Waktu sudah menujukkan hampir lewat tengah malam. Jalanan itu sudah terlihat lengang dan tidak tampak orang berlalu lalang seperti beberapa saat yang lalu. Hanya ada anjing dan kucing liar yang mengorek-orek isi tempat sampah untuk mencari makan. Jeong In terlihat mengerling ke arah jam tangannya beberapa kali dengan sikap gelisah. Begitu pula dengan Jung Min yang duduk di kursi di sampingnya. Mereka berdua sekarang ada di jalan Nohyeondong timur dan sedang berada di mobil dinas, sambil melihat ke arah jalanan di sekitar mereka dengan seksama. Jung Min sudah menghabiskan sebotol soju serta satu paket ayam goreng selama mereka menunggu di tempat ini sejak dua jam yang lalu.
“Apa tidak apa-apa membiarkannya sendirian di sana?” tanya Jung Min, mengerling ke arah jalanan di depannya. Terlihat seorang gadis berpakaian seksi sedang berdiri di depan pagar rumah orang. Dia adalah Kim Ji Ho. Dengan paksaan dan iming-iming akan mentraktir gadis itu selama sebulan, akhirnya Jung Min bisa membujuk Ji Ho untuk terlibat dalam penyelidikannya kali ini. Sebenarnya kasihan juga memaksanya berpakaian seperti itu di tengah malam. Lagipula Ji Ho sendiri yang bilang kalau ini adalah pertama kalinya seumur hidup dia berpakaian seperti itu.
“Kau ingat kata-katanya tadi, kalau sampai kita gagal menangkap perampok itu malam ini, dia akan mencincangku karena memaksanya berpakaian seperti itu,” kata Jung Min.
Jeong In hanya mendengus geli.
“Kau benar-benar berhasil membuatnya kesal,” katanya.
“Lagipula dia juga lumayan cantik kalau berdandan seperti itu kan? Bagaimana menurutmu?” Jung Min mengangkat alis ke arah Jeong In, meminta pendapat. Jeong In hanya menjawabnya dengan decihan pelan.
“Kalau kau suka padanya, cepat katakan. Jangan terus menerus membuatnya kesal,” katanya datar.
Jung Min membelalak menatap Jeong In.
“Apa katamu?”
“Ssh. Jaga suaramu, bodoh!” desis Jeong In dengan setengah kesal.
“Maaf. Tapi omong-omong, bagaimana kau tahu kalau mereka akan melakukan perampokan di sini malam ini? Aku kan sudah bilang kalau tempat dan waktu kejadian tidak selalu sama,” kata Jung Min dengan rasa penasaran.
“Tadi siang aku melakukan penyelidikan ulang. Dan para korban bilang kalau dari tubuh pelaku menguarkan aroma parfum yang khas. Aku bertanya ulang pada mereka dan memberi contoh beberapa aroma parfum yang mungkin mereka kenal. Dan aroma yang mereka cium ternyata berasal dari aroma parfum laundry,” jelas Jeong In.
Jung Min kembali membelalakkan matanya kaget.
“Apa maksudmu pelakunya adalah pemiliki usaha laundry?” tanyanya.
“Aku pikir juga begitu. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, itu bukan alasan yang berdasar. Karena semua orang yang memiliki usaha tertentu, belum tentu memakai produk yang mereka miliki. Aku menyusuri daerah ini. Semua tempat aku datangi. Dan ada sebuah tempat perjudian di daerah ini. Mereka menggunakan aroma pengharum ruangan yang hampir sama dengan aroma yang aku maksud tadi. Lalu aku menyimpulkan kalau mungkin saja dua pelaku itu sering datang ke sini untuk melakukan perjudian. Karena setelah aku berada di ruangan itu lebih dari sepuluh menit, dari pakaianku jadi tercium aroma yang sama. Saat aku bertanya pada pemiliknya, dia bilang memang ada dua orang yang sering datang ke tempat itu,” kata Jeong In.
“Tunggu. Kau menyelidiki tempat perjudian? Tapi.. kau kan polisi,” Jung Min berkata dengan nada tak percaya.
“Untuk urusan itu kita serahkan pada yang lainnya. Tugas kita sekarang adalah menangkap pelaku perampokan ini, bukan perjudian,” sela Jeong In.
“Lalu kenapa kau bisa simpulkan kalau mereka akan melakukan perampokan di sini?”
“Secara tidak langsung, pelaku ini punya pola. Yah, aku tidak bisa bilang itu pola, lebih pada bergantung pada kesempatan menurutku. Mereka merampok di tempat yang berbeda-beda, di waktu yang berbeda-beda. Yang sama adalah mereka memanfaatkan keadaan. Mereka melakukan perampokan tiap ada orang yang bisa mereka rampok. Dan yang menjadi sasaran mereka adalah gadis-gadis muda yang tidak punya pertahanan yang kuat,” jelas Jeong In lagi.
“Itu tidak menjelaskan semuanya. Aku masih bingung,” Jung Min berkata seraya menggaruk kepalanya.
Jeong In menatapnya dengan tidak sabar.
“Makanya pakai otakmu,” katanya seraya memukul kepala Jung Min dengan gemas. “Sudah aku bilang mereka tidak menentukan lokasinya. Cara mereka melakukan perampokan pun masih terlalu amatiran, tidak memperhatikan keadaan sekitar dan terlihat gegabah. Mereka hanya merampok saat ada orang yang bisa dirampok. Dan kali ini Ji Ho adalah umpannya. Kalau dugaanku benar, perampok itu akan muncul sebentar lagi. Ji Ho kelihatan seperti gadis yang punya banyak uang kan?”
Jung Min mengangguk-angguk menyetujuinya.
“Oh, lihat itu!” dia langsung menunjuk pada jalanan di depannya.
“Hubungi Ji Ho,” perintah Jeong In dengan nada lirih. Dia lalu menghubungi beberapa petugas yang sudah dia perintahkan berjaga-jaga di sisi jalan yang lain. Jeong In sengaja menggiring perampok untuk datang ke jalan ini dengan memperingatkan beberapa orang di jalan lain untuk tidak keluar rumah setelah jam sebelas malam.
“Ji Ho, bersiap-siaplah. Dua orang sedang berjalan menuju ke arahmu,” kata Jung Min melalui alat komunikasi di tangannya.
Jeong In bersikap waspada dengan meletakkan tangan di gagang pintu mobil. Siap-siap menyerang maju kapanpun dibutuhkan. Meskipun Ji Ho adalah gadis tangguh di matanya, tapi dalam keadaan seperti ini siapa saja bisa jadi tidak bernyali. Apalagi selama Ji Ho hanya bekerja di belakang komputer, mengurusi administrasi kantor. Ini adalah pertama kalinya gadis itu ikut terlibat dalam penyergapan seperti ini.
Dua orang itu memakai topi hitam yang menutupi hampir sebagian wajah dan mereka berjalan dengan menundukkan kepala.
“Jangan melakukan pergerakan aneh. Terus berjalan dengan sikap santai. Kami ada di depanmu,” Jung Min berusaha menenangkan Ji Ho melalui alat komunikasinya.
Dari tempat Jeong In duduk sekarang, dia bisa melihat Ji Ho sedang berjalan menuju mobil mereka dengan sikap tenang yang dibuat-buat. Ada ketegangan dari caranya berjalan. Tapi dia tetap melaksanakan tugasnya dengan baik.
Lalu saat kedua orang itu mulai semakin mendekat, Jung Min sudah akan membuka pintu mobil saat Jeong In menahannya.
“Tunggu sampai mereka melakukan sesuatu,” ujar Jeong In, dengan suara pelan tapi tegas.
Kedua orang itu semakin mendekat ke arah Ji Ho. Tinggal beberapa langkah lagi sampai kedua orang itu berhasil mendekati Ji Ho dan mengambil tasnya.
Salah seorang tampak berjalan dengan agak cepat. Kejadiannya berlangsung cepat sekali sebelum mereka sempat bertindak apa-apa. Salah satu dari mereka yang bertubuh lebih pendek merenggut tas di tangan Ji Ho dengan cepat sekali.
Jeong In dan Jung Min segera keluar dari mobil dan berlari ke arah Ji Ho seraya mengeluarkan pistol dari saku jaket mereka.
Sambil berlari ke arah Ji Ho mereka melihat tiga orang petugas lain berlari dari arah berlawanan dan mengepung salah satu perampok yang akan melarikan diri. Sementara perampok yang berhasil merenggut tas Ji Ho masih ada di sana. Hal yang membuat Jeong In tercengang dan berhanti berlari adalah karena Ji Ho berhasil memelintir salah satu tangan perampok dan membuat si perampok merintih kesakitan.
“Kau mau apa, hah? Melakukan hal-hal jahat pada perempuan muda. Dasar tidak tahu diri!” seru Ji Ho dengan wajah kesal seraya memelintir tangan si perampok semakin kuat.
Jeong In dan Jung Min yang tiba di sana hanya melihat kejadian itu dengan wajah tercengang. Ini tidak seperti yang mereka bayangkan.
Perampok itu memohon pada Ji Ho untuk melepaskan tangannya. Dan saat topinya terjatuh dan memperlihatkan wajah si perampok, Jeong In semakin tercengang tak percaya.
“Wah! Bukankah kau si pemilik tempat judi itu?” seru Jeong In, menunjuk pada seorang pria paruh baya yang kini tak berkutik di dalam kungkungan Ji Ho.
“Maafkan aku, maaf. Aku tidak berniat melakukan ini pada siapapun. Aku hanya meminjam uang mereka. Karena usahaku bangkrut dan aku butuh uang untuk berjudi agar menang, jadi aku meminjam uang anak-anak muda ini. Akan aku kembalikan suatu saat kalau aku menang judi dan usahaku bisa kembali lagi.”
“Wah, pak tua ini benar-benar... Tetap saja itu kejahatan! Petugas Kim, tolong bawa paman tak tahu diri ini. Yang benar saja!” Ji Ho berseru pada salah satu petugas yang masih berdiri berlawanan arah dengannya.
Setelah pelaku perampokan itu diringkus dan dibawa para petugas ke kantor polisi, Jung Min sepertinya masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.
“Kau.. Tapi bagaimana kau bisa?”
“Hei, sunbae, bagaimanapun juga aku ini polisi. Kau pikir aku tidak diberi pelajaran mempertahankan diri? Yang benar saja,” Ji Ho berujar dengan nada enteng.
“Tapi kau benar-benar membuatku terpukau, Kim Ji Ho,” Jeong In memuji gadis itu.
Ji Ho menoleh pada Jeong In dan tersenyum manis padanya.
“Terima kasih, sunbaenim,” katanya seraya menundukkan kepalanya dengan sopan.
“Baiklah, aku harus kembali ke kantor untuk mengurusi ini. Terimakasih atas bantuanmu, Ji Ho,” ujar Jeong In.
“Tidak masalah. Aku siap membantu kapan pun,” sahut Ji Ho.
“Kalau begitu, biar Jung Min mengantarmu pulang. Ini sudah larut sekali,” kata Jeong In seraya melemparkan kunci mobil pada Jung Min. Jung Min menangkap kunci itu dengan sikap kikuk.
“Ap-hei!” seru Jung Min tak terima.
Tapi Jeong In tidak menggubrisnya dan terus berjalan ke mobil patroli yang mengangkut dua perampok tadi. Urusannya dengan perampok itu belum selesai sampai di sini.
Tapi bayangan wajah Hyun Ae sedari tadi terus menerus memenuhi benaknya.
*****
“Aku akan kembali lagi besok. Kita bertemu di tempat biasa, ya?”
Hyun Ae menatap sosok di depannya dengan tatapan kaget sekaligus tak percaya.
“Ji Hwan?” tanyanya dengan dahi berkerut. Laki-laki di depannya tersenyum.
Hyun Ae memandang sekelilingnya dengan tatapan bingung. Dia tidak berada di apartemennya melainkan di sebuah kedai makan yang sangat dikenalnya. Ini adalah kedai makan daging sapi panggang yang sangat disukai Ji Hwan. Kedai ini selalu dikunjungi banyak orang. Tapi kali ini entah kenapa hanya dia dan Ji Hwan yang duduk disana, bahkan pemiliknya pun tidak kelihatan. Hyun Ae kembali menatap sosok laki-laki yang sedang duduk di depannya dengan tatapan penuh tanya. Laki-laki itu sedang memanggang beberapa iris daging di atas pemanggangan.
“Kata orang di sini adalah kedai makan bulgogi paling enak di Kangnam karena memakai arang untuk proses pembakarannya. Menurutmu bagaimana, Hyun Ae?” Ji Hwan bertanya seraya menatap Hyun Ae dan tangannya terus membolak balikkan daging di depannya.
Hyun Ae merasa seluruh tubuhnya membeku bahkan lidahnya seolah kaku dan sulit digerakkan.
“Oppa?” akhirnya suaranya keluar walaupun lirih sekali. Ji Hwan mendecih dan menatapnya setengah kesal.
“Kenapa? Kau seperti baru saja melihat hantu,” katanya seraya memakan daging panggangnya.
“Ini benar-benar kau?” tanya Hyun Ae lagi, masih tidak percaya dengan penglihatannya.
Kali ini Ji Hwan berhenti membolak balikkan daging dan menatap Hyun Ae dengan tatapan bingung.
“Kau pikir siapa? Apa aku punya saudara kembar?” sahutnya.
“Tapi...” suara Hyun Ae mulai bergetar dan dia merasa sebentar lagi airmata akan jatuh ke pipinya. Pandangannya sudah mengabur karena airmata yang mulai menggenang di matanya.
“Omong-omong, kau dengar tidak tadi aku bilang apa? Aku akan pergi ke luar kota besok pagi. Aku tidak akan mengingkari janji untuk menemanimu menonton hari Minggunya,” ujar Ji Hwan.
Hyun Ae langsung terkesiap dan teringat sesuatu. Bukankah ini adalah kenangan sehari sebelum Ji Hwan pergi keluar kota dan terjadi kecelakaan itu? Apakah ini hanya mimpi?
“Jangan! Jangan pergi ke sana!” Hyun Ae langsung berseru dengan ngeri. Dia tidak bisa membayangkan Ji Hwan yang saat ini duduk dengan wajah ceria seperti biasa, akan mengalami kecelakaan tragis kalau dia benar-benar pergi.
Ji Hwan balas menatapnya dengan bingung.
“Eh? Kenapa?”
“Aku mohon... jangan pergi,” pinta Hyun Ae dengan suara tercekat. Saat ini airmatanya sudah benar-benar turun ke pipinya.
“Hyun Ae?” panggil Ji Hwan dengan suara khawatir.
Hyun Ae tidak menjawab. Dia hanya bisa terus menangis menatap wajah Ji Hwan yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung itu. Hyun Ae tidak mengerti kenapa dia bisa berada kembali di tempat ini. Dia yakin ini hanyalah mimpi. Ji Hwan sudah meninggal dan dia tidak mungkin kembali lagi. Tapi walaupun ini adalah khayalannya maupun mimpi, Hyun Ae benar-benar ingin mencegah Ji Hwan untuk pergi. Dia tidak tahu kalau ternyata mimpi pun bisa membuatnya merasa sesakit ini.
“Kumohon jangan pergi. Sekali ini saja, dengarkan aku,” kata Hyun Ae.
“Kau biasanya tidak seperti ini. Kenapa? Apa kau marah sekali sampai menangis? Hyun Ae, aku tidak bisa melihatmu menangis begini,” Ji Hwan menatap Hyun Ae dengan tatapan bingung.
Hyun Ae menangis semakin keras. Dia menutupi wajahnya yang sudah basah oleh airmata dengan kedua tangannya. Dia hanya ingin meluapkan semua emosinya saat ini, meskipun sosok Ji Hwan di depannya ini bukanlah sosok Ji Hwan yang asli. Hyun Ae hanya membayangkan seandainya dia benar-benar bisa mencegah Ji Hwan pergi kala itu. Tapi apa yang dilakukannya saat itu? Dia sama sekali tidak ingat apa yang dikatakannya pada Ji Hwan sebelum laki-laki itu pergi. Apa mereka bertengkar?
“Hyun Ae? Kau tidak apa-apa?”
Hyun Ae masih terisak tapi dia menyadari sesuatu. Ada berubah dengan suara Ji Hwan.
“Hyun Ae?”
Hyun Ae berhenti menangis dan langsung membuka matanya.
Kedua matanya terasa lengket dan basah. Dia langsung mengusapnya dan baru menyadari kalau dia tidak berada di kedai makan bulgogi, melainkan sedang berbaring di atas sofa. Hyun Ae langsung menegakkan tubuhnya sambil mengusap wajahnya berkali-kali.
Saat dia menyadari kalau dia baru saja bermimpi dan dia masih ada di apartemennya, Hyun Ae merasa kepalanya berdenyut tak karuan. Matanya bahkan basah oleh airmata. Apa dia baru saja tidur sambil menangis?
“Oh, ya, ampun,” desahnya lelah seraya mengusap matanya agar bisa melihat dengan jelas.
Saat menyadari kalau Jeong In sudah duduk di depannya sambil menatapnya dengan wajah khawatir, Hyun Ae kembali mendesah panjang. Dia benar-benar malu sekali rasanya ketahuan tidur sambil menangis.
“Kau bermimpi buruk?” tanya Jeong In lagi.
“Ya, aku rasa begitu,” jawab Hyun Ae seraya menatap sekelilingnya. Dia masih berada di ruang tengah. Sofa yang didudukinya kelihatan berantakan, seperti baru saja ditiduri seseorang.
“Apa kau baru pulang?” tanya Hyun Ae seraya menatap Jeong In yang tampak masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakainya semalam.
“Ya. Aku baru saja selesai mengurus kasus perampokan yang terjadi beberapa hari ini,” jelas Jeong In.
Hyun Ae mengangguk-angguk tanda dia mengerti sebelum akhirnya dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Lantai terasa bergoyang saat dia melangkahkan kakinya. Dia hampir terhuyung tapi bisa menguasai dirinya.
Sesampainya di kamar mandi dia langsung mencuci wajahnya di wastafel dan mengusap-usapnya dengan keras.
Mimpi tadi benar-benar seperti nyata baginya.
Apa dia mengigau? Apa Jeong In memergokinya mengigau sambil menangis? Ah, benar-benar memalukan.
Hyun Ae menatap cermin yang tergantung di atas wastafel. Wajahnya yang basah oleh air masih tampak membengkak. Matanya bahkan kelihatan sayu karena semalaman dia hampir tidak tidur. Rambut sebahunya sekarang benar-benar kelihatan berantakan dan dia segera merapikannya dengan asal.
Hyun Ae kembali mendesah lelah. Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Ini semua benar-benar membingungkan. Bahkan untuk keluar dan berhadapan dengan Jeong In saja rasanya tidak bisa dia lakukan. Mengingau saat tidur itu adalah salah satu hal paling memalukan untuknya, apalagi sampai disertai dengan tangisan.
“Apa kau mau sarapan di luar?”
Hyun Ae terlonjak kaget saat dia mendengar suara pintu terbuka disertai wajah Jeong In yang tiba-tiba muncul.
“Oh, kau mengagetkanku,” serunya kaget.
“Maaf. Tapi apa kau mau sarapan di luar atau kita memesan makanan?” Jeong In mengulang pertanyaannya.
“Terserah kau saja,” jawab Hyun Ae.
“Baiklah. Kita makan di luar saja kalau begitu. Kau bisa bersiap-siap,” kata Jeong In seraya menutup pintunya lagi.
*****
Kedai tempat mereka makan adalah sebuah kedai makan sederhana yang ada di daerah Itaewon, beberapa kilometer dari apartemen mereka yang di Kangnam. Itu adalah sebuah kedai makan dengan dekorasi asing dan beberapa orang asing juga terlihat makan di sana sambil bersantai bersama beberapa teman, baik orang lokal maupun sesama orang asing.
Jeong In memilih sebuah tempat duduk yang agak menjauh dari pintu masuk jadi merek tidak terlalu terganggu dengan beberapa pengunjung yang keluar masuk dari pintu itu. Jeong In bilang dia tidak mau makannya terganggu karena beberapa orang yang lewat di sekitarnya.
Dan saat ini Hyun Ae hanya duduk di kursinya, sambil memandangi Jeong In yang sedang lahap sekali menghabiskan makanannya. Dia bahkan tidak peduli dengan tatapan Hyun Ae yang sedari tadi melihatnya dengan wajah heran. Porsi makan Jeong In benar-benar di luar dugaannya. Pantas saja kalau dia punya tubuh tinggi di atas rata-rata begitu kalau makannya saja sebanyak ini.
“Apa kau selalu makan sebanyak itu?” tanya Hyun Ae hati-hati, takut menyinggung Jeong In.
Laki-laki itu mendongak dan melihatnya dengan mulut penuh makanan.
“Aku lapar karena semalam belum makan apapun. Dan, iya, aku harus makan banyak agar kerjaku bagus,” jawabnya seraya kembali fokus pada makanannya.
Hyun Ae mendecih pelan. Dia bahkan sudah menghabiskan dua piring nasi dan Hyun Ae bahkan belum habis satu piring pun. Dia menatap sekeliling ruangan itu. Beberapa pelayan di sini tadi menyapa Jeong In saat mereka masuk ke dalam kedai ini.
“Apa kau selalu ke tempat ini? Karena sepertinya beberapa pelayan di sini mengenalmu dengan baik,” kata Hyun Ae kemudian.
“Kita lebih tepatnya. Kau suka nasi kare di sini,” kata Jeong In, seraya meneguk tehnya dengan mulut masih penuh nasi.
“Benarkah? Pergi ke Itaewon hanya untuk makan di sini?” tanya Hyun Ae tak percaya.
Jeong In angkat bahu seraya menghabiskan tehnya dengan sekali tegukan.
“Bagaimana? Kau sudah kenyang?” tanyanya kemudian.
Hyun Ae menyingkirkan piringnya dan meneguk minumannya. Dia bukan tipe orang yang suka menyisakan makanan. Tapi kali ini dia sedang tidak benar-benar ingin makan dan porsi makanannya benar-benar di luar daya tampung lambungnya.
“Padahal kau sering bilang kalau menyisakan makanan itu adalah hal paling merugikan di dunia,” kata Jeong In seraya menatap sisa-sisa makanan di piring Hyun Ae.
Hyun Ae hanya tersenyum kaku. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ditanyakan Hyun Ae pada Jeong In, tapi dia merasa belum siap. Dia hanya takut Jeong In akan merasa tersinggung karena dia bertanya banyak hal padanya. Terutama tentang kecelakaan yang menimpa Ji Hwan.
“Apa yang kau lakukan semalam? Kenapa kau tidur di sofa?” tanya Jeong In tiba-tiba.
“Entahlah. Sepertinya aku tertidur saat melihat drama tengah malam,” kataku.
“Wah, kau melihat drama? Kau dulu sering bilang kalau drama itu membosankan,” kata Jeong In.
Hyun Ae tidak segera menjawab dan terdiam untuk beberapa saat. Dia sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Tapi sebenarnya... bagaimana kita bertemu dan bisa seperti ini?” tanyanya kemudian.
“Aku sudah tahu pertanyaan itu akan keluar. Apa kau akan mendengarkanku? Karena ceritanya panjang dan lumayan rumit,” kata Jeong In.
“Apapun asal itu membantuku dan aku tidak seperti orang bodoh karena kebingungan terus,” jawab Hyun Ae sekenanya.
Jeong In tertawa pelan. Dia menatap Hyun Ae dengan tatapan geli.
“Ada apa?” Hyun Ae balas menatapnya dengan dahi berkerut.
“Perlahan-lahan kau kembali pada kepribadian aslimu. Hyun Ae yang keras kepala dan suka berbicara sesukanya,” jawab Jeong In.
Hyun Ae kembali mendecih pelan. Kenapa dia seperti mendengar Ji Hwan yang berbicara seperti itu? Itu adalah kata-kata pamungkas Ji Hwan kepadanya saat mereka bertengkar atau adu argumen. Hyun Ae yang keras kepala..
“Jadi? Bagaimana kita bertemu? Karena menurutku ini terlalu aneh, bagaimana aku bisa mengenal seorang detektif sepertimu?” tanya Hyun Ae tak habis pikir.
Jeong In tampak ragu untuk mengatakannya. Dia meraih gelasnya dan menuangkan teh dari poci kecil di atas meja itu ke dalam gelasnya, sebelum akhirnya meneguknya lagi.
“Aku masih menjadi petugas polisi yang bekerja di unit layanan masyarakat saat kau datang ke kantor polisi untuk melaporkan kecelakaan yang menimpa Ji Hwan,” jawabnya kemudian.
Kedua mata Hyun Ae membelalak lebar.
“Benarkah?” tanyanya dengan nada setengah terkejut.
Jeong In mengangguk.
“Kau bilang bahwa kecelakaan yang menimpa Ji Hwan harus diusut tuntas. Kecelakaan itu bukan murni tabrak lari biasa. Kau menuntut kepolisian untuk segera menangkap pelakunya,” kata Jeong In.
Hyun Ae mengernyitkan wajah menatap Jeong In.
“Kenapa aku bilang begitu?” tanyanya.
“Aku juga tidak tahu. Kau tidak pernah mengatakan alasannya. Kau hanya bilang mobil yang menabrak Ji Hwan harus segera diidentifikasi beserta penumpangnya. Tapi saat itu kami tidak bisa berbuat apa-apa. Yang terlihat saat itu memang murni kecelakaan tabrak lari. Bukan sesuatu yang disengaja. Tapi kau terus menerus bersikeras kalau pelaku yang menabrak mobil Ji Hwan harus segera ditemukan dan memberikan bukti-bukti pada kami. Sayangnya, bukti-bukti itu tidak cukup kuat sehingga kasus itu tetap dinyatakan sebagai kecelakaan murni,” jelas Jeong In.
“Lalu apa yang terjadi setelah itu? Apa aku menyerah?” tanya Hyun Ae lagi.
“Kau tidak muncul lagi di kantor kami selama berbulan-bulan. Dan sampai sekarang aku juga tidak tahu apa yang kau lakukan setelah itu. Lalu kita bertemu lagi saat kau melapor kalau temanmu mengalami kekerasan rumah tangga yang dilakukannya suaminya. Kau datang ke kantor kami sambil membawa bukti-bukti kalau temanmu telah mengalami kekerasan rumah tangga. Jadi kami pergi ke rumah temanmu dan menangkap suaminya yang saat itu sedang mabuk berat,” kata Jeong In.
“Hanya itu?” tanya Hyun Ae, rasa penasarannya sama sekali belum terjawab.
“Tentu saja tidak. Ada satu kasus yang membuatku akhirnya mendapat promosi dan dipindah tugaskan ke kantor kepolisian Kangnam,” kata Jeong In.
“Apa itu?”
“Aku menangkap pelaku perampokan bank yang selama beberapa bulan menjadi buronan. Aku berhasil menangkapnya dan nyawaku hampir melayang saat itu karena pelaku perampokan itu membawa senjata api,” kata Jeong In.
“Dan kau akhirnya diangkat menjadi detektif?” tanya Hyun Ae.
Jeong In mengangguk seraya tersenyum.
“Tapi itu sama sekali belum menjawab kenapa kita bisa bertemu,” kata Hyun Ae.
“Memang tidak, sih. Tapi saat itu aku bertemu denganmu di makam Ji Hwan. Tidak bertemu secara langsung. Saat itu aku sedang dalam tugas menyelidiki sesuatu dan kebetulan ada di daerah itu. Lalu aku melihatmu di makam itu. Kau seperti zombie, seolah nyawamu sudah tidak berada di ragamu lagi,” kata Jeong In.
“Apa aku kelihatan seburuk itu?” tanya Hyun Ae.
“Ya, kau ada di sana beberapa hari. Duduk di sana lama sebelum akhirnya pergi dengan wajah tanpa ekspresi,” kata Jeong In.
“Kalau saja kau berada di posisiku saat itu, kau juga pasti akan merasakan hal yang sama kan?” sahut Hyun Ae. Jeong In menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum akhirnya tersenyum samar.
“Yah, aku rasa aku bahkan akan melakukan hal yang lebih nekat,” katanya kemudian.
“Lalu apa yang terjadi kemudian?” Hyun Ae bertanya dengan nada mendesak.
Jeong In membuka mulut untuk mengatakan sesuatu tapi tertahan oleh sebuah suara di luar kedai makan yang mengalihkan perhatian mereka. Sebuah bunyi klakson panjang terdengar di jalan raya disusul dengan suara tabrakan benda berat yang membuat kaca dan beberapa perabotan di kedai itu bergetar. Semua orang terdengar bertanya-tanya dengan nada penuh ingin tahu serta berbondong-bondong keluar kedai untuk melihat apa yang terjadi.
Hyun Ae dan Jeong In juga menyusul pengunjung lain untuk keluar dari kedai itu.
Sebuah mobil merk asing berwarna hitam terlihat menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan. Bagian depannya terlihat penyok dan membuat batang pohon yang ditabrak ikut tergores. Jeong In segera menerobos kerumunan sambil menunjukkan identitas polisinya. Hyun Ae diam-diam ikut mendekat ke arah mobil itu.
Jeong In segera memecahkan kaca depan dengan batu yang ada di dekatnya untuk mengeluarkan pengemudi yang tampaknya tidak sadarkan diri di jok depan. Seorang wanita berambut panjang tampak tidak sadarkan diri dengan kepala bersandar pada setir mobil. Rambut panjangnya yang tergerai menutupi hampir seluruh wajahnya. Kedua tangannya lunglai di kedua sisi tubuhnya.
“Nona! Nona, apa kau mendengarku?” Jeong In mengguncang tubuh wanita itu. Tidak ada reaksi yang berarti. Wanita itu tetap diam tak bergerak. Jeong In segera menegakkan tubuh wanita itu dan langsung tercengang begitu melihat wajahnya yang pucat.
Jeong In meletakkan jari di bawah hidung wanita itu serta memeriksa nadi di pergelangan tangannya. Tangan wanita itu masih hangat, tapi tidak ada denyut yang dirasakan Jeong In di pergelangan tangannya. Hidungnya juga tidak mengeluarkan napas.
Jeong In segera meraih ponselnya dan mencari nomor kontak kepolisian terdekat.
“Ada apa?” Hyun Ae yang sejak tadi berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang berdiri di dekat mobil itu.
“Wanita ini sudah meninggal,” jawa Jeong In dengan wajah tenang. Seseorang di seberang telepon bertanya keperluannya dan Jeong In segera menjawab kalau ada kecelakaan di jalan Bogwang dan korban meninggal di tempat.
“Benarkah?” tanya Hyun Ae seraya menatap tubuh wanita muda itu.
Tiba-tiba dirinya seperti tersengat sebuah listrik dari suatu tempat yang membuatnya terlonjak. Sebuah ingatan tiba-tiba melintas begitu saja di benaknya. Posisi wanita itu... Dia pernah melihatnya di suatu tempat.
“Apa kau yakin wanita itu meninggal karena kecelakaan mobil?” tanya Hyun Ae kemudian.
Jeong In menoleh ke arahnya dengan wajah bingung.
“Apa?” tanyanya.
“Tidak, hanya sedikit aneh saja,” kata Hyun Ae.
“Apanya yang aneh?” Jeong In melihat ke arah mayat wanita di mobil itu.
“Kau detektif. Kau pasti tahu,” kata Hyun Ae.
“Aku tidak melihat apa yang kau maksud,” kata Jeong In. Hyun Ae mendesah seraya memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya.
“Aku pernah melihat posisi seperti ini sebelumnya. Ji Hwan ditemukan meninggal dalam keadaan seperti ini. Temannya yang bertugas di kepolisian Seoul menunjukkan fotonya padaku. Bukankah kedua tangannya seharusnya tidak berada di kedua sisi tubuhnya kalau dia memang meninggal karena kecelakaan ini?”
“Eh?” Jeong In menatap Hyun Ae dengan tatapan bingung.
“Coba kau bayangkan posisi duduk dan tanganmu saat menyetir. Tanganmu harus selalu berada di setir kan? Saat terjadi suatu kecelakaan dan kau langsung tak sadarkan diri saat itu, kedua tanganmu seharusnya berada di dekat setir atau di kakimu. Bukannya lunglai di kedua sisi tubuh,” jelas Hyun Ae.
“Mungkin dia sedang menggunakan kedua tangannya untuk menghindari sesuatu. Biasanya seperti itu kan? Saat seseorang tidak bisa mengendalikan mobil, satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menutupi wajahnya,” kata Jeong In.
Hyun Ae balas menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Apa kau melihat adegan itu di drama?” tanyanya kemudian.
Jeong In balas menatapnya dengan tatapan terkejut.
“Apa kau lihat wajahnya? Apa ada luka yang disebabkan oleh kecelakaan ini?” tanya Hyun Ae lagi.
“Luka di wajahnya tidak terlalu parah, tapi kakinya terjepit dan aku tidak bisa mengeluarkannya,” jawab Jeong In.
“Apa kedua kakinya berada di pedal rem?” Hyun Ae menatap mobil itu dengan penasaran.
“Eh?” Jeong In menatapnya bingung.
“Apa ada tanda-tanda wanita itu menginjak pedal rem sebelum kecelakaan?” tanya Hyun Ae, tanpa menatap ke arah Jeong In.
Jeong In menatap jalanan di depannya. Tidak ada tanda-tanda bekas ban mobil yang terseret. Lagipula dia tadi juga tidak mendengar ada suara rem sebelum mendengar benturan keras.
Beberapa saat kemudian terdengar suara sirene yang mendekat. Dua mobil polisi beserta sebuah ambulans tampak berhenti di sekitar tempat terjadinya kecelakaan. Beberapa petugas langsung menghampiri mayat wanita yang ada di dalam mobil. Dua orang langsung mengevakuasi mayat dengan hati-hati. Sementara petugas yang lainnya memeriksa tempat kejadian dan juga mobil yang ringsek itu. Seorang petugas kepolisian wanita dengan seragam dinas mendekat ke arah Hyun Ae dan Jeong In.
“Oh! Oppa?” petugas polisi wanita itu menatap ke arah Jeong In dengan tatapan kaget.
“Eh? Kau bertugas di sini?” Jeong In ikut terkejut begitu petugas itu mendekat ke arah mereka. Wajahnya cantik dan dia memiliki postur tinggi yang dibalut dengan seragam polisi bagian pelayanan masyarakat.
“Ya. Jadi kau yang menelpon tadi?” tanya petugas wanita itu.
Hyun Ae hanya menatap mereka berdua secara bergantian dengan tatapan bingung.
“Ya, aku tidak tahu kalau kau bertugas di sini,” kata Jeong In.
Wanita itu tersenyum lalu menatap ke arah Hyun Ae dengan wajah penuh tanda tanya.
“Selamat siang. Aku Min Yoo Ri, adik kelas Jeong In oppa saat sekolah menengah dulu. Anda siapa?” tanya wanita itu.
“Lee Hyun Ae,” jawab Hyun Ae singkat seraya mengangguk sopan.
Dia menatap Hyun Ae dan Jeong In secara bergantian dan penuh tanda tanya. Dia seolah ingin menanyakan sesuatu tapi tidak jadi karena seorang petugas memanggilnya.
“Apa dia tidak bertanya pada saksi di sini? Bukankah kita terlihat seperti saksi?” tanya Hyun Ae seraya menatap punggung wanita muda itu menjauh.
“Mungkin dia sedang bingung,” sahut Jeong In.
“Apa dia baru?” tanya Hyun Ae lagi, melihat wanita muda itu tampak kikuk dalam menjalankan tugasnya. Padahal dia hanya disuruh mencatat beberapa hal yang disebutkan seorang petugas yang melakukan pengamatan pada mobil itu.
“Mungkin. Aku juga sudah lama tidak mendengar kabarnya sejak kami lulus dan putus...” Jeong In langsung terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya saat Hyun Ae langsung menoleh ke arahnya.
“Ah, aku mengerti,” Hyun Ae mengangguk-angguk seraya mengibaskan tangannya tanda itu bukan hal yang penting.
“Itu sudah lama sekali,” kata Jeong In.
“Dia cantik. Aku tidak mengerti kenapa kau memilih menikah denganku,” Hyun Ae berkata dengan suara pelan sekali tapi Jeong In bisa mendengarnya dan tidak memilih menjawabnya. “Apa kau masih mau di sini? Aku akan ke dalam dan melanjutkan makanku. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa lapar,” lanjut Hyun Ae seraya berbalik dan kembali ke dalam kedai.
Jeong In tidak mengikuti Hyun Ae dan mendekat ke arah para petugas polisi yang masih berada di sekitar lokasi kejadian. Yoo Ri tampak sedang memeriksa catatannya dan berjalan ke arah salah seorang saksi mata di sana. Jeong In bertanya pada salah seorang petugas yang masih memeriksa mobil.
“Apakah murni kecelakaan?” tanya Jeong In tanpa basa basi.
Petugas itu menatap Jeong In dengan tatapan kesal karena pekerjaannya diganggu. Tapi setelah Jeong In menunjukkan kartu identitasnya, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sopan.
“Kami belum bisa mengidentifikasi. Tapi petugas forensik mengatakan kalau penyebab kematiannya bukan karena kecelakaan. Tanda-tanda kematiannya seperti orang keracunan,” kata petugas itu.
“Keracunan?”
Petugas itu mengangguk.
“Ada kebocoran di pipa pembuangannya. Menyebabkan karbon monoksida tidak keluar dan terakumulasi di dalam mobil,” jelasnya.
Jeong In mengangguk mengerti. Dia membiarkan petugas itu kembali melaksanakan tugasnya sementara dia perlahan menjauh dari tempat itu.
Kata-kata Hyun Ae beberapa saat yang lalu terngiang di telinganya.
“Posisi Ji Hwan saat ditemukan meninggal sama seperti wanita itu.”
Kalau memang hal itu benar, ada yang mencurigakan pada kematian laki-laki itu. Tapi yang lebih penting, bagaimana Hyun Ae bisa tahu hal-hal yang tidak biasanya dipikirkan orang lain. Sikapnya terlalu santai untuk seseorang yang melihat mayat korban kecelakaan.
*****