Jae Joong
“Kau benar-benar siap? Untuk mengingat semua kembali?” aku bertanya pada seorang namja yang sekarang sedang duduk di salah satu sofa di ruangan apartemen ini. Ini adalah apartemen milik namja bernama Kim Jae Joong yang tubuhnya sedang aku gunakan sebagai “wadah” ini.
“Aku sudah bilang berkali-kali padamu, hyung.. Memangnya kau mau melakukan apa padaku?” namja itu menatapku dengan pandangan menyelidik. Aku balas menatapnya sambil angkat bahu.
“Sejenis.. terapi kecil..” jawabku asal.
Namja itu tampaknya tidak terlalu peduli dengan jawabanku, karena dia tidak menanggapinya.
“Kalau begitu.. Cepat kau lakukan sekarang..” katanya kemudian.
Aku sekarang yang ganti terdiam.
“Kalau kau mengingat semuanya.. Apa kau masih akan mencintai yeoja itu?” tanyaku kemudian.
“Aku? Tentu saja masih. Bukankah semua ingatan ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku pada Va Ni?” namja itu berbalik menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan, antara kesal dan khawatir.
“Aku hanya mengatakan segala kemungkinan..” jawabku kemudian.
Hyun Joong menatapku dengan tatapan penuh tanya. Tapi segera aku abaikan.
“Sekarang pejamkan matamu..” kataku kemudian.
Namja itu tidak membantah dan menuruti kata-kataku. Hyun Joong menarik napas panjang dan membaringkan tubuhnya di sofa empuk yang dia duduki sebelum akhirnya dia memejamkan matanya dengan perlahan.
Aku meletakkan tanganku di atas kepalanya dengan lembut. Dengan helaan napas panjang aku mencoba menyalurkan kekuatan dalam diriku melalui tangan ini.
Aku memejamkan mata dengan perlahan.
Sesaat setelah aku memejamkan mata dengan tanganku masih berada di kepala namja itu, aku seperti melihat kilasan-kilasan peristiwa yang berlalu dengan cepat sekali dalam kepalaku sendiri. Aku seperti melayang di atasnya dan melihat semua kejadian itu.
Aku melihat tubuh Kim Hyun Joong yang tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka terjepit di antara rongsokan mobil dengan kerusakan yang sama parahnya. Lalu tubuh namja yang terbaring lemah di rumah sakit dengan kondisi yang sama parahnya. Sesaat kemudian ada kilatan cahaya terang sekali memenuhi kepalaku. Dan aku melihatnya. Cassiel sedang bicara pada jiwa Hyun Joong yang sedang sekarat di tempat itu.
Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dinding pertahanannya masih sulit sekali ditembus. Apa kali ini aku harus menggunakan kekuatanku untuk melakukannya? Cassiel sedang butuh pertolongan kali ini. Aku harus melakukannya.
Aku membuka mataku dan menatap namja itu masih duduk dengan kepala masih menunduk dan mata masih terpejam.
“Cassiel, aku mohon..” ujarku lirih.
Aku berusaha menyalurkan sebisa mungkin segala yang aku punya melalui tanganku ini untuk menembus dinding pertahanan yang dia buat. Dinding itu kuat sekali jadi kali ini aku memaksa untuk masuk dan menghancurkannya.
Cahaya menyilaukan keluar dari tubuh namja itu. Cahaya yang hanya dimiliki oleh malaikat dan berbeda dengan cahaya-cahaya yang ada di bumi ini. Lalu tubuh di depanku ini mulai bergetar hebat dengan cahaya yang mulai berpendaran dari dalam tubuhnya. Aku mulai menyadari kalau dinding pertahanannya mulai runtuh di dalam sana.
“Cassiel, tenanglah..” kataku. Ruangan itu mulai ikut bergetar dan beberapa perabot mulai berjatuhan karena lantainya bergetar. Lampu-lampu tiba-tiba padam dan beberapa pecah dengan tiba-tiba.
Cahaya kembali bersinar dari tubuh Hyun Joong dengan lebih terang dari sebelumnya. Lalu namja itu mulai berteriak kesakitan. Dan semakin banyak cahaya yang keluar dari tubuhnya.
Sudah saatnya, batinku.
Aku melepaskan tanganku dari kepalanya. Lalu mundur satu langkah dengan perlahan.
Aku menunggu sampai cahaya itu meredup dan menghilang dari tubuh namja di depanku ini. Hanya membutuhkan hitungan detik dan cahaya menyilaukan itu mulai meredup dan seperti dihisap ke dalam tubuh namja itu. Keadaan di sekitarku sudah mulai tenang, meninggalkan bekas kekacauan yang baru saja terjadi.
Aku menunggu dalam diam dan melihat ke tubuh namja yang kini duduk terdiam di atas sofa itu dengan tegang.
Namja itu berbalik dan menoleh ke arahku dengan gerakan kaku.
Aku balas menatapnya. Dan untuk beberapa saat kami hanya berpandangan satu sama lain tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Cassiel?” kataku kemudian.
Namja itu lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekatiku.
“Ezekiel? Sudah lama sekali rasanya..” katanya dengan nada suara datar seperti biasanya.
Aku menghela napas panjang.
“Akhirnya kau mengingatnya..” kataku.
Cassiel kembali menatapku dengan tajam. Dia tampak tidak terlalu suka dengan kehadiranku di sini.
“Kau yang selama ini mencoba masuk ke dalam ingatanku?” tanyanya kemudian.
“Iya. Aku diperintahkan untuk menjemputmu..” jawabku.
Cassiel tidak segera menjawab. Dia hanya menggeleng pelan dan berbalik sambil berjalan membelakangiku mendekati jendela apartemen itu.
“Kau tahu apa yang terjadi padaku, Ezekiel.. Aku sudah jatuh. Aku tidak akan kembali ke sana..” jawabnya kemudian.
“Cassiel.. Dia akan mengampuni apapun yang kau lakukan, asal kau meminta ampunan padaNya. Apa yang kau harapkan dengan hidup di sini? Apa yang terjadi pada Kim Hyun Joong dan.. kau?” aku kembali bertanya dengan nada sedikit mendesak.
Cassiel kembali tidak segera menjawab. Dia sekarang berbalik dan menatapku tanpa ekspresi.
“Aku sudah memutuskan untuk mencabut semua ‘kemuliaan’ku, Ezekiel. Aku manusia sekarang. Aku punya hawa nafsu. Aku lapar dan haus. Makan, minum.. Seks.. Aku manusia sepenuhnya, Ezekiel. Aku tidak mungkin kembali lagi dengan kalian..” katanya kemudian.
“Dengan tubuh Kim Hyun Joong? Bukankah dia seharusnya sudah tidak di dunia ini lagi? Jiwanya sudah dijemput Uriel, Cassiel. Kenapa kau menggunakan tubuhnya?” desakku.
“Dia berdo’a padaku. Dan memohon padaku dengan tulus. Dia memohon agar aku menyampaikan permintaannya untuk hidup lebih lama di dunia ini. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Takdirnya sudah ditentukan..” jelas Cassiel.
Aku menatapnya dengan tatapan bingung.
“Lalu apa yang terjadi? Kau benar-benar menyampaikan doanya padaNya?” tanyaku.
Cassiel mengangguk.
“Tentu saja. Tapi takdir yang sudah ditentukan olehNya tidak mungkin dirubah lagi ‘kan?” ujarnya.
“Lalu kenapa...?” aku tidak meneruskan kata-kataku. Walaupun sebenarnya aku sudah tahu jawabannya tanpa Cassiel mengatakannya padaku.
“Aku sudah bilang padamu. Aku sudah jatuh, Ezekiel. Aku melanggar peraturan langit. Aku menggantikan posisi Hyun Joong, memanfaatkan perasaan dan ingatan yang masih tertinggal dalam tubuh ini. Aku hanya ingin mencoba menjadi manusia. Kau tahu.. Menjadi malaikat jauh lebih mudah karena kita tidak memiliki semua perasaan ini. Kita hanya menjalankan semua tugas yang sudah ditentukan. Tapi saat kau mencoba jadi manusia dengan segala ‘kemuliaan’mu dicabut, kau akan merasakan kalau segalanya tidak semudah itu. Kau harus makan saat merasa lapar. Kau harus tidur saat kau mulai mengantuk. Semua itu harus dilakukan. Tidak seperti kita. Kita tidak butuh semua itu. Manusia mempunyai perasaan sehingga dia harus memilih saat dihadapkan pada dua pilihan. Mengikuti kebaikan yang dibawa malaikat, atau mengikuti godaan-godaan yang diberikan iblis dan setan. Mereka bukan makhluk lemah seperti yang dikatakan Iblis. Mereka diberi kekuatan untuk memilih, Ezekiel..” jelas Cassiel panjang lebar.
“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang dengan tubuh itu, Cassiel? Kau sudah jelas melanggar peraturan langit. Kau tidak mengikuti malaikat maupun Iblis. Kau hanya mengikuti keegoisanmu sendiri.. Lalu akan ke mana kau setelah ini? Kau merubah takdir. Kau yang mengatakan pada Cupid kalau seharusnya Hwang Va Ni dan Kim Hyun Joong ditakdirkan bersama, padahal peraturan langit tidak mengatakan itu. Kau yang merubah buku takdir itu ‘kan? Cassiel..” aku menatap namja di hadapanku dengan tatapan tajam.
Namja itu kembali terdiam untuk beberapa saat dan dia hanya menatapku tanpa ekspresi.
“Benar. Aku yang merubahnya. Aku yang melakukan semua itu. Kau tahu alasannya? Karena aku ingin menjadi manusia. Makanya aku meminta kepadaNya untuk mencabut kemuliaanku. Dan Dia mengabulkannya. Itu artinya aku tidak sepenuhnya melakukan kesalahan..” katanya.
“Hanya itu saja? Kau tidak ingat dengan Nephilim yang dikandung yeoja itu?” tanyaku lagi.
“Dia belum tentu seorang Nephilim, Ezekiel. Dia bahkan belum lahir ke dunia ini. Aku seorang manusia saat ini, aku tidak punya kekuatan malaikatku. Lagipula, kehadiran anak itu juga semua atas perintahNya ‘kan?” sahut Cassiel.
Aku masih menatapnya serius.
“Bagaimana kalau anak itu benar-benar seorang Nephilim? Bagaimana kalau kehadiran anak itu.. Hanya untuk mengujimu?” tanyaku lagi.
“Mengujiku untuk apa?” Cassiel menatapku dengan tatapan menuntut.
“Karena kau sudah merubah takdir seseorang...”
“Aku yang menentukan semua itu, Ezekiel. Aku tahu aku sudah berdosa. Tapi bukankah seperti ini rasanya menjadi manusia? Aku akan menanggungnya kalau anak itu benar-benar terlahir sebagai seorang Nephilim..” sela Cassiel.
“Meskipun kau harus membunuhnya nanti?” tanyaku.
Cassiel menatapku.
“Hanya Tuhan yang berhak mengambil nyawanya. Kalau memang itu ketentuanNya, aku tidak akan menolak.. Untuk itulah aku mengubur ingatan malaikatku, Ezekiel. Agar aku tidak bisa melihat apapun yang kalian lakukan. Agar aku bisa merasakan yang manusia lakukan. Menunggu takdir dan tidak menyaksikan secara langsung kalian melakukan tugas kalian...” jawabnya dingin.
“Kenapa kau tidak bersyukur dengan takdirmu sebagai malaikat dan melakukan tugasmu saja, Cassiel? Kenapa kau memilih untuk menjadi manusia?” tanyaku lagi.
Cassiel terlihat berat untuk menjawabnya. Dia hanya menatap ke depan tanpa tatapan berarti.
“Ini penebusan dosa yang sudah aku lakukan, Ezekiel. Karena aku sudah merubah takdir seseorang. Jadi sekarang.. Inilah aku..” Cassiel mengangkat tangan sambil melihat tubuhnya sendiri. Wajahnya menunjukkan eskpresi seolah dia berkata “bisa apa lagi aku?”
Aku menarik napas panjang dan menghelanya dengan pelan.
“Baiklah. Kalau itu keputusanmu.. Kau benar-benar tidak ingin kembali?” tanyaku lagi, mencoba meyakinkan.
“Setelah semua yang aku lakukan? Aku rasa tidak. Aku punya tanggung jawab di sini. Sekarang ini tugasku.. Dan, tetap panggil aku Kim Hyun Joong. Aku bukanlah Cassiel si malaikat lagi,” sahut Cassiel seraya tersenyum kecut.
Aku menatap namja di hadapanku ini dengan tatapan tajam.
“Maaf, membuat kau gagal dalam tugasmu, Ezekiel. Tapi sepertinya tugasmu sudah selesai..” kata namja itu.
Aku menggeleng.
“Belum. Aku masih punya tugas yang lain.. “ sahutku singkat.
Sebelum namja itu mengucapkan sesuatu, aku segera menghilang dari tempat itu.
Jung Min
Yeoja itu sedang membungkuk di depan sesuatu yang ada di pintu depan rumahnya saat aku turun dari tangga dan segera menghampirinya. Yeoja itu sepertinya tidak menyadari kehadiranku dan masih asik memberi makan seekor anak kucing tiga warna yang mengeong keras sekali di tangannya.
“Ya~~” panggilku, masih berdiri di tempatku dengan kedua tangan berada di saku mantelku.
Yeoja itu menoleh ke belakang dan mendongak menatapku. Hanya sekilas. Lalu berbalik lagi mengurusi anak kucing yang mulai berontak di tangannya tanpa mengatakan apapun padaku. Aku menatapnya tak percaya. Yeoja ini..
“Apa kau mendengar aku memanggilmu?” tanyaku lagi.
Yeoja itu akhirnya berbalik dan menatapku tanpa minat.
“Wae?” tanyanya.
“Aku mencarimu beberapa hari ini. Kau ke mana saja?” balasku bertanya.
Kim Ji Ho menatapku sambil mengerutkan dahinya.
“Kau mencariku? Aku bekerja tentu saja..” jawabnya. Yeoja itu akhirnya berdiri dan berbalik menghadapku.
“Kau pergi beberapa hari ini ‘kan? Aku bahkan tidak bisa melacak baumu..” kataku.
“Ne. Aku pergi dengan temanku. Berlibur ke suatu tempat.. Kenapa kau mencariku?” tanya yeoja itu sambil menatapku bingung. Tatapan matanya yang polos itu entah kenapa membuatku semakin kesal.
“Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali.. Bahaya sekali di luar sana. Banyak yang mencarimu.. Menginginkan darahmu.. Kau tahu akibatnya kalau kau pergi jauh dariku?” kataku.
Yeoja itu tidak bereaksi. Dia mengerutkan dahi tampak sedang memikirkan sesuatu sebelum akhirnya melemparkan tatapan bingung ke arahku.
“Apa kau sedang berusaha untuk.. melindungiku atau semacamnya?” tanyanya dengan nada sinis.
Aku terkesiap sesaat. Aku bahkan tidak sadar dengan apa yang baru saja aku katakan tadi. Tapi dibanding dengan apa yang diucapkan yeoja itu, aku hanya menginginkan sesuatu darinya yang jauh lebih penting untuk kelangsungan hidupku. Darahnya. Itu saja.
“Tentu saja. Tidak boleh ada yang mencuri makan malamku..” jawabku kemudian.
Yeoja itu hanya menggeleng perlahan dengan tatapan bosan.
“Bukankah kau sudah kenyang dengan yeoja-yeoja itu? Yang benar saja. Aku tidak akan ikut campur urusanmu lagi, Jung Min ssi. Nah, kau boleh pergi sekarang..” ujar yeoja itu dengan enteng sambil berbalik dan membelakangiku. Aku segera menangkap lengannya dan membuat badannya membalik ke arahku dengan paksa.
“Apa maksudmu? Kau melihatnya?” aku menatap mata Ji Ho dengan tajam. Dan yeoja itu balas menatapku. Dengan jarak sedekat ini, aku bisa mendengar suara degup jantungnya yang iramanya berubah lebih cepat.
“Melihat apa? Semua orang di sini juga sudah tahu kau sering membawa yeoja ke apartemenmu. Lalu paginya tidak ada yang melihat yeoja itu keluar dari apartemenmu. Kau apakan mereka? Kau tidak mencampakkan mereka ‘kan? Bagaimana kalau nanti banyak bayi setengah manusia setengah vampir lahir di dunia ini? Apa orang-orang seperti aku akan semakin langka?” yeoja itu berkata dengan nada sinis dan dia melihatku dengan pandangan tak suka. Aku menatapnya kaget.
“Ya~! Apa itu yang kau pikirkan? Aku tidak serendah itu. Aku tidak pernah melakukan hal seperti yang kau bayangkan. Asal kau tahu saja, aku hanya membutuhkan mereka sebagai makananku. Kenapa kau berpikiran sejauh itu?” ujarku dengan nada protes.
Ji Ho menatapku dengan tatapan curiga dari bawah sampai atas.
“Kau bukan tipe namja polos.. Mana mungkin kau tidak melakukan sesuatu pada yeoja-yeoja cantik itu? Sudah sana..” katanya tak sabar seraya mengibaskan tangan ke arahku, menyuruhku pergi.
Aku segera menangkap tangannya dan menatapnya dengan geram.
“Aku adalah Alpha, yang paling kuat untuk klanku. Aku tidak akan bertindak sehina dan serendah seperti yang dilakukan manusia hanya untuk memuaskan keinginannya..” kataku dengan tajam. Yeoja itu menatapku dengan tatapan kaget sekaligus ada sedikit ketakutan dalam bola matanya. Tapi dia berusaha menyembunyikannya.
“Lepaskan aku kalau begitu..” ujarnya pelan.
Saat aku melepaskan tangan yeoja itu, tiba-tiba jendela di apartemen dasar terbanting menutup dengan keras dan membuat kami berdua terlonjak kaget. Lalu sebuah angin yang entah dari mana berhembus di sekitar kami dan menerbangkan beberapa benda ringan yang ada di tempat itu. Beberapa saat kemudian aku mendengar sebuah kepakan sayap lembut di dekatku bersamaan dengan meredanya hembusan angin tadi.
Sepertinya aku tahu apa yang sedang terjadi di sini. Aku segera menoleh ke arah suara kepakan sayap tadi berasal dan mendapati seorang nemja bersetelan jas denim sedang berdiri di pojok ruangan sambil menatap kami berdua dengan tajam. Aku membuang napas keras.
“Kau lagi..” kataku gemas.
“Kenapa kalian berdua masih di sini?” tanya namja itu, menatap kami dengan tatapan protes.
“Wae? Rumahku di sini..” jawab Ji Ho tak mau kalah.
Namja berwajah kekanakan itu menatap yeoja itu dengan tajam.
“Aku sudah memperingatkanmu, Nona.. “ katanya.
“Aku tidak boleh pergi jauh darinya.. katanya..” Ji Ho menjawab seraya menunjuk ke arahku. Namja itu beralih menatapku dengan tatapan penuh tanya.
“Apa kau mulai menjebaknya? Kau tidak boleh melakukannya..” katanya.
“Aku tidak menjebaknya. Aku melakukannya karena banyak vampir di luar sana yang juga menginginkan darahnya.. Dan mereka jauh lebih liar dariku. Kalau dia ada dalam jangkauanku, klan yang lain tidak akan berani menyentuhnya..” jelasku.
“Tapi sebentar lagi bulan akan bersinar penuh..” kata namja di hadapanku itu.
“Lalu?” aku balas bertanya padanya.
Namja itu menatapku dengan tidak sabar.
“Apa kau tidak tahu?” tanyanya.
“Tahu apa?” tanyaku lagi dengan polos. Aku benar-benar tidak tahu apa maksudnya.
Namja itu berdecak pelan menatapku dengan kesal.
“Kau tidak akan menyadari sebelum waktunya. Kalau waktunya sudah tiba, kau tidak akan bisa menolak instingmu. Makanya aku memperingatkan kalian. Sebelum semuanya terlambat. Tapi kalian masih di sini..” katanya, menatap aku dan Ji Ho bergantian.
“Kalau kau seorang malaikat.. Kenapa kau tidak membuat semuanya berubah saja daripada susah-susah mengingatkan kami? Bagaimana kalau kau membuat kami tidak pernah bertemu saja? Itu lebih mudah ‘kan?” kata Ji Ho kemudian. Aku menoleh ke arahnya, tapi yeoja itu hanya angkat bahu ke arahku.
“Itu yang akan aku lakukan. Seharusnya aku mempertemukanmu dengan seseorang. Tapi Ezekiel membuat tugasku menjadi lambat.. Dan sebelum itu terjadi, kau sudah bertemu dengan orang, oh.. Alpha ini. Dan bukan aku yang bertugas merubah takdir seseorang, Nona..” jawab namja itu.
“Eh?” Ji Ho menatap namja itu dengan tatapan penuh tanya.
“Itu seharusnya jadi rahasia. Apapun itu.. Kau..” namja itu menunjuk ke arahku. “Kau harus segera pergi dari sini..” lanjutnya.
“Aku tidak bisa pergi..” kataku kemudian.
Namja itu menatapku bingung.
“Dan kenapa kau tidak bisa pergi?” tanyanya kemudian.
“Karena sedang terjadi pertarungan antar klan di luar sana. Mereka sedang memperebutkan posisi Alpha. Sejak aku.. sejak kekuatanku tidak sekuat dulu..” kataku akhirnya.
“Apa maksudnya? Bukankah kau bilang sendiri kalau kau adalah Alpha?” tanya Ji Ho, menatapku penuh tanya. Aku menghela napas panjang.
“Sampai saat ini.. Bisa dibilang begitu. Tapi kekuatanku sudah melemah sejak sarangku diserang para pemburu dan aku terkena racun mereka. Aku bersembunyi dengan menghilangkan jejakku untuk memulihkan kondisiku di sini. Darah yeoja ini bisa menyamarkan bauku dari mereka. Makanya aku membutuhkannya. Kalau aku pergi keluar sana dengan kondisiku yang sekarang, mungkin aku sudah dibunuh karena mereka menginginkan posisi Alpha ini..” jelasku seraya menatap namja di depanku dan Ji Ho seraya bergantian. Saat aku menatap ke arah yeoja itu, yeoja itu sedang menatapku dengan tatapan kaget ada sedikit pandangan iba dalam matanya.
“Tapi kalau kau tetap di sini, kau akan..”
“Apa para malaikat peduli pada kami? Sejauh apapun kami percaya, kalian tidak pernah datang pada kami..” kataku, menyela perkataan namja itu.
“Karena kau tidak mengikuti jalan kami. Kami tidak datang kepada orang-orang yang hanya percaya tapi tidak menjalankan ketentuanNya..” sahut namja itu.
Aku tidak menyahut lagi. Hanya menatap namja itu dalam diam, begitu juga dengan namja itu.
“Kami tidak akan pergi ke mana-mana. Semua sudah terjadi. Pasti ada yang menuliskan di atas sana, kalau Jung Min harus berada di sini. Kami tidak akan kenapa-kenapa. Oke? Tugasmu selesai. Aku tahu apa yang harus aku lakukan nanti..” Ji Ho tiba-tiba bersuara. Aku menoleh ke arahnya.
“Kenapa kau begitu yakin, Nona?” tanya namja itu di depan kami.
Ji Ho tidak segera menjawab. Dia menarik napas panjang.
“Karena aku percaya, pasti akan ada malaikat yang datang menolong kalau terjadi apa-apa..” jawabnya kemudian.
Namja di depan kami kini tidak menatapnya dengan pandangan protes dan menuntut lagi. Kali ini wajahnya sedikit melembut.
“Baiklah.. Kalau itu keputusanmu.. Aku akan..” tapi belum sempat dia meneruskan kata-katanya, tiba-tiba terdengar sebuah pekikan pelan dari belakangnya.
“Aigoo~~ Anak muda ini siapa?” dua orang ahjumma yang berumur sekitar 60 tahunan penghuni apartemen di lantai dua muncul di belakang tubuh namja itu. Mereka terlihat gemas sekali dengan wajah namja itu.
“Oh, annyeonghaseyo.. Kim Hyung Jun imnida..” namja itu memperkenalkan dirinya dengan nama yang sama yang tertera di badge nama di jasnya. Dia kelihatan kikuk sekali.
“Wah.. Tampan sekali. Ji Ho ya.. Apa ini temanmu? Aku belum pernah melihatnya. Aigo.. Tampan sekali..” salah satu ahjumma itu mencubit pipi namja itu dengan gemas sekali. Namja yang mengaku bernama Kim Hyung Jun itu menatap ahjumma itu kaget. Dan dari ekspresi wajahnya kelihatan sekali kalau dia ingin segera terbang pergi dari tempat itu.
Aku hanya tertawa geli sambil meninggalkannya masuk ke dalam rumahku. Begitu juga Jung Min. Dia pergi berbalik menuju tangga dan berjalan ke apartemennya.
“Ya~! Ya~! Kalian bedua! Tunggu! Ini bagaimana?” seru namja itu meminta pertolongan.
Aku berbalik menoleh ke arahnya dan tersenyum lebar.
“Itu tugasmu.. Kau ‘kan malaikat cinta..” kataku seraya angkat bahu acuh.
Namja itu menatapku tak percaya.
“Apa? Ya~!”
Tapi aku tidak menggubrisnya dan kembali masuk ke dalam rumahku. Dia bisa melakukan semuanya secara ajaib tanpa bantuanku ‘kan? Itu pun kalau dia benar-benar malaikat..

