa yang baru saja aku pikirkan? Aku mengabaikan perasaan sok tahuku ini jauh-jauh dan segera berjalan dengan setengah berlari menuju pintu keluar museum itu.

@ @ @
Namja yang mengenakan setelan jas denim itu sedang menatap lurus ke arah yeoja yang sedang berjalan terburu melewati lorong untuk keluar dari gedung museum ini.
“Manusia tidak bisa terlepas dari cinta..” gumamnya pada dirinya sendiri.
“Jangan lupa.. Kau juga seorang keturunan malaikat..” sebuah suara lembut terdengar di sampingnya.
Hyung Jun tidak menoleh ke asal suara. Pemilik suara itu tak kasat mata oleh manusia biasa. Hanya dia satu-satunya yang bisa melihat bentuknya sesungguhnya. Dan tanpa menoleh ke asal suara di sampingnya, dia sudah tahu siapa yang berbicara.
“Tugasmu sepertinya berjalan dengan lancar, Anael..” katanya kemudian.
“Begitulah.. Aku sudah mempertemukan mereka. Seharusnya Cupid membantuku membuat perasaan mereka saling terikat satu sama lain. Tapi dia sedang bebas tugas ‘kan sekarang? Setelah kejadian itu..” kata Anael.
“Kau agak memaksakan pertemuan mereka aku rasa..” kata Hyung Jun datar.
“Aku tahu kau akan mengatakan begitu. Tapi itu takdir mereka..” sahut Anael.
“Kalau begitu aku tidak bisa protes ‘kan?” kata Hyung Jun.
“Lalu bagaimana dengan keturunan Lucifer? Banyak pengikut Lucifer yang sudah memberanikan diri untuk mengakui terang-terangan kalau mereka adalah pengikutnya.. Apalagi setelah mereka mendengar kabar adanya keturunan Lucifer di muka bumi ini..” kata Anael.
"Itu bukan tugasku, Anael.. Aku hanya diminta untuk menemui keturunan Lucifer itu. Setelahnya, malaikat utama yang akan menyelesaikannya.." jawab Hyung Jun.
"Kau benar-benar bisa diandalkan dalam tugas ini? Kau tahu aku akan membantumu kalau kau membutuhkanku.." kata Anael.
"Tugasmu pasti jauh lebih berat dari tugasku. Aku tahu para malaikat tidak akan begitu saja mengabaikan permintaan tolong manusia kan?" ujar Hyung Jun.
"Untuk beberapa hal.. Aku rasa tidak. Kami hanya bertindak sesuai perintahNya.." jawab Anael.
Hyung Jun tidak menjawab dan beberapa saat kemudian terdengar kibasan sayap pelan di sampingnya. Dan makhluk tak kasat mata itu sudah tidak ada di tempatnya lagi. Meninggalkan beberapa bulu lembut putih bersih yang melayang jatuh di atas salju yang membeku di samping jendela tempat namja itu berdiri sekarang.