expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

OPENING

Opening

Blog ini berisi konten-konten terlarang.. Hehehe. Bo'ong, diiiing.. Blog ini khusus buat para Triple S dan orang-orang yang dengan sukarela menghargai karya orang lain.. Dikhususkan buat para penggemar fanfiction yang gak suka bashing dan suka menghargai karya orang lain. If you don't like it, JUST LEAVE THIS PAGE!! We don't need bashing.. Kalau kritikan, fine.. Tapi bukan untuk dicaci maki dan dihina. Jadi, sekali lagi.. We need your supports. Dan yang terpenting dari segala yang terpenting adalah.. DILARANG MENGCOPY TANPA IJIN APALAGI MENGKLAIM DENGAN SENANG HATI KALAU INI ADALAH HASIL KARYANYA. Semua yang ada di sini ditulis oleh kami sendiri. Bukan saduran maupun plagiat dari mana-mana. Atas perhatiannya. Saya ucapkan terima kasih..


NOTE: Komen dan kritikan dan saran saaaaangaaat ditunggu.. ^^

Author

Sabtu, 29 April 2017

Split (2)

Sejak pertemuannya dengan laki-laki bernama Park Jung Min seminggu yang lalu, Ji Ho terus memikirkannya. Bukan karena dia terpesona dengan wajah tampan laki-laki itu. Oke, dia memang tidak menampik kalau laki-laki itu adalah tipe idealnya. Tapi bukan itu yang jadi poin utamanya. Nama laki-laki itu seperti pernah dia dengar. Tapi dia tidak mengingatnya. Dan itu benar-benar mengganggu pikiran Ji Ho.
Dia melihat semua berkas klien yang pernah dia tangani, tapi dia tidak menemukan nama laki-laki itu di sana. Ji Ho bahkan mencoba mencari namanya di mesin pencarian di internet, tapi yang dia dapat hanya beberapa laki-laki bernama Park Jung Min yang sama tapi tidak ada Jung Min yang dia cari di sana.
Akhirnya pagi ini Ji Ho memutuskan untuk tidak memikirkan laki-laki itu dan mulai kembali serius dengan pekerjaannya. Lagipula, laki-laki itu sudah beristri. Memikirkan suami orang benar-benar bukan gayanya.
“Kau tidak mendengarku mengetuk pintu berkali-kali?” sebuah suara tiba-tiba terdengar di dekatnya. Ji Ho yang sedang membuka lembaran berkasnya dengan setengah melamun langsung terkejut karena suara itu.
Dia mendongak dari lembaran berkasnya dan melihat seseorang sudah berdiri di depan meja kerjanya.
Seorang perempuan muda dengan rambut pnjang yang diwarna coklat kemerahan menatapnya dengan tatapan galak dari balik kacamata berbingkainya.
“Kau mengagetkanku, Hye Jung,” kata Ji Ho setengah kesal.
“Padahal aku tidak berteriak-teriak. Kau sedang tidak ada klien hari ini?” tanya perempuan muda yang dipanggil Hye Jung tadi seraya duduk di atas kursi yang ada di depan meja kerja Ji Ho.
“Kau beruntung aku sedang tidak ada klien hari ini dan kau bisa bertemu denganku sesukamu,” jawab Ji Ho dengan nada setengah bercanda.
Hye Jung mendecih pelan.
“Dan, apa yang membawa seorang reporter televisi sepertimu tiba-tiba mampir ke kantorku malam ini?” tanya Ji Ho lagi.
Hye Jung tidak langsung menjawab dan hanya melenguh pelan. Dia beranjak dari duduknya dan beralih pada sofa panjang tak jauh dari Ji Ho duduk sekarang. Dengan sekali gerakan dia langsung merebahkan tubuhnya ke atas sofa itu. Menjadi teman dekatnya sejak di sekolah menengah, membuat Ji Ho segera menyadari ada yang terjadi pada perempuan itu. Bukan sesuatu yang bagus tentunya. Wajah Hye Jung tampak murung dan ada sedikit kekesalan yang tampak di matanya.
“Ada masalah dengan pekerjaanmu?” tanya Ji Ho.
Hye Jung mendesah pelan dan  Ji Ho hanya menatapnya dengan tatapan maklum.
“Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran laki-laki itu,” kata Hye Jung, kali ini dengan nada kesal.
“Baiklah, biaya konseling satu jamnya akan aku potong karena kau adalah teman dekatku,” kata Ji Ho kemudian.
Hye Jung balas menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Kau bercanda?”
“Kau duduk di tempat terapi klienku,” ujar Ji Ho seraya menunjuk sofa yang ditiduri Hye Jung saat ini.
“Yang benar saja, Kim Ji Ho,” kata Hye Jung kesal, tapi tidak beranjak dari tidurnya.
“Jadi, apa yang dilakukan laki-laki itu?” tanya Ji Ho kemudian.
“Ya, ampun. Kau bahkan memanggil kakak sepupumu sendiri dengan panggilan ‘laki-laki itu’?” Hye Jung kini menatap Ji Ho tak percaya.
“Aku sudah memanggilnya begitu sejak aku kecil. Jadi, apa masalahmu dengannya?” tanya Ji Ho seraya merapikan berkas-berkasnya.
“Sebenarnya apa kelemahannya? Aku tahu dia adalah kepala divisi tempatku bekerja. Tapi itu tidak bisa membuatnya hampir selalu menyalahkan dalam semua pekerjaanku kan? Aku selalu terlihat seperti orang bodoh di depan banyak orang karena dia selalu menyalahkanku. Semua pekerjaanku selalu salah di matanya,” ujar Hye Jung panjang lebar.
Ji Ho hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda dia mengerti situasi yang terjadi pada Hye Jung.
“Jadi, apa lagi yang kau lakukan sampai membuatnya marah?” tanya Ji Ho.
“Sebenarnya dia tidak marah. Dia hanya terlihat mengabaikanku,” jawab Hye Jung.
“Terlihat mengabaikan? Bukankah itu lebih baik daripada kau dibentak-bentak di depan umum?” tanya Ji Ho dengan dahi berkerut.
“Y-ya... Aku lebih suka dia memarahiku daripada dia mengabaikanku,” suara Hye Jung memelan.
“Oke, aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi padamu dan laki-laki itu. Jadi, kau ingin aku bicara padanya atau apa?” tanya Ji Ho kemudian. Dia tidak terlalu suka basa-basi. Menurutnya itu hanya membuang-buang waktu.
“Tidak, tidak. Kau jangan berpikiran kalau aku datang ke sini untuk memintamu bicara padanya karena kau sepupunya. Aku  hanya.. ingin bicara padamu dan bertemu denganmu,” kata Hye Jung dengan nada canggung.
Ji Ho menghela napas.
“Kau tidak perlu secanggung itu padaku. Lagipula, selain Hye Ri, kau juga adalah teman dekatku kan? Omong-omong, kau tidak meliput hari ini?” Ji Ho menatap wanita berambut merah itu dengan dahi berkerut.
Hye Jung membuang napas keras-keras.
“Hari ini aku libur dan dua hari lagi ada tugas wawancara dengan seorang pengusaha muda yang sedang naik daun beberapa waktu terakhir ini,” jelasnya dengan nada malas.
“Oh, ya? Siapa?” Ji Ho bertanya dengan nada penasaran.
“Kau tidak mau tahu,” kata Hye Jung kemudian.
Ji Ho kembali mengerutkan dahinya.
“Dan kenapa aku tidak mau tahu?” tanyanya.
“Karena dia adalah seorang Park–dia berasal dari keluarga yang sombong sekali,” jawab Hye Jung kemudian. Entah kenapa dia jadi bersikap salah tingkah sendiri.
Dan perubahan perilakunya itu jelas tidak luput dari penglihatan Ji Ho yang sejak tadi menatapnya.
“Kau tadi mengatakan sesuatu,” kata Ji Ho dengan nada tajam.
“Yeah, tentang seorang pengusaha muda yang berasal dari keluarga angkuh,” jawab Hye Jung kemudian. Dia sudah menemukan ketenangannya lagi dan mulai bicara dengan sikap enggan seperti beberapa saat yang lalu.
“Kau hampir menyebutkan nama tadi,” kata Ji Ho.
“Oh, ya?” Hye Jung balas menatapnya dengan tatapan bingung.
Ji Ho menghela napas panjang. Lalu dia mulai membereskan barang-barangnya yang di atas meja untuk dimasukkan ke dalam laci meja kerjanya sebelum akhirnya menguncinya.
“Mau kutemani minum?” tawarnya pada Hye Jung, seraya beranjak dari tempat duduknya.
Hye Jung menoleh ke arahnya dengan mata berbinar-binar.
“Kau memang selalu tahu apa yang ada di benakku, Ji Ho. Tidak rugi aku memiliki teman seorang psikolog sepertimu,” katanya seraya beranjak dari sofa dan berdiri dengan antusias.
“Tapi kali ini kau yang mentraktirku. Aku hanya menemanimu minum,” kata Ji Ho seraya menyampirkan tali tasnya ke bahunya dan berjalan ke arah pintu keluar.
“Kukira kau sudah berubah jadi ibu peri baik hati yang suka menolong tanpa pamrih,” keluh Hye Jung.
Ji Ho tidak menoleh ke belakang. Tapi dia terkikik geli tanpa suara saat mendegar Hye Jung mengatakan hal itu dengan nada setengah menggerutu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ji Ho seharusnya tahu resiko mengajak Hye Jung minum saat suasana hati gadis itu sedang buruk. Dia sudah mengenal gadis itu selama bertahun-tahun dan seharusnya tahu apa akibatnya kalau Hye Jung pergi minum dalam kondisi seperti ini. Walau awalnya Ji Ho yang mengajaknya minum, tapi akhirnya yang menghabiskan berbotol-botol soju itu adalah Hye Jung dan Ji Ho hanya minum sedikit. Dan sekarang, dengan Hye Jung yang berjalan sempoyongan di sampingnya, Ji Ho terpaksa membawanya ke apartemennya. Salah satu lengan Hye Jung dilingkarkan ke bahunya dan dia susah payah menarik tubuh Hye Jung yang sudah setengah sadar itu. Untung saja perempuan itu bertubuh lebih pendek darinya, jadi Ji Ho tidak terlalu kesulitan menyeretnya.
Hye Jung terus menceracau tidak jelas sejak keluar dari kedai minum tadi. Dan Ji Ho harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan malunya karena dilihat orang-orang yang lewat di dekatnya. Dia juga harus membungkam mulut Hye Jung saat gadis itu berseru tak karuan saat mereka melewati perumahan warga. Salah satu warga yang tampaknya terganggu dengan ceracauan Hye Jung langsung memarahinya dan Ji Ho harus meminta maaf berkali-kali pada laki-laki tua itu.
Untungnya saat mereka sudah sampai di gedung apartemennya, Hye Jung tidak berteriak-teriak seperti tadi. Mungkin dia sudah lelah dan kesadarannya mulai melemah.
Ji Ho mulai mengeluarkan peluh saat dia keluar dari lift dan berjalan menuju apartemennya sendiri. Salah seorang tetangga apartemennya yang melihatnya kewalahan seperti itu, hanya menatapnya dengan tatapan maklum. Ji Ho tidak terlalu memperdulikannya karena yang ingin dilakukannya sekarang adalah melemparkan tubuh Hye Jung ke sofa di apartemennya.
Bahunya sudah terasa kebas karena membawa tubuh Hye Jung.
Saat Ji Ho hampir sampai di apartemennya, kedua matanya membelalak lebar karena kaget. Dia melihat seseorang sudah duduk meringkuk di depan pintu apartemennya dan tampak terkantuk-kantuk.
Ji Ho mempercepat langkahnya dan itu artinya dia harus menyeret tubuh Hye Jung dengan sembarangan.
“Sarang?” tanya Ji Ho, dengan nada kaget.
Gadis kecil yang tampak terkantuk-kantuk itu langsung terlonjak. Dia langsung mendongakkan kepalanya ke arah Ji Ho. Dia membenarkan bajunya yang berantakan dan menatap Ji Ho dengan wajah berbinar.
“Eonnie!” serunya seraya berjalan ke arah Ji Ho dan memeluknya.
“Eh?” Ji Ho bingung dengan sambutan yang sama sekali tidak pernah dia duga sebelumnya.
Dia mendengar Hye Jung bergumam tak jelas di sampingnya.
“Kenapa kau ada di sini malam-malam begini?” tanya Ji Ho, menatap gadis kecil itu dengan dahi berkerut.
Sarang melepaskan pelukannya dan mendongak untuk menatap wajah Ji Ho.
“Karena aku ingin bertemu denganmu,” jawabnya polos.
“Apa ibumu meninggalkanmu lagi?” tanya Ji Ho ingin tahu.
Sarang menggeleng.
“Tidak,” jawabnya.
“Lalu?” tanya Ji Ho semakin penasaraan.
“Aku pergi ke sini sendirian,” jawabnya kemudian.
“Ap-apa?” Ji Ho membelalak kaget menatap gadis kecil itu. Tapi Sarang tampaknya tidak terlalu terpengaruh dengan kekagetan Ji Ho.
“Kau tidak menghubungiku lagi sejak kau mengantarkanku pulang ke rumah. Jadi, aku ke sini karena aku ingin bertemu denganmu,” jelas Sarang dengan wajah polos. Kedua mata hitamnya menatap Ji Ho dengan tatapan bangga dan penuh kerinduan.
“Tu-tunggu. Kau ke sini sendirian? Tapi bagaimana? Kau bahkan masih... sangat kecil,” kata Ji Ho, tak habis pikir.
“Aku menumpang mobil milik nenek Jang. Dia adalah tetanggaku yang sangat baik hati. Dia bilang akan pergi ke Apgujong untuk menjenguk cucunya. Jadi aku ikut dengannya dan pergi ke apartemenmu. Tapi sejak sore kau tidak ada. Jadi aku menunggumu di sini,” kata Sarang panjang lebar. Dan itu semakin membuat kedua mata Ji Ho membelalak kaget.
“Kau menungguku di sini dari siang? Ya, Tuhan. Kenapa kau ... Oh, baiklah. Kau pasti lapar sekali. Tunggu sebentar,” Ji Ho segera mencari-cari kunci apartemennya dengan salah satu tangannya, karena tangannya yang satu masih menahan tubuh Hye Jung yang tampaknya sudah tidak sadarkan diri. Apartemen Ji Ho ini adalah apartemen sederhana yang masih menggunakan kunci pintu dan bukan pintu otomatis yang akan terbuka kalau kita menekan password.  Jadi, agak menyusahkan saat dia mencari kunci apartemennya dengan keadaan seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.

Setelah merebahkan tubuh Hye Jung di sofa yang ada di ruang tengahnya, menyelimuti tubuh Hye Jung yang sudah mendengkur keras dengan selimut tebal, dan berganti pakaiannya sendiri, Ji Ho akhirnya menyiapkan makan malam untuk Sarang yang sudah menunggunya di ruang makan (Ji Ho sendiri yang memintanya untuk menunggu di sana).
“Jadi, kau mau makan apa untuk makan malam, Sarang-ah?” tanya Ji Ho seraya membuka lemari es-nya. Tidak terlalu banyak bahan makanan, karena dia tidak terlalu suka memasak dan lebih suka membeli produk jadi. Benar-benar bukan kehidupan yang sehat. Tapi Ji Ho sudah cukup senang dengan mengkonsumsi buah-buahan untuk suplemen alami sehari-hari.
“Apa kau bisa membuatkanku sandwich?” tanya Sarang.
“Sandwich? Hanya itu? Apa akan kenyang?” Ji Ho mengerutkan dahi, seraya mengambil beberapa sayuran segar dari lemari es-nya. Untung saja dia baru membeli roti pagi tadi.
“Biasanya eomma malah hanya memberiku ramen setiap makan malam,” jawab Sarang.
Ji Ho menatap anak itu untuk beberapa saat. Dia tahu hubungannya dengan ibunya tidak terlalu baik, tapi bukan berarti seorang ibu mengabaikan kesehatan untuk anaknya sendiri kan?
“Jadi, Sarang.. apa yang membuatmu ingin mengunjungiku?” tanya Ji Ho seraya mengeluarkan roti dan meletakkannya di atas piring yang sudah dia siapkan sebelumnya.
“Aku rindu padamu,” jawab Sarang.
Itu adalah hal yang aneh bagi Ji Ho. Dia memang dekat dengan beberapa anak, karena pekerjaannya. Tapi beberapa dari mereka tidak ada yang nekat pergi dari kota yang jauh sendirian tanpa orangtuanya hanya untuk menemuinya, dan bahkan mengatakan rindu padanya.
“Kenapa kau rindu padaku?” tanya Ji Ho kemudian, mengabaikan desiran aneh yang menyelimuti perasaannya setelah mendengar penuturan Sarang baru saja. Selain Hye Ri, sejauh ini tidak ada yang bilang rindu padanya dan ingin bertemu dengannya.
“Karena kau mirip eomma,” jawab Sarang kemudian.
“Eh?” Ji Ho berhenti menaruh sayuran segar di atas roti tawarnya dan beralih menatap Sarang.
Sarang tersenyum lebar dan dia tampak manis sekali. Kedua mata lebarnya yang dihiasi manik hitam kelam benar-benar indah dan itu membuat Ji Ho jatuh cinta pada pandangan polos gadis itu. Sejak pertama kali mereka bertemu.
“Karena eomma-nya Young Jae dan ibunya Jung Hee eonnie baik sekali. Mereka sepertimu. Selalu tersenyum  dan cantik sekali. Tidak seperti ibuku. Dia hanya tersenyum padaku saat ada appa,” wajah Sarang yang awalnya kelihatan senang berubah jadi murung. Dia menunduk dengan bibir mengatup rapat.
Ji Ho menghela napas panjang. Sebenarnya masih banyak hal yang mengganggunya tentang Ibu gadis kecil itu, tapi saat mendengar perut Sarang berbunyi keras sekali, Ji Ho segera menyelesaikan sandwich-nya. Sarang tampak malu dan wajahnya memerah. Tapi itu malah membuat Ji Ho tersenyum geli.
“Tidak apa-apa, lapar adalah hal yang wajar kan?” katanya seraya meletakkan sayuran terakhir.
Sarang tidak menjawab dan hanya memegangi perutnya.
“Yak! Sudah selesai,” Ji Ho menyodorkan piring yang sudah berisi sandwich itu ke arah Sarang. “Kau mau susu? Biar aku siapkan.”
Sarang menelan sandwich-nya dengan susah payah seraya mengangguk.
Ji Ho tersenyum simpul dan mulai membuka pintu lemari es-nya lagi. Dia mengeluarkan kotak susu coklat yang sudah dingin.
“Jadi, apakah kau ada masalah dengan ibumu atau bagaimana? Apakah kau membuat ibumu marah sehingga dia bersikap seperti itu padamu?” tanya Ji Ho seraya menghangat susu itu di atas sebuah panci.
Sarang menggeleng. Mulutnya terlihat penuh dengan makanan. Ji Ho hanya menatapnya maklum. Dia tahu anak itu pasti sudah kelaparan karena menunggunya sejak tadi sore. Sarang menelan makanannya dengan susah payah sebelum akhirnya bicara dengan suara pelan.
“Karena aku bukan anaknya,” katanya kemudian.
Dan jawabannya itu serta merta membuat Ji Ho kembali terbelalak kaget.
“Apa?” tanyanya dengan dahi berkerut.
“Aku mendengar eomma berteriak marah pada appa saat mereka bertengkar. Dia bilang kalau aku bukan anak kandungnya. Jadi dia tidak sayang padaku,” jelas Sarang dengan nada polos.
Dan penjelasannya itu membuat dada Ji Ho terasa tersayat. Dia menatap anak itu dengan tatapan iba. Jadi terjawab sudah pertanyaannya tentang perlakuan kasar perempuan bernama Soo Jin itu pada Sarang.
“Apa mereka sering bertengkar?” tanya Ji Ho lagi.
Sarang langsung mengangguk.
“Sering sekali. Eomma suka berteriak-teriak pada appa. Eomma sering pulang malam dalam keadaan seperti bibi yang kau seret tadi. Lalu eomma marah-marah pada appa,” jelas Sarang. Dia menelan potongan sandwich terakhirnya.
Ji Ho terlalu fokus pada cerita Sarang sampai dia tidak sadar kalau susunya sudah mendidih. Dia segera mematikan kompornya dan menuangkan susu itu ke dalam cangkir yang sudah disiapkan.
“Dan kau mendengar pertengkaran mereka setiap hari?” tanya Ji Ho seraya menyodorkan cangkir itu kepada Sarang. Sarang kembali mengangguk.
“Kadang aku pergi dari rumah dan menginap di rumah nenek Jang. Pagi ini juga mereka bertengkar lagi. Dan aku langsung pergi ke rumah Jung Hee eonnie. Dia sudah pergi ke sekolah, tapi ibunya baik sekali. Dia juga membuatkanku sarapan,” jelas Sarang. Dia mulai meniup-niup cangkirnya dan menyesap susunya dengan hati-hati. Tapi lalu menjulurkan lidahnya detik berikutnya  karena masih terlalu panas.
Ji Ho hanya menatap gadis kecil itu dengan pandangan iba. Anak itu baru berusia empat tahun dan dia sudah disuguhi pemandangan seperti itu sehari-hari. Tidak heran kalau dia akan selalu pergi dari rumah untuk mencari ketenangan dan kenyamanan daripada tinggal di rumahnya sendiri. Ditambah dengan fakta kalau dia tinggal dengan ibu tirinya yang jelas-jelas tidak suka padanya. Kalau dibiarkan seperti ini terus menerus, tentu saja dampaknya akan kelihatan kalau anak ini sudah mulai beranjak besar. Apalagi anak ini termasuk cerdas jika dilihat dari caranya bercerita dengan detail di usianya yang sedini ini. Dia tahu bagaimana seorang anak berbohong. Anak itu akan memutar matanya tanda dia sedang memikirkan apa yang harus dikatakan agar orang lain percaya. Tapi anak di depannya ini menjawab pertanyaan Ji Ho dengan polos dan apa adanya. Dan dia tidak sadar kalau dirinya sedang berada dalam masalah sekarang.
 Ji Ho tidak bisa tinggal diam. Dia harus bicara pada kedua orangtuanya. Ayahnya, lebih tepatnya.
“Oh, ya, apa kau sudah memberitahu ayahmu kalau kau akan ke sini?” tanya Ji Ho.
Sarang langsung menggeleng.
“Ayah tidak pulang malam ini. Dia sudah bilang padaku untuk menginap di rumah nenek Jang saja malam ini,” jawab Sarang.
“Tapi bagaimana kalau saat dia menjemputmu di rumah nenek Jang besok, dan kau tidak ada di rumahnya?” tanya Ji Ho lagi.
Sarang hanya angkat bahu.
“Kau bisa bicara pada appa, seperti beberapa waktu yang lalu. Appa tidak akan marah padamu,” kata Sarang. Dia menatap Ji Ho dengan matanya yang sipit dan ada tatapan permohonan dalam bola matanya itu. Ji Ho menghela napas pasrah. Entah kenapa dia tidak bisa menolak permohonan gadis kecil itu, sejak pertama kali mereka bertemu.
“Baiklah. Untuk malam ini, kau akan tidur di sini. Dan aku akan mengantarmu besok siang. Karena aku ada janji dengan klien besok pagi,” kata Ji Ho kemudian.
Sebuah senyum lebar terulas di bibir tipis Sarang.
“Terimakasih,” katanya riang, seraya meneguk susunya yang sudah mulai menghangat.
Ji Ho hanya mendengus geli melihat kepolosan gadis kecil itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara dengungan mesin penyedot debu memenuhi ruangan apartemen itu pagi ini, disertai dengan suara desisan mesin pemanggang yang ada di ruang makan. Hye Jung menggeliat pelan di sofa dan selimut tebal yang menutupi tubuhnya jatuh ke lantai. Dia meregangkan tubuhnya seraya melenguh panjang.
Ji Ho yang melihat temannya itu akhirnya bangun dari tidur panjangnya, hanya mendengus pelan. Dia menaikkan level mesin penyedot debuhnya dan membuat suaranya tambah keras.
“Ji Ho, aku tahu. Aku tahu. Jangan membuat telingaku tuli,” gerutu Hye Jung dengan nada yang mirip gumaman. Dia belum membuka matanya dan hanya menggaruk-garuk rambut panjangnya yang kini kelihatan berantakan sekali.
Ji Ho mematikan alat penyedot debunya dan membawanya ke belakang. Dia mematikan alat pemanggang dan menyiapkan tiga piring untuk sarapan dia sampai di ruang makan. Letak ruang makan dan ruang tengah berdampingan dan hanya dipisahkan satu tiang penyangga, jadi Ji Ho masih bisa melihat Hye Jung yang belum beranjak dari tidurnya.
“Kau bisa tinggal di sini kalau kepalamu masih pusing. Aku harus berangkat setengah jam lagi,” kata Ji Ho seraya menata roti panggang yang sudah diolesi nutella dia atas masing-masing piring yang sudah disiapkan.
“Aku akan pulang. Aku akan mempersiapkan wawancaraku,” sahut Hye Jung, yang masih mirip dengan gumaman.
Ji Ho hanya menggeleng pelan.
Dia sudah bersiap sejak pukul enam tadi. Dia sudah menyiapkan pakaian kerjanya dan membersihkan dirinya sebelum membersihkan seluruh ruangan apartemennya. Dia juga sudah menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga.
“Bangunlah. Kau akan menghabiskan waktumu seharian di atas sofa itu kalau kau tidak segera bangun,” kata Ji Ho.
Hye Jung masih bergeming di tempatnya.
“Eonnie, kau bangun pagi sekali,” suara kecil Sarang, terdengar di belakang Ji Ho.
Ji Ho segera menoleh ke arahnya dan melihat Sarang masih terlihat sangat mengantuk. Dia mengusap matanya berkali-kali sebelum akhirnya memakai kacamatanya. Gadis kecil itu mengenakan piyama milik Ji Ho yang mulai kekecilan dan tampak kedodoran sekali dengan piyama berwarna pink. Tapi di mata Ji Ho, Sarang tampak lucu sekali mengenakan piyama itu.
“Kau sudah bangun?” tanya Ji Ho riang, seraya menyiapkan kursi untuk Sarang.
Sarang berjalan ke arah Ji Ho dengan langkah pelan dan duduk di atas kursi yang sudah disiapkan Ji Ho.
“Maaf, ya? Pagi ini harus roti lagi. Aku sedang terburu-buru. Jadi, hanya bisa membuatkan ini untukmu,” kata Ji Ho seraya menyodorkan secangkir susu coklat hangat ke arah Sarang.
Sarang menoleh ke arah Ji Ho dan tersenyum.
“Aku menyukainya. Terimakasih,” katanya kemudian. Ji Ho membalasnya dengan sebuah senyuman manis.
“Ji Ho, kau berhutang penjelasan padaku,” suara Hye Jung dari ruang tengah mengusik pendengaran Ji Ho. Ji Ho langsung menoleh ke arah Hye Jung yang kini menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
“Kau mabuk semalam. Jadi kau tidak tahu kalau anak ini sudah di sini sejak semalam,” kata Ji Ho kemudian.
“Aku tahu. Tapi siapa anak itu?” tanya Hye Jung, dengan pandangan ingin tahu.
“Anggap saja klienku,” jawab Ji Ho seraya angkat bahu.
Sarang segera turun dari kursinya dan membungkukkan badannya dengan hormat ke arah Hye Jung.
“Selamat pagi, Bibi,” katanya riang.
Wajah Hye Jung yang semula masih mengantuk dan tampak ingin tahu, kini berubah menjadi kesal. Ji Ho bisa melihat dahinya berkedut menahan kekesalan.
“Aku bukan bibimu, Nak,” katanya. Dia beranjak dari sofa dengan sedikit terhuyung, lalu berjalan ke arah mereka berdua.
“Maafkan aku, Hye Jung eonnie,” kata Sarang dengan takut-takut. Dia menatap Ji Ho, seolah minta pertolongan padanya. Tapi Ji Ho hanya melemparkan senyum yang seolah mengatakan semua baik-baik saja.
“Kau tahu namaku? Baiklah, aku maafkan. Jadi siapa namamu?” tanya Hye Jung. Dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Sarang dan Ji Ho, lalu mulai mengambil roti panggang yang sudah disiapkan untuknya. Sarang kembali duduk di kursinya.
“Sarang. Park,” jawabnya kemudian, seraya meneruskan sarapannya.
“Sarang Pa– uhuk! Uhuk!”
Ji Ho terkejut kaget saat melihat Hye Jung tiba-tiba tersedak hebat sekali. Dia menyodorkan air putih ke arah Hye Jung dan gadis itu langsung meneguknya dengan tergesa.
“Kau ini kenapa?” tanya Ji Ho saat Hye Jung sudah kembali tenang. Hye Jung tidak melihat ke arahnya dan menatap gadis itu kecil di hadapannya itu dengan seksama.
“Kau ... Park Sarang? Sarang yang itu?” tanyanya. Ada sebuah keterkejutan dalam suara Hye Jung saat dia melihat Sarang.
Sarang mengangguk dengan sikap ragu.
“Berapa umurmu?” tanya Hye Jung lagi, kali ini dengan nada suara yang tidak bisa dijelaskan. Ada ketakutan dalam nada suaranya saat menanyakan hal itu.
“Empat tahun,” jawab Sarang, kini dia ikut mengernyitkan dahi menatap Hye Jung.
Dan reaksi Hye Jung setelah itu sama sekali tidak diduga Ji Ho. Dia segera menutup mulutnya seraya menatap Ji Ho dan Sarang secara bergantian.
“Ada apa? Kau kenal anak ini?” tanya Ji Ho, dengan nada bingung dan cemas.
Hye Jung tidak segera menjawab. Dan bersamaan itu terdengar suara bel dari luar apartemen.
Ji Ho sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan Hye Jung dan banyak pertanyaan yang bemunculan di benaknya saat melihat reaksi Hye Jung barusan. Tapi ada tamu yang harus ditemui yang sedang memencet bel berkali-kali di luar apartemennya.
Ji Ho segera beranjak dari duduknya dan setengah berlari menuju pintu apartemen.
Dia langsung membuka pintu apartemennya tanpa melihat dari lobang pintu siapa yang sedang memencet bel apartemennya berkali-kali ini. Dan begitu dia membuka pintunya dan melihat siapa yang kini berdiri di depan apartemennya, kedua matanya kembali membelalak lebar dan dia hampir terpekik kaget karena dia tidak pernah menduga orang ini akan muncul di apartemennya dengan cara yang tiba-tiba begini.
Park Jung Min berdiri di depan apartemennya dengan mengenakan kaos panjang berwarna abu-abu gelap dan celana jeans yang warnanya sudah usang. Walaupun penampilannya hanya sesederhana itu, tapi Ji Ho tidak bisa menolak hormon feromon lokal yang menguar dari tubuh laki-laki itu. Laki-laki itu tampak begitu mempesona, seperti pertama kali mereka bertemu. Wajahnya kelihatan bersih dan wangi parfum maskulin menguar dari tubuh tegapnya. Kedua mata hitamnya menatap Ji Ho tajam dan itu membuat Ji Ho seperti akan meleleh di tempat begitu melihat matanya langsung.
“Sarang bilang dia menginap di sini,” itu adalah kalimat pertamanya setelah mereka bertatapan satu sama lain untuk beberapa saat.
Dan itu membuat Ji Ho segera tersadar kalau mereka masih berdiri di pintu apartemennya.
“Apa? Dia bilang kau menyuruhnya menginap di rumah nenek Jang,” kata Ji Ho kemudian.
Jung Min terlihat menghela napas pelan.
“Aku tidak pernah menyuruhnya begitu. Nenek Jang juga mencarinya semalaman,” katanya kemudian.
“Jadi, anak itu berbohong?” tanya Ji Ho.
“Aku rasa,” jawab Jung Min.
“Dan kenapa kau tahu kalau dia ada di sini?” tanya Ji Ho heran.
“Dia sudah pasti akan mencarimu kan?” Jung Min menyahut dengan nada datar.
“Kenapa aku—maksudku, kenapa kau tahu dia ada di apartemenku?” tanya Ji Ho, kali ini rasa penasarannya benar-benar sudah berada di puncak kepalanya.
Banyak hal yang terjadi, dan entah kenapa dia merasa hanya dia satu-satunya yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Karena hanya itu satu-satunya petunjuk. Orang yang dia kenal di kota ini hanya kau. Dia tidak mengenal orang lain lagi selain dirimu,” jelas Jung Min.
“Itu belum menjelaskan semuanya,” kata Ji Ho dengan nada menuntut.
Jung Min kembali menghela napas dan kali ini lebih panjang.
“Aku juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu. Sejak bertemu denganmu beberapa hari yang lalu, Sarang bersikeras untuk menemuimu,” kata Jung Min.
“Itu hanya alasannya untuk bisa pergi dari rumah. Kau tahu itu kan? Dia tidak betah tinggal di rumahnya sendiri,” kata Ji Ho.
“Aku tahu. Tentu saja. Tapi ada hal lain yang membuatnya terus mengingatmu dan ingin datang menemuimu,” kata Jung Min.
Ji Ho mengerutkan dahi menatapnya.
“Apa itu?” tanyanya kemudian.
“Ikatannya denganmu,” jawab Jung Min. Kedua matanya menatap Ji Ho dengan tatapan lembut sekaligus menghujam, yang membuat Ji Ho tidak bisa berkutik. Dan entah kenapa, sebuah bayangan tiba-tiba berkelebatan dalam kepalanya.
“Apa hubungannya denganku?” Ji Ho semakin bingung dengan arah pembicaraannya ini.
“Karena dia–“
“Park Jung Min! Kuperingatkan kau!”
Kalimat Jung Min tiba-tiba terpotong saat Ji Ho tiba-tiba mendengar seruan Hye Jung di belakangnya. Tanpa perlu menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang bicara, Hye Jung sudah berdiri di depannya, berada di antara dirinya dan Jung Min.
“Lim Hye Jung? Sudah lama tidak bertemu denganmu,” kata Jung Min, dengan nada dingin yang tidak dibuat-buat.
“Appa?” suara Sarang membuat semua orang menoleh ke belakang. Gadis kecil itu berjalan ke arah Jung Min dengan piyama pink yang kebesaran.
“Sarangie. Wah, kau lucu sekali dengan baju ini,” kata Jung Min.
“Kenapa appa kemari? Untuk menjemputku?” tanya Sarang.
“Tidak. Kau boleh tinggal di sini semaumu,” jawab Jung Min kemudian. Dan jawabannya itu membuat Ji Ho terbelalak kaget. Apa? Berani-beraninya pria ini... batinnya.
“Benarkah?” Sarang kelihatan senang sekali. Kedua matanya berbinar saat menatap ke arah Ji Ho.
“Tung-tunggu. Kau tidak bisa seenaknya menyuruhnya seperti itu. Maksudku, aku tidak keberatan dia ada di sini. Tapi ini bukan–“
“Kenapa tidak?” Jung Min segera memotong kata-kata Ji Ho dan entah kenapa Ji Ho langsung bungkam begitu mendengar nada tajam laki-laki itu. “Aku tidak bisa mencegahnya kalau dia ingin tinggal di rumah ibunya sendiri kan?”
“Park Jung Min!” Hye Jung berseru ke arah Jung Min.
Tapi tentu saja Ji Ho sudah mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan laki-laki itu. Butuh beberapa saat untuk mencerna kata-kata itu ke dalam otaknya sampai dia mengerti.
“Maaf. Apa?” tanyanya kemudian.
Jung Min mendengus pelan.
“Dia anakmu. Anak kandungmu yang pernah kau tinggalkan di panti asuhan empat tahun silam,” jawab Jung Min dengan enteng, menghiraukan tatapan marah Hye Jung yang kini berdiri di depannya.
“Ap-apa?” Ji Ho bertanya dengan nada tergagap.
Matanya beralih menatap Sarang yang kini bergelayut di kaki Jung Min dan balas menatapnya dengan tatapan takut-takut. Kedua mata itu seolah membawanya pada lorong panjang yang gelap yang membuat kepalanya tiba-tiba menjadi berdenyut tak karuan.
Sekelebat bayangan kembali menari-nari di kepalanya. Kali ini disertai dengan suara-suara yang samar-samar terdengar di kejauhan.
.
“Kau yakin? Kau tidak akan ingat apapun setelah proses terapi ini selesai .
“Kumohon. Lakukan saja.”
“Bagaimana anak itu, Ji Ho? Pikirkan perasaannya.”
“Aku tidak peduli, Hye Jung! Hidupku sudah hancur. Dan aku tidak bisa menanggung beban yang lebih berat dari ini.”
“Ku benar-benar yakin?”
“Aku yakin. Jangan banyak bicara dan lakukan saja. Aku akan membayar berapapun.”
.
Ji Ho merasa kepalanya terasa berdenyut-denyut tak karuan saat ini.
Apa yang terjadi padanya?
Suara-suara apa itu? Dan kenapa ada suara Hye Jung?
‘Ya, Tuhan. Apa yang terjadi padaku?’

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar