expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

OPENING

Opening

Blog ini berisi konten-konten terlarang.. Hehehe. Bo'ong, diiiing.. Blog ini khusus buat para Triple S dan orang-orang yang dengan sukarela menghargai karya orang lain.. Dikhususkan buat para penggemar fanfiction yang gak suka bashing dan suka menghargai karya orang lain. If you don't like it, JUST LEAVE THIS PAGE!! We don't need bashing.. Kalau kritikan, fine.. Tapi bukan untuk dicaci maki dan dihina. Jadi, sekali lagi.. We need your supports. Dan yang terpenting dari segala yang terpenting adalah.. DILARANG MENGCOPY TANPA IJIN APALAGI MENGKLAIM DENGAN SENANG HATI KALAU INI ADALAH HASIL KARYANYA. Semua yang ada di sini ditulis oleh kami sendiri. Bukan saduran maupun plagiat dari mana-mana. Atas perhatiannya. Saya ucapkan terima kasih..


NOTE: Komen dan kritikan dan saran saaaaangaaat ditunggu.. ^^

Author

Rabu, 16 November 2016

Regret 3

Waktu sudah menujukkan hampir lewat tengah malam. Jalanan itu sudah terlihat lengang dan tidak tampak orang berlalu lalang seperti beberapa saat yang lalu. Hanya ada anjing dan kucing liar yang mengorek-orek isi tempat sampah untuk mencari makan. Jeong In terlihat mengerling ke arah jam tangannya beberapa kali dengan sikap gelisah. Begitu pula dengan Jung Min yang duduk di kursi di sampingnya. Mereka berdua sekarang ada di jalan Nohyeondong timur dan sedang berada di mobil dinas, sambil melihat ke arah jalanan di sekitar mereka dengan seksama. Jung Min sudah menghabiskan sebotol soju serta satu paket ayam goreng selama mereka menunggu di tempat ini sejak dua jam yang lalu.
“Apa tidak apa-apa membiarkannya sendirian di sana?” tanya Jung Min, mengerling ke arah jalanan di depannya. Terlihat seorang gadis berpakaian seksi sedang berdiri di depan pagar rumah orang. Dia adalah Kim Ji Ho. Dengan paksaan dan iming-iming akan mentraktir gadis itu selama sebulan, akhirnya Jung Min bisa membujuk Ji Ho untuk terlibat dalam penyelidikannya kali ini. Sebenarnya kasihan juga memaksanya berpakaian seperti itu di tengah malam. Lagipula Ji Ho sendiri yang bilang kalau ini adalah pertama kalinya seumur hidup dia berpakaian seperti itu.
“Kau ingat kata-katanya tadi, kalau sampai kita gagal menangkap perampok itu malam ini, dia akan mencincangku karena memaksanya berpakaian seperti itu,” kata Jung Min.
Jeong In hanya mendengus geli.
“Kau benar-benar berhasil membuatnya kesal,” katanya.
“Lagipula dia juga lumayan cantik kalau berdandan seperti itu kan? Bagaimana menurutmu?” Jung Min mengangkat alis ke arah Jeong In, meminta pendapat. Jeong In hanya menjawabnya dengan decihan pelan.
“Kalau kau suka padanya, cepat katakan. Jangan terus menerus membuatnya kesal,” katanya datar.
Jung Min membelalak menatap Jeong In.
“Apa katamu?”
“Ssh. Jaga suaramu, bodoh!” desis Jeong In dengan setengah kesal.
“Maaf. Tapi omong-omong, bagaimana kau tahu kalau mereka akan melakukan perampokan di sini malam ini? Aku kan sudah bilang kalau tempat dan waktu kejadian tidak selalu sama,” kata Jung Min dengan rasa penasaran.
“Tadi siang aku melakukan penyelidikan ulang. Dan para korban bilang kalau dari tubuh pelaku menguarkan aroma parfum yang khas. Aku bertanya ulang pada mereka dan memberi contoh beberapa aroma parfum yang mungkin mereka kenal. Dan aroma yang mereka cium ternyata berasal dari aroma parfum laundry,” jelas Jeong In.
Jung Min kembali membelalakkan matanya kaget.
“Apa maksudmu pelakunya adalah pemiliki usaha laundry?” tanyanya.
“Aku pikir juga begitu. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, itu bukan alasan yang berdasar. Karena semua orang yang memiliki usaha tertentu, belum tentu memakai produk yang mereka miliki. Aku menyusuri daerah ini. Semua tempat aku datangi. Dan ada sebuah tempat perjudian di daerah ini. Mereka menggunakan aroma pengharum ruangan yang hampir sama dengan aroma yang aku maksud tadi. Lalu aku menyimpulkan kalau mungkin saja dua pelaku itu sering datang ke sini untuk melakukan perjudian. Karena setelah aku berada di ruangan itu lebih dari sepuluh menit, dari pakaianku jadi tercium aroma yang sama. Saat aku bertanya pada pemiliknya, dia bilang memang ada dua orang yang sering datang ke tempat itu,” kata Jeong In.
“Tunggu. Kau menyelidiki tempat perjudian? Tapi.. kau kan polisi,” Jung Min berkata dengan nada tak percaya.
“Untuk urusan itu kita serahkan pada yang lainnya. Tugas kita sekarang adalah menangkap pelaku perampokan ini, bukan perjudian,” sela Jeong In.
“Lalu kenapa kau bisa simpulkan kalau mereka akan melakukan perampokan di sini?”
“Secara tidak langsung, pelaku ini punya pola. Yah, aku tidak bisa bilang itu pola, lebih pada bergantung pada kesempatan menurutku. Mereka merampok di tempat yang berbeda-beda, di waktu yang berbeda-beda. Yang sama adalah mereka memanfaatkan keadaan. Mereka melakukan perampokan tiap ada orang yang bisa mereka rampok. Dan yang menjadi sasaran mereka adalah gadis-gadis muda yang tidak punya pertahanan yang kuat,” jelas Jeong In lagi.
“Itu tidak menjelaskan semuanya. Aku masih bingung,” Jung Min berkata seraya menggaruk kepalanya.
Jeong In menatapnya dengan tidak sabar.
“Makanya pakai otakmu,” katanya seraya memukul kepala Jung Min dengan gemas. “Sudah aku bilang mereka tidak menentukan lokasinya. Cara mereka melakukan perampokan pun masih terlalu amatiran, tidak memperhatikan keadaan sekitar dan terlihat gegabah. Mereka hanya merampok saat ada orang yang bisa dirampok. Dan kali ini Ji Ho adalah umpannya. Kalau dugaanku benar, perampok itu akan muncul sebentar lagi. Ji Ho kelihatan seperti gadis yang punya banyak uang kan?”
Jung Min mengangguk-angguk menyetujuinya.
“Oh, lihat itu!” dia langsung menunjuk pada jalanan di depannya.
“Hubungi Ji Ho,” perintah Jeong In dengan nada lirih. Dia lalu menghubungi beberapa petugas yang sudah dia perintahkan berjaga-jaga di sisi jalan yang lain. Jeong In sengaja menggiring perampok untuk datang ke jalan ini dengan memperingatkan beberapa orang di jalan lain untuk tidak keluar rumah setelah jam sebelas malam.
“Ji Ho, bersiap-siaplah. Dua orang sedang berjalan menuju ke arahmu,” kata Jung Min melalui alat komunikasi di tangannya.
Jeong In bersikap waspada dengan meletakkan tangan di gagang pintu mobil. Siap-siap menyerang maju kapanpun dibutuhkan. Meskipun Ji Ho adalah gadis tangguh di matanya, tapi dalam keadaan seperti ini siapa saja bisa jadi tidak bernyali. Apalagi selama Ji Ho hanya bekerja di belakang komputer, mengurusi administrasi kantor. Ini adalah pertama kalinya gadis itu ikut terlibat dalam penyergapan seperti ini.
Dua orang itu memakai topi hitam yang menutupi hampir sebagian wajah dan mereka berjalan dengan menundukkan kepala.
“Jangan melakukan pergerakan aneh. Terus berjalan dengan sikap santai. Kami ada di depanmu,” Jung Min berusaha menenangkan Ji Ho melalui alat komunikasinya.
Dari tempat Jeong In duduk sekarang, dia bisa melihat Ji Ho sedang berjalan menuju mobil mereka dengan sikap tenang yang dibuat-buat. Ada ketegangan dari caranya berjalan. Tapi dia tetap melaksanakan tugasnya dengan baik.
Lalu saat kedua orang itu mulai semakin mendekat, Jung Min sudah akan membuka pintu mobil saat Jeong In menahannya.
“Tunggu sampai mereka melakukan sesuatu,” ujar Jeong In, dengan suara pelan tapi tegas.
Kedua orang itu semakin mendekat ke arah Ji Ho. Tinggal beberapa langkah lagi sampai kedua orang itu berhasil mendekati Ji Ho dan mengambil tasnya.
Salah seorang tampak berjalan dengan agak cepat. Kejadiannya berlangsung cepat sekali sebelum mereka sempat bertindak apa-apa. Salah satu dari mereka yang bertubuh lebih pendek merenggut tas di tangan Ji Ho dengan cepat sekali.
Jeong In dan Jung Min segera keluar dari mobil dan berlari ke arah Ji Ho seraya mengeluarkan pistol dari saku jaket mereka.
Sambil berlari ke arah Ji Ho mereka melihat tiga orang petugas lain berlari dari arah berlawanan dan mengepung salah satu perampok yang akan melarikan diri. Sementara perampok yang berhasil merenggut tas Ji Ho masih ada di sana. Hal yang membuat Jeong In tercengang dan berhanti berlari adalah karena Ji Ho berhasil memelintir salah satu tangan perampok dan membuat si perampok merintih kesakitan.
“Kau mau apa, hah? Melakukan hal-hal jahat pada perempuan muda. Dasar tidak tahu diri!” seru Ji Ho dengan wajah kesal seraya memelintir tangan si perampok semakin kuat.
Jeong In dan Jung Min yang tiba di sana hanya melihat kejadian itu dengan wajah tercengang. Ini tidak seperti yang mereka bayangkan.
Perampok itu memohon pada Ji Ho untuk melepaskan tangannya. Dan saat topinya terjatuh dan memperlihatkan wajah si perampok, Jeong In semakin tercengang tak percaya.
“Wah! Bukankah kau si pemilik tempat judi itu?” seru Jeong In, menunjuk pada seorang pria paruh baya yang kini tak berkutik di dalam kungkungan Ji Ho.
“Maafkan aku, maaf. Aku tidak berniat melakukan ini pada siapapun. Aku hanya meminjam uang mereka. Karena usahaku bangkrut dan aku butuh uang untuk berjudi agar menang, jadi aku meminjam uang anak-anak muda ini. Akan aku kembalikan suatu saat kalau aku menang judi dan usahaku bisa kembali lagi.”
“Wah, pak tua ini benar-benar... Tetap saja itu kejahatan! Petugas Kim, tolong bawa paman tak tahu diri ini. Yang benar saja!” Ji Ho berseru pada salah satu petugas yang masih berdiri berlawanan arah dengannya.
Setelah pelaku perampokan itu diringkus dan dibawa para petugas ke kantor polisi, Jung Min sepertinya masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.
“Kau.. Tapi bagaimana kau bisa?”
“Hei, sunbae, bagaimanapun juga aku ini polisi. Kau pikir aku tidak diberi pelajaran mempertahankan diri? Yang benar saja,” Ji Ho berujar dengan nada enteng.
“Tapi kau benar-benar membuatku terpukau, Kim Ji Ho,” Jeong In memuji gadis itu.
Ji Ho menoleh pada Jeong In dan tersenyum manis padanya.
“Terima kasih, sunbaenim,” katanya seraya menundukkan kepalanya dengan sopan.
“Baiklah, aku harus kembali ke kantor untuk mengurusi ini. Terimakasih atas bantuanmu, Ji Ho,” ujar Jeong In.
“Tidak masalah. Aku siap membantu kapan pun,” sahut Ji Ho.
“Kalau begitu, biar Jung Min mengantarmu pulang. Ini sudah larut sekali,” kata Jeong In seraya melemparkan kunci mobil pada Jung Min. Jung Min menangkap kunci itu dengan sikap kikuk.
“Ap-hei!” seru Jung Min tak terima.
Tapi Jeong In tidak menggubrisnya dan terus berjalan ke mobil patroli yang mengangkut dua perampok tadi. Urusannya dengan perampok itu belum selesai sampai di sini.
Tapi bayangan wajah Hyun Ae sedari tadi terus menerus memenuhi benaknya.
*****

“Aku akan kembali lagi besok. Kita bertemu di tempat biasa, ya?”
Hyun Ae menatap sosok di depannya dengan tatapan kaget sekaligus tak percaya.
“Ji Hwan?” tanyanya dengan dahi berkerut. Laki-laki di depannya tersenyum.
Hyun Ae memandang sekelilingnya dengan tatapan bingung. Dia tidak berada di apartemennya melainkan di sebuah kedai makan yang sangat dikenalnya. Ini adalah kedai makan daging sapi panggang yang sangat disukai Ji Hwan. Kedai ini selalu dikunjungi banyak orang. Tapi kali ini entah kenapa hanya dia dan Ji Hwan yang duduk disana, bahkan pemiliknya pun tidak kelihatan. Hyun Ae kembali menatap sosok laki-laki yang sedang duduk di depannya dengan tatapan penuh tanya. Laki-laki itu sedang memanggang beberapa iris daging di atas pemanggangan.
“Kata orang di sini adalah kedai makan bulgogi paling enak di Kangnam karena memakai arang untuk proses pembakarannya. Menurutmu bagaimana, Hyun Ae?” Ji Hwan bertanya seraya menatap Hyun Ae dan tangannya terus membolak balikkan daging di depannya.
Hyun Ae merasa seluruh tubuhnya membeku bahkan lidahnya seolah kaku dan sulit digerakkan.
“Oppa?” akhirnya suaranya keluar walaupun lirih sekali. Ji Hwan mendecih dan menatapnya setengah kesal.
“Kenapa? Kau seperti baru saja melihat hantu,” katanya seraya memakan daging panggangnya.
“Ini benar-benar kau?” tanya Hyun Ae lagi, masih tidak percaya dengan penglihatannya.
Kali ini Ji Hwan berhenti membolak balikkan daging dan menatap Hyun Ae dengan tatapan bingung.
“Kau pikir siapa? Apa aku punya saudara kembar?” sahutnya.
“Tapi...” suara Hyun Ae mulai bergetar dan dia merasa sebentar lagi airmata akan jatuh ke pipinya. Pandangannya sudah mengabur karena airmata yang mulai menggenang di matanya.
“Omong-omong, kau dengar tidak tadi aku bilang apa? Aku akan pergi ke luar kota besok pagi. Aku tidak akan mengingkari janji untuk menemanimu menonton hari Minggunya,” ujar Ji Hwan.
Hyun Ae langsung terkesiap dan teringat sesuatu. Bukankah ini adalah kenangan sehari sebelum Ji Hwan pergi keluar kota dan terjadi kecelakaan itu? Apakah ini hanya mimpi?
“Jangan! Jangan pergi ke sana!” Hyun Ae langsung berseru dengan ngeri. Dia tidak bisa membayangkan Ji Hwan yang saat ini duduk dengan wajah ceria seperti biasa, akan mengalami kecelakaan tragis kalau dia benar-benar pergi.
Ji Hwan balas menatapnya dengan bingung.
“Eh? Kenapa?”
“Aku mohon... jangan pergi,” pinta Hyun Ae dengan suara tercekat. Saat ini airmatanya sudah benar-benar turun ke pipinya.
“Hyun Ae?” panggil Ji Hwan dengan suara khawatir.
Hyun Ae tidak menjawab. Dia hanya bisa terus menangis menatap wajah Ji Hwan yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung itu. Hyun Ae tidak mengerti kenapa dia bisa berada kembali di tempat ini. Dia yakin ini hanyalah mimpi. Ji Hwan sudah meninggal dan dia tidak mungkin kembali lagi. Tapi walaupun ini adalah khayalannya maupun mimpi, Hyun Ae benar-benar ingin mencegah Ji Hwan untuk pergi. Dia tidak tahu kalau ternyata mimpi pun bisa membuatnya merasa sesakit ini.
“Kumohon jangan pergi. Sekali ini saja, dengarkan aku,” kata Hyun Ae.
“Kau biasanya tidak seperti ini. Kenapa? Apa kau marah sekali sampai menangis? Hyun Ae, aku tidak bisa melihatmu menangis begini,” Ji Hwan menatap Hyun Ae dengan tatapan bingung.
Hyun Ae menangis semakin keras. Dia menutupi wajahnya yang sudah basah oleh airmata dengan kedua tangannya. Dia hanya ingin meluapkan semua emosinya saat ini, meskipun sosok Ji Hwan di depannya ini bukanlah sosok Ji Hwan yang asli. Hyun Ae hanya membayangkan seandainya dia benar-benar bisa mencegah Ji Hwan pergi kala itu. Tapi apa yang dilakukannya saat itu? Dia sama sekali tidak ingat apa yang dikatakannya pada Ji Hwan sebelum laki-laki itu pergi. Apa mereka bertengkar?
“Hyun Ae? Kau tidak apa-apa?”
Hyun Ae masih terisak tapi dia menyadari sesuatu. Ada berubah dengan suara Ji Hwan.
“Hyun Ae?”
Hyun Ae berhenti menangis dan langsung membuka matanya.
Kedua matanya terasa lengket dan basah. Dia langsung mengusapnya dan baru menyadari kalau dia tidak berada di kedai makan bulgogi, melainkan sedang berbaring di atas sofa. Hyun Ae langsung menegakkan tubuhnya sambil mengusap wajahnya berkali-kali.
Saat dia menyadari kalau dia baru saja bermimpi dan dia masih ada di apartemennya, Hyun Ae merasa kepalanya berdenyut tak karuan. Matanya bahkan basah oleh airmata. Apa dia baru saja tidur sambil menangis?
“Oh, ya, ampun,” desahnya lelah seraya mengusap matanya agar bisa melihat dengan jelas.
Saat menyadari kalau Jeong In sudah duduk di depannya sambil menatapnya dengan wajah khawatir, Hyun Ae kembali mendesah panjang. Dia benar-benar malu sekali rasanya ketahuan tidur sambil menangis.
“Kau bermimpi buruk?” tanya Jeong In lagi.
“Ya, aku rasa begitu,” jawab Hyun Ae seraya menatap sekelilingnya. Dia masih berada di ruang tengah. Sofa yang didudukinya kelihatan berantakan, seperti baru saja ditiduri seseorang.
“Apa kau baru pulang?” tanya Hyun Ae seraya menatap Jeong In yang tampak masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakainya semalam.
“Ya. Aku baru saja selesai mengurus kasus perampokan yang terjadi beberapa hari ini,” jelas Jeong In.
Hyun Ae mengangguk-angguk tanda dia mengerti sebelum akhirnya dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Lantai terasa bergoyang saat dia melangkahkan kakinya. Dia hampir terhuyung tapi bisa menguasai dirinya.
Sesampainya di kamar mandi dia langsung mencuci wajahnya di wastafel dan mengusap-usapnya dengan keras.
Mimpi tadi benar-benar seperti nyata baginya.
Apa dia mengigau? Apa Jeong In memergokinya mengigau sambil menangis? Ah, benar-benar memalukan.
Hyun Ae menatap cermin yang tergantung di atas wastafel. Wajahnya yang basah oleh air masih tampak membengkak. Matanya bahkan kelihatan sayu karena semalaman dia hampir tidak tidur. Rambut sebahunya sekarang benar-benar kelihatan berantakan dan dia segera merapikannya dengan asal.
Hyun Ae kembali mendesah lelah. Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Ini semua benar-benar membingungkan. Bahkan untuk keluar dan berhadapan dengan Jeong In saja rasanya tidak bisa dia lakukan. Mengingau saat tidur itu adalah salah satu hal paling memalukan untuknya, apalagi sampai disertai dengan tangisan.
“Apa kau mau sarapan di luar?”
Hyun Ae terlonjak kaget saat dia mendengar suara pintu terbuka disertai wajah Jeong In yang tiba-tiba muncul.
“Oh, kau mengagetkanku,” serunya kaget.
“Maaf. Tapi apa kau mau sarapan di luar atau kita memesan makanan?” Jeong In mengulang pertanyaannya.
“Terserah kau saja,” jawab Hyun Ae.
“Baiklah. Kita makan di luar saja kalau begitu. Kau bisa bersiap-siap,” kata Jeong In seraya menutup pintunya lagi.
*****

Kedai tempat mereka makan adalah sebuah kedai makan sederhana yang ada di daerah Itaewon, beberapa kilometer dari apartemen mereka yang di Kangnam. Itu adalah sebuah kedai makan dengan dekorasi asing dan beberapa orang asing juga terlihat makan di sana sambil bersantai bersama beberapa teman, baik orang lokal maupun sesama orang asing.
Jeong In memilih sebuah tempat duduk yang agak menjauh dari pintu masuk jadi merek tidak terlalu terganggu dengan beberapa pengunjung yang keluar masuk dari pintu itu. Jeong In bilang dia tidak mau makannya terganggu karena beberapa orang yang lewat di sekitarnya.
Dan saat ini Hyun Ae hanya duduk di kursinya, sambil memandangi Jeong In yang sedang lahap sekali menghabiskan makanannya. Dia bahkan tidak peduli dengan tatapan Hyun Ae yang sedari tadi melihatnya dengan wajah heran. Porsi makan Jeong In benar-benar di luar dugaannya. Pantas saja kalau dia punya tubuh tinggi di atas rata-rata begitu kalau makannya saja sebanyak ini.
“Apa kau selalu makan sebanyak itu?” tanya Hyun Ae hati-hati, takut menyinggung Jeong In.
Laki-laki itu mendongak dan melihatnya dengan mulut penuh makanan.
“Aku lapar karena semalam belum makan apapun. Dan, iya, aku harus makan banyak agar kerjaku bagus,” jawabnya seraya kembali fokus pada makanannya.
Hyun Ae mendecih pelan. Dia bahkan sudah menghabiskan dua piring nasi dan Hyun Ae bahkan belum habis satu piring pun. Dia menatap sekeliling ruangan itu. Beberapa pelayan di sini tadi menyapa Jeong In saat mereka masuk ke dalam kedai ini.
“Apa kau selalu ke tempat ini? Karena sepertinya beberapa pelayan di sini mengenalmu dengan baik,” kata Hyun Ae kemudian.
“Kita lebih tepatnya. Kau suka nasi kare di sini,” kata Jeong In, seraya meneguk tehnya dengan mulut masih penuh nasi.
“Benarkah? Pergi ke Itaewon hanya untuk makan di sini?” tanya Hyun Ae tak percaya.
Jeong In angkat bahu seraya menghabiskan tehnya dengan sekali tegukan.
“Bagaimana? Kau sudah kenyang?” tanyanya kemudian.
Hyun Ae menyingkirkan piringnya dan meneguk minumannya. Dia bukan tipe orang yang suka menyisakan makanan. Tapi kali ini dia sedang tidak benar-benar ingin makan dan porsi makanannya benar-benar di luar daya tampung lambungnya.
“Padahal kau sering bilang kalau menyisakan makanan itu adalah hal paling merugikan di dunia,” kata Jeong In seraya menatap sisa-sisa makanan di piring Hyun Ae.
Hyun Ae hanya tersenyum kaku. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ditanyakan Hyun Ae pada Jeong In, tapi dia merasa belum siap. Dia hanya takut Jeong In akan merasa tersinggung karena dia bertanya banyak hal padanya. Terutama tentang kecelakaan yang menimpa Ji Hwan.
“Apa yang kau lakukan semalam? Kenapa kau tidur di sofa?” tanya Jeong In tiba-tiba.
“Entahlah. Sepertinya aku tertidur saat melihat drama tengah malam,” kataku.
“Wah, kau melihat drama? Kau dulu sering bilang kalau drama itu membosankan,” kata Jeong In.
Hyun Ae tidak segera menjawab dan terdiam untuk beberapa saat. Dia sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Tapi sebenarnya... bagaimana kita bertemu dan bisa seperti ini?” tanyanya kemudian.
“Aku sudah tahu pertanyaan itu akan keluar. Apa kau akan mendengarkanku? Karena ceritanya panjang dan lumayan rumit,” kata Jeong In.
“Apapun asal itu membantuku dan aku tidak seperti orang bodoh karena kebingungan terus,” jawab Hyun Ae sekenanya.
Jeong In tertawa pelan. Dia menatap Hyun Ae dengan tatapan geli.
“Ada apa?” Hyun Ae balas menatapnya dengan dahi berkerut.
“Perlahan-lahan kau kembali pada kepribadian aslimu. Hyun Ae yang keras kepala dan suka berbicara sesukanya,” jawab Jeong In.
Hyun Ae kembali mendecih pelan. Kenapa dia seperti mendengar Ji Hwan yang berbicara seperti itu? Itu adalah kata-kata pamungkas Ji Hwan kepadanya saat mereka bertengkar atau adu argumen. Hyun Ae yang keras kepala..
“Jadi? Bagaimana kita bertemu? Karena menurutku ini terlalu aneh, bagaimana aku bisa mengenal seorang detektif sepertimu?” tanya Hyun Ae tak habis pikir.
Jeong In tampak ragu untuk mengatakannya. Dia meraih gelasnya dan menuangkan teh dari poci kecil di atas meja itu ke dalam gelasnya, sebelum akhirnya meneguknya lagi.
“Aku masih menjadi petugas polisi yang bekerja di unit layanan masyarakat saat kau datang ke kantor polisi untuk melaporkan kecelakaan yang menimpa Ji Hwan,” jawabnya kemudian.
Kedua mata Hyun Ae membelalak lebar.
“Benarkah?” tanyanya dengan nada setengah terkejut.
Jeong In mengangguk.
“Kau bilang bahwa kecelakaan yang menimpa Ji Hwan harus diusut tuntas. Kecelakaan itu bukan murni tabrak lari biasa. Kau menuntut kepolisian untuk segera menangkap pelakunya,” kata Jeong In.
Hyun Ae mengernyitkan wajah menatap Jeong In.
“Kenapa aku bilang begitu?” tanyanya.
“Aku juga tidak tahu. Kau tidak pernah mengatakan alasannya. Kau hanya bilang mobil yang menabrak Ji Hwan harus segera diidentifikasi beserta penumpangnya. Tapi saat itu kami tidak bisa berbuat apa-apa. Yang terlihat saat itu memang murni kecelakaan tabrak lari. Bukan sesuatu yang disengaja. Tapi kau terus menerus bersikeras kalau pelaku yang menabrak mobil Ji Hwan harus segera ditemukan dan memberikan bukti-bukti pada kami. Sayangnya, bukti-bukti itu tidak cukup kuat sehingga kasus itu tetap dinyatakan sebagai kecelakaan murni,” jelas Jeong In.
“Lalu apa yang terjadi setelah itu? Apa aku menyerah?” tanya Hyun Ae lagi.
“Kau tidak muncul lagi di kantor kami selama berbulan-bulan. Dan sampai sekarang aku juga tidak tahu apa yang kau lakukan setelah itu. Lalu kita bertemu lagi saat kau melapor kalau temanmu mengalami kekerasan rumah tangga yang dilakukannya suaminya. Kau datang ke kantor kami sambil membawa bukti-bukti kalau temanmu telah mengalami kekerasan rumah tangga. Jadi kami pergi ke rumah temanmu dan menangkap suaminya yang saat itu sedang mabuk berat,” kata Jeong In.
“Hanya itu?” tanya Hyun Ae, rasa penasarannya sama sekali belum terjawab.
“Tentu saja tidak. Ada satu kasus yang membuatku akhirnya mendapat promosi dan dipindah tugaskan ke kantor kepolisian Kangnam,” kata Jeong In.
“Apa itu?”
“Aku menangkap pelaku perampokan bank yang selama beberapa bulan menjadi buronan. Aku berhasil menangkapnya dan nyawaku hampir melayang saat itu karena pelaku perampokan itu membawa senjata api,” kata Jeong In.
“Dan kau akhirnya diangkat menjadi detektif?” tanya Hyun Ae.
Jeong In mengangguk seraya tersenyum.
“Tapi itu sama sekali belum menjawab kenapa kita bisa bertemu,” kata Hyun Ae.
“Memang tidak, sih. Tapi saat itu aku bertemu denganmu di makam Ji Hwan. Tidak bertemu secara langsung. Saat itu aku sedang dalam tugas menyelidiki sesuatu dan kebetulan ada di daerah itu. Lalu aku melihatmu di makam itu. Kau seperti zombie, seolah nyawamu sudah tidak berada di ragamu lagi,” kata Jeong In.
“Apa aku kelihatan seburuk itu?” tanya Hyun Ae.
“Ya, kau ada di sana beberapa hari. Duduk di sana lama sebelum akhirnya pergi dengan wajah tanpa ekspresi,” kata Jeong In.
“Kalau saja kau berada di posisiku saat itu, kau juga pasti akan merasakan hal yang sama kan?” sahut Hyun Ae. Jeong In menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum akhirnya tersenyum samar.
“Yah, aku rasa aku bahkan akan melakukan hal yang lebih nekat,” katanya kemudian.
“Lalu apa yang terjadi kemudian?” Hyun Ae bertanya dengan nada mendesak.
Jeong In membuka mulut untuk mengatakan sesuatu tapi tertahan oleh sebuah suara di luar kedai makan yang mengalihkan perhatian mereka. Sebuah bunyi klakson panjang terdengar di jalan raya disusul dengan suara tabrakan benda berat yang membuat kaca dan beberapa perabotan di kedai itu bergetar. Semua orang terdengar bertanya-tanya dengan nada penuh ingin tahu serta berbondong-bondong keluar kedai untuk melihat apa yang terjadi.
Hyun Ae dan Jeong In juga menyusul pengunjung lain untuk keluar dari kedai itu.
Sebuah mobil merk asing berwarna hitam terlihat menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan. Bagian depannya terlihat penyok dan membuat batang pohon yang ditabrak ikut tergores. Jeong In segera menerobos kerumunan sambil menunjukkan identitas polisinya. Hyun Ae diam-diam ikut mendekat ke arah mobil itu.
Jeong In segera memecahkan kaca depan dengan batu yang ada di dekatnya untuk mengeluarkan pengemudi yang tampaknya tidak sadarkan diri di jok depan. Seorang wanita berambut panjang tampak tidak sadarkan diri dengan kepala bersandar pada setir mobil. Rambut panjangnya yang tergerai menutupi hampir seluruh wajahnya. Kedua tangannya lunglai di kedua sisi tubuhnya.
“Nona! Nona, apa kau mendengarku?” Jeong In mengguncang tubuh wanita itu. Tidak ada reaksi yang berarti. Wanita itu tetap diam tak bergerak. Jeong In segera menegakkan tubuh wanita itu dan langsung tercengang begitu melihat wajahnya yang pucat.
Jeong In meletakkan jari di bawah hidung wanita itu serta memeriksa nadi di pergelangan tangannya. Tangan wanita itu masih hangat, tapi tidak ada denyut yang dirasakan Jeong In di pergelangan tangannya. Hidungnya juga tidak mengeluarkan napas.
Jeong In segera meraih ponselnya dan mencari nomor kontak kepolisian terdekat.
“Ada apa?” Hyun Ae yang sejak tadi berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang berdiri di dekat mobil itu.
“Wanita ini sudah meninggal,” jawa Jeong In dengan wajah tenang. Seseorang di seberang telepon bertanya keperluannya dan Jeong In segera menjawab kalau ada kecelakaan di jalan Bogwang dan korban meninggal di tempat.
“Benarkah?” tanya Hyun Ae seraya menatap tubuh wanita muda itu.
Tiba-tiba dirinya seperti tersengat sebuah listrik dari suatu tempat yang membuatnya terlonjak. Sebuah ingatan tiba-tiba melintas begitu saja di benaknya. Posisi wanita itu... Dia pernah melihatnya di suatu tempat.
“Apa kau yakin wanita itu meninggal karena kecelakaan mobil?” tanya Hyun Ae kemudian.
Jeong In menoleh ke arahnya dengan wajah bingung.
“Apa?” tanyanya.
“Tidak, hanya sedikit aneh saja,” kata Hyun Ae.
“Apanya yang aneh?” Jeong In melihat ke arah mayat wanita di mobil itu.
“Kau detektif. Kau pasti tahu,” kata Hyun Ae.
“Aku tidak melihat apa yang kau maksud,” kata Jeong In. Hyun Ae mendesah seraya memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya.
“Aku pernah melihat posisi seperti ini sebelumnya. Ji Hwan ditemukan meninggal dalam keadaan seperti ini. Temannya yang bertugas di kepolisian Seoul menunjukkan fotonya padaku. Bukankah kedua tangannya seharusnya tidak berada di kedua sisi tubuhnya kalau dia memang meninggal karena kecelakaan ini?”
“Eh?” Jeong In menatap Hyun Ae dengan tatapan bingung.
“Coba kau bayangkan posisi duduk dan tanganmu saat menyetir. Tanganmu harus selalu berada di setir kan? Saat terjadi suatu kecelakaan dan kau langsung tak sadarkan diri saat itu, kedua tanganmu seharusnya berada di dekat setir atau di kakimu. Bukannya lunglai di kedua sisi tubuh,” jelas Hyun Ae.
“Mungkin dia sedang menggunakan kedua tangannya untuk menghindari sesuatu. Biasanya seperti itu kan? Saat seseorang tidak bisa mengendalikan mobil, satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menutupi wajahnya,” kata Jeong In.
Hyun Ae balas menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Apa kau melihat adegan itu di drama?” tanyanya kemudian.
Jeong In balas menatapnya dengan tatapan terkejut.
“Apa kau lihat wajahnya? Apa ada luka yang disebabkan oleh kecelakaan ini?” tanya Hyun Ae lagi.
“Luka di wajahnya tidak terlalu parah, tapi kakinya terjepit dan aku tidak bisa mengeluarkannya,” jawab Jeong In.
“Apa kedua kakinya berada di pedal rem?” Hyun Ae menatap mobil itu dengan penasaran.
“Eh?” Jeong In menatapnya bingung.
“Apa ada tanda-tanda wanita itu menginjak pedal rem sebelum kecelakaan?” tanya Hyun Ae, tanpa menatap ke arah Jeong In.
Jeong In menatap jalanan di depannya. Tidak ada tanda-tanda bekas ban mobil yang terseret. Lagipula dia tadi juga tidak mendengar ada suara rem sebelum mendengar benturan keras.
Beberapa saat kemudian terdengar suara sirene yang mendekat. Dua mobil polisi beserta sebuah ambulans tampak berhenti di sekitar tempat terjadinya kecelakaan. Beberapa petugas langsung menghampiri mayat wanita yang ada di dalam mobil. Dua orang langsung mengevakuasi mayat dengan hati-hati. Sementara petugas yang lainnya memeriksa tempat kejadian dan juga mobil yang ringsek itu. Seorang petugas kepolisian wanita dengan seragam dinas mendekat ke arah Hyun Ae dan Jeong In.
“Oh! Oppa?” petugas polisi wanita itu menatap ke arah Jeong In dengan tatapan kaget.
“Eh? Kau bertugas di sini?” Jeong In ikut terkejut begitu petugas itu mendekat ke arah mereka. Wajahnya cantik dan dia memiliki postur tinggi yang dibalut dengan seragam polisi bagian pelayanan masyarakat.
“Ya. Jadi kau yang menelpon tadi?” tanya petugas wanita itu.
Hyun Ae hanya menatap mereka berdua secara bergantian dengan tatapan bingung.
“Ya, aku tidak tahu kalau kau bertugas di sini,” kata Jeong In.
Wanita itu tersenyum lalu menatap ke arah Hyun Ae dengan wajah penuh tanda tanya.
“Selamat siang. Aku Min Yoo Ri, adik kelas Jeong In oppa saat sekolah menengah dulu. Anda siapa?” tanya wanita itu.
“Lee Hyun Ae,” jawab Hyun Ae singkat seraya mengangguk sopan.
Dia menatap Hyun Ae dan Jeong In secara bergantian dan penuh tanda tanya. Dia seolah ingin menanyakan sesuatu tapi tidak jadi karena seorang petugas memanggilnya.
“Apa dia tidak bertanya pada saksi di sini? Bukankah kita terlihat seperti saksi?” tanya Hyun Ae seraya menatap punggung wanita muda itu menjauh.
“Mungkin dia sedang bingung,” sahut Jeong In.
“Apa dia baru?” tanya Hyun Ae lagi, melihat wanita muda itu tampak kikuk dalam menjalankan tugasnya. Padahal dia hanya disuruh mencatat beberapa hal yang disebutkan seorang petugas yang melakukan pengamatan pada mobil itu.
“Mungkin. Aku juga sudah lama tidak mendengar kabarnya sejak kami lulus dan putus...” Jeong In langsung terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya saat Hyun Ae langsung menoleh ke arahnya.
“Ah, aku mengerti,” Hyun Ae mengangguk-angguk seraya mengibaskan tangannya tanda itu bukan hal yang penting.
“Itu sudah lama sekali,” kata Jeong In.
“Dia cantik. Aku tidak mengerti kenapa kau memilih menikah denganku,” Hyun Ae berkata dengan suara pelan sekali tapi Jeong In bisa mendengarnya dan tidak memilih menjawabnya. “Apa kau masih mau di sini? Aku akan ke dalam dan melanjutkan makanku. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa lapar,” lanjut Hyun Ae seraya berbalik dan kembali ke dalam kedai.
Jeong In tidak mengikuti Hyun Ae dan mendekat ke arah para petugas polisi yang masih berada di sekitar lokasi kejadian. Yoo Ri tampak sedang memeriksa catatannya dan berjalan ke arah salah seorang saksi mata di sana. Jeong In bertanya pada salah seorang petugas yang masih memeriksa mobil.
“Apakah murni kecelakaan?” tanya Jeong In tanpa basa basi.
Petugas itu menatap Jeong In dengan tatapan kesal karena pekerjaannya diganggu. Tapi setelah Jeong In menunjukkan kartu identitasnya, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sopan.
“Kami belum bisa mengidentifikasi. Tapi petugas forensik mengatakan kalau penyebab kematiannya bukan karena kecelakaan. Tanda-tanda kematiannya seperti orang keracunan,” kata petugas itu.
“Keracunan?”
Petugas itu mengangguk.
“Ada kebocoran di pipa pembuangannya. Menyebabkan karbon monoksida tidak keluar dan terakumulasi di dalam mobil,” jelasnya.
Jeong In mengangguk mengerti. Dia membiarkan petugas itu kembali melaksanakan tugasnya sementara dia perlahan menjauh dari tempat itu.
Kata-kata Hyun Ae beberapa saat yang lalu terngiang di telinganya.
“Posisi Ji Hwan saat ditemukan meninggal sama seperti wanita itu.”
Kalau memang hal itu benar, ada yang mencurigakan pada kematian laki-laki itu. Tapi yang lebih penting, bagaimana Hyun Ae bisa tahu hal-hal yang tidak biasanya dipikirkan orang lain. Sikapnya terlalu santai untuk seseorang yang melihat mayat korban kecelakaan.
*****

Regret 2

Makam itu berada di atas bukit, di tengah-tengah makam keluarga yang lain. Makam itu kelihatan sudah tidak baru lagi dan ada beberapa rumput liar yang tumbuh di sekitarnya. Hyun Ae membaca dengan nanar nama yang tertera pada nisan makam itu.
Kim Ji Hwan.
Hyun Ae mendesah seraya menunduk dan menggeleng tak percaya.
Ini semua tidak mungkin kan?
Dia ingin tidak mempercayainya, tapi buktinya sudah ada di depannya sekarang. Ini adalah makam Ji Hwan, dan dia sudah dimakamkan di sini empat tahun yang lalu. Hyun Ae berkali-kali mengusap nama yang terpatri di nisan itu, berusaha menghilangkan nama Ji Hwan di sana dan berharap Ji Hwan tiba-tiba hadir di depannya lalu mengatakan kalau dia baik-baik saja. Tapi nama itu tetap ada di sana.
“Kenapa kau tidak mengatakan padaku langsung kalau...?” Hyun Ae tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia seperti baru saja menelan sebuah batu dan kini batu itu tersangkut di tenggorokannya.
Tangannya yang sedari tadi mengusap nisan itu kini mencengkeram erat. Hyun Ae berusaha menahan perasaan perih dan sesak yang kini memenuhi dadanya.
“Kau bilang ingin bertemu dengannya,” jawab suara di belakangnya.
Hyun Ae segera menoleh ke belakang dan mendapati Jeong In berdiri di sana, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaketnya.
“Kau bisa mengatakannya dari awal,” kata Hyun Ae, setengah kesal.
“Lalu membuatmu langsung lari dari rumah sakit dan datang ke sini?” sahut Jeong In.
Hyun Ae tidak menjawab. Dalam hati dia membenarkan perkataan Jeong In. Hyun Ae bukan tipe orang yang akan percaya dengan perkataan orang begitu saja. Dia akan mencari tahu sendiri sampai apa yang didengarnya benar-benar terjadi di depan matanya. Mungkin saja saat pertama kali dia bertanya tentang keadaan Ji Hwan dan Jeong In menjawab laki-laki itu sudah meninggal sejak empat tahun yang lalu, hal pertama yang dilakukan Hyun Ae adalah meloncat dari ranjang rumah sakit dan mencari tahunya sendiri.
Tapi di sinilah dia sekarang. Berdiri di depan makam Ji Hwan dan merenungi takdirnya sendiri.
Ji Hwan sudah dimakamkan di sini sejak empat tahun yang lalu, apa lagi yang dia harapkan? Apakah dia juga seterpuruk ini empat tahun yang lalu, saat melihat tubuh laki-laki itu dikuburkan di tanah ini?
Hyun Ae tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Apa dia harus menangis lagi? Dia tentu sudah pernah melakukannya empat tahun yang lalu, menangis di depan makam ini setiap hari sambil membayangkan saat-saat bahagia bersama Ji Hwan.
Angin musim semi berhembus di sekitarnya, membuat rambut sebahunya yang diikat ke belakang dengan asal ikut tertiup angin.
“Kalau kau sedang terburu-buru, kau boleh meninggalkanku di sini,” ujar Hyun Ae seraya menoleh ke arah Jeong In, yang masih berada di posisinya sejak tadi.
“Aku akan menunggumu,” sahut Jeong In.
Hyun Ae menatap laki-laki itu dengan tatapan heran.
“Aku perlu waktu,” kata Hyun Ae.
Jeong In tidak segera menjawab dan hanya menghela napas pelan.
“Apa kau akan seperti ini lagi?” tanyanya kemudian.
Hyun Ae mengerutkan dahi menatapnya. Tidak tahu apa maksud ucapannya.
“Itu sudah empat tahun yang lalu, Hyun Ae. Kau berjanji untuk terus melanjutkan hidupmu dan tidak terpuruk seperti ini lagi,” ujar Jeong In dengan wajah setengah memohon.
Hyun Ae tidak ingat apa yang sudah dilaluinya empat tahun ini tanpa Ji Hwan. Tapi melihat dari apa yang dikatakan dan dilakukan Jeong In, pasti dia sudah melewati empat tahun ini dengan penuh perjuangan. Perjuangan untuk merelakan kepergian Ji Hwan dan mencoba untuk mencintai laki-laki lain.
“Maaf,” Hyun Ae memejamkan matanya dan mencoba untuk meredakan gejolak yang kini bergemuruh di dadanya. Untuk saat ini dia tidak tahu harus melakukan apa untuk merelakan bahwa Ji Hwan sudah tidak ada di dunia ini.
“Aku hanya butuh waktu, itu saja. Kau boleh meninggalkanku. Tenang saja, aku tidak akan lupa jalan kembali ke rumah,” ujar Hyun Ae, mengulas senyum terbaiknya kepada Jeong In. Dia tahu laki-laki ini sudah berusaha melakukan semua hal agar Hyun Ae merasa nyaman berada dalam keadaan seperti ini. Dia tahu pasti berat bagi Jeong In melihat Hyun Ae seperti ini. Tapi untuk saat ini, Hyun Ae benar-benar butuh waktu untuk sendiri dan dia tidak mau membuat Jeong In merasa tidak enak karena itu.
Laki-laki itu kembali menghela napas dengan berat.
“Baiklah. Segera hubungi aku kalau kau butuh sesuatu,” ujarnya kemudian.
“Mm,” Hyun Ae mengangguk. “Selamat bekerja.”
Dia tersenyum dan melambaikan tangan pada Jeong In saat laki-laki itu berbalik pergi.
Hyun Ae kembali memandang pusara di depannya.
Dari sejak Hyun Ae diperbolehkan keluar dari rumah sakit karena kondisinya yang sudah stabil, sampai dia berada di sini pun Hyun Ae masih belum tahu apa yang harus dia lakukan. Dia seperti anak kecil yang tersesat seorang diri di jalan yang tidak dia kenal dan penuh dengan orang-orang asing.
Untuk kesekian kalinya Hyun Ae menghela napas panjang. Dia tidak boleh diam saja begini dan membuat banyak orang khawatir. Dia harus melakukan sesuatu.
Dengan berat hati Hyun Ae lalu meninggalkan makam itu, setelah menatap tulisan di batu nisan itu cukup lama.
*****

“Hei, Lim Jeong In! Perhatikan apa yang sedang kau catat!”
Jeong In tersentak dari lamunannya saat ada sebuah suara keras terdengar tepat di telinganya. Dia langsung menoleh ke arah suara dan melihat Park Jung Min, rekan kerja yang seumuran dengannya menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Hah, yang benar saja. Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya,” kata laki-laki itu seraya merapikan berkas-berkas yang ada di mejanya.
“Ada apa denganku?” Jeong In bertanya dengan wajah tak bersalah.
Jung Min menatapnya dengan kedua mata menyipit.
“Ada ada denganmu kau bilang? Bagaimana bisa kau menghancurkan laporan kita? Berkas ini harusnya sudah dikumpulkan hari ini. Kenapa kau malah menuliskan sesuatu tak penting di atas sini? Yang benar saja,” laki-laki muda itu mulai mengomel tak jelas seraya menghadap ke komputer layar datar yang ada di mejanya.
Beberapa rekan kerja yang ada di kantor itu hanya menatap sekilas ke arah mereka seraya meneruskan pekerjaan mereka. Mereka tidak ada waktu mendengarkan omelan seorang anggota di sini karena pekerjaan mereka pun sudah mendesak untuk segera diselesaikan. Dan melihat laki-laki bernama Jung Min itu mengomel adalah salah satu dari pandangan sehari-hari mereka.
“Jeong In sunbaenim, aku membuatkan teh hangat agar kau fokus bekerja,” sebuah suara lembut terdengar di belakangnya. Kim Ji Ho, petugas polisi perempuan di bagian administrasi yang baru saja masuk beberapa bulan yang lalu, sudah berdiri di samping mejanya seraya meletakkan secangkir gelas berisi teh di atas mejanya.
“Oh, terima kasih,” ujar Jeong In kepada perempuan muda yang umurnya di bawahnya satu tahun itu. Sejak awal masuk kantor ini, Ji Ho sudah menunjukkan ketertarikan pada Jeong In secara terang-terangan, tapi karena dia tahu Jeong In sudah mempunyai istri, dia hanya melakukan hal-hal seperti ini padanya untuk sekedar menunjukkan perhatian padanya. Jeong In tidak masalah selama gadis itu tidak melakukan hal-hal bodoh yang bisa merusak reputasinya sendiri.
“Hei, Kim Ji Ho! Apa kau hanya membuatkan Jeong In saja? Aku juga sudah bekerja mati-matian sejak kemarin. Aku juga haus,” Jung Min berseru tak terima dari mejanya.
Jeong In mendengar Ji Ho berdecak pelan sambil berujar lirih sekali.
“Hah, dasar kucing itu.” Tapi kata-kata itu terdengar jelas sekali di telinga Jeong In dan mau tidak mau itu membuatnya tersenyum geli. Semua orang di kantor ini tahu julukan Jung Min adalah kucing karena sikapnya yang suka membuat keributan dengan siapapun di kantor ini hanya gara-gara masalah sepele. Suaranya yang berisik itu mirip dengan kucing yang sedang kelaparan.
“Gelasnya ada di sana dan tehnya sudah siap. Kau bisa membuatnya sendiri, sunbae,” sahut Ji Ho seraya berjalan meninggalkan meja Jeong In.
“Wah, kau benar-benar lancang. Aku seniormu dan kau adalah juniorku,” kata Jung Min tak terima.
“Aku tahu. Kau mengatakan itu berulang kali,” Ji Ho berkata dengan acuh seraya berjalan ke mejanya. Perempuan muda itu menenggelamkan diri pada pekerjaannya dan memilih untuk tidak menggubris omelan Jung Min.
Jeong In menggeleng tak habis pikir seraya meneguk teh hangat yang baru saja dibuatkan Ji Ho. Pemandangan seperti ini sudah menjadi hal biasa di kantor. Sejak Ji Ho masuk ke kantor ini dan menjadi satu-satunya petugas wanita di kantor kepolisian ini, sikap Jung Min jadi berubah. Entah cari perhatian atau karena dia memang kesal dengan sikap Ji Ho yang acuh tak acuh pada siapa saja, dia selalu memarahi gadis itu tanpa alasan. Untung saja, Ji Ho bukan karakter gadis yang gampang tersinggung dan dia lebih memilih tidak mendengarkan kata-kata Jung Min.
Yah, hampir mirip dengan karakter seseorang yang dikenal Jeong In.
Jeong In menatap foto kecil berbingkai yang ada di meja kerjanya. Itu adalah fotonya dengan Hyun Ae saat kencan pertama mereka di pegunungan. Hyun Ae terlihat tersenyum bahagia saat itu. Setelah Jeong In berhasil mengeluarkannya dari masa-masa terpuruk karena kematian Ji Hwan.
“Kau melamun lagi? Kau harusnya bahagia karena istrimu sudah sadar dari komanya,” Jung Min berdiri di samping mejanya sambil menyerahkan beberapa berkas laporan lagi.
“Ini adalah hasil wawancara dari saksi-saksi yang ada di lokasi kejadian. Mereka mengatakan hal yang serupa. Apa menurutmu itu tidak terlalu kebetulan?” Jung Min menyodorkan beberapa lembar pada Jeong In.
Jeong In menerima berkas-berkas itu dan membacanya dengan teliti.
Saat ini dia sedang menangani kasus perampokan berantai yang ada di daerah Nuhyeongdo, distrik Kangnam. Perampokan itu terjadi saat malam hari dan yang jadi korbannya juga bukan sembarangan orang. Bukan orang-orang kaya yang menjadi tujuan para rampok ini. Tapi gadis-gadis muda yang sering pulang larut malam.
Yang menjadi kasus ini aneh adalah karena para perampok ini tidak mengambil semua uang dan barang berharga yang ada di dalam tas itu. Mereka hanya akan mengambil sebagian uang dan menyisakan yang lain, lalu membuang tas korban begitu saja di jalan.
Dan kali ini Jeong In adalah orang yang bertanggung jawab pada kasus ini.
“Jumlah korban semuanya adalah lima orang dan mereka dirampok pada waktu yang sama?” tanya Jeong In pada Jung Min, setelah selesai membaca semua laporan hasil wawancara.
“Ya, tapi bukan pada hari yang sama. Dan tempat kejadiannya pun selalu berubah-ubah,” jawab Jung Min.
“Mereka bilang kalau pelaku adalah dua orang laki-laki? Karena tinggi tubuhnya dan cara mereka berlari? Apa kau bisa percaya ini? Bukankah para perampok ini memakai penutup wajah?” tanya Jeong In lagi.
Jung Min menghela napas panjang.
“Itu yang baru aku selidiki. Aku sudah bilang kesaksian mereka hampir sama. Dan itu terlalu kebetulan menurutku,” katanya.
“Apa maksudmu saat mereka bilang kalau para perampok itu adalah dua orang laki-laki?” Jeong In kembali menyesap tehnya. Jung Min mengangguk.
“Bagaimana mereka bisa menyimpulkan sesuatu yang sama padahal para perampok itu tidak menunjukkan wajah mereka?”
“Mungkin para perampok itu tidak sengaja mengeluarkan suara,” kata Jeong In.
“Itu sudah aku tanyakan dan mereka bilang tidak. Mereka hanya menyimpulkan dari postur tubuh. Dan juga parfum yang menguar dari tubuh para perampok itu,” kata Jung Min.
Jeong In mengangguk mengerti.
“Apa kau menyadari sesuatu sejauh ini? Tempat kejadian perkara yang selalu berubah-ubah. Mereka melakukannya bukan secara kebetulan. Mereka sengaja melakukannya di tempat itu,” kata Jeong In. Jung Min mengernyitkan dahi menatapnya.
“Maksudmu?”
“Karena mereka harus melakukannya di tempat itu. Tempat kejadian perkara adalah pemukiman padat penduduk. Waktu kejadian pun tidak terlalu malam, antara pukul sebelas malam sampai dua belas malam. Masih ada beberapa orang yang lewat di sana. Kenapa para perampok ini melakukan kejahatan di tempat yang bisa membuat mereka tertangkap kapan saja? Kau paham maksudku? Banyak CCTV di sudut-sudut jalan, tapi mereka melakukan tindakan itu secara nekat. Itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang sedang terdesak,” jelas Jeong In panjang lebar.
“Tapi kenapa mereka melakukannya berulangkali kalau memang terdesak? Dan lagipula, kalau aku memang terdesak, aku akan mengambil semua benda berharga yang ada di tas itu. Tidak membuang tasnya begitu saja. Aku bisa memanfaatkan sisa uangnya untuk yang lain,” kata Jung Min.
“Mungkin mereka adalah orang-orang yang masih mempunyai sisi baik dalam dirinya.”
Baik Jeong In maupun Jung Min sama-sama menoleh dan melihat Ji Ho sudah berdiri di samping meja Jeong In.
“Apa?” Jung Min bertanya dengan nada bingung.
Ji Ho menghela napas lelah.
“Seperti kata Jeong In sunbaenim, mereka melakukannya karena terdesak. Tidak ada bisa yang dilakukan lagi selain merampok,” jawab Ji Ho. Jung Min mendecih sinis mendengar pernyataannya.
“Dasar perempuan. Kau tidak bisa menggunakan perasaanmu pada kasus seperti ini. Kau harus berpikir obyektif,” katanya.
Ji Ho tidak menyahut dan hanya menatap kesal ke arah Jung Min sebelum akhirnya meninggalkan meja Jeong In. Dia berjalan keluar kantor sambil membawa beberapa berkas di tangannya.
“Mau ke mana dia?” tanya Jung Min seraya terus menatap punggung Ji Ho yang menghilang dari pandangan.
“Jangan meremehkan perasaan perempuan, Park Jung Min,” ujar Jeong In, seraya kembali mencermati hasil laporan wawancara di tangannya.
“Aku tidak meremehkan mereka. Hanya saja.. gadis bernama Ji Ho itu benar-benar tidak seperti perempuan. Dia tidak manis dan selalu menatapku dengan pandangan meremehkan. Apa kau bisa terima itu? Dia merendahkan intuisiku sebagai detektif,” Jung Min mulai mengomel lagi.
Jeong In hanya tersenyum pelan seraya meneguk habis teh di gelasnya.
“Jangan membuatnya membencimu sebelum semuanya terlambat. Temui aku nanti malam di Nuhyeondong,” dia berdiri dari kursinya dan menepuk bahu Jung Min.
“Apa maksudmu? Hei, kau mau ke mana?” tanya Jung Min saat melihat Jeong In berjalan keluar kantor.
“Aku perlu melakukan penyelidikan sendiri. Akan ku beri kabar kalau aku menemukan sesuatu,” katanya seraya tersenyum pada Jung Min.
Laki-laki itu hanya menatap rekannya pergi saja dengan pandangan heran.
*****

Hyun Ae menatap layar komputer di depannya dengan tatapan serius. Dia membaca berita yang terpampang di layar itu dengan cermat. Berita mengenai berita kecelakaan empat tahun yang lalu. Dia sengaja mencari berita itu karena rasa penasaran yang hampir meledak dalam kepalanya. Dia tidak bisa diam saja tanpa melakukan sesuatu. Kalau memang saat ini dia sudah memiliki kehidupan baru bersama Lim Jeong In, dia harus menuntaskan rasa penasarannya tentang kematian Ji Hwan. dia harus punya alasan untuk merelakan kepergian Ji Hwan dan memulai kehidupan barunya lagi.
Beberapa berita tentang kecelakaan mobil empat tahun lalu di daerah perbatasan Seoul terjadi beberapa kali. Bukan hanya mobil Ji Hwan yang menjadi korban kecelakaan di sana. Tapi ada satu yang menarik perhatiannya, yaitu kecelakaan mobil yang terjadi dua hari sebelum kematian Ji Hwan. Berita tentang tabrak lari yang menewaskan salah seorang pengendara mobil.
Hyun Ae menelusuri berita itu dan dia mendapati gambar mobil Ji Hwan yang ringsek terpampang di situs itu. Tidak salah lagi, plat nomor dan warna mobil itu, itu adalah mobil Ji Hwan. Mobil yang didapatnya dari gajinya bekerja selama satu tahun sebagai reporter di salah satu televisi swasta.
Rasanya sulit sekali bagi Hyun Ae untuk menelan ludah karena saat ini perasaan tercekat itu kembali lagi dan kali ini dadanya rasanya benar-benar sesak. Dia membayangkan bagaimana kondisi Ji Hwan saat berada di mobil itu seorang diri, sedang menahan kesakitan yang luar biasa. Sementara seperti diberitakan, saat terjadi kecelakaan, hujan mengguyur dengan deras di daerah itu.
Seperti yang telah diberitakan juga, mobil yang menabraknya belum teridentifikasi sampai sekarang. CCTV di jalan itu tidak bisa merekamnya dengan  jelas karena guyuran air hujan yang saat itu lebat sekali dan membuyarkan gambar rekamannya. Tapi bisa dilihat kalau ada sebuah mobil jenis warna hitam merk internasional yang menabrak mobil milik Ji Hwan. Mobil yang sama dengan yang dikendarai laki-laki itu.
Kecelakaan itu terjadi saat hari Sabtu, di perbatasan Seoul. Apa yang dilakukan Ji Hwan hari itu? Kenapa dia pergi keluar kota?
Hyun Ae mencoba mengingat-ingat kejadian saat itu. Apa Ji Hwan pernah mengatakan padanya akan pergi ke suatu tempat?
Kepalanya tiba-tiba berdenyut dan semua menjadi kabur. Hyun Ae menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir rasa pusing yang kembali lagi.
“Apa yang sedang kau lakukan?” sebuah suara di belakangnya membuatnya terlonjak kaget.
Hyun Ae menoleh dan melihat Jeong In sudah berdiri di depan pintu sambil menatapnya dengan dahi berkerut. Dahinya semakin berkerut saat melihat layar komputer yang ada di depan Hyun Ae. Dia melewati ruang tamu itu dengan langkah terburu, meletakkan bungkusan plastik yang dipegangnya di atas meja dengan keras.
“Apa yang sedang kau cari?” tanya Jeong In penuh ingin tahu.
“Kebenaran,” jawab Hyun Ae seraya angkat bahu.
Jeong In menatap Hyun Ae dengan tatapan bingung sekaligus meminta penjelasan.
Hyun Ae menarik napas panjang dan menghelanya keras-keras.
“Aku hanya ingin tahu kenapa Ji Hwan meninggal,” jawabnya kemudian.
Jeong In mengusap wajahnya dengan lelah.
“Kau bisa bertanya padaku,” katanya kemudian, seraya menatap Hyun Ae dengan tatapan lurus.
“Kenapa aku tidak boleh mencarinya sendiri?” tanya Hyun Ae, bingung.
“Karena kau...” kalimat Jeong In tergantung. Dia kelihatan ingin mengatakan sesuatu tapi ditahannya.
Entah untuk kesekian berapa sejak Hyun Ae melihatnya, Jeong In kembali menghela napas berat.
“Aku hanya mampir untuk mengetahui keadaanmu. Aku akan pergi lagi karena ada pekerjaan. Jadi, kunci semua pintu dan jendela. Aku akan pulang larut malam. Dan... aku membelikanmu makan malam,” katanya seraya menunjuk bungkusan yang tadi hampir dilemparnya.
“Mm,” Hyun Ae mengangguk. “Terima kasih.”
Jeong In belum beranjak dari tempatnya berdiri dan masih menatap Hyun Ae dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar pintu.
Hyun Ae mendecih pelan setelah kepergian laki-laki itu.
Ini benar-benar sesuatu yang berat baginya.
Dia mendesah seraya menatap sekelilingnya dengan pasrah. Apartemen tempatnya tinggal sekarang adalah apartemen yang tidak bisa dibilang mewah tapi bukan juga termasuk apartemen sederhana. Dengan desain minimalis yang dipadu dengan futuristik, apartemen ini lebih bisa dibilang apartemen untuk kalangan orang-orang menengah. Ada beberapa foto dirinya dan Jeong In yang dipajang di ruang tengah. Bahkan di ruang tidur utama, ada deretan fotonya dan Jeong In dalam satu bingkai yang sama. Apakah waktu benar-benar sudah berlalu selama itu?
Hyun Ae kembali beralih pada layar komputer yang ada di depannya. Dia membuka beberapa berita yang sama dan tidak mendapati apapun selain kasus tabrak lari yang pelakunya belum dapat diidentifikasi.
Kalau pelaku memang belum bisa diidentifikasi, apakah kasus ini masih bergulir?
Hyun Ae lalu teringat sesuatu. Bukankah Ji Hwan pernah bilang kalau dia sedang meliput sebuah berita besar saat itu? Dia tidak bilang berita besar tentang apa, tapi dia minta bantuan temannya yang ada di kepolisian Seoul. Berita apa yang membuatnya bersemangat sekali saat itu?
Perut Hyun Ae tiba-tiba berbunyi dengan keras sekali. Mau tidak mau dia harus menghentikan pekerjaannya sebentar untuk mengisi perutnya. Dia belum makan apapun sejak siang tadi. Beruntung Jeong In membawakannya makanan. Tadinya dia berniat akan membuat ramen instan malam ini, karena itu satu-satunya bahan yang dimasak di apartemen.
*****

Regret 1

Hal pertama yang dilihatnya saat membuka mata untuk pertama kali adalah langit-langit ruangan yang berwarna putih bersih. Lalu indra penciumannya mencium wewangian tak biasa yang tidak pernah dia cium di kamarnya saat bangun tidur. Indra pendengarannya langsung mendengar sesuatu yang aneh berbunyi pelan di suatu tempat tak jauh dari tempatnya berbaring. Dan saat semua indranya berfungsi dengan sempurna, dia menyadari kalau saat ini dia tidak sedang berada di kamarnya. Melainkan di suatu tempat yang memiliki bau seperti... karbol?
Di mana aku sebenarnya? batinnya antara bingung dan penuh rasa ingin tahu.
Saat dia mencoba untuk bangun dari tidurnya, kepalanya terasa sakit luar biasa dan ada yang menahan gerakannya. Dia merasakan sesuatu dilekatkan di pergelangan tangannya dan saat dia berusaha untuk menggerakan tangannya, dia merasakan nyeri luar biasa.
Kedua matanya mengerjap beberapa kali, untuk memperjalas pandangannya yang masih sedikit kabur. Telinganya mendengar suara gerakan di dekatnya.
Lalu beberapa detik kemudian, dia merasa ada seseorang sedang berdiri di dekatnya.
“Kau sudah sadar?”
Suara itu terdengar begitu lembut dan sangat asing di telinganya. Dia mendongak untuk melihat siapa yang sedang berbicara padanya.
Saat kedua matanya sudah bisa melihat dengan lebih jelas, sosok yang kini berdiri di dekatnya pun terlihat semakin jelas. Seorang laki-laki muda berbalut kemeja warna biru laut serta jas denim sedang menatapnya dengan tatapan luar biasa cemas.
Dia menatap sosok laki-laki itu dengan tatapan bingung.
“Siapa...?” tanyanya dengan suara serak. Dia tidak meneruskan kata-katanya. Kedua dahinya berkerut menatap raut wajah laki-laki itu, yang masih menatapnya dengan tatapan cemas.
“Anda siapa?” tanyanya lagi. Tenggorokannya terasa sakit saat dia mengatakan itu.
Tapi itu bukan apa-apa dibanding melihat raut pias yang tiba-tiba tampak di wajah laki-laki muda itu. Tubuhnya yang tinggi itu tiba-tiba mundur ke belakang dan dia hampir terhuyung ke belakang sebelum bisa menguasai tubuhnya.
“Kau.. tidak ingat padaku?” tanya laki-laki itu.
Dia hanya menggeleng pelan.
Lalu kepalanya tiba-tiba berdenyut pelan saat sebuah ingatan tiba-tiba terlintas di benaknya. Dia melihat sekeliling ruangan dengan pandangan bingung sekaligus cemas. Dia mulai sadar dirinya berada di mana saat melihat pintu ruangan tak jauh dari tempatnya sekarang.
Ingatan tentang sebuah kecelakaan mobil dan wajah seorang memenuhi pikirannya.
Dia langsung berusaha untuk bangun dari ranjang tempatnya berbaring, tapi kepalanya semakin berdenyut-denyut dan memaksanya untuk tetap berbaring.
“Aku ada di mana sekarang? Dan di mana Ji Hwan? Apa sudah ada kabar darinya?”
Laki-laki itu tidak menjawab melainkan diam membeku di tempatnya sekarang. Dia menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara campuran rasa terluka, kecewa dan juga kaget.
Tapi laki-laki itu tidak mengatakan apapun. Dari raut wajahnya terlihat seolah sebagian nyawanya menghilang entah kenapa.
“Aku.. aku akan panggilkan dokter,” kata laki-laki itu seraya berjalan keluar dari menghilang dari balik pintu.
*****

Lee Hyun Ae menatap vas bunga yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya dengan tatapan datar. Dia tidak ingat sudah dirawat di kamar ini sejak berapa lama. Dia bahkan tidak ingat kenapa dia bisa berada di sini. Saat terbangun dan sadar kalau dia berbaring di ranjang rumah sakit, dia bahkan tidak bisa mengingat apapun. Yang ada di depannya adalah sosok seorang laki-laki asing yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Tapi saat dia bertemu dengan dokter yang menanganinya, sepertinya Hyun Ae mulai memahami apa yang sedang terjadi padanya.
Dia memang tidak mendengar sepenuhnya apa yang dikatakan dokter laki-laki paruh baya pada laki-laki asing yang sampai sekarang tidak dia ketahui namanya itu, tapi Hyun Ae bisa menangkap garis besarnya.
Dokter itu mengatakan sesuatu tentang amnesia jangka panjang karena benturan dan hal-hal semacam itu. Karena yang sedang berbaring dengan luka di tangan dan kepala adalah Hyun Ae, dan karena laki-laki muda itu terus menerus mengerling sekilas ke arah Hyun Ae dengan tatapan cemas, Hyun Ae menyimpulkan kalau yang mereka bicarakan adalah dirinya.
Lalu beberapa saat kemudian orangtuanya datang.
Yang membuat Hyun Ae heran adalah karena kedua orangtuanya menjadi lebih tua dibanding terakhir kali Hyun Ae bertemu dengan mereka. Mereka tampak benar-benar terharu dan senang saat melihat keadaan Hyun Ae. Mereka bahkan bertanya-tanya pada Hyun Ae bagaimana keadaannya, apakah dia merasa lebih baik, dan berkata pada Hyun Ae untuk tidak terlalu bersedih. Tapi Hyun Ae tidak mengingat apapun. Mereka bilang Hyun Ae sudah tidak sadarkan selama lebih dari sebulan setelah terjatuh dari tangga di tempat kerjanya dan kepalanya terbentur sehingga membuatnya koma.
Apa yang terakhir kali dia ingat? Entahlah. Hyun Ae bahkan tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Yang pasti, saat dia melihat kalender yang ada di ruangan itu, dia tahu kalau sekarang ini adalah tahun 2016.
Selama itukah waktu berlalu?
Saat dia bertanya kabar Ji Hwan kepada semua orang, tidak ada satupun orang yang menjawabnya. Mereka malah balas menatap Hyun Ae dengan tatapan terluka yang tidak bisa dijelaskan begitu saja. Karena Hyun Ae masih terlalu bingung dengan keadaannya sendiri, dia mengesampingkan masalah Ji Hwan. Meskipun sampai saat ini pun dia terus menerus bertanya-tanya dan sangat ingin tahu keadaan laki-laki itu.
Hyun Ae menatap pemandangan langit yang bisa dilihat dari jendela rumah sakit tempatnya dirawat saat ini. Perawat yang memeriksanya pagi ini bilang kalau udara di luar sedang cerah sekali. Dan benar katanya. Matahari sedang bersinar terang dan langit tampak biru cerah. Pepohonan mulai berdaun lebat serta bunga-bunga juga tampak mekar di mana-mana.
Beberapa orang tampak berlalu lalang di halaman rumah sakit yang menghubungkan langsung dengan taman rumah sakit. Taman di sana dipenuhi dengan rumput hijau yang disiangi sehingga tampak rapi dan segar.
Hyun Ae bertanya-tanya sendiri sudah berapa hari dia ada di sini dan tidak menghirup udara segar.
Saat dia merasa sudah tenang dan tidak ada seorang pun di sekitarnya, Hyun Ae akhirnya bisa perlahan-lahan mengingat apa yang terjadi. Tapi itu adalah ingatan lima tahun yang lalu.
Paling tidak itulah yang bisa dia simpulkan. Kalau sekarang benar sudah tahun 2016, artinya kecelakaan yang menimpa Ji Hwan sudah terjadi lima tahun yang lalu.
Jadi apa yang terjadi selama itu? Kenapa dia tidak mengingatnya sama sekali?
Suara daun pintu yang terbuka membuat Hyun Ae sedikit terlonjak karena kaget. Dia menoleh ke arah pintu dan melihat seseorang masuk ke dalam ruangan. Laki-laki asing yang dilihatnya kemarin.
Kali ini dia tidak mengenakan kemeja dan jas denim rapi seperti kemarin. Melainkan kaos yang ditutupi jaket berwarna coklat gelap. Laki-laki itu tersenyum padanya, dan Hyun Ae hanya membalasnya dengan kikuk.
“Merasa lebih baik?” tanyanya, dengan bahasa informal.
Hyun Ae mengangguk.
“Ya, aku rasa begitu,” jawabnya dengan nada sopan.
Laki-laki itu terlihat menghela napas pelan.
“Melihat sikapmu, aku rasa kau sama sekali tidak ingat padaku,” katanya kemudian.
“Maafkan aku,” Hyun Ae menundukan kepalanya.
“Kenapa kau harus minta maaf? Ini bukan salahmu,” kata laki-laki itu.
Hyun Ae mengangguk.
“Apa kau merasa aku mengganggumu?” tanya laki-laki itu lagi.
“Apa? Tidak. Tentu saja tidak,” Hyun Ae menggeleng cepat-cepat. Meskipun dalam hati dia harus menyetujuinya. Dia merasa tidak nyaman harus berada di tempat yang sama dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Dalam kasus ini, dia sama sekali tidak ingat pernah kenal dengan laki-laki ini.
“Kata dokter, ini akan butuh waktu lama. Tapi aku akan menunggunya. Aku tahu setelah ini, semua akan baik-baik saja,” kata laki-laki itu lagi.
Hyun Ae tidak menjawab. Benaknya sekarang mulai dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sejak kemarin berdesakan dalam kepalanya. Sampai rasanya kepalanya hampir meledak karena dipenuhi pertanyaan-pertanyaan itu.
“Maaf, tapi.. bolehkah aku tahu siapa namamu?” tanya Hyun Ae hati-hati, takut menyinggung perasaan laki-laki itu.
“Lim Jeong In,” jawabnya.
“Dan kau adalah...?”
“Detektif. Detektif kepolisian regional,” jawab laki-laki itu lagi.
“Detektif?” Hyun Ae mengerutkan dahi menatapnya. Untuk apa detektif ada di sini? Tapi tentu saja hal itu tidak akan dia tanyakan. Hyun Ae merasa pertanyaan itu terlalu kasar, meskipun wajar saat dia adalah seorang yang sedang mengalami amnesia.
“Kau tidak perlu memaksa untuk mengingat semuanya saat ini. Dengan kau sudah membuka mata dan sadar seperti ini saja sudah membuatku senang. Jadi kau tidak perlu buru-buru mengingat semuanya. Semua butuh proses. Seperti yang selalu kau katakan padaku,” ujar laki-laki bernama Jeong In itu.
Meskipun Jeong In berkata seperti itu dengan tujuan untuk menenangkan Hyun Ae, tapi justru itu semakin membuat Hyun Ae bertanya-tanya.
“Bolehkah aku bertanya sesatu padamu... Detektif Lim?” tanya Hyun Ae, dengan suara ragu. Saat mendengar kata-kata itu, entah kenapa ada sebuah gerakan tipis di bibir Jeong In.
“Ada apa?” tanya Hyun Ae penasaran. Jeong In tersenyum.
“Tidak. Hanya saja.. sudah lama sekali aku tidak mendengarmu memanggilku dengan panggilan itu. Detektif Lim,” ujar laki-laki itu dengan nada geli.
Hyun Ae semakin mengerutkan dahi. Sebenarnya ada hubungan apa antara dirinya dan detektif ini?
“Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Jeong In.
“Masih sama dengan pertanyaan kemarin. Apa yang terjadi pada Kim Ji Hwan?” Hyun Ae bertanya seraya menatap laki-laki itu dengan tatapan lurus.
Jeong In tidak segera menyahut. Dia hanya menatap Hyun Ae dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Dari semua yang ingin kau tanyakan, kau ingin bertanya tentang laki-laki itu?” tanya Jeong In, ada sebuah kegetiran dalam nada suaranya.
Hyun Ae tidak menjawab. Dia tidak tahu harus menjawab apa lebih jelasnya. Sejak dia membuka matanya kemarin, yang ada dalam pikirannya adalah bayangan Ji Hwan. Dia tidak ingat tentang penyebab kecelakaan yang menimpa dirinya sendiri sehingga dia ada di rumah sakit ini, tapi berita tentang kecelakaan yang menimpa Ji Hwan berkeliaran di benaknya terus menerus.
“Aku tidak ingat apapun selain kecelakaan itu. Maksudku, aku masih ingat orangtuaku, rumahku, tempat tinggalku. Tapi waktu sudah lama sekali berlalu sejak kecelakaan itu kan? Jadi aku ingin tahu, apakah dia selamat? Hanya saja..” Hyun Ae tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Tenggorokannya rasanya tercekat dan sakit sekali seperti ada yang mencekiknya. Dia tidak berani sekali pun membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada Ji Hwan.
“Saat kau sudah lebih baik nanti, aku akan mengantarmu untuk bertemu dengannya,” jawab Jeong In, dengan nada berat. Dia menatap Hyun Ae dengan tatapan terluka yang tidak bisa dia sembunyikan.
Karena Hyun Ae sendiri tidak mengerti apa yang terjadi, jadi dia hanya mengangguk saja.
Suasana canggung menyergap ruangan itu saat tidak ada seorang pun yang bicara di antara mereka.
“Jadi... sudah berapa lama aku berada di sini?” tanya Hyun Ae seraya menatap ruangan di sekelilingnya.
“Lebih dari satu bulan. Dan rasanya benar-benar menyedihkan melihatmu berbaring di ranjang itu setiap hari,” jawab laki-laki itu.
Hyun Ae menatap Jeong In dengan kedua alis terangkat.
“Maaf, mungkin ini agak kurang sopan. Tapi sejak kemarin aku ingin menanyakan ini padamu. Sebenarnya... ada hubungan apa di antara kita? Maksudku, kau dan.. aku?” tanya Hyun Ae dengan nada hati-hati.
Jeong In tidak segera menjawab dan hanya tersenyum kecut.
“Aku tahu kau pasti akan menanyakan ini,” katanya.
“Jadi?” Hyun Ae balas menatapnya dengan tatapan penuh ingin tahu.
Jeong In terlihat menarik napas panjang dan menghelanya keras-keras.
“Aku tidak tahu apakah hal ini akan membuatmu menyesal mendengarnya. Tapi kalau aku tidak mengatakannya, rasanya itu tidak adil. Jadi, yah... aku suamimu. Dan kita sudah menikah, lima bulan yang lalu,” jelasnya.
Hyun Ae merasa seolah ada sebuah pisau tak kelihatan yang dihujamkan tepat di dadanya setelah dia mendengar perkataan Jeong In. Dia menatap laki-laki itu dengan mulut ternganga tak percaya.
“Apa?” tanyanya dengan nada kaget yang sama sekali tidak berusaha dia sembunyikan.
Jeong In hanya angkat bahu pasrah.
“Maafkan aku sudah membuatmu kecewa. Tapi inilah kenyataannya,” ujarnya, tanpa ada rasa penyesalan sama sekali.
“Tunggu. Kita... sudah menikah?” tanya Hyun Ae, memastikan kalau yang didengarnya tidak salah.
“Apa aku perlu menunjukkan buktinya padamu?” tanya Jeong In.
Hyun Ae tidak menjawab. Tapi tentunya raut wajah kebingungan yang terpancar di wajahnya cukup menjawab pertanyaan Jeong In. Karena Jeong In langsung mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
Sebuah ponsel yang masih tampak baru. Hyun Ae mengernyitkan dahi saat melihat Jeong In menyerahkan ponsel itu padanya.
“Itu ponselmu,” kata Jeong In.
Hyun Ae menatap layar ponsel itu dengan penuh kebingungan. Seingatnya, ponsel terakhir yang dia miliki tidak sebagus ini. Dia mencoba menyalakannya dan layarnya memperlihatkan kode angka yang harus dia masukan sebelum bisa membukanya.
Hyun Ae menatap Jeong In dengan tatapan bingung. Dia tidak tahu cara membukanya.
“Kau pasti tahu kodenya,” kata Jeong In.
Hyun Ae kembali menatap layar ponsel di tangannya. Dia tidak yakin apakah yang dia masukkan ini akan berhasil atau tidak. Tapi sejak dulu dia selalu memakai kode nomor ini untuk semua barang pribadinya. Kode nomor apartemennya, kode nomor rekeningnya, bahkan kode untuk ponselnya.
Dia selalu menggunakan tanggal lahir Ji Hwan.
Dengan ragu Hyun Ae lalu mengetikkan nomor di layar ponsel itu.
240386
Terbuka!
Hyun Ae membelalakkan matanya, tak percaya pada dirinya sendiri. Bahkan setelah mendengar dari Jeong In kalau dia sudah menikah dengan pria itu, dia masih menggunakan tanggal lahir Ji Hwan untuk kode ponselnya.
“Kau tahu cara membuka ponsel ini?” tanya Hyun Ae pada Jeong In.
“Tebakan pertamaku dan tepat,” jawab Jeong In.
Hyun Ae menggeleng tak percaya sebelum kembali melihat pada ponselnya.
Layar ponsel itu dipenuhi gambar dirinya sedang berdiri di pinggir pantai. Tapi Hyun Ae tidak ingat dia pernah ada di sini. Lalu saat dia membuka-buka file foto di dalam ponsel itu, dia menyadari sesuatu.
Ada yang berubah di sini.
Seingatnya, ada banyak fotonya dan Ji Hwan di dalam memori ponselnya. Ji Hwan sendiri yang menyimpan fotonya di ponsel Hyun Ae, tanpa ijin Hyun Ae. Laki-laki itu selalu bilang tidak adil kalau ponsel Hyun Ae hanya berisi foto-foto anjing peliharaannya tanpa ada foto kekasihnya. Jadi Ji Hwan memasukkan foto-fotonya sendiri di ponsel Hyun Ae.
Tapi sekarang foto-foto itu tidak ada di sini. Hanya ada beberapa foto pemandangan dan beberapa foto dirinya sendiri. Sebanyak apapun Hyun Ae menggeser foto-foto itu, tapi dia tidak menemukan foto Ji Hwan di sana.
Yang dia temukan justru fotonya dengan laki-laki bernama Jeong In ini. Dia menemukan fotonya mengenakan busana hanbok dengan Jeong In di sampingnya, menggunakan busana yang serupa. Lalu ada foto mereka yang lain, dengan suasana pemandangan yang berbeda.
Hyun Ae kemudian menoleh dan melihat ke arah Jeong In dengan tatapan tak percaya.
“Benarkah? Sudah sejak berapa lama kita saling kenal?” tanyanya kemudian.
“Apa aku harus menceritakan semuanya? Sebenarnya, itu terlalu rumit untuk diceritakan ulang,” kata Jeong In.
“Kalau begitu, apa yang terjadi pada Ji Hwan? Apa yang terjadi pada kami berdua? Dan kenapa aku... bisa menikah denganmu?” Hyun Ae masih sulit menerima kenyataan yang baru saja dia lihat.
Wajah Ji Hwan kembali berkelabatan di benaknya saat dia mengatakan hal itu. Ini benar-benar tidak sesuai dengan bayangannya.
Hubungannya dengan Ji Hwan sudah berlangsung lama dan mereka bahkan sudah berencana akan menikah setelah Ji Hwan menyelesaikan tugas militernya. Tapi kenapa tiba-tiba sekarang dia sudah menikah dengan orang lain? Apa yang terjadi pada Ji Hwan?
Jeong In menatap Hyun Ae dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. Dia seperti menahan sesuatu yang siap meledak kapan saja. Tapi tetap berusaha untuk bersikap tenang.
“Kita akan bertemu Ji Hwan kalau kau sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit,” katanya kemudian dengan raut wajah masam.
“Tidak bisakah kau mengatakannya sekarang? Kau hanya perlu bilang dia ada di mana. Selesai,” kata Hyun Ae bersikeras.
“Kenapa di saat seperti ini pun kau bersikap keras kepala? Kau hanya perlu menunggu sebentar, dan kau akan tahu keadaannya,” ujarnya dengan nada agak keras. Dia menatap Hyun Ae dengan tatapan tajam.
Hyun Ae terdiam. Dia lalu menunduk dan kembali melihat ke arah ponselnya dengan sikap canggung.
Entah kenapa dia merasa ada yang mengganjal di dadanya. Dia merasa ada yang tidak beres karena Jeong In terlihat menutup-nutupi sesuatu darinya.
Suara dering ponsel terdengar dari saku celana Jeong In dan membuat suasana canggung di antara mereka teralihkan. Jeong In segera mengangkat ponselnya dan menjauh dari Hyun Ae. Dia menjawab panggilan itu dengan sikap tegas.
“Aku harus pergi. Ada yang harus aku selesaikan di kantor polisi,” kata Jeong In beberapa saat kemudian setelah menutup ponselnya.
“Mm,” jawab Hyun Ae seraya mengangguk.
Jeong In tidak segera pergi dan hanya menatap Hyun Ae dengan tatapan yang sulit diartikan kesekian kalinya. Seperti ada yang ingin dia sampaikan tapi dia tidak mampu melakukannya. Yang akhirnya bisa dia lakukan hanyalah menghela napas.
“Baiklah, sampai nanti,” katanya seraya berbalik.
Hyun Ae mengangguk tanpa mengeluarkan suara, dan hanya menatap punggung bidang laki-laki itu menghilang dari pintu yang menutup.
*****