“Aku rasa.. Aku butuh bantuanmu, Ai..” ujar Kim Hyun Joong dengan wajah serius kepada seorang yeoja yang berumur lebih muda tiga tahun di bawahnya yang sedang duduk di sampingnya sambil menikmati ttokboki-nya. Yeoja berambut sebahu itu menoleh ke samping dan menatap namja itu dengan tatapan bingung.
“Bantuanku?” Kim Ji Ho menatap kakak sepupunya itu dengan pandangan penuh ingin tahu.
“Ne. Bantuanmu..” jawab Hyun Joong lagi, tanpa ekspresi yang berarti di wajahnya.
“Bantuan macam apa sampai seorang Kim Hyun Joong sepertimu meminta bantuanku? Aku hanya bercanda..” Ji Ho berkata dengan nada setengah bercanda tapi langsung diralat saat melihat wajah kakak sepupunya itu tidak berubah sama sekali. Biasanya juga seperti ini, tapi kali ini wajahnya benar-benar serius. Ji Ho menelan potongan ttokboki terakhirnya dengan susah payah dan meletakkan wadahnya di atas meja di depannya. Lalu dia beralih menghadap kakak sepupunya itu dengan wajah yang sama seriusnya.
“Baiklah.. Oppa, apa yang bisa aku bantu?” tanyanya dengan nada yang melembut. Wajah namja di depannya ini masih seperti tadi. Tidak berubah dan hanya menatap wadah ttokboki di atas meja dalam diam. Ji Ho maklum. Setelah beberapa tahun tinggal bersama di rumah ini, dia memahami karakteristik namja di depannya ini. Tidak semua orang bisa memahami sikap diam namja di depannya ini.
“Aku butuh bantuanmu.. tentang perasaanku pada seseorang..” kata Hyun Joong kemudian.
Ji Ho membelalakkan mata kaget mendengar perkataan namja di depannya itu.
“M-mwo?” tanyanya kemudian, mencoba memastikan pendengarannya. Masalahnya, langka sekali untuk seorang Kim Hyun Joong mengatakan apa yang dirasakannya terang-terangan pada orang lain.
“Aku bilang ini karena kau mempelajari psikologi. Dan aku merasa kalau aku membutuhkan bantuanmu..” jawab Hyun Joong lagi.
Ji Ho mulai mengernyitkan dahi bingung.
“Apa itu, oppa? Dan kenapa harus dengan ‘psikologi’?” tanyanya heran sekaligus ingin tahu.
“Karena aku merasa, yang sedang aku rasakan saat ini.. tidak normal..” jawab Hyun Joong kemudian.
“Oke. Lalu apa masalah intinya?” tanya Ji Ho hati-hati.
“Aku menyukai seseorang.. Tapi.. Aku tidak yakin dengan itu..” Hyun Joong masih tidak mau beralih untuk menatap ke arah adik sepupunya.
“Apa yang membuatmu tidak yakin dengan perasaanmu? Oppa, apa kau ragu-ragu kalau kau mempunyai perasaan pada orang itu?” tanya Ji Ho lagi.
Hyun Joong menggeleng pelan.
“Tidak. Aku hanya.. Aku rasa aku menyukainya. Aku selalu bahagia tiap melihatnya. Tiap berada di dekatnya, perasaanku yang semula suntuk langsung berubah jadi ringan.. Dan lama kelamaan, aku jadi selalu ingin melihatnya dan berada dekat dengannya..” jelas Hyun Joong panjang lebar dengan wajah datar. Tapi ada sedikit kebingungan dalam pandangan matanya.
Ji Ho mengangguk-angguk paham seraya mengambil cangkir yang berisi teh ginseng di atas meja di depannya.
“Tidak salah lagi.. Kau sedang jatuh cinta, oppa.. Wahh.. Siapa yeoja yang beruntung itu?” Ji Ho bertanya dengan nada menggoda ke arah Hyun Joong dan menyeruput tehnya yang masih panas dengan hati-hati.
Hyun Joong tidak segera menjawab untuk beberapa saat. Dan hanya terdiam melihat Ji Ho yang sedang meminum tehnya dengan hati-hati.
“Tidak ada yeoja yang aku maksud..” katanya kemudian dengan ragu-ragu.
“Mwo? Apa maksudnya?” Ji Ho kembali menatap kakak sepupunya itu dengan pandangan bingung dan kembali menyeruput tehnya.
“Yang aku ceritakan tadi.. Dia seorang namja..” ujar Hyun Joong kemudian.
Ji Ho tidak bisa menahan rasa kekagetannya yang luar biasa, sampai dia tersedak tehnya dengan hebat sekali mendengar pernyataan kakaknya itu.
“Mwo??? Namja??!”
@ @ @
Yeoja itu sedang berdiri di samping gerbang dekat dengan taman yang ada di gedung perusahaan besar yang ada di belakangnya. Menunggu dengan hati-hati dari balik tembok pagar yang tinggi itu dengan bersikap sebiasa mungkin, agar sekuriti yang berjaga di dekat gerbang itu tidak mencurigainya. Kedatangan Kim Ji Ho ke tempat ini bukan tanpa alasan. Sejak dia mendengarkan curahan hati kakak sepupunya yang notabene adalah pewaris tunggal di perusahaan fashion terbesar itu, dia jadi benar-benar memikirkan itu. Dia tidak ingin menghakimi kakak sepupunya begitu saja tentang ucapannya tempo hari. Ji Ho hanya berpikiran.. Kakak sepupunya menyukai seorang.. namja? Yang benar saja! Bahkan akal sehatnya menolak mentah-mentah kalau memang benar itu kenyataannya. Jadi, namja macam apa yang membuat kakak sepupunya itu jadi berpikiran kalau dia tidak normal? Apa dia semanis itu? Ji Ho menggeleng kuat-kuat.
Dia melirik jam tangannya. Sudah hampir jam makan siang. Seharusnya Hyun Joong oppa sudah membawanya keluar untuk makan siang ‘kan kalau memang mereka jadi membuat pertemuan untuk kerjasama bisnis perusahaan?
“Ai?” seseorang tiba-tiba berdiri di samping yeoja itu dan seketika membuat yeoja itu terlonjak kaget.
Ji Ho menatap ke arah orang yang memanggilnya dengan suara mengagetkan dari belakangnya tadi. Seorang namja yang mengenakan jas denim yang rapi sedang menatapnya bingung. Rambutnya yang dicat kecoklatan tertempa cahaya matahari di belakangnya.
“JaeJoong oppa~ Kau mengagetkanku~!” kata Ji Ho setengah kesal melihat namja itu.
“Wae~? Aku hanya memanggilmu karena tidak biasanya kau ke sini..” ujar namja yang dipanggil JaeJoong itu.
“Aku sedang mencari tahu sesuatu..” jawab Ji Ho.
“Tentang apa? Kenapa tidak masuk saja dan temui Hyun Joong di sana?” tanya JaeJoong.
“Tidak. Oppa.. Apa kau mengenal namja bernama Kim Hyung Jun?” tanya Ji Ho pada namja di sebelahnya. Jae Joong langsung mengangguk dengan mantap.
“Tentu saja. Dia anak pewaris perusahaan bisnis paling sukses di Korea Selatan. Keluarganya menggeluti beberapa bisnis. Furniture, fashion, aksesoris.. dan segala macam. Dan perusahaan ini sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan itu..” jawab JaeJoong.
“Lalu.. Apa hubungan orang itu dengan Hyun Joong oppa?” tanya Ji Ho ingin tahu. JaeJoong menatapnya bingung.
“Mwo? Mereka rekan bisnis tentu saja..” jawabnya kemudian.
“Maksudku.. Apa mereka punya.. Hubungan yang lebih dari sekedar rekan bisnis?” tanya Ji Ho ragu-ragu. JaeJoong menatapnya penuh selidik untuk beberapa saat.
“Kenapa kau menanyakan hal itu? Kau aneh..” katanya kemudian.
“Sudah. Jawab saja, oppa~~” desak Ji Ho tidak sabar.
“Mereka pernah satu sekolah dulu. Dan lumayan dekat saat di sekolah menengah dulu..” jawab JaeJoong oppa.
Ji Ho mengangguk-angguk mengerti.
“Ah~~ Jadi mereka sudah kenal sebelum ini? Pantas saja..” katanya pada diri sendiri.
“Ada apa memangnya? Apa kau ada hubungannya dengan bisnis mereka yang baru?” tanya JaeJoong.
Ji Ho mengibaskan tangannya.
“Tentu saja tidak.. “ jawabnya kemudian.
“Karena kau sudah ada di sini, ayo temani aku makan siang..” kata JaeJoong.
“Eh?” Ji Ho menatap namja itu dengan kaget.
“Aku hampir pergi sendirian tadi. Karena Hyun Joong sedang sibuk sekali akhir-akhir ini, aku jadi sering pergi makan siang sendirian. Kajja.. Aku akan mentraktirmu..” ajak JaeJoong seraya menarik tangan Ji Ho.
“T-tapi, oppa.. Aku ingin melihat Kim Hyung Jun ssi..” kata Ji Ho.
JaeJoong kembali menatapnya dengan penuh ingin tahu.
“Kenapa kau sebegitu ingin tahu tentang orang itu? Mencurigakan..” katanya dengan pandangan penuh selidik. Ji Ho jadi salah tingkah karena tidak tahu harus menjawab apa.
“Ah-ahh~~ Kalau begitu.. Ayo, kita makan sekarang. Kau pasti sudah lapar sekali ‘kan, oppa?” katanya buru-buru seraya mendorong tubuh namja itu untuk menjauh dari tempat itu.
@ @ @
Bar itu penuh dengan orang-orang seperti malam-malam sebelumnya. Beberapa orang terlihat mengikuti gerakan lagu yang diputar dengan keras sekali di lantai dansa. Lagu yang diputar berdentum-dentum memenuhi ruangan yang gelap dan remang-remang ini. Sebagian orang yang ada di tempat itu sudah setengah sadar karena minuman keras yang mereka minum. Seorang yeoja terlihat sedang duduk di sudut ruangan seorang diri sambil meminum dari botol minumannya yang sudah setengahnya kosong. Dia hanya menatap sekelilingnya tanpa minat dan setengah melamun. Beberapa namja yang melewatinya menatapnya dengan tatapan liar karena pakaian yang dikenakannya sangat minim dengan belahan dada rendah dan ukuran yang sangat pas dengan tubuhnya sehingga memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya. Tapi yeoja itu mengabaikan pandangan orang-orang itu. Perasaannya sudah kebal ditatap dengan pandangan penuh napsu dari namja-namja hidung belang yang ada di sini. Hwang Va Ni tetap meneguk minumannya dengan sikap acuh.
“Nona.. Mau aku temani minum?” seorang namja paruh baya tiba-tiba menghampirinya dan duduk di sampingnya.
“Hanya menemani minum? Boleh..” jawab Va Ni singkat. Rambut panjangnya yang lurus disibakkan di salah satu sisi bahunya. Dia membuka botol yang belum dibuka di atas meja dan menuangkannya ke gelas namja paruh baya itu.
Dan baru saja dia akan meneguk minuman itu ke mulutnya, dua orang namja yang mengenakan pakaian serba hitam menghampiri meja mereka. Va Ni meletakkan botolnya sambil menghela napas panjang.
“Tuan Muda ingin kau menemuinya.. Sekarang..” kata salah satu namja yang mengenakan pakaian serba hitam itu dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Va Ni memutar bola matanya bosan.
“Atau kami akan memaksamu kalau kau lari lagi seperti tempo hari..” kata salah satu namja itu.
“Kurae~!” sahut Va Ni kesal. Dia lalu beranjak dari tempat duduknya, berjalan dengan sikap angkuh melewati dua orang namja yang berdiri dengan sikap kaku itu, dan berjalan melintasi lantai dansa yang dipenuhi dengan beberapa orang yang mulai menari dengan gerakan yang semakin liar. Va Ni tetap tidak peduli saat ada seorang namja jatuh tersungkur di depannya karena mabuk berat, dan dia terus berjalan menuju ruang khusus yang ada di tempat itu.
Ruangan itu terletak di salah satu sudut lain di bar itu, dan memang khusus diperuntukkan untuk seorang namja pemilik bar ini yang datang sewaktu-waktu.
Seorang namja lain yang mengenakan pakaian serba hitam menyambutnya di depan ruangan itu dan membukakan pintu untuknya. Va Ni melenggang masuk ke ruangan itu tanpa mengucapkan apa-apa.
Hanya ada seorang namja yang duduk manis di salah satu sofa sambil menyesap bir kalengnya saat Va Ni datang ke sana.
Namja itu menatap tubuh Va Ni dari atas sampai bawah sebelum akhirnya tersenyum dengan setengah menyeringai ke arah yeoja itu.
“Hwang Va Ni.. Sudah berapa kali kau selalu menghindar dariku? Kau tahu kau tidak bisa menghindar dariku begitu saja..” kata namja itu. Va Ni menatap namja di depannya itu dengan tajam.
Namja itu kembali menyesap bir kalengnya dengan sikap santai.
“Aku tidak pernah menghindar darimu,Park JungMin ssi..” sahut Va Ni kemudian. Namja yang dipanggil Park Jung Min itu tidak bereaksi dan balas menatap yeoja itu dengan tatapan tajam.
“Kau tahu selama kau di sini, kau harus mengikuti peraturanku. Kau belum membayar tagihanmu bulan lalu kepadaku ‘kan? Dan kau tahu.. Apa yang akan aku lakukan kalau kau sampai lari dariku? Aku tidak akan segan-segan menelanjangimu di depan umum. Seperti yang sudah dilakukan ayahmu pada kakakku..” ujar Jung Min dengan wajah sadis. Dia menatap yeoja di depannya itu dengan tajam saat mengucapkan itu.
Va Ni menelan ludah dengan susah payah. Seperti ada yang meremas dadanya dengan erat sekali saat dia mendengar perkataan namja itu baru saja. Walau itu hanya satu kalimat, tapi itu mampu mengaduk-aduk ingatan Va Ni tentang masa lalu ayahnya, keluarganya.. dan kehidupan pahitnya yang sekarang. Selama ini dia benar-benar memendam semua ingatan itu dalam-dalam, tapi namja ini selalu berhasil membuatnya ingat lagi. Va Ni berusaha sekuat tenaga bersikap setenang mungkin di hadapannya.
Namja itu berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arahnya dengan sikap perlente. Dan dia berhenti di depan Va Ni yang hanya setinggi bahunya. Dia meraih wajah Va Ni dengan tangannya dengan sikap kasar.
“Jadi.. Jangan coba-coba untuk menghindar dariku lagi. Kau mengerti?” katanya.
Park Jung Min melepaskan tangannya dari wajah yeoja itu dengan keras sampai Va Ni memalingkan wajahnya. Lalu namja itu berjalan keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Dan hanya Va Ni yang tinggal di ruangan itu. Sendirian. Dengan perasaan yang mulai berkecamuk tidak karuan saat ini.
Walau hatinya terluka, tapi matanya masih kering dan tidak ada airmata yang keluar dari sana. Mungkin airmatanya sudah mengering.
@ @ @
Kim Ji Ho menatap namja yang sekarang duduk bersebarangan dengannya di salah satu kedai kopi di distrik Kangnam itu sambil mengaduk cangkir kopinya. Namja yang duduk di kursi di depannya, balas menatapnya dengan wajah angkuh. Sementara hujan turun deras sekali di luar sana, terlihat dari kaca transparan yang mengelilingi kedai itu.
“Kenapa? Untuk apa kau menemuiku di sini?” tanya namja itu dengan nada angkuh. Dia melihat Ji Ho dengan tatapan seolah Ji Ho adalah pengemis yang sedang meminta belas kasihan padanya. Sikapnya benar-benar menyebalkan, batin yeoja itu dengan kesal.
“Tidak. Aku hanya.. Oppa sering bercerita banyak tentang Anda..” kata Ji Ho kemudian.
Namja itu mengernyitkan dahi menatapnya.
“Lalu? Apa itu tujuanmu mengajakku bertemu di sini?” tanya namja bernama Kim Hyung Jun itu dengan raut wajah tidak percaya.
“Eh? Ya.. Tidak.. Aku hanya.. Ingin mengenal Anda..” kata Ji Ho buru-buru. Pilihan jawaban yang bodoh sekali, Ji Ho ya~~
Kim Hyung Jun semakin mengernyitkan dahi mengenalnya. Dia berdecak pelan.
“Kalau kau ingin menyatakan perasaan padaku, katakan dengan cepat. Aku tidak punya waktu untuk basa basi seperti ini..” ujarnya tajam.
Ji Ho membelalakkan mata menatapnya.
“Mwo? Aku tidak.. Apa kau pikir aku mengajakmu ke sini hanya untuk menyatakan kalau aku menyukaimu? Maaf, tidak. Yang benar saja..” katanya dengan dahi berkerut.
“Lalu? Kalau tidak ada hal penting yang lain.. Aku akan pergi. Kau membuang-buang waktuku saja..” namja itu beranjak dari tempat duduknya dengan agak kesal.
Ji Ho mendongak menatapnya dengan tak percaya.
“M-mwo?”
Namja itu berbalik dan menatapnya dengan tak sabar.
“Apa lagi? Kau tahu aku sedang sibuk sekali.. Dan kau malah mengundangku ke acara tidak penting begini..” ujarnya kesal.
Ji Ho menatap pakaiannya dengan dahi berkerut. Celana tiga perempat dan kaos yang warnanya sudah hampir kusam begitu, dia bilang sedang sibuk sekali? Ji Ho menghela napas sambil menggeleng menahan kesal.
“Ne. Pergilah. Hyung Jun ssi.. Aku juga tidak butuh kau lagi..” ujarnya.
Hyung Jun yang kini ganti terbelalak menatap yeoja itu.
“Ch~!” Ji Ho beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan namja itu dengan hati kesal. Namja menyebalkan itu? Apanya yang bisa membuat senang kalau ada di sampingnya?
Aku rasa Hyun Joong oppa benar-benar bermasalah sepertinya.. batinnya saat dia melangkahkan kaki keluar dari kedai kopi itu.
@ @ @
Kim Hyun Joong meneguk gelas minumnya untuk yang kesekian kalinya malam ini seraya menatap sekelilingnya dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya. Dia memang sengaja datang ke tempat ini untuk bersenang-senang, mengosongkan segala pikiran melelahkan setelah bekerja seharian. Ini adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukannya tiap dia mengalami kejenuhan yang tinggi dengan pekerjaan dan rutinitasnya sebagai seorang pengusaha muda.
“Hyun Joong ah.. Cukup. Kau sudah minum terlalu banyak..” Kim JaeJoong yang sedari menemaninya minum dan hanya melihatnya minum sebanyak itu, kini angkat bicara.
“Aku masih kuat untuk minum tiga botol lagi..” sahut Hyun Joong.
“Tapi kau harus menyetir untuk pulang ke rumah ‘kan?” tanya JaeJoong.
Hyun Joong menatapnya.
“Kau tidak akan mengantarkanku pulang?” tanyanya.
“Tidak. Masih ada hal yang harus aku selesaikan. Maaf sekali.. Kau harus menyetir sendiri malam ini..” sahut JaeJoong. Dia mengisap rokok di tangannya dan meneguk minuman di botol satunya.
“Hyung.. Kau juga banyak merokok, kau tahu? Padahal kau sendiri mengeluh sering sesak napas akhir-akhir ini..” ujar Hyun Joong.
JaeJoong menghembuskan napas dan kepulan asap kecil keluar dari mulut dan hidungnya.
“Hanya ini satu-satunya cara untuk membuatku sedikit rileks..” jawabnya kemudian.
Hyun Joong hanya tersenyum sinis. Dia lalu bangkit dari tempat duduknya seraya meletakkan gelasnya di atas meja.
“Aku akan ke toilet sebentar..” katanya seraya berjalan meninggalkan JaeJoong.
“Ne..” jawab JaeJoong.
Hyun Joong berjalan melewati beberapa orang yang sedang berpesta dan minum-minum di tempat itu. Beberapa orang melakukan tarian gila di lantai dansa saat musik diputar dengan suara keras sekali dan memenuhi segala penjuru tempat itu. Hyun Joong mendengar beberapa yeoja berpenampilan norak dan sangat terbuka memanggilnya dengan suara menggoda. Tapi dia bergeming. Dia tidak tertarik pada yeoja-yeoja yang suka cari perhatian seperti mereka. Lagipula, tujuannya ke sini bukan untuk mencari yeoja.
Namja itu berjalan melewati dua orang pasangan kekasih yang sedang berciuman dengan liar di dekat dengan pintu masuk toilet. Hyun Joong mengerling ke arah mereka berdua dengan sinis. Yang benar saja..
Dia melangkahkan kaki masuk ke dalam koridor toilet yang memang sengaja dibuat agar jalan masuk ke toilet lebih panjang. Koridor itu sempit dan gelap, hanya diterangi oleh lampu remang-remang yang menyala di ujung koridor yang satunya.
PLAK!Saat namja itu baru saja melangkahkan kakinya ke lorong sempit itu, dia mendengar sesuatu yang terdengar seperti sebuah tamparan tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
“Dasar yeoja sok jual mahal! Kau pikir kau bekerja di sini untuk jadi apa? Kau pikir kau akan dapat uang dengan bersikap sombong seperti itu?” terdengar suara seorang namja yang berteriak marah pada seseorang. Hyun Joong melihat siluet tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Dia bisa melihat siluet seorang yang sedang berdiri di depan seseorang yang terpojok di dinding sambil memegangi wajahnya.
“Aku lebih baik dipukul dan ditampar berkali-kali daripada harus melayani kalian..” sahut suara seorang yeoja yang terdengar tegas dan tajam tapi sekaligus menyimpan pilu yang sangat dalam.
“Ch~! Jangan sok suci.. Ayo, ikut aku! Layani aku sepuasnya malam ini!” namja bertubuh agak besar itu menarik rambut yeoja di depannya dan menyeretnya untuk mengikutinya.
Yeoja itu menjerit keras sekali. Dan dia berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan namja yang menariknya itu.
Jiwa namja dan kemanusiaan seorang Hyun Joong tergerak sekaligus teruji melihat pemandangan itu. Di lain sisi, itu sama sekali bukan urusannya. Tapi di sisi lain, dia tidak tega melihat seorang yeoja diperlakukan semena-mena dan kasar seperti itu. Siapapun dan apapun profesinya.
Dan saat namja itu berjalan hampir melewatinya, tangan Hyun Joong tiba-tiba mencekal tangan namja itu dengan erat. Dia mengeryitkan dahi dan melihat pakaian yang dikenakan namja itu. Sepertinya dia mengenal lambang yang ada di jasnya yang kusam itu.
“Lepaskan yeoja ini..” ujarnya tegas seraya menatap tajam ke arah namja paruh baya itu.
Namja paruh baya yang sudah setengah mabuk itu menatapnya dengan mata terbelalak.
“Apa katamu?” tanyanya.
“Yeoja ini tidak mau ikut denganmu, jadi lepaskan dia..” kata Hyun Joong.
“Kau pikir kau siapa sampai-sampai kau melarangku, Anak Muda?” kata namja paruh baya itu, dengan nada suara seakan terhina.
“Kim Hyun Joong. NorthWest Corporation..” jawab Hyun Joong singkat.
Dan dengan hitungan detik saja wajah namja paruh baya di depannya yang semula menatapnya dengan tatapan sinis dan menghina, langsung berubah menjadi sedikit takut dan dia melepaskan tangannya dari rambut yeoja itu dengan buru-buru.
“Oh.. Tuan Muda.. Kim Hyun Joong ssi.. Ne~ Ne. Saya akan segera pergi..” ujar namja paruh baya itu dengan nada suara yang langsung berubah tergagap dan dengan langkah cepat dan sedikit terhuyung pergi dari tempat itu.
Hyun Joong melihat yeoja yang masih berdiri di depannya dengan tubuh bergetar itu.
“Kau.. tidak apa-apa, Nona?” tanya Hyun Joong lembut. Dia membungkuk sedikit untuk melihat wajah yeoja itu dengan lebih jelas. Ada memar sedikit di wajahnya yang putih bersih itu.
“Kau.. Luka..” kata Hyun Joong kaku. Dia tidak biasa menghadapi seorang yeoja yang sedang menangis seperti ini.
“Aku mungkin tidak banyak membantu. Tapi.. Pakailah ini.. Setidaknya, aku harap tidak ada lagi namja hidung belang yang akan mengganggumu..” ujar Hyun Joong seraya melepaskan jas denimnya yang hangat dan menyampirkannya begitu saja ke tubuh yeoja yang sedang menggigil itu.
Yeoja itu masih tidak mengatakan apa-apa saat Hyun Joong beranjak dan berjalan meninggalkannya di tempat itu.
@ @ @
Ji Ho
Mobil yang kami tumpangi melaju di jalanan licin kota Seoul yang dingin malam ini. Salju turun tidak begitu lebat seperti biasanya, tapi tetap saja membuat jalanan licin dan itu membuat para pengendara harus berhati-hati saat turun ke jalan raya. Walaupun salju tidak turun selebat biasanya, tapi flu-ku masih belum sembuh juga. Penghangat di mobil ini tidak membantuku sama sekali, dan aku masih merasa kedinginan.
“Apa kau tidak apa-apa? Bersinmu belum sembuh juga dari pertemuan kita yang kemarin..” JaeJoong oppa melirik sekilas ke arahku sambil mengendarai mobilnya, dan sesekali melihat ke kaca spion di luar mobil.
“Sudah biasa seperti ini. Aku tidak tahan dengan cuaca dingin..” sahutku dengan susah payah. Kali ini hidungku tersumbat dan aku jadi kesulitan bernapas.
“Tapi flu-mu parah sekali.. Kau sudah memeriksakannya ke dokter?” tanya JaeJoong oppa.
“Aku tidak pernah pergi ke dokter. Tapi aku sudah minum suplemen. Biasanya akan berkurang perlahan-lahan..” jawabku.
“Kau harus ke dokter. Mau aku antarkan ke sana?” JaeJoong oppa menatapku. Aku menggeleng cepat-cepat.
“Tidak. Tidak perlu.. Aku akan baik-baik saja, oppa.. Kau tenang saja..” kataku buru-buru.
“Kau benar-benar mengkhawatirkan..” Jae Joong oppa menatapku cemas.
“Hanya flu biasa. Aku akan baik-baik saja.. Lalu bagaimana Jiji? Dia sudah sembuh ‘kan?” tanyaku, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah.. Aku segera membawanya ke dokter saat kau bilang dia mungkin kena flu kucing. Tapi untungnya, sejauh ini tidak apa-apa..” jawab JaeJoong oppa.
“Baguslah kalau begitu.. Karena Jiji termasuk kucing ras, dia rentan kena penyakit ‘kan? Beda dengan Angelo. Biasanya kucing domestik punya ketahanan tubuh yang lebih kuat dibanding kucing ras pada umumnya..” kataku panjang lebar.
“Kau seharusnya mengambil jurusan sekolah kedokteran dan jadi dokter hewan saja..” ujar JaeJoong oppa dengan nada bercanda.
“Aku hanya tertarik pada kucing. Selain itu aku tidak suka. Oh, tapi.. Bagaimana keadaan ayahmu? Kau bilang beliau juga sedang tidak enak badan ‘kan?” tanyaku lagi.
JaeJoong oppa malah tertawa simpul.
“Ne. Biasa.. Penyakit orangtua..” jawabnya kemudian.
“Mwo?” aku mengernyitkan dahi menatapnya bingung.
“Abeoji.. Dia sudah tua sekali. Kau belum bertemu dengannya ‘kan? Dan dia agak banyak bicara. Semua kakakku sudah menikah dan punya anak. Hanya aku satu-satunya yang masih belum menikah. Abeoji berkali-kali mengatakan kalau dia belum akan mati sampai aku memberinya cucu. Dia mendesakku terus menerus untuk cepat menikah dan memberinya cucu sampai sakit begitu.. Ada-ada saja..” jelas Jaejoong oppa panjang lebar. Dia tidak melihat ke arahku dan fokus menyetir dan melihat jalanan di depannya.
Entah kenapa suasana di antara kami jadi secanggung ini. Aku berusaha bersikap biasa saja.
“Ah, kalau begitu cepat menikah dan berikan dia cucu..” sahutku sekenanya. Tapi sepertinya aku salah bicara.
JaeJoong oppa menepikan mobil dan menghentikannya lalu melihat ke arahku dengan tatapan serius.
“Apa kau sudah siap?” tanyanya kemudian.
“E-eh?” aku menatapnya dengan sikap kikuk dan jadi salah tingkah sendiri. Apa-apaan ini?
“Kau yang bilang padaku untuk segera menikah ‘kan? Kau sudah siap untuk itu?” tanya Jaejoong oppa lagi. Kenapa dia jadi menatapku seserius itu??
“Maksudku.. Kau bisa saja menjawab.. Kau sedang mencari yeoja yang tepat..” jawabku kemudian dengan sedikit tergagap. Dan kenapa aku segugup ini?
Lalu tiba-tiba JaeJoong oppa tertawa dengan keras sekali. Dia menatapku dengan tatapan geli seraya tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa kau jadi segugup itu? Tenang saja.. Kurae. Kita sudah sampai di depan gerbang rumahmu..” kata Jaejoong oppa di sela-sela tawa gelinya melihat wajahku yang kebingungan. Aku membuang napas lega sekaligus kesal.
“Kau benar-benar menyebalkan. Kau tahu?” ujarku dengan setengah kesal. Tapi JaeJoong oppa masih tertawa-tawa geli tanpa berdosa.
Aku melepaskan ikatan sabuk pengamanku dengan keras. Tidak lucu sama sekali. Aku hampir kena serangan jantung dengan pertanyaannya tadi, dan dia masih bisa tertawa-tawa seperti itu? Benar-benar mengesalkan. Aku mencoba melepaskan sabuk pengamanku. Tapi sepertinya alatnya macet dan sabuk pengamannya tidak bisa dilepaskan.
“Ini tidak bisa dilepaskan dengan buru-buru seperti itu.. Kau marah padaku?” JaeJoong oppa akhirnya mengulurkan tangannya untuk membantuku melepaskan kaitan sabuk pengaman itu.
“Aku tidak marah. Tapi kau menyebalkan..” sahutku kesal dan mendongak dari sabuk pengamanku untuk menatapnya. Dan baru aku sadari kalau wajahnya sudah dekat sekali dengan wajahku. Tangannya yang satu masih memegangi sabuk pengamanku dan kini namja itu juga ikut menatapku.
Aku membeku di tempatku. Kenapa dia menatapku dengan tatapan seperti itu?
“Op-oppa.. Aku rasa sabuk pengamannya sudah lepas..” ujarku lirih.
Tapi namja itu seperti tidak menggubris kata-kataku. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku perlahan. Dan saat wajah kami sudah mulai berdekatan, tanganku menahan bahunya dengan tiba-tiba.
“Tung- Hatchii~~!!” aku pura-pura bersin dengan keras. Dua kali.
JaeJoong oppa memundurkan tubuhnya dan kembali duduk dengan sikap seperti tadi sambil menatapku.
“Kau benar-benar harus pergi ke dokter, Ai..” ujarnya kemudian. Aku tidak berani menatapnya.
“Ne.. Aku akan pergi ke dokter besok..” kataku kemudian.
“Ya, sudah.. Cepat masuk ke dalam dan segera istirahat. Jangan tidur malam-malam..” kata JaeJoong oppa.
“Ne.. Oppa, gomawoyo. Aku pergi dulu.. Hati-hati di jalan..” jawabku kemudian.
Aku segera membuka pintu mobil dan berjalan buru-buru masuk ke dalam apartemenku tanpa melihat ke arah Jaejoong oppa lagi. Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku sendiri. Aku masih berdebar-debar kalau ingat kejadian di dalam mobil tadi. Walaupun JaeJoong oppa tidak pernah mengatakannya secara terang-terangan padaku, tapi Hyun Joong oppa bilang kalau dia menyukaiku. Aku tidak pernah mengharapkan itu. Maksudku, aku menganggapnya oppa.. sama seperti Hyun Joong oppa. Jadi, saat di mobil tadi dia melakukan itu.. Aku benar-benar tidak menduganya sama sekali.
Fiuhh.. Aku menarik napas dalam-dalam.
@ @ @
Hwang Va Ni sedang mengeringkan rambut panjangnya yang basah dengan handuk malam ini dan tangannya yang satu memegangi ponsel yang menempel di pipinya.
“Sudah aku bilang.. Kau berhenti saja bekerja di tempat itu. Aku akan mencarikan pekerjaan yang lebih baik di sini..” kata suara seorang namja di seberang telepon terdengar agak kesal.
Va Ni menarik napas panjang dan menghelanya dengan cukup keras.
“Tidak bisa, oppa.. Aku harus melakukan ini..” sahutnya.
“Tapi kalau kau harus melayani namja-namja hidung belang itu tiap malam, aku yang tidak bisa mendengarnya..” kata namja di ujung telepon di seberang sana.
“Aku bisa apa, oppa? Aku bahkan tidak punya kekuatan lagi untuk mempertahankan diri..” kata Va Ni pasrah.
“Ya~! Jangan bilang seperti itu. Kau harus tetap menjadi seorang Va Ni yang sekarang. Jangan mulai bicara yang macam-macam. Kalau uangku sudah cukup untuk pergi ke Seoul, aku akan menjemputmu dan kita cari pekerjaan saja di desa..” kata namja itu lagi.
Va Ni tidak segera menjawab. Ada yang bercokol di dadanya saat ini. Yang bahkan lebih menyakitkan dibanding luka memar di sekujur tubuhnya saat ini.
“Kyu Jong oppa.. Bagaimana kalau seumur hidup aku harus bekerja untuk namja itu?” tanya Va Ni.
“Aku tidak akan membiarkan itu.. Sudahlah, jangan berbicara dengan suara putus asa seperti itu. Kau harus tetap kuat, Va Ni ah~ Ingat kata omma-mu? Tetaplah jadi Hwang Va Ni yang tidak pernah menyerah..” kata suara namja yang dipanggil Kyu Jong tadi. Terdengar suara kontruksi bangunan di belakangnya dan beberapa orang terdengar meneriaki namanya.
“Oppa.. Kau sepertinya harus kembali bekerja..” kata Va Ni kemudian.
“Oh.. Ne. Nanti aku akan menghubungimu lagi.. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku lagi, ne?” kata Kyu Jong.
“Emm. Aku pasti menghubungimu.. Oppa, selamat bekerja..” kata Va Ni kemudian.
Lalu telepon di seberang ditutup.
Tinggal Va Ni yang sekarang sendirian di kamarnya yang sempit di apartemen sederhananya. Matanya menatap foto yang terpajang di meja kecil dekat tempat tidurnya. Foto masa kecilnya dengan seorang yeoja yang adalah ibunya. Va Ni menghela napas panjang.
Mengingat semua kenangan dengan ibunya adalah hal yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Walaupun di masa lalu dia memiliki semua hal yang tidak dimiliki anak perempuan pada umumnya, tapi kenangan dengan ibunya adalah salah satu hal yang sangat berharga. Hanya ibunya yang ada di sampingnya saat ayahnya bekerja entah di mana.
Ayahnya.. Ch~! Va Ni tersenyum sinis kalau mengingat nama itu. Dia bahkan akan mempertaruhkan semuanya agar dia tidak punya ayah sepertinya. Namja itu yang membuatnya sekarang menjadi seperti ini. Ibunya koma karena trauma dan sekarang ada di rumah sakit entah untuk waktu berapa lama. Hanya uang dari pekerjaan Va Ni yang sekarang yang mampu menopang hidupnya yang di ambang kematian itu. Va Ni tidak bisa merelakan ibunya pergi begitu saja sebelum dia mengatakan terima kasih banyak pada yeoja itu untuk terakhir kalinya.
Tanpa terasa kedua matanya mengeluarkan airmata secara bersamaan walau Va Ni tidak menginginkannya. Perasaannya perih sekali setiap dia mengingat keadaan ibunya.
Va Ni selalu mencoba tegar di hadapan semua orang. Tapi dia tidak setegar kelihatannya. Kamar ini yang menjadi saksi bisu di saat dia tidak sanggup lagi menahan beban hidupnya yang sekarang. Seperti malam ini.
Tanpa terasa dia menangis lagi dengan sesunggukan. Dan segera dihapus air matanya dengan cepat. Walau pada akhirnya airmatanya akan keluar lagi.
Lalu pandangan matanya tiba-tiba tertuju pada sudut kamarnya. Pada sebuah jas denim mahal berwarna hitam yang tergantung di gantungan pakaiannya. Dan dia mulai teringat dengan kejadian malam ini tadi, kepada seorang namja yang memberikannya jas ini.
Dia mengingat namanya. Kim Hyun Joong.
Siapapun dia.. Dia namja pertama yang ada di tempat itu yang tidak memandang rendah dirinya. Kalau dia bisa, dia ingin keluar dari pekerjaannya yang sekarang dan mulai mencintai namja normal seperti namja bernama Kim Hyun Joong itu.
@ @ @
Ji Ho
Aku melihat secara bergantian dua namja yang ada di depanku ini dengan tatapan ingin tahu. Hyun Joong oppa sedang menikmati birnya dengan diam, sambil sesekali menghela napas panjang saking enaknya. Namja yang satunya lagi hanya minum air jus lemon dari botolnya dan sesekali tertawa-tawa sambil bercanda dengan yeoja-yeoja berpenampilan seksi di sebelahnya. Hyun Joong oppa kelihatan tidak suka saat menatap Hyun Jun ssi mulai bercanda dengan para yeoja itu. Walaupun sikap duduk namja itu tidak sedekat itu dengan para yeoja dan hanya melontarkan lelucon konyol, tapi sepertinya Hyun Joong oppa tidak menyukainya. Dan saat namja bernama Hyung Jun itu menumpahkan minuman ke jaketnya, Hyun Joong oppa dengan segera mengambilkan tisu dan membersitkan tisu itu ke jaket namja itu.
Aku mengernyit heran ke arah kakak sepupuku. Apa-apaan ini? Aku membelalakkan mata menatapnya.
Hyung Jun ssi dengan santai dan tanpa dosa membiarkan saja saat sepupuku melakukan itu. Ini.. Aku rasa aku hampir muntah melihat ini.
“Omong-omong, Ai.. Kenapa kau tiba-tiba ingin ikut dan bergabung dengan kami?” sebuah suara terdengar di sampingku. JaeJoong oppa bertanya dan menatap penuh ingin tahu ke arahku.
“Ah-ahh, itu karena.. Bibi khawatir sekali kalau Hyun Joong oppa akan pulang dengan keadaan mabuk berat seperti beberapa waktu yang lalu..” jawabku sekenanya. Aku masih agak kaku dan sedikit salah tingkah tiap dekat-dekat dengan JaeJoong oppa, mengingat kejadian di mobilnya beberapa waktu yang lalu.
“Aku kira karena yang lainnya..” kata JaeJoong oppa. Sebenarnya memang karena ada alasan lain, batinku seraya menatap Hyung Jun ssi yang sekarang menatapku dengan tatapan sinis. Apa-apaan lagi orang ini?“Hyun Joong hyung.. Adikmu ini menemuiku beberapa hari yang lalu..” kata namja itu tiba-tiba. Aku terkesiap kaget dan menatapnya dengan tatapan protes. Ya~!!
“Benarkah? Wae?” Jae Joong oppa juga menatapku kaget sekarang. Orang ini benar-benar..
“Ah.. An-niyoo.. Kita hanya tidak sengaja bertemu. Iya ‘kan?” sahutku, menatap namja di depanku. Tapi Hyung Jun ssi hanya angkat bahu acuh dan meneruskan minumnya.
Aku mengalihkan pandanganku pada Hyun Joong oppa yang sekarang balas menatapku dengan tatapan penuh tanya. Ahh.. Aku harus menjelaskan ini padanya.
Aku lalu beranjak dari tempat dudukku, menghampiri Hyun Joong oppa dan menarik tangannya untuk keluar dari ruang ini dulu.
“Wae?” Hyun Joong oppa bertanya saat aku menyeretnya keluar dengan agak paksa.
Saat sudah berada di luar ruang VIP itu, aku segera berdiri menghadap namja yang lebih tinggi dariku itu.
“Oppa.. Aku rasa kau benar-benar butuh bantuan..” kataku kemudian.
Hyun Joong oppa tidak menjawab dan hanya menghela napas panjang seraya menatap sekeliling kami tanpa minat.
“Aku tidak tahu, Ai.. Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya..” katanya kemudian.
“Oppa.. Jujur saja. Aku tidak suka melihatmu seperti itu tadi. Baiklah, kau memang hanya sekedar menyayanginya karena kalian sudah sedekat ini semasa sekolah menengah dulu. Tapi bisakah.. Tatapan matamu padanya benar-benar membuatku ingin membantumu..” ujarku putus asa.
“Kau pikir aku sudah sampai di level seperti itu?” tanya Hyun Joong oppa.
“Kau sendiri yang membuatku berpikiran seperti itu. Kau kelihatan tidak suka saat namja itu bicara dengan yeoja-yeoja itu.. Dan kau bahkan melakukan semua hal yang paling kecil pun untuk namja itu. Itu benar-benar membuatku berpikiran yang tidak-tidak..” kataku dengan nada setengah protes.
Hyun Joong oppa mengusap ujung kepalaku dengan tangannya.
“Kalau begitu, pikiranmu yang perlu dibersihkan. Harus diprogram ulang..” katanya.
Aku mendesis pelan.
“Kalau kau.. paling tidak, menyukai satuuu saja yeoja yang pernah aku kenalkan padamu, aku tidak akan berpikiran yang seperti ini..” kataku kemudian.
“Omong-omong.. Bagaimana perkembangan hubungan kalian? JaeJoong hyung sudah mengatakan sesuatu padamu?” Hyun Joong oppa tidak menggubrisku dan malah merubah topik pembicaraan. Aku membuang napas kesal. Namja ini benar-benar tidak bisa diajak bicara serius.
“Terserah kau saja.. Aku akan pulang!” ujarku kesal. Aku lalu berbalik dari hadapannya dan pergi berjalan meninggalkannya. Kalau sudah mulai seperti itu, Hyun Joong oppa benar-benar jadi namja menyebalkan di mataku.
Seorang yeoja berpenampilan minim dengan parfum yang harumnya menyengat sekali, menabrakku saat aku berjalan keluar dari tempat itu. Beberapa yeoja di sekelilingnya terlihat menertawakannya dan terkikik-kikik geli. Aku lalu berhenti berjalan dan sesuatu terlintas dalam kepalaku begitu saja. Aku rasa aku punya ide.
Kalau yeoja biasa tidak bisa membuat seorang Hyun Joong oppa berpaling, bagaimana dengan yeoja yang sedikit liar? Paling tidak, ada seorang yeoja yang bisa menaikan libidonya sebagai seorang namja.
Aku menoleh ke belakang dan melihat beberapa yeoja berpakaian minim sedang berkumpul sambil tertawa-tawa dan sesekali menyesap bir kaleng yang mereka bawa. Seorang bartender namja sedang meracik minumannya di balik meja bar. Aku menghampiri namja yang usianya sepertinya lebih muda dariku itu.
“Oh.. Jogiyo.. Aku ingin bertanya.. Di sini.. Apa ada seorang yeoja yang.. paling menarik?” tanyaku dengan sikap hati-hati.
Namja itu menatapku dengan pandangan aneh dan sedikit meremehkan.
“Park Hae Rin..” tunjuknya pada seseorang yang tak jauh dari kami. Aku mengikuti arah telunjuknya. Pandanganku jatuh pada yeoja yang sedang duduk di salah satu dan dikelilingi banyak namja. Yeoja itu berpakaian sangat minim dengan make up tebal serta rambut panjang yang dicat merah menyala. Aku mengernyitkan dahi saat yeoja itu tertawa dengan suara sangat keras. Hyun Joong oppa tidak akan suka dengan yeoja norak seperti itu. Aku menggeleng keras-keras.
“Apa tidak ada yeoja lain.. yang lebih.. berkelas?” tanyaku.
Bartender muda itu kembali menatapku dengan pandangan aneh dan sedikit bingung.
“Hwang Va Ni. Tapi dia sedang menemui pemilik bar. Di bilik yang di sana. Kau bisa menunggunya kalau kau mau..” namja itu menunjuk sebuah ruangan yang ada di sudut tempat ini. Ruangan itu agak tersembunyi di antara ruang-ruang lain yang ada di tempat itu.
“Kurae.. Terimakasih banyak..” kataku kemudian. Aku lalu segera berjalan ke tempat yang dimaksud bertender itu tadi.
Ada beberapa namja berpakaian hitam yang berdiri di luar ruangan itu dengan sikap kaku dan tegak. Dilihat dari penampilannya sepertinya mereka adalah bodyguard yang berjaga di sana. Jadi daripada aku kena masalah, lebih baik menunggu di sini saja.
Aku menyandarkan tubuhku ke dinding kosong di belakangku sambil mengeluarkan ponselku. Seorang namja dan seorang yeoja melewatiku sambil berdekapan dengan mesra, sambil sesekali namja itu meyentuh bagian sensitif tubuh yeoja itu dan si yeoja terpekik centil. Aku menggelengkan kepala dan mengabaikan mereka. Suara dentuman musik mulai diputar semakin keras dan beberapa orang mulai berdansa dengan liar di lantai dansa.
Beberapa saat kemudian, pintu bilik itu terbuka dan seorang yeoja keluar dari ruangan itu dengan wajah yang tanpa ekspresi dan terkesan dingin sekali. Ini Hwang Va Ni itu? Aku melihat penampilan yeoja itu dengan seksama. Pakaiannya yang minim dan sedikit terbuka dan memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambut panjangnya digelung ke belakang dan dia mengenakan high heels tinggi sekali. Make up-nya tidak terlalu tebal, dan terkesan sederhana tapi berkelas. Dia berjalan dengan wajah tanpa ekspresi dan menampik dengan keras tangan seorang namja paruh baya yang mencoba meraih bahunya.
Yeoja itu berjalan ke arahku dengan sedikit terburu.
“Oh. Hwang Va Ni ssi?” tanyaku seraya menghentikan langkah yeoja itu.
Yeoja itu berhenti berjalan dan menatapku dengan pandangan penuh tanya.
“Kau Hwang Va Ni?” tanyaku lagi.
“Ne..” jawab yeoja itu seraya mengangguk. Aku tersenyum kepadanya.
“Ahh.. Bisa kita bicara sebentar?” tanyaku ragu-ragu.
Yeoja itu mengernyitkan dahi menatapku.
“Tentang?” tanyanya.
“Bagaimana kalau kita bicara di tempat yang agak sepi?” aku mencoba bicara dengan nada yang aku buat sebiasa mungkin.
“Maaf, tapi aku harus segera bekerja.. Jadi kalau ingin membicarakan sesuatu, lebih baik cepat dibicarakan di sini saja..” ujar yeoja di depanku ini. Aku agak terkesiap dengan cara bicaranya yang tajam dan dingin itu.
“Oh.. Baiklah. Begini.. Bisakah aku meminta bantuanmu?” tanyaku.
“Bantuan.. semacam apa?” Hwang Va Ni balik bertanya dengan dahi berkerut.
Aku tidak segera menjawab dan masih mempertimbangkan apa yang harus aku katakan pada yeoja.
“Bisakah kau membuat seseorang jatuh cinta?” tanyaku pada akhirnya.
Sekali lagi dalam hidupku, aku dipandang dengan tatapan aneh berkali-kali oleh beberapa orang malam ini. Va Ni ssi kelihatan sekali menatapku dengan tatapan kebingungan.
“Aku tidak mengerti..”
“Begini.. Aku ingin kau membuat seseorang jatuh cinta padamu. Itu saja. Aku akan membayarmu berapapun yang kau minta. Asal kau bisa membuatnya jatuh cinta pada yeoja.. Maksudku, padamu..” ujarku buru-buru.
“Nona.. Perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan begitu saja..” kata yeoja di depanku.
“Aku tahu. Tapi ini darurat. Dan ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan. Lakukan apa saja untuk membuat namja itu kembali menyukai.. Maksudku, menyukaimu, Va Ni ssi..” selaku.
Va Ni ssi kelihatan masih mempertimbangkan jawabannya.
“Ahh.. Mungkin kau harus melihatnya dulu sebelum kau mau menerimanya atau tidak.. Ini fotonya. Dia kakak sepupuku.. Dan, dia butuh bantuan..” ujarku seraya mengeluarkan ponselku dari tasku dan menunjukkan foto Hyun Joong oppa padanya.
“Butuh bantuan?” Va Ni ssi kembali menatapku bingung.
“Sudah.. Kau lihat saja dulu fotonya..” kataku seraya menyerahkan ponselku padanya. Untuk beberapa saat, yeoja itu tidak bicara dan hanya menatap foto Hyun Joong oppa dengan diam.
“Namanya Kim Hyun Joong. Pewaris tunggal perusahaan fashion terkenal, NorthWest Corporation.. Otteyo?” tanyaku.
Tanpa aku duga reaksi yeoja itu melebihi dugaanku. Yeoja itu mendongak dan menatapku dengan cepat sekali.
“Kim Hyun Joong ssi?” tanyanya dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. Apa dia mengenal Hyun Joong oppa?
“Ne..” aku mengangguk.
Yeoja itu diam lagi untuk beberapa saat seraya mengembalikan ponselku. Dia tidak segera menjawabnya dan hanya menghela napas pelan.
“Aku akan menghubungimu lagi setelah ini, Nona. Bisa aku minta nomor ponselmu?” tanya Va Ni ssi. Aku melebarkan mataku dengan antusias.
“Ah, ne.. Tunggu sebentar..” aku sudah hampir menyalakan lagi ponselku saat aku mendengar seseorang bicara dengan suara kasar di belakangku.
“Kenapa kau masih berdiri di sini? Aku tidak membayarmu hanya untuk mengobrol di sini..” sebuah suara namja terdengar di belakangku.
Aku menoleh ke belakang dan mendapati seorang namja bertubuh tinggi berdiri di belakangku dengan dua orang berpakaian serba hitam di belakangnya.
Aku mundur ke belakang beberapa langkah.
Va Ni ssi segera meninggalkan tempat itu tanpa bicara padaku dan langsung pergi begitu saja tanpa menoleh ke arahku.
“Aiisss~~~” aku mendesis kesal.
Lalu aku melihat ke arah namja tinggi yang masih berdiri di sana dengan penuh ingin tahu. Namja itu balas menatapku dengan sedikit mengernyit dan melihat penampilanku dengan pandangan aneh. Aku balas menatapnya dengan dahi berkerut. Ada masalah dengan penampilanku? Batinku kesal.
Namja itu berjalan melewatiku dengan sikap angkuh dan tidak mengatakan apa-apa.
“Semua orang di sini aneh..” desisku pelan seraya menggeleng tak percaya.
“Apa katamu? Aku mendengarmu, Nona..” namja itu tiba-tiba berbalik dan menatapku dengan tatapan tajam.
Aku terkesiap dan mencoba mengabaikan tatapan namja itu dan segera berjalan terburu meninnggalkan tempat itu. Ayo, Ai~~~ Segera pergi dari tempat ini dan jangan buat masalah lagi..