expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

OPENING

Opening

Blog ini berisi konten-konten terlarang.. Hehehe. Bo'ong, diiiing.. Blog ini khusus buat para Triple S dan orang-orang yang dengan sukarela menghargai karya orang lain.. Dikhususkan buat para penggemar fanfiction yang gak suka bashing dan suka menghargai karya orang lain. If you don't like it, JUST LEAVE THIS PAGE!! We don't need bashing.. Kalau kritikan, fine.. Tapi bukan untuk dicaci maki dan dihina. Jadi, sekali lagi.. We need your supports. Dan yang terpenting dari segala yang terpenting adalah.. DILARANG MENGCOPY TANPA IJIN APALAGI MENGKLAIM DENGAN SENANG HATI KALAU INI ADALAH HASIL KARYANYA. Semua yang ada di sini ditulis oleh kami sendiri. Bukan saduran maupun plagiat dari mana-mana. Atas perhatiannya. Saya ucapkan terima kasih..


NOTE: Komen dan kritikan dan saran saaaaangaaat ditunggu.. ^^

Author

Sabtu, 29 April 2017

Split (2)

Sejak pertemuannya dengan laki-laki bernama Park Jung Min seminggu yang lalu, Ji Ho terus memikirkannya. Bukan karena dia terpesona dengan wajah tampan laki-laki itu. Oke, dia memang tidak menampik kalau laki-laki itu adalah tipe idealnya. Tapi bukan itu yang jadi poin utamanya. Nama laki-laki itu seperti pernah dia dengar. Tapi dia tidak mengingatnya. Dan itu benar-benar mengganggu pikiran Ji Ho.
Dia melihat semua berkas klien yang pernah dia tangani, tapi dia tidak menemukan nama laki-laki itu di sana. Ji Ho bahkan mencoba mencari namanya di mesin pencarian di internet, tapi yang dia dapat hanya beberapa laki-laki bernama Park Jung Min yang sama tapi tidak ada Jung Min yang dia cari di sana.
Akhirnya pagi ini Ji Ho memutuskan untuk tidak memikirkan laki-laki itu dan mulai kembali serius dengan pekerjaannya. Lagipula, laki-laki itu sudah beristri. Memikirkan suami orang benar-benar bukan gayanya.
“Kau tidak mendengarku mengetuk pintu berkali-kali?” sebuah suara tiba-tiba terdengar di dekatnya. Ji Ho yang sedang membuka lembaran berkasnya dengan setengah melamun langsung terkejut karena suara itu.
Dia mendongak dari lembaran berkasnya dan melihat seseorang sudah berdiri di depan meja kerjanya.
Seorang perempuan muda dengan rambut pnjang yang diwarna coklat kemerahan menatapnya dengan tatapan galak dari balik kacamata berbingkainya.
“Kau mengagetkanku, Hye Jung,” kata Ji Ho setengah kesal.
“Padahal aku tidak berteriak-teriak. Kau sedang tidak ada klien hari ini?” tanya perempuan muda yang dipanggil Hye Jung tadi seraya duduk di atas kursi yang ada di depan meja kerja Ji Ho.
“Kau beruntung aku sedang tidak ada klien hari ini dan kau bisa bertemu denganku sesukamu,” jawab Ji Ho dengan nada setengah bercanda.
Hye Jung mendecih pelan.
“Dan, apa yang membawa seorang reporter televisi sepertimu tiba-tiba mampir ke kantorku malam ini?” tanya Ji Ho lagi.
Hye Jung tidak langsung menjawab dan hanya melenguh pelan. Dia beranjak dari duduknya dan beralih pada sofa panjang tak jauh dari Ji Ho duduk sekarang. Dengan sekali gerakan dia langsung merebahkan tubuhnya ke atas sofa itu. Menjadi teman dekatnya sejak di sekolah menengah, membuat Ji Ho segera menyadari ada yang terjadi pada perempuan itu. Bukan sesuatu yang bagus tentunya. Wajah Hye Jung tampak murung dan ada sedikit kekesalan yang tampak di matanya.
“Ada masalah dengan pekerjaanmu?” tanya Ji Ho.
Hye Jung mendesah pelan dan  Ji Ho hanya menatapnya dengan tatapan maklum.
“Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran laki-laki itu,” kata Hye Jung, kali ini dengan nada kesal.
“Baiklah, biaya konseling satu jamnya akan aku potong karena kau adalah teman dekatku,” kata Ji Ho kemudian.
Hye Jung balas menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Kau bercanda?”
“Kau duduk di tempat terapi klienku,” ujar Ji Ho seraya menunjuk sofa yang ditiduri Hye Jung saat ini.
“Yang benar saja, Kim Ji Ho,” kata Hye Jung kesal, tapi tidak beranjak dari tidurnya.
“Jadi, apa yang dilakukan laki-laki itu?” tanya Ji Ho kemudian.
“Ya, ampun. Kau bahkan memanggil kakak sepupumu sendiri dengan panggilan ‘laki-laki itu’?” Hye Jung kini menatap Ji Ho tak percaya.
“Aku sudah memanggilnya begitu sejak aku kecil. Jadi, apa masalahmu dengannya?” tanya Ji Ho seraya merapikan berkas-berkasnya.
“Sebenarnya apa kelemahannya? Aku tahu dia adalah kepala divisi tempatku bekerja. Tapi itu tidak bisa membuatnya hampir selalu menyalahkan dalam semua pekerjaanku kan? Aku selalu terlihat seperti orang bodoh di depan banyak orang karena dia selalu menyalahkanku. Semua pekerjaanku selalu salah di matanya,” ujar Hye Jung panjang lebar.
Ji Ho hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda dia mengerti situasi yang terjadi pada Hye Jung.
“Jadi, apa lagi yang kau lakukan sampai membuatnya marah?” tanya Ji Ho.
“Sebenarnya dia tidak marah. Dia hanya terlihat mengabaikanku,” jawab Hye Jung.
“Terlihat mengabaikan? Bukankah itu lebih baik daripada kau dibentak-bentak di depan umum?” tanya Ji Ho dengan dahi berkerut.
“Y-ya... Aku lebih suka dia memarahiku daripada dia mengabaikanku,” suara Hye Jung memelan.
“Oke, aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi padamu dan laki-laki itu. Jadi, kau ingin aku bicara padanya atau apa?” tanya Ji Ho kemudian. Dia tidak terlalu suka basa-basi. Menurutnya itu hanya membuang-buang waktu.
“Tidak, tidak. Kau jangan berpikiran kalau aku datang ke sini untuk memintamu bicara padanya karena kau sepupunya. Aku  hanya.. ingin bicara padamu dan bertemu denganmu,” kata Hye Jung dengan nada canggung.
Ji Ho menghela napas.
“Kau tidak perlu secanggung itu padaku. Lagipula, selain Hye Ri, kau juga adalah teman dekatku kan? Omong-omong, kau tidak meliput hari ini?” Ji Ho menatap wanita berambut merah itu dengan dahi berkerut.
Hye Jung membuang napas keras-keras.
“Hari ini aku libur dan dua hari lagi ada tugas wawancara dengan seorang pengusaha muda yang sedang naik daun beberapa waktu terakhir ini,” jelasnya dengan nada malas.
“Oh, ya? Siapa?” Ji Ho bertanya dengan nada penasaran.
“Kau tidak mau tahu,” kata Hye Jung kemudian.
Ji Ho kembali mengerutkan dahinya.
“Dan kenapa aku tidak mau tahu?” tanyanya.
“Karena dia adalah seorang Park–dia berasal dari keluarga yang sombong sekali,” jawab Hye Jung kemudian. Entah kenapa dia jadi bersikap salah tingkah sendiri.
Dan perubahan perilakunya itu jelas tidak luput dari penglihatan Ji Ho yang sejak tadi menatapnya.
“Kau tadi mengatakan sesuatu,” kata Ji Ho dengan nada tajam.
“Yeah, tentang seorang pengusaha muda yang berasal dari keluarga angkuh,” jawab Hye Jung kemudian. Dia sudah menemukan ketenangannya lagi dan mulai bicara dengan sikap enggan seperti beberapa saat yang lalu.
“Kau hampir menyebutkan nama tadi,” kata Ji Ho.
“Oh, ya?” Hye Jung balas menatapnya dengan tatapan bingung.
Ji Ho menghela napas panjang. Lalu dia mulai membereskan barang-barangnya yang di atas meja untuk dimasukkan ke dalam laci meja kerjanya sebelum akhirnya menguncinya.
“Mau kutemani minum?” tawarnya pada Hye Jung, seraya beranjak dari tempat duduknya.
Hye Jung menoleh ke arahnya dengan mata berbinar-binar.
“Kau memang selalu tahu apa yang ada di benakku, Ji Ho. Tidak rugi aku memiliki teman seorang psikolog sepertimu,” katanya seraya beranjak dari sofa dan berdiri dengan antusias.
“Tapi kali ini kau yang mentraktirku. Aku hanya menemanimu minum,” kata Ji Ho seraya menyampirkan tali tasnya ke bahunya dan berjalan ke arah pintu keluar.
“Kukira kau sudah berubah jadi ibu peri baik hati yang suka menolong tanpa pamrih,” keluh Hye Jung.
Ji Ho tidak menoleh ke belakang. Tapi dia terkikik geli tanpa suara saat mendegar Hye Jung mengatakan hal itu dengan nada setengah menggerutu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ji Ho seharusnya tahu resiko mengajak Hye Jung minum saat suasana hati gadis itu sedang buruk. Dia sudah mengenal gadis itu selama bertahun-tahun dan seharusnya tahu apa akibatnya kalau Hye Jung pergi minum dalam kondisi seperti ini. Walau awalnya Ji Ho yang mengajaknya minum, tapi akhirnya yang menghabiskan berbotol-botol soju itu adalah Hye Jung dan Ji Ho hanya minum sedikit. Dan sekarang, dengan Hye Jung yang berjalan sempoyongan di sampingnya, Ji Ho terpaksa membawanya ke apartemennya. Salah satu lengan Hye Jung dilingkarkan ke bahunya dan dia susah payah menarik tubuh Hye Jung yang sudah setengah sadar itu. Untung saja perempuan itu bertubuh lebih pendek darinya, jadi Ji Ho tidak terlalu kesulitan menyeretnya.
Hye Jung terus menceracau tidak jelas sejak keluar dari kedai minum tadi. Dan Ji Ho harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan malunya karena dilihat orang-orang yang lewat di dekatnya. Dia juga harus membungkam mulut Hye Jung saat gadis itu berseru tak karuan saat mereka melewati perumahan warga. Salah satu warga yang tampaknya terganggu dengan ceracauan Hye Jung langsung memarahinya dan Ji Ho harus meminta maaf berkali-kali pada laki-laki tua itu.
Untungnya saat mereka sudah sampai di gedung apartemennya, Hye Jung tidak berteriak-teriak seperti tadi. Mungkin dia sudah lelah dan kesadarannya mulai melemah.
Ji Ho mulai mengeluarkan peluh saat dia keluar dari lift dan berjalan menuju apartemennya sendiri. Salah seorang tetangga apartemennya yang melihatnya kewalahan seperti itu, hanya menatapnya dengan tatapan maklum. Ji Ho tidak terlalu memperdulikannya karena yang ingin dilakukannya sekarang adalah melemparkan tubuh Hye Jung ke sofa di apartemennya.
Bahunya sudah terasa kebas karena membawa tubuh Hye Jung.
Saat Ji Ho hampir sampai di apartemennya, kedua matanya membelalak lebar karena kaget. Dia melihat seseorang sudah duduk meringkuk di depan pintu apartemennya dan tampak terkantuk-kantuk.
Ji Ho mempercepat langkahnya dan itu artinya dia harus menyeret tubuh Hye Jung dengan sembarangan.
“Sarang?” tanya Ji Ho, dengan nada kaget.
Gadis kecil yang tampak terkantuk-kantuk itu langsung terlonjak. Dia langsung mendongakkan kepalanya ke arah Ji Ho. Dia membenarkan bajunya yang berantakan dan menatap Ji Ho dengan wajah berbinar.
“Eonnie!” serunya seraya berjalan ke arah Ji Ho dan memeluknya.
“Eh?” Ji Ho bingung dengan sambutan yang sama sekali tidak pernah dia duga sebelumnya.
Dia mendengar Hye Jung bergumam tak jelas di sampingnya.
“Kenapa kau ada di sini malam-malam begini?” tanya Ji Ho, menatap gadis kecil itu dengan dahi berkerut.
Sarang melepaskan pelukannya dan mendongak untuk menatap wajah Ji Ho.
“Karena aku ingin bertemu denganmu,” jawabnya polos.
“Apa ibumu meninggalkanmu lagi?” tanya Ji Ho ingin tahu.
Sarang menggeleng.
“Tidak,” jawabnya.
“Lalu?” tanya Ji Ho semakin penasaraan.
“Aku pergi ke sini sendirian,” jawabnya kemudian.
“Ap-apa?” Ji Ho membelalak kaget menatap gadis kecil itu. Tapi Sarang tampaknya tidak terlalu terpengaruh dengan kekagetan Ji Ho.
“Kau tidak menghubungiku lagi sejak kau mengantarkanku pulang ke rumah. Jadi, aku ke sini karena aku ingin bertemu denganmu,” jelas Sarang dengan wajah polos. Kedua mata hitamnya menatap Ji Ho dengan tatapan bangga dan penuh kerinduan.
“Tu-tunggu. Kau ke sini sendirian? Tapi bagaimana? Kau bahkan masih... sangat kecil,” kata Ji Ho, tak habis pikir.
“Aku menumpang mobil milik nenek Jang. Dia adalah tetanggaku yang sangat baik hati. Dia bilang akan pergi ke Apgujong untuk menjenguk cucunya. Jadi aku ikut dengannya dan pergi ke apartemenmu. Tapi sejak sore kau tidak ada. Jadi aku menunggumu di sini,” kata Sarang panjang lebar. Dan itu semakin membuat kedua mata Ji Ho membelalak kaget.
“Kau menungguku di sini dari siang? Ya, Tuhan. Kenapa kau ... Oh, baiklah. Kau pasti lapar sekali. Tunggu sebentar,” Ji Ho segera mencari-cari kunci apartemennya dengan salah satu tangannya, karena tangannya yang satu masih menahan tubuh Hye Jung yang tampaknya sudah tidak sadarkan diri. Apartemen Ji Ho ini adalah apartemen sederhana yang masih menggunakan kunci pintu dan bukan pintu otomatis yang akan terbuka kalau kita menekan password.  Jadi, agak menyusahkan saat dia mencari kunci apartemennya dengan keadaan seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.

Setelah merebahkan tubuh Hye Jung di sofa yang ada di ruang tengahnya, menyelimuti tubuh Hye Jung yang sudah mendengkur keras dengan selimut tebal, dan berganti pakaiannya sendiri, Ji Ho akhirnya menyiapkan makan malam untuk Sarang yang sudah menunggunya di ruang makan (Ji Ho sendiri yang memintanya untuk menunggu di sana).
“Jadi, kau mau makan apa untuk makan malam, Sarang-ah?” tanya Ji Ho seraya membuka lemari es-nya. Tidak terlalu banyak bahan makanan, karena dia tidak terlalu suka memasak dan lebih suka membeli produk jadi. Benar-benar bukan kehidupan yang sehat. Tapi Ji Ho sudah cukup senang dengan mengkonsumsi buah-buahan untuk suplemen alami sehari-hari.
“Apa kau bisa membuatkanku sandwich?” tanya Sarang.
“Sandwich? Hanya itu? Apa akan kenyang?” Ji Ho mengerutkan dahi, seraya mengambil beberapa sayuran segar dari lemari es-nya. Untung saja dia baru membeli roti pagi tadi.
“Biasanya eomma malah hanya memberiku ramen setiap makan malam,” jawab Sarang.
Ji Ho menatap anak itu untuk beberapa saat. Dia tahu hubungannya dengan ibunya tidak terlalu baik, tapi bukan berarti seorang ibu mengabaikan kesehatan untuk anaknya sendiri kan?
“Jadi, Sarang.. apa yang membuatmu ingin mengunjungiku?” tanya Ji Ho seraya mengeluarkan roti dan meletakkannya di atas piring yang sudah dia siapkan sebelumnya.
“Aku rindu padamu,” jawab Sarang.
Itu adalah hal yang aneh bagi Ji Ho. Dia memang dekat dengan beberapa anak, karena pekerjaannya. Tapi beberapa dari mereka tidak ada yang nekat pergi dari kota yang jauh sendirian tanpa orangtuanya hanya untuk menemuinya, dan bahkan mengatakan rindu padanya.
“Kenapa kau rindu padaku?” tanya Ji Ho kemudian, mengabaikan desiran aneh yang menyelimuti perasaannya setelah mendengar penuturan Sarang baru saja. Selain Hye Ri, sejauh ini tidak ada yang bilang rindu padanya dan ingin bertemu dengannya.
“Karena kau mirip eomma,” jawab Sarang kemudian.
“Eh?” Ji Ho berhenti menaruh sayuran segar di atas roti tawarnya dan beralih menatap Sarang.
Sarang tersenyum lebar dan dia tampak manis sekali. Kedua mata lebarnya yang dihiasi manik hitam kelam benar-benar indah dan itu membuat Ji Ho jatuh cinta pada pandangan polos gadis itu. Sejak pertama kali mereka bertemu.
“Karena eomma-nya Young Jae dan ibunya Jung Hee eonnie baik sekali. Mereka sepertimu. Selalu tersenyum  dan cantik sekali. Tidak seperti ibuku. Dia hanya tersenyum padaku saat ada appa,” wajah Sarang yang awalnya kelihatan senang berubah jadi murung. Dia menunduk dengan bibir mengatup rapat.
Ji Ho menghela napas panjang. Sebenarnya masih banyak hal yang mengganggunya tentang Ibu gadis kecil itu, tapi saat mendengar perut Sarang berbunyi keras sekali, Ji Ho segera menyelesaikan sandwich-nya. Sarang tampak malu dan wajahnya memerah. Tapi itu malah membuat Ji Ho tersenyum geli.
“Tidak apa-apa, lapar adalah hal yang wajar kan?” katanya seraya meletakkan sayuran terakhir.
Sarang tidak menjawab dan hanya memegangi perutnya.
“Yak! Sudah selesai,” Ji Ho menyodorkan piring yang sudah berisi sandwich itu ke arah Sarang. “Kau mau susu? Biar aku siapkan.”
Sarang menelan sandwich-nya dengan susah payah seraya mengangguk.
Ji Ho tersenyum simpul dan mulai membuka pintu lemari es-nya lagi. Dia mengeluarkan kotak susu coklat yang sudah dingin.
“Jadi, apakah kau ada masalah dengan ibumu atau bagaimana? Apakah kau membuat ibumu marah sehingga dia bersikap seperti itu padamu?” tanya Ji Ho seraya menghangat susu itu di atas sebuah panci.
Sarang menggeleng. Mulutnya terlihat penuh dengan makanan. Ji Ho hanya menatapnya maklum. Dia tahu anak itu pasti sudah kelaparan karena menunggunya sejak tadi sore. Sarang menelan makanannya dengan susah payah sebelum akhirnya bicara dengan suara pelan.
“Karena aku bukan anaknya,” katanya kemudian.
Dan jawabannya itu serta merta membuat Ji Ho kembali terbelalak kaget.
“Apa?” tanyanya dengan dahi berkerut.
“Aku mendengar eomma berteriak marah pada appa saat mereka bertengkar. Dia bilang kalau aku bukan anak kandungnya. Jadi dia tidak sayang padaku,” jelas Sarang dengan nada polos.
Dan penjelasannya itu membuat dada Ji Ho terasa tersayat. Dia menatap anak itu dengan tatapan iba. Jadi terjawab sudah pertanyaannya tentang perlakuan kasar perempuan bernama Soo Jin itu pada Sarang.
“Apa mereka sering bertengkar?” tanya Ji Ho lagi.
Sarang langsung mengangguk.
“Sering sekali. Eomma suka berteriak-teriak pada appa. Eomma sering pulang malam dalam keadaan seperti bibi yang kau seret tadi. Lalu eomma marah-marah pada appa,” jelas Sarang. Dia menelan potongan sandwich terakhirnya.
Ji Ho terlalu fokus pada cerita Sarang sampai dia tidak sadar kalau susunya sudah mendidih. Dia segera mematikan kompornya dan menuangkan susu itu ke dalam cangkir yang sudah disiapkan.
“Dan kau mendengar pertengkaran mereka setiap hari?” tanya Ji Ho seraya menyodorkan cangkir itu kepada Sarang. Sarang kembali mengangguk.
“Kadang aku pergi dari rumah dan menginap di rumah nenek Jang. Pagi ini juga mereka bertengkar lagi. Dan aku langsung pergi ke rumah Jung Hee eonnie. Dia sudah pergi ke sekolah, tapi ibunya baik sekali. Dia juga membuatkanku sarapan,” jelas Sarang. Dia mulai meniup-niup cangkirnya dan menyesap susunya dengan hati-hati. Tapi lalu menjulurkan lidahnya detik berikutnya  karena masih terlalu panas.
Ji Ho hanya menatap gadis kecil itu dengan pandangan iba. Anak itu baru berusia empat tahun dan dia sudah disuguhi pemandangan seperti itu sehari-hari. Tidak heran kalau dia akan selalu pergi dari rumah untuk mencari ketenangan dan kenyamanan daripada tinggal di rumahnya sendiri. Ditambah dengan fakta kalau dia tinggal dengan ibu tirinya yang jelas-jelas tidak suka padanya. Kalau dibiarkan seperti ini terus menerus, tentu saja dampaknya akan kelihatan kalau anak ini sudah mulai beranjak besar. Apalagi anak ini termasuk cerdas jika dilihat dari caranya bercerita dengan detail di usianya yang sedini ini. Dia tahu bagaimana seorang anak berbohong. Anak itu akan memutar matanya tanda dia sedang memikirkan apa yang harus dikatakan agar orang lain percaya. Tapi anak di depannya ini menjawab pertanyaan Ji Ho dengan polos dan apa adanya. Dan dia tidak sadar kalau dirinya sedang berada dalam masalah sekarang.
 Ji Ho tidak bisa tinggal diam. Dia harus bicara pada kedua orangtuanya. Ayahnya, lebih tepatnya.
“Oh, ya, apa kau sudah memberitahu ayahmu kalau kau akan ke sini?” tanya Ji Ho.
Sarang langsung menggeleng.
“Ayah tidak pulang malam ini. Dia sudah bilang padaku untuk menginap di rumah nenek Jang saja malam ini,” jawab Sarang.
“Tapi bagaimana kalau saat dia menjemputmu di rumah nenek Jang besok, dan kau tidak ada di rumahnya?” tanya Ji Ho lagi.
Sarang hanya angkat bahu.
“Kau bisa bicara pada appa, seperti beberapa waktu yang lalu. Appa tidak akan marah padamu,” kata Sarang. Dia menatap Ji Ho dengan matanya yang sipit dan ada tatapan permohonan dalam bola matanya itu. Ji Ho menghela napas pasrah. Entah kenapa dia tidak bisa menolak permohonan gadis kecil itu, sejak pertama kali mereka bertemu.
“Baiklah. Untuk malam ini, kau akan tidur di sini. Dan aku akan mengantarmu besok siang. Karena aku ada janji dengan klien besok pagi,” kata Ji Ho kemudian.
Sebuah senyum lebar terulas di bibir tipis Sarang.
“Terimakasih,” katanya riang, seraya meneguk susunya yang sudah mulai menghangat.
Ji Ho hanya mendengus geli melihat kepolosan gadis kecil itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara dengungan mesin penyedot debu memenuhi ruangan apartemen itu pagi ini, disertai dengan suara desisan mesin pemanggang yang ada di ruang makan. Hye Jung menggeliat pelan di sofa dan selimut tebal yang menutupi tubuhnya jatuh ke lantai. Dia meregangkan tubuhnya seraya melenguh panjang.
Ji Ho yang melihat temannya itu akhirnya bangun dari tidur panjangnya, hanya mendengus pelan. Dia menaikkan level mesin penyedot debuhnya dan membuat suaranya tambah keras.
“Ji Ho, aku tahu. Aku tahu. Jangan membuat telingaku tuli,” gerutu Hye Jung dengan nada yang mirip gumaman. Dia belum membuka matanya dan hanya menggaruk-garuk rambut panjangnya yang kini kelihatan berantakan sekali.
Ji Ho mematikan alat penyedot debunya dan membawanya ke belakang. Dia mematikan alat pemanggang dan menyiapkan tiga piring untuk sarapan dia sampai di ruang makan. Letak ruang makan dan ruang tengah berdampingan dan hanya dipisahkan satu tiang penyangga, jadi Ji Ho masih bisa melihat Hye Jung yang belum beranjak dari tidurnya.
“Kau bisa tinggal di sini kalau kepalamu masih pusing. Aku harus berangkat setengah jam lagi,” kata Ji Ho seraya menata roti panggang yang sudah diolesi nutella dia atas masing-masing piring yang sudah disiapkan.
“Aku akan pulang. Aku akan mempersiapkan wawancaraku,” sahut Hye Jung, yang masih mirip dengan gumaman.
Ji Ho hanya menggeleng pelan.
Dia sudah bersiap sejak pukul enam tadi. Dia sudah menyiapkan pakaian kerjanya dan membersihkan dirinya sebelum membersihkan seluruh ruangan apartemennya. Dia juga sudah menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga.
“Bangunlah. Kau akan menghabiskan waktumu seharian di atas sofa itu kalau kau tidak segera bangun,” kata Ji Ho.
Hye Jung masih bergeming di tempatnya.
“Eonnie, kau bangun pagi sekali,” suara kecil Sarang, terdengar di belakang Ji Ho.
Ji Ho segera menoleh ke arahnya dan melihat Sarang masih terlihat sangat mengantuk. Dia mengusap matanya berkali-kali sebelum akhirnya memakai kacamatanya. Gadis kecil itu mengenakan piyama milik Ji Ho yang mulai kekecilan dan tampak kedodoran sekali dengan piyama berwarna pink. Tapi di mata Ji Ho, Sarang tampak lucu sekali mengenakan piyama itu.
“Kau sudah bangun?” tanya Ji Ho riang, seraya menyiapkan kursi untuk Sarang.
Sarang berjalan ke arah Ji Ho dengan langkah pelan dan duduk di atas kursi yang sudah disiapkan Ji Ho.
“Maaf, ya? Pagi ini harus roti lagi. Aku sedang terburu-buru. Jadi, hanya bisa membuatkan ini untukmu,” kata Ji Ho seraya menyodorkan secangkir susu coklat hangat ke arah Sarang.
Sarang menoleh ke arah Ji Ho dan tersenyum.
“Aku menyukainya. Terimakasih,” katanya kemudian. Ji Ho membalasnya dengan sebuah senyuman manis.
“Ji Ho, kau berhutang penjelasan padaku,” suara Hye Jung dari ruang tengah mengusik pendengaran Ji Ho. Ji Ho langsung menoleh ke arah Hye Jung yang kini menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
“Kau mabuk semalam. Jadi kau tidak tahu kalau anak ini sudah di sini sejak semalam,” kata Ji Ho kemudian.
“Aku tahu. Tapi siapa anak itu?” tanya Hye Jung, dengan pandangan ingin tahu.
“Anggap saja klienku,” jawab Ji Ho seraya angkat bahu.
Sarang segera turun dari kursinya dan membungkukkan badannya dengan hormat ke arah Hye Jung.
“Selamat pagi, Bibi,” katanya riang.
Wajah Hye Jung yang semula masih mengantuk dan tampak ingin tahu, kini berubah menjadi kesal. Ji Ho bisa melihat dahinya berkedut menahan kekesalan.
“Aku bukan bibimu, Nak,” katanya. Dia beranjak dari sofa dengan sedikit terhuyung, lalu berjalan ke arah mereka berdua.
“Maafkan aku, Hye Jung eonnie,” kata Sarang dengan takut-takut. Dia menatap Ji Ho, seolah minta pertolongan padanya. Tapi Ji Ho hanya melemparkan senyum yang seolah mengatakan semua baik-baik saja.
“Kau tahu namaku? Baiklah, aku maafkan. Jadi siapa namamu?” tanya Hye Jung. Dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Sarang dan Ji Ho, lalu mulai mengambil roti panggang yang sudah disiapkan untuknya. Sarang kembali duduk di kursinya.
“Sarang. Park,” jawabnya kemudian, seraya meneruskan sarapannya.
“Sarang Pa– uhuk! Uhuk!”
Ji Ho terkejut kaget saat melihat Hye Jung tiba-tiba tersedak hebat sekali. Dia menyodorkan air putih ke arah Hye Jung dan gadis itu langsung meneguknya dengan tergesa.
“Kau ini kenapa?” tanya Ji Ho saat Hye Jung sudah kembali tenang. Hye Jung tidak melihat ke arahnya dan menatap gadis itu kecil di hadapannya itu dengan seksama.
“Kau ... Park Sarang? Sarang yang itu?” tanyanya. Ada sebuah keterkejutan dalam suara Hye Jung saat dia melihat Sarang.
Sarang mengangguk dengan sikap ragu.
“Berapa umurmu?” tanya Hye Jung lagi, kali ini dengan nada suara yang tidak bisa dijelaskan. Ada ketakutan dalam nada suaranya saat menanyakan hal itu.
“Empat tahun,” jawab Sarang, kini dia ikut mengernyitkan dahi menatap Hye Jung.
Dan reaksi Hye Jung setelah itu sama sekali tidak diduga Ji Ho. Dia segera menutup mulutnya seraya menatap Ji Ho dan Sarang secara bergantian.
“Ada apa? Kau kenal anak ini?” tanya Ji Ho, dengan nada bingung dan cemas.
Hye Jung tidak segera menjawab. Dan bersamaan itu terdengar suara bel dari luar apartemen.
Ji Ho sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan Hye Jung dan banyak pertanyaan yang bemunculan di benaknya saat melihat reaksi Hye Jung barusan. Tapi ada tamu yang harus ditemui yang sedang memencet bel berkali-kali di luar apartemennya.
Ji Ho segera beranjak dari duduknya dan setengah berlari menuju pintu apartemen.
Dia langsung membuka pintu apartemennya tanpa melihat dari lobang pintu siapa yang sedang memencet bel apartemennya berkali-kali ini. Dan begitu dia membuka pintunya dan melihat siapa yang kini berdiri di depan apartemennya, kedua matanya kembali membelalak lebar dan dia hampir terpekik kaget karena dia tidak pernah menduga orang ini akan muncul di apartemennya dengan cara yang tiba-tiba begini.
Park Jung Min berdiri di depan apartemennya dengan mengenakan kaos panjang berwarna abu-abu gelap dan celana jeans yang warnanya sudah usang. Walaupun penampilannya hanya sesederhana itu, tapi Ji Ho tidak bisa menolak hormon feromon lokal yang menguar dari tubuh laki-laki itu. Laki-laki itu tampak begitu mempesona, seperti pertama kali mereka bertemu. Wajahnya kelihatan bersih dan wangi parfum maskulin menguar dari tubuh tegapnya. Kedua mata hitamnya menatap Ji Ho tajam dan itu membuat Ji Ho seperti akan meleleh di tempat begitu melihat matanya langsung.
“Sarang bilang dia menginap di sini,” itu adalah kalimat pertamanya setelah mereka bertatapan satu sama lain untuk beberapa saat.
Dan itu membuat Ji Ho segera tersadar kalau mereka masih berdiri di pintu apartemennya.
“Apa? Dia bilang kau menyuruhnya menginap di rumah nenek Jang,” kata Ji Ho kemudian.
Jung Min terlihat menghela napas pelan.
“Aku tidak pernah menyuruhnya begitu. Nenek Jang juga mencarinya semalaman,” katanya kemudian.
“Jadi, anak itu berbohong?” tanya Ji Ho.
“Aku rasa,” jawab Jung Min.
“Dan kenapa kau tahu kalau dia ada di sini?” tanya Ji Ho heran.
“Dia sudah pasti akan mencarimu kan?” Jung Min menyahut dengan nada datar.
“Kenapa aku—maksudku, kenapa kau tahu dia ada di apartemenku?” tanya Ji Ho, kali ini rasa penasarannya benar-benar sudah berada di puncak kepalanya.
Banyak hal yang terjadi, dan entah kenapa dia merasa hanya dia satu-satunya yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Karena hanya itu satu-satunya petunjuk. Orang yang dia kenal di kota ini hanya kau. Dia tidak mengenal orang lain lagi selain dirimu,” jelas Jung Min.
“Itu belum menjelaskan semuanya,” kata Ji Ho dengan nada menuntut.
Jung Min kembali menghela napas dan kali ini lebih panjang.
“Aku juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu. Sejak bertemu denganmu beberapa hari yang lalu, Sarang bersikeras untuk menemuimu,” kata Jung Min.
“Itu hanya alasannya untuk bisa pergi dari rumah. Kau tahu itu kan? Dia tidak betah tinggal di rumahnya sendiri,” kata Ji Ho.
“Aku tahu. Tentu saja. Tapi ada hal lain yang membuatnya terus mengingatmu dan ingin datang menemuimu,” kata Jung Min.
Ji Ho mengerutkan dahi menatapnya.
“Apa itu?” tanyanya kemudian.
“Ikatannya denganmu,” jawab Jung Min. Kedua matanya menatap Ji Ho dengan tatapan lembut sekaligus menghujam, yang membuat Ji Ho tidak bisa berkutik. Dan entah kenapa, sebuah bayangan tiba-tiba berkelebatan dalam kepalanya.
“Apa hubungannya denganku?” Ji Ho semakin bingung dengan arah pembicaraannya ini.
“Karena dia–“
“Park Jung Min! Kuperingatkan kau!”
Kalimat Jung Min tiba-tiba terpotong saat Ji Ho tiba-tiba mendengar seruan Hye Jung di belakangnya. Tanpa perlu menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang bicara, Hye Jung sudah berdiri di depannya, berada di antara dirinya dan Jung Min.
“Lim Hye Jung? Sudah lama tidak bertemu denganmu,” kata Jung Min, dengan nada dingin yang tidak dibuat-buat.
“Appa?” suara Sarang membuat semua orang menoleh ke belakang. Gadis kecil itu berjalan ke arah Jung Min dengan piyama pink yang kebesaran.
“Sarangie. Wah, kau lucu sekali dengan baju ini,” kata Jung Min.
“Kenapa appa kemari? Untuk menjemputku?” tanya Sarang.
“Tidak. Kau boleh tinggal di sini semaumu,” jawab Jung Min kemudian. Dan jawabannya itu membuat Ji Ho terbelalak kaget. Apa? Berani-beraninya pria ini... batinnya.
“Benarkah?” Sarang kelihatan senang sekali. Kedua matanya berbinar saat menatap ke arah Ji Ho.
“Tung-tunggu. Kau tidak bisa seenaknya menyuruhnya seperti itu. Maksudku, aku tidak keberatan dia ada di sini. Tapi ini bukan–“
“Kenapa tidak?” Jung Min segera memotong kata-kata Ji Ho dan entah kenapa Ji Ho langsung bungkam begitu mendengar nada tajam laki-laki itu. “Aku tidak bisa mencegahnya kalau dia ingin tinggal di rumah ibunya sendiri kan?”
“Park Jung Min!” Hye Jung berseru ke arah Jung Min.
Tapi tentu saja Ji Ho sudah mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan laki-laki itu. Butuh beberapa saat untuk mencerna kata-kata itu ke dalam otaknya sampai dia mengerti.
“Maaf. Apa?” tanyanya kemudian.
Jung Min mendengus pelan.
“Dia anakmu. Anak kandungmu yang pernah kau tinggalkan di panti asuhan empat tahun silam,” jawab Jung Min dengan enteng, menghiraukan tatapan marah Hye Jung yang kini berdiri di depannya.
“Ap-apa?” Ji Ho bertanya dengan nada tergagap.
Matanya beralih menatap Sarang yang kini bergelayut di kaki Jung Min dan balas menatapnya dengan tatapan takut-takut. Kedua mata itu seolah membawanya pada lorong panjang yang gelap yang membuat kepalanya tiba-tiba menjadi berdenyut tak karuan.
Sekelebat bayangan kembali menari-nari di kepalanya. Kali ini disertai dengan suara-suara yang samar-samar terdengar di kejauhan.
.
“Kau yakin? Kau tidak akan ingat apapun setelah proses terapi ini selesai .
“Kumohon. Lakukan saja.”
“Bagaimana anak itu, Ji Ho? Pikirkan perasaannya.”
“Aku tidak peduli, Hye Jung! Hidupku sudah hancur. Dan aku tidak bisa menanggung beban yang lebih berat dari ini.”
“Ku benar-benar yakin?”
“Aku yakin. Jangan banyak bicara dan lakukan saja. Aku akan membayar berapapun.”
.
Ji Ho merasa kepalanya terasa berdenyut-denyut tak karuan saat ini.
Apa yang terjadi padanya?
Suara-suara apa itu? Dan kenapa ada suara Hye Jung?
‘Ya, Tuhan. Apa yang terjadi padaku?’

*****

Senin, 17 April 2017

Stay


Wanita itu terbaring di ranjang rumah sakit itu seraya menatap langit-langit di atasnya dengan tatapan kosong sekaligus nanar. Kedua matanya tampak berkaca-kaca tapi dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengeluarkan airmata lagi. Walaupun saat ini dia merasakan perih yang luar biasa di dadanya. Kedua tangannya diletakkan di atas perutnya dan diusapnya dengan gerakan pelan.
Percakapan yang tidak sengaja dia dengar beberapa waktu yang lalu antara suaminya dan dokter yang menanganinya kembali terngiang di telinganya.
“Dengan sangat terpaksa kami mengangkat kantung ovarium-nya. Kami melakukan tindakan pencegahan agar infeksi tidak menyebar ke rahimnya,” ujar dokter dengan suara penuh penyesalan. Saat itu, dia yang sudah tersadar dari pengaruh biusnya hanya memejamkan mata dan berpura-pura masih tertidur saat percakapan itu berlangsung.
“Kalau kantung ovariumnya diambil, itu artinya—” suara suaminya terhenti.
“Ya. Maafkan kami. Istri Anda tidak akan bisa hamil lagi.”
DEG!
Setelah mendengar vonis dokter itu, dunianya seakan sudah berakhir.
Dia tidak akan bisa hamil.
Dia tidak akan bisa melahirkan anak dari suaminya.
Airmata kembali menetes dari sudut matanya dan dia mulai terisak kembali.  Wanita itu menutup kedua mulutnya dengan tangannya dan berusaha untuk tidak menangis. Dia tidak mau suaminya melihatnya seperti ini.
Pintu kamar terbuka bersamaan dengan suara isak tangisnya yang semakin keras. Dia tidak tahan lagi. Dadanya benar-benar sesak dan terasa perih saat ini.
“Va Ni?”
Wanita yang dipanggil Va Ni itu langsung melihat ke arah suara. Seorang laki-laki berambut hitam pendek sedang berjalan menghampirinya dengan tergesa. Kedua mata hitam kelamnya menatap wanita itu dengan pandangan khawatir.
Hwang Va Ni semakin tidak bisa menahan tangisnya lagi. Mengingat kalau dia tidak akan bisa membahagiakan laki-laki di depannya ini, benar-benar membuatnya merasa tidak berguna lagi.
“Va Ni-a, ada apa?” tanya laki-laki itu. Dia adalah Kim Hyun Joong, suaminya.
Va Ni tidak bisa menjawab. Dia ingin mengatakan sesuatu pada suaminya. Banyak hal yang terlintas dalam kepalanya saat ini. Bukan sesuatu yang bagus memang. Dia ingin mengeluarkan semuanya pada suaminya, agar laki-laki itu tahu apa yang mengganjal pikirannya saat ini. Tapi yang hanya bisa dilakukannya hanyalah menangis.
“Va Ni, hei,” Hyun Joong mendekatinya dan duduk di pinggiran ranjang seraya mengusap tangannya dengan lembut.
“Maafkan aku, oppa,” Va Ni akhirnya mendapatkan suaranya lagi. Suaranya terdengar parau di tengah-tengah tangisnya yang semakin keras.
Hyun Joong menghela napas panjang. Tanpa dia bertanya lebih lanjut lagi, dia sudah menduga kalau Va Ni pasti mendengar percakapannya dengan dokter tadi.
Va Ni menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangisnya masih terus pecah.
“Kenapa kau harus minta maaf padaku?” tanya Hyun Joong.
“Karena aku tidak akan bisa membahagiakanmu,” jawab Va Ni.
Hyun Joong menarik napas panjang dan menghelanya. Baginya, mendengar vonis dari dokter beberapa saat yang lalu memang merupakan salah satu pukulan terberat untuknya. Tapi melihat istrinya menjadi frustasi seperti ini, ini menjadi hal paling melukainya seumur hidupnya.
“Sudahlah,” ujarnya, seraya menarik tangan Va Ni. Dia melihat wajah istrinya sudah basah karena airmata dan matanya memerah karena tangisannya. Dengan perlahan, laki-laki itu menarik tubuh  Va Ni dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.
“Aku tidak akan bisa hamil kan? Aku akan mandul selamanya. Iya kan? Katakan padaku, oppa. Aku tidak akan bisa memiliki anak kan?” tanya Va Ni di dalam pelukan Hyun Joong. Bahunya berguncang dan dia kembali terisak.
“Kita bisa memikirkannya nanti,” jawab Hyun Joong seraya mengusap punggung Va Ni dengan lembut.
Va Ni segera melepaskan dirinya dari pelukan suaminya. Dengan wajah terluka, dia menatap Hyun Joong dengan tatapan nanar.
“Aku tidak akan bisa memiliki anak, oppa. Aku sudah mengecewakanmu. Aku benar-benar tidak berguna sekarang. Aku... Kau bisa mencari penggantiku kalau kau menginginkannya. Aku tidak bisa melakukan apapun untukmu! Aku hanya wanita yang–“
“Hwang Va Ni, dengar!” Hyun Joong segera meraih wajah Va Ni dan menangkupkan kedua tangannya di kedua sisi wajahnya. Apa yang dia lakukan itu langsung membuat Va Ni berhenti bicara dan menatapnya dengan tatapan kaget.
“Aku tahu kau sedih karena ini. Kita sama-sama terluka karena ini. Tapi kalau kau mengatakan padaku untuk meninggalkanmu karena hal ini.. jawabanku tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kita akan mencari solusi untuk masalah ini,” kata Hyun Joong, seraya menatap Va Ni dengan tatapan tajam.
Airmata Va Ni masih belum berhenti turun dari matanya, tapi dia sudah tidak terisak lagi. Dia menatap suaminya dengan tatapan sedih dengan kedua mulut mengatup rapat. Hyun Joong mengusap airmata yang membasahi wajah Va Ni dengan lembut.
“Aku menikahimu bukan untuk melukaimu dengan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Kau ingat janji pernikahan kita? Akan melewati semua bersama-sama. Jadi, jangan pernah memintaku untuk meninggalkanmu lagi,” katanya kemudian. Dia kembali merengkuh tubuh Va Ni dan memeluknya dengan lebih erat.
Va Ni membenamkan kepalanya di dada Hyun Joong dan kembali menangis sesunggukan. Dia memeluk tubuh Hyun Joong dengan erat, seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rumah keluarga Kim adalah rumah dengan desain tradisional. Meskipun keluarga Kim adalah keluarga terpandang di kota ini karena kesuksesannya yang turun menurun di beberapa dunia bisnis, tapi mereka tidak pernah meninggalkan kesan tradisional yang melekat dalam generasi mereka. Rumah bergaya tradisional dengan bangunan yang terbuat dari kayu berkualitas berdiri dengan megah di kawasan distrik Kangnam yang terkenal elit itu.
Terlihat beberapa pelayan dengan busana modern berlalu lalang di beberapa sudut rumah itu. Ada beberapa yang terlihat menyapu halaman yang dipenuhi dengan guguran daun dari beberapa pohon berbeda jenis yang tumbuh di halamannya yang luas.
Di ruang keluarga yang menghadap langsung dengan halaman yang dipenuhi beberapa tanaman itu, terlihat seorang wanita paruh baya berambut hitam sebahu, duduk sambil menyeduh tehnya. Seorang lagi adalah wanita muda yang duduk menghadapnya sambil melihat halaman dengan tatapan takjub.
“Bagaimana menurutmu? Aku berencana menambahkan satu tanaman lagi. Kira-kira, pohon sakura butuh berapa tahun untuk bisa tumbuh besar, ya?” tanya Nyonya Kim, wanita paruh baya berambut hitam sebahu itu. Va Ni yang duduk di depannya tersenyum.
Eomonim, tanpa bertanya pun kau tahu kalau pohon sakura membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk bisa tumbuh sebesar itu,” katanya. Nyonya Kim tersenyum.
“Seharusnya kau tidak perlu menanam pohon sakura lagi. Bukankah menantumu juga mirip dengan pohon sakura? Kau tidak perlu menunggu sakura mekar di musim semi,” sebuah suara besar dan dalam mengejutkan mereka. Dua wanita beda generasi itu langsung menoleh ke belakang dan mendapati Tuan Kim, kepala rumah tangga di rumah itu, berdiri di belakang mereka. Perawakannya tinggi dan besar. Hanya melihat wajah dan matanya saja, semua orang tahu kalau dia adalah tipikal pria yang keras dan galak. Tapi sepertinya pandangan itu tidak berlaku untuk Hwang Va Ni, dan juga menantunya yang lain.
Abeoji,” Va Ni menundukkan kepalanya dengan hormat saat Tuan Kim duduk di samping istrinya.
“Bukankah kau bilang akan pulang sore ini?” tanya Nyonya Kim.
“Apa kau tidak suka kalau aku pulang lebih awal? Lagipula, cucuku akan ke sini kan? Young Joong dan Hana akan sampai di sini jam berapa?” Tuan Kim melihat jam tangannya.
Oppa sedang menjemput mereka di bandara,” jawab Va Ni.
Tuan Kim beralih menatapnya.
“Ah, begitu? Kau tidak ikut menjemputnya? Young Jae pasti akan senang sekali kalau melihatmu menyambut kedatangannya,” kata Tuan Kim. Young Jae adalah anak pertama dari Kim Young Joong, kakak Hyun Joong sekaligus anak sulung di keluarga Kim ini. Dia dan keluarganya menetap di Busan untuk meneruskan usaha yang dirintisnya sendiri di sana. Anak laki-laki pertamanya yang berusia enam tahun itu sangat menyukai Va Ni dan selalu menempel padanya tiap dia bertemu dengan Va Ni.
“Joongie melarangnya ikut,” jawab Nyonya Kim seraya meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
Suaminya menatapnya dengan dahi berkerut.
“Kenapa begitu?” tanyanya.
Nyonya Kim menghela napas panjang.
“Va Ni baru saja sakit dan dia perlu banyak istirahat,” jawabnya kemudian. Tuan Kim kembali menatap Va Ni.
“Benarkah? Aku tidak tahu. Kau tidak apa-apa, Nak?” tanyanya cemas.
Va Ni hanya tersenyum geli.
“Aku baik-baik saja, abeoji. Kesehatanku sedang menurun akhir-akhir ini. Mungkin karena aku terlalu lelah bekerja,” jelasnya.
“Kau harus banyak beristirahat. Seharusnya kau tidak perlu bekerja. Bukannya kami mau menyombongkan diri. Tapi selama Hyun Joong bisa memberimu apa yang kau inginkan, kau tidak perlu memaksakan diri,” ujar Nyonya Kim.
Va Ni mengulas senyum lagi.
“Aku tidak bisa hanya berdiam diri di rumah. Tapi setelah ini, mungkin aku memang harus meninggalkan pekerjaan yang melelahkan itu,” katanya lagi.
“Lagipula, kalau kau terlalu bekerja sekeras itu, kau tidak akan segera dapat momongan nantinya,” ujar  Nyonya Kim.
DEG!
Va Ni mencoba menahan perasaan menusuk yang mulai membuat dadanya perih lagi. Dia mencoba tersenyum di depan mertuanya, meskipun dadanya kini serasa diremas kuat sekali oleh tangan tak kelihatan.
“Ah, ya. Atau jangan-jangan.. Kesehatanmu yang menurun itu karena kau sudah hamil?” tebak Tuan Kim. Dan itu membuat Va Ni semakin terpojok.
“Tid-tidak. Belum,” sahutnya dengan nada terbata.
“Lalu kapan kau akan memberi kami cucu yang lucu? Hana bahkan sudah hamil anak kedua. Aku tidak sabar melihat bayi laki-laki atau perempuan dari menantuku yang ini. Pasti lucu sekali,” ujar Nyonya Kim seraya tersenyum pada Va Ni dengan penuh damba.
Va Ni hanya bisa membalas senyumannya dengan canggung. Tenggorokannya mulai tercekat dan rasanya sakit sekali menahan tangis seperti ini.
‘Maafkan aku. Aku tidak pernah bisa mengabulkan permintaan kalian,’ batinnya perih.
“Kami baru menikah beberapa bulan. Dan belum ada rencana untuk memiliki anak sejauh ini.”
Sebuah suara yang sangat dikenal Va Ni terdengar di belakang mereka.
Va Ni segera menoleh ke belakang dan mendapati Hyun Joong sudah berdiri di belakang kursinya seraya memegang tangan seorang anak laki-laki berambut hitam. Anak itu langsung membelalakkan matanya yang mirip Hyun Joong dengan tatapan antusias.
“Bibi Va Ni!” serunya senang. Dia melepaskan tangannya dari tangan Hyun Joong dan berhambur untuk memeluk Va Ni.
“Hei, hati-hati! Jangan memeluknya keras-keras!” seru Hyun Joong dengan nada protektif.
Tapi sepertinya anak laki-laki itu tidak peduli dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Va Ni.
Va Ni hanya tertawa geli dan membalas pelukan anak itu sambil menanyakan kabarnya.
Beberapa saat kemudian, seorang pria muncul di belakang Hyun Joong diikuti  seorang wanita berambut coklat berjalan di belakangnya dengan perut membuncit.
“Young Jae-a, kau membuat Hyun Joong cemburu,” ujar Young Joong seraya terkekeh geli.
Va Ni menundukkan kepalanya dengan hormat ke arahnya. Hana, wanita berambut coklat tadi, langsung disambut dengan sambutan hangat Nyonya Kim. Wanita itu langsung beranjak dari duduknya dan membantu Hana berjalan.
Va Ni melihat pemandangan itu dengan tatapan nanar. Hatinya rasanya kembali seperti diremuk saat melihat pemandangan itu.
Lalu matanya bertemu dengan mata Hyun Joong yang balas menatapnya dengan tatapan tajam. Va Ni segera mengalihkan pandangannya dari Hyun Joong dan beralih menatap Young Jae yang sedang menceritakan sesuatu padanya dengan antusias. Meskipun dia merasa terluka saat ini, tapi dia tidak ingin melibatkan suaminya. Sudah cukup baginya membuat Hyun Joong lelah melihatnya menangis seminggu ini. Dia tidak ingin membuat pria itu cemas lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Apa anak itu membuatmu lelah seharian ini?” tanya Hyun Joong, seraya memeluk pinggang Va Ni dari belakang. Mereka sedang berbaring di atas tempat tidur malam ini dengan posisi Va Ni membelakanginya.
“Tidak terlalu,” jawab Va Ni singkat.
Hyun Joong menghela napas seraya membenamkan kepalanya di bahu Va Ni. Aroma khas buah cherry menguar dari tubuh dan rambut Va Ni. Hyun Joong menghirup aroma itu dan menikmatinya untuk beberapa saat.
“Apakah kau lelah?” tanyanya lagi.
“Tidak, oppa. Apa kau sedang mengkhawatirkanku?” tanya Va Ni dengan nada bercanda.
“Aku serius,” jawab Hyun Joong, dengan nada datar.
Va Ni menolehkan wajahnya ke belakang dan menatap suaminya dengan tatapan menenangkan.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya seraya mengusap wajah Hyun Joong dengan lembut.
“Kau tahu kau tidak bisa membohongiku dengan senyummu itu,” kata Hyun Joong.
Wajah Va Ni langsung berubah. Senyum riang di wajahnya perlahan lenyap dan digantikan raut wajah kesedihan
Va Ni kembali membelakangi Hyun Joong dan tidak menatapnya.
Oppa.. Apa yang ada di benakmu saat kita bertemu pertama kali saat itu? Saat orangtua kita mengatakan kalau kita akan dijodohkan?” tanya Va Ni beberapa saat kemudian.
Hyun Joong tidak segera menjawab dan hanya menghela napas pelan. Dia mengeratkan pelukannya di pinggang Va Ni.
“Aku tidak pernah setuju dengan yang namanya perjodohan selama ini. Aku selalu menolak untuk dijodohkan dengan siapapun sebelum itu. Tapi saat aku melihat kalau kau adalah gadis yang dijodohkan untukku, entah kenapa aku tidak bisa menolaknya. Gadis yang selama ini satu sekolah denganku selama di SMA, gadis yang membuatku kesal karena selalu dapat nilai tertinggi di kelas, gadis yang menolak ajakan pria paling kaya di sekolah dan memilih untuk bertemu denganku. Satu-satunya gadis yang berani menyatakan perasaannya padaku di depan seluruh sekolahan. Gadis gila yang nekat menamparku karena aku mengatakan hal-hal buruk tentangnya. Dan gadis itu sekarang menjadi istriku, dan saat ini aku sedang memeluknya,” ujar Hyun Joong panjang lebar.
Tubuh Va Ni berguncang dan dia mulai terkikik geli.
“Ini adalah kedua kalinya aku mendengarmu bicara selama itu, sejak kau mengucapkan janji pernikahan kita,” katanya, di sela-sela tawanya.
“Apakah aku berbicara sepanjang itu adalah hal yang lucu bagimu?” tanya Hyun Joong dengan nada tak terima.
“Bagiku, iya. Dan jangan ingatkan aku tentang kejadian di depan seluruh sekolah itu. Itu adalah hal paling memalukan sepanjang hidupku,” ujar Va Ni.
“Kau pikir ditampar di depan umum oleh seorang gadis bukan hal yang memalukan?” Hyun Joong masih bertanya dengan nada tak terima.
“Kau menolakku dengan cara yang menyebalkan. Kau menyebutku menyebalkan, berkali-kali. Dan kau menyebutku dada rata. Itu pelecehan, kau tahu?” Va Ni menyahut dengan nada tak kalah kesalnya.
“Karena aku berbicara sesuai kenyataan,” kata Hyun Joong.
“Ya, Tuhan. Oppa! Itu pelecehan seksual namanya,” Va Ni hampir berbalik tapi Hyun Joong semakin merapatkan pelukannya sehingga Va Ni tidak jadi membalikkan badannya.
“Yang penting bukan itu kan? Itu adalah masa lalu kita. Kalau tidak ada kejadian itu, mungkin saja kita jadi tidak saling kenal. Lagipula, si dada rata itu sekarang sudah jadi milik si pangeran tampan,” ujar Hyun Joong, tepat di telinga Va Ni. Va Ni terkikik geli.
“Hentikan. Kau tahu aku sedang marah saat ini. Dan mendengarmu merayuku itu menggelikan, tahu?” katanya.
“Oh, ya? Lalu apa yang membuat si dada rata ini akhirnya menyetujui perjodohan itu?” tanya Hyun Joong.
Va Ni kembali menolehkan wajahnya ke arah Hyun Joong.
“Kau tahu jawabannya, oppa. Karena aku menyukaimu. Dan perasaan itu tidak pernah luntur sampai sekarang,” jawabnya kemudian.
Hyun Joong tersenyum tipis ke arahnya.
“Tapi aku khawatir perasaan ini akan menyakiti kita semua suatu saat nanti,” ujar Va Ni. Senyum perlahan kembali menghilang dari wajahnya.
Hyun Joong mulai bisa membaca situasi. Kalau raut wajah Va Ni menjadi seperti ini, dia tahu ke mana arah pembicaraannya setelah ini.
“Tidurlah. Sudah malam. Aku tidak mau kau kelelahan,” ujar Hyun Joong seraya mengusap ujung kepala Va Ni dengan lembut.
Va Ni tidak mengatakan apapun lagi setelah itu. Dia kembali menyamankan posisi berbaringnya, tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Hyun Joong. Keduanya mulai memejamkan mata masing-masing. Meskipun mereka berusaha untuk segera tidur, tapi pikiran mereka sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama. Hyun Joong baru bisa tidur dengan lelap, setelah satu jam berkutat dengan pikirannya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebulan semenjak operasi pengangkatan ovarium itu, Va Ni tampak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Dia terpaksa keluar dari pekerjaannya atas desakan Hyun Joong yang sedikit memaksa. Hyun Joong mengancam akan menguncinya seumur hidup di apartemen mereka kalau Va Ni bersikeras untuk melanjutkan pekerjaannya. Va Ni akhirnya menyetujuinya, meskipun dia agak kesal dengan ancaman Hyun Joong yang tidak adil itu.
Sebenarnya dia lebih suka bekerja dibanding tinggal di apartemen sepanjang waktu tanpa melakukan apapun. Oh, tentu saja dia mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. Tapi setelah itu dia tidak melakukan apapun selain nonton TV sambil makan cemilan dan itu membuatnya merasa tertekan lagi tiap dia melihat tayangan TV yang menampilkan ibu-ibu hamil dan bayi mereka yang lucu-lucu. Akhirnya Va Ni memilih untuk tidak menonton apapun dan memilih berselancar.
Setelah seminggu menjadi pengangguran, Va Ni akhirnya memutuskan keluar dari kehidupan menyedihkannya. Dia mencari-cari solusi untuk masalahnya sendiri di saat Hyun Joong sibuk bekerja. Meskipun Hyun Joong bilang kalau mereka akan menghadapi ini bersama, tapi dia tidak bisa menggantungkan semuanya pada Hyun Joong sementara suaminya itu sudah bekerja keras di luar sana untuk kehidupan mereka.
Akhirnya setelah mencari-cari beberapa artikel dan berkonsultasi dengan banyak orang yang ditemuinya di internet, Va Ni menemukan jawabannya. Dia sudah menyiapkan mental dan fisiknya saat memutuskan untuk menggunakan cara ini dan sebelum mengatakannya pada Hyun Joong.
Malam ini, Hyun Joong memutuskan untuk pulang lebih awal karena Va Ni bilang memasakkan makanan spesial untuknya. Va Ni sengaja memasakkan makanan kesukaan Hyun Joong dan menata meja makan dengan kesan berbeda dari sebelumnya. Ada lilin yang dinyalakan agar suasana lebih romantis.
“Kenapa ada lilin di sini?” tanya Hyun Joong, seraya menunjuk lilin yang menyala di atas meja.
“Ayolah. Jangan rusak mood-ku, oppa. Kau tahu ini yang dilakukan para pelayan di restoran mewah untuk makan malam yang romantis kan?” kata Va Ni, seraya duduk berhadapan dengan Hyun Joong.
“Kau masak banyak malam ini,” ujar Hyun Joong seraya melihat hidangan yang tersaji di depannya.
“Apa tidak boleh?” Va Ni menatapnya dengan wajah pura-pura cemberut.
“Kau boleh menghabiskan uangku untuk memasak untukku, Hwang Va Ni,” jawab Hyun Joong dengan nada sarkastik.
Va Ni membalasnya dengan tersenyum geli.
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan sampai bersusah payah membuat hidangan sebanyak ini?” tanya Hyun Joong seraya mengambil gelas yang berisi minuman yang sudah dituangkan Va Ni untuknya sebelumnya. Dia menyesapnya sedikit. Aroma beras bercampur alkohol tercium indra penciumannya.
“Aku sudah menemukan solusi untuk masalah kita,” kata Va Ni kemudian.
Hyun Joong menatapnya sesaat sebelum akhirnya meletakkan gelasnya di atas meja lagi. Matanya sama sekali tidak beralih dari pandangan Va Ni.
“Apa itu?” tanyanya dengan nada ingin tahu. Kedua alisnya terangkat.
“’Ibu Sewaan’,” jawab Va Ni dengan cepat.
Hyun Joong mengernyitkan dahinya. Dia menatap Va Ni dengan pandangan bingung.
“Apa? Aku baru mendengar hal itu,” kata Hyun Joong.
Va Ni menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Ini memang berat. Tapi ini satu-satunya cara dan dia harus rela melakukannya.
“Ada beberapa artikel yang mengatakan, ada beberapa wanita yang bersedia dibayar tinggi untuk mengandung anak seseorang,” jawab Va Ni.
“Maksudmu, seperti bayi tabung, begitu?” Hyun Joong masih tidak mengerti arah pembicaraan Va Ni.
Va Ni menggeleng cepat.
“Bukan. Bukan seperti itu. Tapi seseorang yang mau mengandung anak seseorang dan... melahirkannya. Dengan bayaran tinggi,” jawab Va Ni. Dia menatap Hyun Joong dengan tatapan takut.
Hyun Joong kini mulai mengerti.
“Apa kau memintaku untuk... Tidak, Va Ni. Demi apapun! Aku tidak akan melakukan itu,” ujar Hyun Joong tegas. Wajahnya mengeras. Kedua matanya menatap Va Ni dengan tajam.
“Tapi hanya itu satu-satunya cara, oppa,” kata Va Ni.
“Kita bisa mengadopsi anak,” kata Hyun Joong.
“Tapi orangtuamu menginginkan anakmu. Cucu dari dari darah dagingnya. Mereka pasti akan tahu kalau kita mengadopsi anak orang dan itu akan mengecewakan mereka,” kata Va Ni. Pandangannya mulai mengabur sekarang dan dia mulai merasakkan tenggorokannya kembali tercekat.
Ya, Tuhan, aku tidak boleh menangis sekarang, batinnya.
“Kita bisa melakukan cara lain. Tapi tidak dengan ini. Aku tidak akan melakukannya!” Hyun Joong berdiri dari kursinya dan mulai membelakangi Va Ni.
Va Ni terdiam untuk beberapa saat, menatap punggung bidang Hyun Joong dengan pandangan nanar.
“Aku.. Aku bersedia, oppa. Demi orangtuamu. Demi semua orang. Kau harus bahagia. Paling tidak, kau memiliki anak kandung,” ujar Va Ni dengan suara parau. Dia menahan dirinya untuk tidak menangis saat ini.
“Kenapa kau yang harus terluka sendirian untuk semua ini?” Hyun Joong berbalik dan menatap Va Ni dengan tatapan yang sulit diartikan.
Va Ni mencoba tersenyum untuk menenangkan perasaan Hyun Joong.
“Karena aku menyayangimu,” jawabnya kemudian.
Hyun Joong menghela napas putus asa.
“Va Ni,” panggilnya dengan suara pelan.
“Aku sudah siap, oppa. Jangan mengkhawatirkanku,” kata Va Ni kemudian.
Hyun Joong mencoba menahan gemuruh yang terjadi di dalam dirinya saat ini. Dia memejamkan matanya seraya menarik napas panjang untuk kesekian kalinya. Kalau ini adalah keputusan Va Ni, itu artinya dia harus rela melakukannya. Va Ni sudah membuat keputusan besar dengan mengorbankan perasaannya sendiri. Untuk kebahagiaan orangtua mereka, dan juga untuk dirinya.
“Baiklah. Akan aku lakukan,” katanya kemudian.
Hyun Joong melihat senyuman lebar di wajah cantik istrinya. Dia tahu, senyuman lebar itu hanya topeng untuk menutupi perasaan terluka yang bercokol di dalam diri Va Ni.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara dentuman keras dan bau alkohol bercampur rokok serta suara cekikikan dan teriakan manusia menyambut Hyun Joong saat dia masuk ke dalam pub malam itu. Beberapa orang sedang menari dengan gerakan liar saat dia melangkah menuju meja bartender.
Hyun Joong sudah jarang datang ke tempat ini semenjak dia menikah. Dulu sekali, saat dia masih menjadi remaja labil, kadang dia datang ke tempat ini bersama dengan teman-temannya. Tidak terlalu sering. Karena dia juga tidak suka mabuk. Tidak selama ibunya masih suka mengomelinya dan membuatnya jadi anak kecil saat ketahuan pulang dengan keadaan mabuk.
“Ada yang ingin dipesan?” tanya si bartender begitu Hyun Joong sudah duduk di sana.
“Sebenarnya, iya. Tapi aku sedang buru-buru saat ini,” jawab Hyun Joong, seraya mengedarkan pandang ke sekelilingnya.
Bartender itu meninggalkannya dan beralih melayani seorang pelanggan lain.
“Bisa aku minta tolong padamu?” tanya Hyun Joong kemudian, saat bartender itu selesai melayani pelanggannya yang lain.
Bartender yang masih tampak muda itu menghampirinya.
“Di mana aku bisa menemukan seorang wanita... wanita yang mau disewa dengan harga tinggi untuk melakukan suatu tugas?” tanya Hyun Joong. Bartender itu menatapnya dengan senyuman mengejek.
“Melayanimu? Itu maksudmu?” tanyanya.
“Jadi?” Hyun Joong menatap pemuda itu dengan tatapan tidak suka.
“Namanya Tiffany. Cari saja yang berambut merah panjang. Dia yang paling mencolok di antara semuanya. Kau tahu? Dia juga rela dibayar untuk... sedikit ‘disakiti’. Kau tahu maksudku kan? Asal kau mau membayarnya mahal saja,” jelas bartender itu.
Hyun Joong memutar matanya dan segera beranjak dari tempat itu.
Dia lalu kembali turun ke lantai dansa dan berusaha mencari seorang wanita berambut merah yang dimaksud itu.
Tidak sulit untuk menemukan seseorang dengan rambut merah mencolok di antara ratusan orang yang ada di tempat itu. Hyun Joong menemukan wanita berambut merah yang dimaksud di antara beberapa laki-laki hidung belang yang sedang mengelilinginya. Wanita itu terkikik genit saat ada seseorang yang mencoba menyentuh tubuhnya.
Hyun Joong menarik napas panjang dan menghelanya sebelum akhirnya menghampiri meja itu.
“Tiffany-ssi?” tanyanya dengan suara yang dibuat setenang mungkin.
Tidak hanya wanita berambut merah itu yang mendongak tapi beberapa orang yang berada di tempat itu langsung menoleh ke arahnya dengan pandangan bingung.
“Kau memanggilku, Tuan... Seksi?” tanya Tiffany dengan wajah menggoda.
“Bisa kita bicara?” tanya Hyun Joong.
Tiffany menatapnya dengan bingung.
“Bicara? Apa aku mengenalmu? Aku sedang bekerja,” ujar wanita itu.
“Aku akan membayarmu dua kali lipat,” ujar Hyun Joong tanpa basa basi.
Wanita itu kelihatan berpikir untuk beberapa saat.
“Hm. Baiklah. Dua kali lipat. Untuk.. Satu malam yang panas?” tanya Tiffany seraya berdiri dari duduknya. Dia hanya menggunakan gaun ketat dengan belahan dada rendah dan rok pendek sekali, yang memperlihatkan hampir seluruh pahanya. Beberapa pelanggannya langsung kecewa saat dia beranjak dari tempat itu.
“Tapi tidak di sini. Kita keluar,” ujar Hyun Joong seraya berjalan mendahuluinya.
“Wow, kau benar-benar tidak sabaran, Tuan,” ujar Tiffany.
Hyun Joong tidak menjawab dan hanya berjalan mendahului wanita itu keluar dari tempat laknat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wanita berambut merah itu membulatkan matanya menatap Hyun Joong yang kini duduk berhadapan dengannya. Awalnya dia sudah membelalakkan matanya saat pria yang mengaku bernama Hyun Joong itu mengajaknya ke restoran dan bukannya hotel mewah. Dan pria itu memang benar-benar mengajaknya berbicara dalam artian sebenarnya. Bukan ‘bicara’ di atas ranjang seperti yang selalu dilakukan pelanggan-pelanggannya.
Dan begitu dia menunggu pria muda itu menyelesaikan perkataannya, barulah Tiffany menyadari apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini. Apa? Apa yang baru saja pria ini katakan? Dia sudah menikah dan dia memintanya untuk –
“Jadi, kau memintaku untuk melahirkan anakmu?” tanyanya dengan nada bingung. Meski bingung dan penasaran, tapi membayangkan ‘membuat anak’ dengan pria ini membuat Tiffany menjadi terangsang dengan sendirinya.
“Begitulah,” jawab Hyun Joong singkat.
“Oke. Biar aku ulangi. Kau memintaku melayanimu dan mengandung anakmu lalu melahirkannya. Dan kau akan membayarku mahal untuk itu? Mahal sekali?” tanya Tiffany, memastikan pendengarannya. Meskipun dia yakin pendengarannya masih bagus, tapi dia tidak yakin otaknya masih bisa mencerna informasi dengan cukup bagus.
“Yah,” Hyun Joong mengedikkan bahunya. “Berapapun yang kau minta,” lanjutnya.
Kedua mata Tiffany membelalak lebar.
“Benarkah? Aku bisa kaya dan tidak perlu bekerja keras lagi setelah melahirkan anakmu?” tanya Tiffany.
“Dengan syarat, anak itu akan jadi anakku seutuhnya. Kau cukup melahirkannya dan pergi dari kehidupanku setelah anak itu lahir,” ujar Hyun Joong dengan nada tegas.
Tiffany angkat bahu.
“Tidak masalah. Aku juga tidak mau direpotkan dengan urusan anak. Baiklah. Aku setuju,” ujar Tiffany dengan nada enteng.
Hyun Joong menatapnya sesaat sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya.
“Kau harus menandatangani kontrak ini. Kontrak ini akan berakhir setelah anakmu lahir. Setelah itu, kau boleh pergi,” ujar Hyun Joong seraya menyerahkan kertas itu pada Tiffany.
Mendengar dia akan mendapatkan banyak uang sesuai dengan keinginannya, Tiffany segera membubuhkan tanda tangan di atas kertas perjanjian itu.
“Dan ini... Adalah ponsel untukmu. Besok aku akan menjemputmu untuk membeli baju-baju untukmu. Kau tidak boleh kelihatan seperti wanita murahan di depan istriku. Istriku sangat disiplin untuk urusan penampilan. Dan dua hari dari sekarang, kita akan pindah ke Inggris. Kita akan tinggal di sana sampai kelahiran anakmu,” jelas Hyun Joong panjang lebar seraya menyerahkan sebuah ponsel pintar pada wanita itu.
Tiffany langsung merebut ponsel pintar itu dari tangan Hyun Joong dengan wajah antusias.
“Ya, ampun. Ini keluaran terbaru!” serunya.
Hyun Joong hanya menghela napas panjang.
“Dan jangan coba-coba melarikan diri,” ujarnya seraya berdiri dari tempat duduknya.
“Aku tidak akan lari dari uang sebanyak ini. Yang benar saja!” kata Tiffany, seraya menghidupkan ponsel barunya.
“Baiklah. Besok pagi. Jam tujuh,” kata Hyun Joong seraya pergi dari tempat itu.
Tiffany menatap punggung laki-laki itu seraya angkat bahu dengan gaya tak acuh. Dia kembali menatap ponsel baru di tangannya dengan tatapan senang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Continueà Part 2