Sejak
pertemuannya dengan laki-laki bernama Park Jung Min seminggu yang lalu, Ji Ho
terus memikirkannya. Bukan karena dia terpesona dengan wajah tampan laki-laki
itu. Oke, dia memang tidak menampik kalau laki-laki itu adalah tipe idealnya.
Tapi bukan itu yang jadi poin utamanya. Nama laki-laki itu seperti pernah dia
dengar. Tapi dia tidak mengingatnya. Dan itu benar-benar mengganggu pikiran Ji
Ho.
Dia
melihat semua berkas klien yang pernah dia tangani, tapi dia tidak menemukan
nama laki-laki itu di sana. Ji Ho bahkan mencoba mencari namanya di mesin
pencarian di internet, tapi yang dia dapat hanya beberapa laki-laki bernama
Park Jung Min yang sama tapi tidak ada Jung Min yang dia cari di sana.
Akhirnya
pagi ini Ji Ho memutuskan untuk tidak memikirkan laki-laki itu dan mulai
kembali serius dengan pekerjaannya. Lagipula, laki-laki itu sudah beristri.
Memikirkan suami orang benar-benar bukan gayanya.
“Kau
tidak mendengarku mengetuk pintu berkali-kali?” sebuah suara tiba-tiba
terdengar di dekatnya. Ji Ho yang sedang membuka lembaran berkasnya dengan
setengah melamun langsung terkejut karena suara itu.
Dia
mendongak dari lembaran berkasnya dan melihat seseorang sudah berdiri di depan
meja kerjanya.
Seorang
perempuan muda dengan rambut pnjang yang diwarna coklat kemerahan menatapnya
dengan tatapan galak dari balik kacamata berbingkainya.
“Kau
mengagetkanku, Hye Jung,” kata Ji Ho setengah kesal.
“Padahal
aku tidak berteriak-teriak. Kau sedang tidak ada klien hari ini?” tanya
perempuan muda yang dipanggil Hye Jung tadi seraya duduk di atas kursi yang ada
di depan meja kerja Ji Ho.
“Kau
beruntung aku sedang tidak ada klien hari ini dan kau bisa bertemu denganku
sesukamu,” jawab Ji Ho dengan nada setengah bercanda.
Hye
Jung mendecih pelan.
“Dan,
apa yang membawa seorang reporter televisi sepertimu tiba-tiba mampir ke
kantorku malam ini?” tanya Ji Ho lagi.
Hye
Jung tidak langsung menjawab dan hanya melenguh pelan. Dia beranjak dari
duduknya dan beralih pada sofa panjang tak jauh dari Ji Ho duduk sekarang.
Dengan sekali gerakan dia langsung merebahkan tubuhnya ke atas sofa itu.
Menjadi teman dekatnya sejak di sekolah menengah, membuat Ji Ho segera
menyadari ada yang terjadi pada perempuan itu. Bukan sesuatu yang bagus
tentunya. Wajah Hye Jung tampak murung dan ada sedikit kekesalan yang tampak di
matanya.
“Ada
masalah dengan pekerjaanmu?” tanya Ji Ho.
Hye
Jung mendesah pelan dan Ji Ho hanya
menatapnya dengan tatapan maklum.
“Aku
tidak tahu apa yang ada di pikiran laki-laki itu,” kata Hye Jung, kali ini
dengan nada kesal.
“Baiklah,
biaya konseling satu jamnya akan aku potong karena kau adalah teman dekatku,”
kata Ji Ho kemudian.
Hye
Jung balas menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Kau
bercanda?”
“Kau
duduk di tempat terapi klienku,” ujar Ji Ho seraya menunjuk sofa yang ditiduri Hye
Jung saat ini.
“Yang
benar saja, Kim Ji Ho,” kata Hye Jung kesal, tapi tidak beranjak dari tidurnya.
“Jadi,
apa yang dilakukan laki-laki itu?” tanya Ji Ho kemudian.
“Ya,
ampun. Kau bahkan memanggil kakak sepupumu sendiri dengan panggilan ‘laki-laki
itu’?” Hye Jung kini menatap Ji Ho tak percaya.
“Aku
sudah memanggilnya begitu sejak aku kecil. Jadi, apa masalahmu dengannya?”
tanya Ji Ho seraya merapikan berkas-berkasnya.
“Sebenarnya
apa kelemahannya? Aku tahu dia adalah kepala divisi tempatku bekerja. Tapi itu
tidak bisa membuatnya hampir selalu menyalahkan dalam semua pekerjaanku kan?
Aku selalu terlihat seperti orang bodoh di depan banyak orang karena dia selalu
menyalahkanku. Semua pekerjaanku selalu salah di matanya,” ujar Hye Jung panjang
lebar.
Ji
Ho hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda dia mengerti situasi yang terjadi
pada Hye Jung.
“Jadi,
apa lagi yang kau lakukan sampai membuatnya marah?” tanya Ji Ho.
“Sebenarnya
dia tidak marah. Dia hanya terlihat mengabaikanku,” jawab Hye Jung.
“Terlihat
mengabaikan? Bukankah itu lebih baik daripada kau dibentak-bentak di depan
umum?” tanya Ji Ho dengan dahi berkerut.
“Y-ya...
Aku lebih suka dia memarahiku daripada dia mengabaikanku,” suara Hye Jung memelan.
“Oke,
aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi padamu dan laki-laki itu. Jadi, kau
ingin aku bicara padanya atau apa?” tanya Ji Ho kemudian. Dia tidak terlalu
suka basa-basi. Menurutnya itu hanya membuang-buang waktu.
“Tidak,
tidak. Kau jangan berpikiran kalau aku datang ke sini untuk memintamu bicara
padanya karena kau sepupunya. Aku
hanya.. ingin bicara padamu dan bertemu denganmu,” kata Hye Jung dengan
nada canggung.
Ji
Ho menghela napas.
“Kau
tidak perlu secanggung itu padaku. Lagipula, selain Hye Ri, kau juga adalah
teman dekatku kan? Omong-omong, kau tidak meliput hari ini?” Ji Ho menatap
wanita berambut merah itu dengan dahi berkerut.
Hye
Jung membuang napas keras-keras.
“Hari
ini aku libur dan dua hari lagi ada tugas wawancara dengan seorang pengusaha
muda yang sedang naik daun beberapa waktu terakhir ini,” jelasnya dengan nada
malas.
“Oh,
ya? Siapa?” Ji Ho bertanya dengan nada penasaran.
“Kau
tidak mau tahu,” kata Hye Jung kemudian.
Ji
Ho kembali mengerutkan dahinya.
“Dan
kenapa aku tidak mau tahu?” tanyanya.
“Karena
dia adalah seorang Park–dia berasal dari keluarga yang sombong sekali,” jawab Hye
Jung kemudian. Entah kenapa dia jadi bersikap salah tingkah sendiri.
Dan
perubahan perilakunya itu jelas tidak luput dari penglihatan Ji Ho yang sejak
tadi menatapnya.
“Kau
tadi mengatakan sesuatu,” kata Ji Ho dengan nada tajam.
“Yeah,
tentang seorang pengusaha muda yang berasal dari keluarga angkuh,” jawab Hye
Jung kemudian. Dia sudah menemukan ketenangannya lagi dan mulai bicara dengan
sikap enggan seperti beberapa saat yang lalu.
“Kau
hampir menyebutkan nama tadi,” kata Ji Ho.
“Oh,
ya?” Hye Jung balas menatapnya dengan tatapan bingung.
Ji
Ho menghela napas panjang. Lalu dia mulai membereskan barang-barangnya yang di
atas meja untuk dimasukkan ke dalam laci meja kerjanya sebelum akhirnya menguncinya.
“Mau
kutemani minum?” tawarnya pada Hye Jung, seraya beranjak dari tempat duduknya.
Hye
Jung menoleh ke arahnya dengan mata berbinar-binar.
“Kau
memang selalu tahu apa yang ada di benakku, Ji Ho. Tidak rugi aku memiliki
teman seorang psikolog sepertimu,” katanya seraya beranjak dari sofa dan
berdiri dengan antusias.
“Tapi
kali ini kau yang mentraktirku. Aku hanya menemanimu minum,” kata Ji Ho seraya
menyampirkan tali tasnya ke bahunya dan berjalan ke arah pintu keluar.
“Kukira
kau sudah berubah jadi ibu peri baik hati yang suka menolong tanpa pamrih,”
keluh Hye Jung.
Ji
Ho tidak menoleh ke belakang. Tapi dia terkikik geli tanpa suara saat mendegar Hye
Jung mengatakan hal itu dengan nada setengah menggerutu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ji
Ho seharusnya tahu resiko mengajak Hye Jung minum saat suasana hati gadis itu
sedang buruk. Dia sudah mengenal gadis itu selama bertahun-tahun dan seharusnya
tahu apa akibatnya kalau Hye Jung pergi minum dalam kondisi seperti ini. Walau
awalnya Ji Ho yang mengajaknya minum, tapi akhirnya yang menghabiskan
berbotol-botol soju itu adalah Hye Jung dan Ji Ho hanya minum sedikit. Dan
sekarang, dengan Hye Jung yang berjalan sempoyongan di sampingnya, Ji Ho
terpaksa membawanya ke apartemennya. Salah satu lengan Hye Jung dilingkarkan ke
bahunya dan dia susah payah menarik tubuh Hye Jung yang sudah setengah sadar
itu. Untung saja perempuan itu bertubuh lebih pendek darinya, jadi Ji Ho tidak
terlalu kesulitan menyeretnya.
Hye
Jung terus menceracau tidak jelas sejak keluar dari kedai minum tadi. Dan Ji Ho
harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan malunya karena dilihat orang-orang
yang lewat di dekatnya. Dia juga harus membungkam mulut Hye Jung saat gadis itu
berseru tak karuan saat mereka melewati perumahan warga. Salah satu warga yang
tampaknya terganggu dengan ceracauan Hye Jung langsung memarahinya dan Ji Ho
harus meminta maaf berkali-kali pada laki-laki tua itu.
Untungnya
saat mereka sudah sampai di gedung apartemennya, Hye Jung tidak
berteriak-teriak seperti tadi. Mungkin dia sudah lelah dan kesadarannya mulai
melemah.
Ji
Ho mulai mengeluarkan peluh saat dia keluar dari lift dan berjalan menuju
apartemennya sendiri. Salah seorang tetangga apartemennya yang melihatnya
kewalahan seperti itu, hanya menatapnya dengan tatapan maklum. Ji Ho tidak
terlalu memperdulikannya karena yang ingin dilakukannya sekarang adalah
melemparkan tubuh Hye Jung ke sofa di apartemennya.
Bahunya
sudah terasa kebas karena membawa tubuh Hye Jung.
Saat
Ji Ho hampir sampai di apartemennya, kedua matanya membelalak lebar karena
kaget. Dia melihat seseorang sudah duduk meringkuk di depan pintu apartemennya
dan tampak terkantuk-kantuk.
Ji
Ho mempercepat langkahnya dan itu artinya dia harus menyeret tubuh Hye Jung dengan
sembarangan.
“Sarang?”
tanya Ji Ho, dengan nada kaget.
Gadis
kecil yang tampak terkantuk-kantuk itu langsung terlonjak. Dia langsung
mendongakkan kepalanya ke arah Ji Ho. Dia membenarkan bajunya yang berantakan dan menatap Ji Ho dengan wajah berbinar.
“Eonnie!”
serunya seraya berjalan ke arah Ji Ho dan memeluknya.
“Eh?”
Ji Ho bingung dengan sambutan yang sama sekali tidak pernah dia duga
sebelumnya.
Dia
mendengar Hye Jung bergumam tak jelas di sampingnya.
“Kenapa
kau ada di sini malam-malam begini?” tanya Ji Ho, menatap gadis kecil itu
dengan dahi berkerut.
Sarang
melepaskan pelukannya dan mendongak untuk menatap wajah Ji Ho.
“Karena
aku ingin bertemu denganmu,” jawabnya polos.
“Apa
ibumu meninggalkanmu lagi?” tanya Ji Ho ingin tahu.
Sarang
menggeleng.
“Tidak,”
jawabnya.
“Lalu?”
tanya Ji Ho semakin penasaraan.
“Aku
pergi ke sini sendirian,” jawabnya kemudian.
“Ap-apa?”
Ji Ho membelalak kaget menatap gadis kecil itu. Tapi Sarang tampaknya tidak
terlalu terpengaruh dengan kekagetan Ji Ho.
“Kau
tidak menghubungiku lagi sejak kau mengantarkanku pulang ke rumah. Jadi, aku ke
sini karena aku ingin bertemu denganmu,” jelas Sarang dengan wajah polos. Kedua
mata hitamnya menatap Ji Ho dengan tatapan bangga dan penuh kerinduan.
“Tu-tunggu.
Kau ke sini sendirian? Tapi bagaimana? Kau bahkan masih... sangat kecil,” kata
Ji Ho, tak habis pikir.
“Aku
menumpang mobil milik nenek Jang. Dia adalah tetanggaku yang sangat baik hati.
Dia bilang akan pergi ke Apgujong untuk menjenguk cucunya. Jadi aku ikut
dengannya dan pergi ke apartemenmu. Tapi sejak sore kau tidak ada. Jadi aku
menunggumu di sini,” kata Sarang panjang lebar. Dan itu semakin membuat kedua
mata Ji Ho membelalak kaget.
“Kau
menungguku di sini dari siang? Ya, Tuhan. Kenapa kau ... Oh, baiklah. Kau pasti
lapar sekali. Tunggu sebentar,” Ji Ho segera mencari-cari kunci apartemennya
dengan salah satu tangannya, karena tangannya yang satu masih menahan tubuh Hye
Jung yang tampaknya sudah tidak sadarkan diri. Apartemen Ji Ho ini adalah
apartemen sederhana yang masih menggunakan kunci pintu dan bukan pintu otomatis
yang akan terbuka kalau kita menekan password.
Jadi, agak menyusahkan saat dia mencari kunci apartemennya dengan
keadaan seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah
merebahkan tubuh Hye Jung di sofa yang ada di ruang tengahnya, menyelimuti
tubuh Hye Jung yang sudah mendengkur keras dengan selimut tebal, dan berganti
pakaiannya sendiri, Ji Ho akhirnya menyiapkan makan malam untuk Sarang yang
sudah menunggunya di ruang makan (Ji Ho sendiri yang memintanya untuk menunggu
di sana).
“Jadi,
kau mau makan apa untuk makan malam, Sarang-ah?” tanya Ji Ho seraya membuka
lemari es-nya. Tidak terlalu banyak bahan makanan, karena dia tidak terlalu
suka memasak dan lebih suka membeli produk jadi. Benar-benar bukan kehidupan
yang sehat. Tapi Ji Ho sudah cukup senang dengan mengkonsumsi buah-buahan untuk
suplemen alami sehari-hari.
“Apa
kau bisa membuatkanku sandwich?” tanya Sarang.
“Sandwich?
Hanya itu? Apa akan kenyang?” Ji Ho mengerutkan dahi, seraya mengambil beberapa
sayuran segar dari lemari es-nya. Untung saja dia baru membeli roti pagi tadi.
“Biasanya
eomma malah hanya memberiku ramen setiap makan malam,” jawab Sarang.
Ji
Ho menatap anak itu untuk beberapa saat. Dia tahu hubungannya dengan ibunya
tidak terlalu baik, tapi bukan berarti seorang ibu mengabaikan kesehatan untuk
anaknya sendiri kan?
“Jadi,
Sarang.. apa yang membuatmu ingin mengunjungiku?” tanya Ji Ho seraya
mengeluarkan roti dan meletakkannya di atas piring yang sudah dia siapkan
sebelumnya.
“Aku
rindu padamu,” jawab Sarang.
Itu
adalah hal yang aneh bagi Ji Ho. Dia memang dekat dengan beberapa anak, karena
pekerjaannya. Tapi beberapa dari mereka tidak ada yang nekat pergi dari kota
yang jauh sendirian tanpa orangtuanya hanya untuk menemuinya, dan bahkan
mengatakan rindu padanya.
“Kenapa
kau rindu padaku?” tanya Ji Ho kemudian, mengabaikan desiran aneh yang
menyelimuti perasaannya setelah mendengar penuturan Sarang baru saja. Selain
Hye Ri, sejauh ini tidak ada yang bilang rindu padanya dan ingin bertemu
dengannya.
“Karena
kau mirip eomma,” jawab Sarang kemudian.
“Eh?”
Ji Ho berhenti menaruh sayuran segar di atas roti tawarnya dan beralih menatap Sarang.
Sarang
tersenyum lebar dan dia tampak manis sekali. Kedua mata lebarnya yang dihiasi
manik hitam kelam benar-benar indah dan itu membuat Ji Ho jatuh cinta pada
pandangan polos gadis itu. Sejak pertama kali mereka bertemu.
“Karena
eomma-nya Young Jae dan ibunya Jung Hee eonnie baik sekali. Mereka sepertimu.
Selalu tersenyum dan cantik sekali.
Tidak seperti ibuku. Dia hanya tersenyum padaku saat ada appa,” wajah Sarang yang
awalnya kelihatan senang berubah jadi murung. Dia menunduk dengan bibir
mengatup rapat.
Ji
Ho menghela napas panjang. Sebenarnya masih banyak hal yang mengganggunya
tentang Ibu gadis kecil itu, tapi saat mendengar perut Sarang berbunyi keras
sekali, Ji Ho segera menyelesaikan sandwich-nya. Sarang tampak malu dan
wajahnya memerah. Tapi itu malah membuat Ji Ho tersenyum geli.
“Tidak
apa-apa, lapar adalah hal yang wajar kan?” katanya seraya meletakkan sayuran
terakhir.
Sarang
tidak menjawab dan hanya memegangi perutnya.
“Yak!
Sudah selesai,” Ji Ho menyodorkan piring yang sudah berisi sandwich itu ke arah
Sarang. “Kau mau susu? Biar aku siapkan.”
Sarang
menelan sandwich-nya dengan susah payah seraya mengangguk.
Ji
Ho tersenyum simpul dan mulai membuka pintu lemari es-nya lagi. Dia
mengeluarkan kotak susu coklat yang sudah dingin.
“Jadi,
apakah kau ada masalah dengan ibumu atau bagaimana? Apakah kau membuat ibumu
marah sehingga dia bersikap seperti itu padamu?” tanya Ji Ho seraya menghangat
susu itu di atas sebuah panci.
Sarang
menggeleng. Mulutnya terlihat penuh dengan makanan. Ji Ho hanya menatapnya
maklum. Dia tahu anak itu pasti sudah kelaparan karena menunggunya sejak tadi
sore. Sarang menelan makanannya dengan susah payah sebelum akhirnya bicara
dengan suara pelan.
“Karena
aku bukan anaknya,” katanya kemudian.
Dan
jawabannya itu serta merta membuat Ji Ho kembali terbelalak kaget.
“Apa?”
tanyanya dengan dahi berkerut.
“Aku
mendengar eomma berteriak marah pada appa saat mereka bertengkar. Dia bilang
kalau aku bukan anak kandungnya. Jadi dia tidak sayang padaku,” jelas Sarang dengan
nada polos.
Dan
penjelasannya itu membuat dada Ji Ho terasa tersayat. Dia menatap anak itu
dengan tatapan iba. Jadi terjawab sudah pertanyaannya tentang perlakuan kasar
perempuan bernama Soo Jin itu pada Sarang.
“Apa
mereka sering bertengkar?” tanya Ji Ho lagi.
Sarang
langsung mengangguk.
“Sering
sekali. Eomma suka berteriak-teriak pada appa. Eomma sering pulang malam dalam
keadaan seperti bibi yang kau seret tadi. Lalu eomma marah-marah pada appa,”
jelas Sarang. Dia menelan potongan sandwich terakhirnya.
Ji
Ho terlalu fokus pada cerita Sarang sampai dia tidak sadar kalau susunya sudah
mendidih. Dia segera mematikan kompornya dan menuangkan susu itu ke dalam
cangkir yang sudah disiapkan.
“Dan
kau mendengar pertengkaran mereka setiap hari?” tanya Ji Ho seraya menyodorkan
cangkir itu kepada Sarang. Sarang kembali mengangguk.
“Kadang
aku pergi dari rumah dan menginap di rumah nenek Jang. Pagi ini juga mereka bertengkar
lagi. Dan aku langsung pergi ke rumah Jung Hee eonnie. Dia sudah pergi ke
sekolah, tapi ibunya baik sekali. Dia juga membuatkanku sarapan,” jelas Sarang.
Dia mulai meniup-niup cangkirnya dan menyesap susunya dengan hati-hati. Tapi
lalu menjulurkan lidahnya detik berikutnya
karena masih terlalu panas.
Ji
Ho hanya menatap gadis kecil itu dengan pandangan iba. Anak itu baru berusia
empat tahun dan dia sudah disuguhi pemandangan seperti itu sehari-hari. Tidak
heran kalau dia akan selalu pergi dari rumah untuk mencari ketenangan dan
kenyamanan daripada tinggal di rumahnya sendiri. Ditambah dengan fakta kalau
dia tinggal dengan ibu tirinya yang jelas-jelas tidak suka padanya. Kalau
dibiarkan seperti ini terus menerus, tentu saja dampaknya akan kelihatan kalau
anak ini sudah mulai beranjak besar. Apalagi anak ini termasuk cerdas jika
dilihat dari caranya bercerita dengan detail di usianya yang sedini ini. Dia tahu
bagaimana seorang anak berbohong. Anak itu akan memutar matanya tanda dia
sedang memikirkan apa yang harus dikatakan agar orang lain percaya. Tapi anak
di depannya ini menjawab pertanyaan Ji Ho dengan polos dan apa adanya. Dan dia
tidak sadar kalau dirinya sedang berada dalam masalah sekarang.
Ji Ho tidak bisa tinggal diam. Dia harus
bicara pada kedua orangtuanya. Ayahnya, lebih tepatnya.
“Oh,
ya, apa kau sudah memberitahu ayahmu kalau kau akan ke sini?” tanya Ji Ho.
Sarang
langsung menggeleng.
“Ayah
tidak pulang malam ini. Dia sudah bilang padaku untuk menginap di rumah nenek
Jang saja malam ini,” jawab Sarang.
“Tapi
bagaimana kalau saat dia menjemputmu di rumah nenek Jang besok, dan kau tidak
ada di rumahnya?” tanya Ji Ho lagi.
Sarang
hanya angkat bahu.
“Kau
bisa bicara pada appa, seperti beberapa waktu yang lalu. Appa tidak akan marah
padamu,” kata Sarang. Dia menatap Ji Ho dengan matanya yang sipit dan ada
tatapan permohonan dalam bola matanya itu. Ji Ho menghela napas pasrah. Entah
kenapa dia tidak bisa menolak permohonan gadis kecil itu, sejak pertama kali
mereka bertemu.
“Baiklah.
Untuk malam ini, kau akan tidur di sini. Dan aku akan mengantarmu besok siang.
Karena aku ada janji dengan klien besok pagi,” kata Ji Ho kemudian.
Sebuah
senyum lebar terulas di bibir tipis Sarang.
“Terimakasih,”
katanya riang, seraya meneguk susunya yang sudah mulai menghangat.
Ji
Ho hanya mendengus geli melihat kepolosan gadis kecil itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara
dengungan mesin penyedot debu memenuhi ruangan apartemen itu pagi ini, disertai
dengan suara desisan mesin pemanggang yang ada di ruang makan. Hye Jung menggeliat
pelan di sofa dan selimut tebal yang menutupi tubuhnya jatuh ke lantai. Dia
meregangkan tubuhnya seraya melenguh panjang.
Ji
Ho yang melihat temannya itu akhirnya bangun dari tidur panjangnya, hanya
mendengus pelan. Dia menaikkan level mesin penyedot debuhnya dan membuat
suaranya tambah keras.
“Ji
Ho, aku tahu. Aku tahu. Jangan membuat telingaku tuli,” gerutu Hye Jung dengan
nada yang mirip gumaman. Dia belum membuka matanya dan hanya menggaruk-garuk
rambut panjangnya yang kini kelihatan berantakan sekali.
Ji
Ho mematikan alat penyedot debunya dan membawanya ke belakang. Dia mematikan
alat pemanggang dan menyiapkan tiga piring untuk sarapan dia sampai di ruang
makan. Letak ruang makan dan ruang tengah berdampingan dan hanya dipisahkan
satu tiang penyangga, jadi Ji Ho masih bisa melihat Hye Jung yang belum
beranjak dari tidurnya.
“Kau
bisa tinggal di sini kalau kepalamu masih pusing. Aku harus berangkat setengah
jam lagi,” kata Ji Ho seraya menata roti panggang yang sudah diolesi nutella dia atas masing-masing piring
yang sudah disiapkan.
“Aku
akan pulang. Aku akan mempersiapkan wawancaraku,” sahut Hye Jung, yang masih
mirip dengan gumaman.
Ji
Ho hanya menggeleng pelan.
Dia
sudah bersiap sejak pukul enam tadi. Dia sudah menyiapkan pakaian kerjanya dan
membersihkan dirinya sebelum membersihkan seluruh ruangan apartemennya. Dia
juga sudah menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga.
“Bangunlah.
Kau akan menghabiskan waktumu seharian di atas sofa itu kalau kau tidak segera
bangun,” kata Ji Ho.
Hye
Jung masih bergeming di tempatnya.
“Eonnie,
kau bangun pagi sekali,” suara kecil Sarang, terdengar di belakang Ji Ho.
Ji
Ho segera menoleh ke arahnya dan melihat Sarang masih terlihat sangat
mengantuk. Dia mengusap matanya berkali-kali sebelum akhirnya memakai kacamatanya.
Gadis kecil itu mengenakan piyama milik Ji Ho yang mulai kekecilan dan tampak
kedodoran sekali dengan piyama berwarna pink. Tapi di mata Ji Ho, Sarang tampak
lucu sekali mengenakan piyama itu.
“Kau
sudah bangun?” tanya Ji Ho riang, seraya menyiapkan kursi untuk Sarang.
Sarang
berjalan ke arah Ji Ho dengan langkah pelan dan duduk di atas kursi yang sudah
disiapkan Ji Ho.
“Maaf,
ya? Pagi ini harus roti lagi. Aku sedang terburu-buru. Jadi, hanya bisa
membuatkan ini untukmu,” kata Ji Ho seraya menyodorkan secangkir susu coklat
hangat ke arah Sarang.
Sarang
menoleh ke arah Ji Ho dan tersenyum.
“Aku
menyukainya. Terimakasih,” katanya kemudian. Ji Ho membalasnya dengan sebuah
senyuman manis.
“Ji
Ho, kau berhutang penjelasan padaku,” suara Hye Jung dari ruang tengah mengusik
pendengaran Ji Ho. Ji Ho langsung menoleh ke arah Hye Jung yang kini menatapnya
dengan tatapan penuh selidik.
“Kau
mabuk semalam. Jadi kau tidak tahu kalau anak ini sudah di sini sejak semalam,”
kata Ji Ho kemudian.
“Aku
tahu. Tapi siapa anak itu?” tanya Hye Jung, dengan pandangan ingin tahu.
“Anggap
saja klienku,” jawab Ji Ho seraya angkat bahu.
Sarang
segera turun dari kursinya dan membungkukkan badannya dengan hormat ke arah Hye
Jung.
“Selamat
pagi, Bibi,” katanya riang.
Wajah
Hye Jung yang semula masih mengantuk dan tampak ingin tahu, kini berubah
menjadi kesal. Ji Ho bisa melihat dahinya berkedut menahan kekesalan.
“Aku
bukan bibimu, Nak,” katanya. Dia beranjak dari sofa dengan sedikit terhuyung,
lalu berjalan ke arah mereka berdua.
“Maafkan
aku, Hye Jung eonnie,” kata Sarang dengan takut-takut. Dia menatap Ji Ho,
seolah minta pertolongan padanya. Tapi Ji Ho hanya melemparkan senyum yang
seolah mengatakan semua baik-baik saja.
“Kau
tahu namaku? Baiklah, aku maafkan. Jadi siapa namamu?” tanya Hye Jung. Dia
duduk di kursi yang berhadapan dengan Sarang dan Ji Ho, lalu mulai mengambil
roti panggang yang sudah disiapkan untuknya. Sarang kembali duduk di kursinya.
“Sarang.
Park,” jawabnya kemudian, seraya meneruskan sarapannya.
“Sarang
Pa– uhuk! Uhuk!”
Ji
Ho terkejut kaget saat melihat Hye Jung tiba-tiba tersedak hebat sekali. Dia
menyodorkan air putih ke arah Hye Jung dan gadis itu langsung meneguknya dengan
tergesa.
“Kau
ini kenapa?” tanya Ji Ho saat Hye Jung sudah kembali tenang. Hye Jung tidak
melihat ke arahnya dan menatap gadis itu kecil di hadapannya itu dengan
seksama.
“Kau
... Park Sarang? Sarang yang itu?” tanyanya. Ada sebuah keterkejutan dalam
suara Hye Jung saat dia melihat Sarang.
Sarang
mengangguk dengan sikap ragu.
“Berapa
umurmu?” tanya Hye Jung lagi, kali ini dengan nada suara yang tidak bisa
dijelaskan. Ada ketakutan dalam nada suaranya saat menanyakan hal itu.
“Empat
tahun,” jawab Sarang, kini dia ikut mengernyitkan dahi menatap Hye Jung.
Dan
reaksi Hye Jung setelah itu sama sekali tidak diduga Ji Ho. Dia segera menutup
mulutnya seraya menatap Ji Ho dan Sarang secara bergantian.
“Ada
apa? Kau kenal anak ini?” tanya Ji Ho, dengan nada bingung dan cemas.
Hye
Jung tidak segera menjawab. Dan bersamaan itu terdengar suara bel dari luar
apartemen.
Ji
Ho sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan Hye Jung dan banyak pertanyaan
yang bemunculan di benaknya saat melihat reaksi Hye Jung barusan. Tapi ada tamu
yang harus ditemui yang sedang memencet bel berkali-kali di luar apartemennya.
Ji
Ho segera beranjak dari duduknya dan setengah berlari menuju pintu apartemen.
Dia
langsung membuka pintu apartemennya tanpa melihat dari lobang pintu siapa yang
sedang memencet bel apartemennya berkali-kali ini. Dan begitu dia membuka
pintunya dan melihat siapa yang kini berdiri di depan apartemennya, kedua
matanya kembali membelalak lebar dan dia hampir terpekik kaget karena dia tidak
pernah menduga orang ini akan muncul di apartemennya dengan cara yang tiba-tiba
begini.
Park
Jung Min berdiri di depan apartemennya dengan mengenakan kaos panjang berwarna
abu-abu gelap dan celana jeans yang warnanya sudah usang. Walaupun
penampilannya hanya sesederhana itu, tapi Ji Ho tidak bisa menolak hormon
feromon lokal yang menguar dari tubuh laki-laki itu. Laki-laki itu tampak
begitu mempesona, seperti pertama kali mereka bertemu. Wajahnya kelihatan
bersih dan wangi parfum maskulin menguar dari tubuh tegapnya. Kedua mata hitamnya
menatap Ji Ho tajam dan itu membuat Ji Ho seperti akan meleleh di tempat begitu
melihat matanya langsung.
“Sarang
bilang dia menginap di sini,” itu adalah kalimat pertamanya setelah mereka
bertatapan satu sama lain untuk beberapa saat.
Dan
itu membuat Ji Ho segera tersadar kalau mereka masih berdiri di pintu apartemennya.
“Apa?
Dia bilang kau menyuruhnya menginap di rumah nenek Jang,” kata Ji Ho kemudian.
Jung
Min terlihat menghela napas pelan.
“Aku
tidak pernah menyuruhnya begitu. Nenek Jang juga mencarinya semalaman,” katanya
kemudian.
“Jadi,
anak itu berbohong?” tanya Ji Ho.
“Aku
rasa,” jawab Jung Min.
“Dan
kenapa kau tahu kalau dia ada di sini?” tanya Ji Ho heran.
“Dia
sudah pasti akan mencarimu kan?” Jung Min menyahut dengan nada datar.
“Kenapa
aku—maksudku, kenapa kau tahu dia ada di apartemenku?” tanya Ji Ho, kali ini
rasa penasarannya benar-benar sudah berada di puncak kepalanya.
Banyak
hal yang terjadi, dan entah kenapa dia merasa hanya dia satu-satunya yang tidak
tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Karena
hanya itu satu-satunya petunjuk. Orang yang dia kenal di kota ini hanya kau.
Dia tidak mengenal orang lain lagi selain dirimu,” jelas Jung Min.
“Itu
belum menjelaskan semuanya,” kata Ji Ho dengan nada menuntut.
Jung
Min kembali menghela napas dan kali ini lebih panjang.
“Aku
juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu. Sejak bertemu denganmu
beberapa hari yang lalu, Sarang bersikeras untuk menemuimu,” kata Jung Min.
“Itu
hanya alasannya untuk bisa pergi dari rumah. Kau tahu itu kan? Dia tidak betah
tinggal di rumahnya sendiri,” kata Ji Ho.
“Aku
tahu. Tentu saja. Tapi ada hal lain yang membuatnya terus mengingatmu dan ingin
datang menemuimu,” kata Jung Min.
Ji
Ho mengerutkan dahi menatapnya.
“Apa
itu?” tanyanya kemudian.
“Ikatannya
denganmu,” jawab Jung Min. Kedua matanya menatap Ji Ho dengan tatapan lembut
sekaligus menghujam, yang membuat Ji Ho tidak bisa berkutik. Dan entah kenapa,
sebuah bayangan tiba-tiba berkelebatan dalam kepalanya.
“Apa
hubungannya denganku?” Ji Ho semakin bingung dengan arah pembicaraannya ini.
“Karena
dia–“
“Park
Jung Min! Kuperingatkan kau!”
Kalimat
Jung Min tiba-tiba terpotong saat Ji Ho tiba-tiba mendengar seruan Hye Jung di
belakangnya. Tanpa perlu menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang bicara, Hye
Jung sudah berdiri di depannya, berada di antara dirinya dan Jung Min.
“Lim
Hye Jung? Sudah lama tidak bertemu denganmu,” kata Jung Min, dengan nada dingin
yang tidak dibuat-buat.
“Appa?”
suara Sarang membuat semua orang menoleh ke belakang. Gadis kecil itu berjalan
ke arah Jung Min dengan piyama pink yang kebesaran.
“Sarangie.
Wah, kau lucu sekali dengan baju ini,” kata Jung Min.
“Kenapa
appa kemari? Untuk menjemputku?” tanya Sarang.
“Tidak.
Kau boleh tinggal di sini semaumu,” jawab Jung Min kemudian. Dan jawabannya itu
membuat Ji Ho terbelalak kaget. Apa? Berani-beraninya pria ini... batinnya.
“Benarkah?”
Sarang kelihatan senang sekali. Kedua matanya berbinar saat menatap ke arah Ji
Ho.
“Tung-tunggu.
Kau tidak bisa seenaknya menyuruhnya seperti itu. Maksudku, aku tidak keberatan
dia ada di sini. Tapi ini bukan–“
“Kenapa
tidak?” Jung Min segera memotong kata-kata Ji Ho dan entah kenapa Ji Ho
langsung bungkam begitu mendengar nada tajam laki-laki itu. “Aku tidak bisa
mencegahnya kalau dia ingin tinggal di rumah ibunya sendiri kan?”
“Park
Jung Min!” Hye Jung berseru ke arah Jung Min.
Tapi
tentu saja Ji Ho sudah mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan laki-laki
itu. Butuh beberapa saat untuk mencerna kata-kata itu ke dalam otaknya sampai
dia mengerti.
“Maaf.
Apa?” tanyanya kemudian.
Jung
Min mendengus pelan.
“Dia
anakmu. Anak kandungmu yang pernah kau tinggalkan di panti asuhan empat tahun
silam,” jawab Jung Min dengan enteng, menghiraukan tatapan marah Hye Jung yang
kini berdiri di depannya.
“Ap-apa?”
Ji Ho bertanya dengan nada tergagap.
Matanya
beralih menatap Sarang yang kini bergelayut di kaki Jung Min dan balas
menatapnya dengan tatapan takut-takut. Kedua mata itu seolah membawanya pada
lorong panjang yang gelap yang membuat kepalanya tiba-tiba menjadi berdenyut
tak karuan.
Sekelebat
bayangan kembali menari-nari di kepalanya. Kali ini disertai dengan suara-suara
yang samar-samar terdengar di kejauhan.
.
“Kau
yakin? Kau tidak akan ingat apapun setelah proses terapi ini selesai .”
“Kumohon.
Lakukan saja.”
“Bagaimana
anak itu, Ji Ho? Pikirkan perasaannya.”
“Aku
tidak peduli, Hye Jung! Hidupku sudah hancur. Dan aku tidak bisa menanggung
beban yang lebih berat dari ini.”
“Ku
benar-benar yakin?”
“Aku
yakin. Jangan banyak bicara dan lakukan saja. Aku akan membayar berapapun.”
.
Ji
Ho merasa kepalanya terasa berdenyut-denyut tak karuan saat ini.
Apa
yang terjadi padanya?
Suara-suara
apa itu? Dan kenapa ada suara Hye Jung?
‘Ya,
Tuhan. Apa yang terjadi padaku?’
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar