(Lima
tahun yang lalu)
“Jadi,
apa keluhan Anda?” perempuan muda berambut sebahu itu menatap lurus pada
laki-laki muda yang kini duduk berhadapan dengannya.
Laki-laki
muda itu tidak segera menjawab pertanyannya. Tubuhnya kelihatan menegang di
atas kursi yang dia duduki sekarang. Kedua mata hitamnya tidak menatap
perempuan itu secara langsung. Dia hanya mengerjap beberapa kali sebelum
akhirnya menghela napas panjang.
“Aku
... tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku,” jawabnya kemudian, dengan
suara lirih.
Perempuan
muda itu mengerutkan dahi menatapnya.
“Lalu
apa yang membawa Anda kemari?” tanyanya, kali ini dengan suara yang lebih
lembut.
Dia
tidak melepaskan pandangannya dari laki-laki di depannya itu dan tampak sibuk
mengamati setiap gerak-gerik yang dilakukan laki-laki itu.
Laki-laki
muda itu kembali bergerak pelan dengan sikap kaku. Kedua matanya menatap
perempuan muda di depannya itu dengan tatapan kosong.
Perempuan
itu tampak bingung dengan tatapan yang diberikan laki-laki itu padanya. Kedua
matanya tampak kosong dan untuk beberapa saat, laki-laki itu hanya terdiam
dengan sikap diam tanpa mengatakan apapun.
“Tuan
...?” perempuan itu memanggil kliennya dengan hati-hati. Pasalnya, sejak masuk
ke dalam kantornya beberapa saat yang lalu, laki-laki itu belum mengatakan
namanya.
Dan
seolah seperti terkena kejutan listrik, tubuh laki-laki itu tiba-tiba melonjak
ke belakang. Tidak membuat tubuhnya sampai jatuh, tapi berhasil membuat
perempuan muda itu ikut terkejut.
Laki-laki
itu kembali bergerak dan sekarang dia menyandarkan punggungnya ke sandaran
kursi di belakangnya. Dia bahkan merubah posisi duduknya, dan menyilangkan
kedua kakinya serta menaruh salah satu tangannya pada sandaran kursi di belakangnya.
Kedua mata hitamnya kembali menatap perempuan muda di depannya. Tapi kali ini
berbeda dari sebelumnya. Mata itu memancarkan sesuatu yang membuat perempuan
itu bergidik.
Sebuah
seringaian tipis tampak di wajah laki-laki itu. Sikapnya kali ini berbeda dari
sikapnya beberapa saat yang lalu.
“Maaf
merepotkan Anda. Dia memang selalu seperti itu,” ujar laki-laki itu dengan nada
santai.
Dan
itu membuat dahi perempuan itu semakin berkerut kebingungan.
“Dia?”
tanyanya.
Laki-laki
itu mengedikkan bahunya dengan santai.
“Yah.
Dia. Kepribadian alter-ku,” sahut laki-laki itu.
Kedua
mata perempuan itu membelalak lebar. Kepribadian alter? Jangan-jangan laki-laki
ini ...?
“Aku
rasa kau tahu apa yang terjadi pada kami, Nona,” kata laki-laki itu lagi.
Perempuan
itu tidak segera menyahut.
“Well,
dia belum memperkenalkan dirinya. Aku tidak terlalu suka dengan namanya, sih.
Tapi orang-orang selalu menyebut kami dengan nama yang sama. Perkenalkan, namaku...
Park Jung Min. Dan dia, atau kami–terserah bagaimana kau memanggilnya –butuh
bantuanmu.”
Laki-laki
itu menjelaskan dengan panjang lebar seraya menatap perempuan di depannya
dengan tatapan tajam yang menggoda.
Kim
Ji Ho, perempuan muda itu, tidak menyahut untuk beberapa saat dan hanya menelan
ludahnya dengan susah payah.
.
.
.
.
.
.
.
Pulang
larut malam dalam keadaan lelah adalah hal yang biasa baginya. Kim Ji Ho sangat
mencintai pekerjaannya sebagai konselor dan meluangkan hampir seluruh waktunya
untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak peduli dengan pendapat orang-orang
padanya yang masih bertahan untuk melajang pada umur 30 tahun seperti ini. Di
saat beberapa teman seumurannya sudah memiliki suami dan anak, Ji Ho masih
memikirkan karir dan pekerjaannya. Bagi Ji Ho, pekerjaannya adalah segalanya
dibanding apapun. Dia juga harus susah payah menulikan telinganya saat kedua
orangtuanya terus mendesaknya untuk segera menikah karena mereka ingin segera
menimang cucu dari anak perempuan mereka.
Seperti
yang mereka lakukan pagi ini. Ji Ho sendiri tidak terlalu memikirkan itu. Dia
tidak terlalu memikirkan bagaimana masa depannya dan apakah dia akhirnya akan
menikah dengan pria yang dicintainya atau yang dipilih orangtuanya. Yang
terpenting sekarang, semua pekerjannya beres dan dia bisa menikmati hidupnya
yang menyenangkan ini.
Ji
Ho memasukkan berkas terakhirnya ke dalam sebuah map sebelum akhirnya
memasukkannya lagi ke dalam sebuah laci yang terletak dekat dengan meja
kerjanya. Dia melirik jam tangannya. Sudah pukul sepuluh malam.
Jam
prakteknya sudah selesai satu jam yang lalu. Tapi dia masih harus tinggal untuk
melengkapi data kliennya hari ini. Ji Ho kembali mengedarkan pandang ke
sekeliling ruang kerjanya. Tidak ada siapapun di sana, kecuali dirinya sendiri.
Asistennya sudah pamit beberapa menit yang lalu dan Ji Ho mengijinkannya. Tentu
saja. Dia tidak mau terlihat seperti bos otoriter yang selalu memaksa
bawahannya untuk bekerja lembur. Selama dia bisa menyelesaikannya sendiri, dia
akan mengerjakannya sendiri. Lagipula dia tidak pernah menganggap asistennya
sebagai bawahannya. Mereka adalah rekan kerjanya.
Ji
Ho akhirnya beranjak dari kursinya setelah membereskan semua barang-barangnya.
Dia
mengunci semua laci dan mejanya sebelum akhirnya keluar dari kantornya dan
memastikan kalau semua dalam kondisi aman untuk ditinggalkan.
Kakinya
melenggang pelan menuju halaman depan kantornya yang tidak terlalu besar. Kantornya
tidak terlalu jauh dari apartemen yang dia sewa jadi Ji Ho selalu pulang pergi
dengan berjalan kaki.
Saat
kakinya melangkah menuju apartemennya dan melewati jalanan yang ramai, Ji Ho menghela
napas panjang. Dia melihat beberapa pemuda pemudi tampak berjalan hilir mudik
di sekitarnya. Dia melihat beberapa pasangan lawan jenis dan sejenis yang lewat
sambil saling bergandengan tangan tanpa malu-malu. Ji Ho berusaha untuk
mengabaikan mereka. Beberapa penjual kaki lima masih tampak berjualan di beberapa
sudut jalan itu.
Saat
langkahnya semakin mendekati apartemennya, dia baru menyadari sesuatu. Ini
adalah akhir pekan dan besok adalah hari libur. Ji Ho menggelengkan kepalanya
tak habis pikir. Saking seriusnya bekerja, dia bahkan tidak sadar kalau besok
adalah hari libur.
‘Aku
benar-benar butuh liburan, aku rasa,’ batinnya.
Ji
Ho mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia akan menghubungi Kim Hye Ri,
sahabatnya yang kini tinggal di Busan. Hye Ri adalah sahabatnya sejak di
sekolah dasar dan mereka masih berhubungan dekat sampai sekarang. Bahkan
setelah Hye Ri menikah dan memiliki seorang anak, Ji Ho selalu menghubunginya.
Baginya, tidak ada yang bisa menggantikan posisi sahabat seperti Hye Ri.
Ji
Ho akan memencet nomor Hye Ri dan menelponnya, saat kedua matanya menangkap
siluet seseorang yang tengah meringkuk di dekat pintu masuk apartemennya.
Ji
Ho memicingkan matanya untuk mengamati sosok itu dengan lebih jelas.
Saat
langkahnya sudah semakin mendekati sosok itu, matanya membelalak lebar. Seorang
anak perempuan yang berusia sekitar empat tahun, tampak meringkuk di dekat
pintu masuk apartemennya. Anak perempuan itu tampak ketakutan dan menggigil.
Walaupun dia tidak mengeluarkan suara sekecil apapun, tampak sekali kalau dia
sedang ketakutan.
“Halo?”
sapa Ji Ho dengan nada ramah, seraya berjalan mendekati anak perempuan itu.
Anak
perempuan itu langsung mendongak ke arah Ji Ho. Dia menatap Ji Ho dengan
tatapan curiga sekaligus takut saat Ji Ho berjalan mendekatinya.
Ji
Ho menatap anak itu dengan tatapan iba. Dia langsung berjongkok di depan anak
itu.
Anak
perempuan itu tampak tidak nyaman dengan kehadiran Ji Ho yang tiba-tiba
mendekatinya seperti ini. Tapi Ji Ho tidak peduli.
Anak
perempuan itu menatapnya dengan kedua mata hitamnya yang sipit. Rambut hitam
pendeknya tampak sedikit berantakan. Dan kaos yang dipakainya tampak sedikit
kotor.
“Kau
terluka, anak manis,” kata Ji Ho seraya menunjuk luka yang mengering di lutut
anak perempuan itu.
Anak
perempuan itu ikut menatap lukanya.
“Kenapa
kau di sini sendirian? Apa kau tersesat? Di mana orangtuamu?” tanya Ji Ho, dengan
nada ramah. Dia sudah terbiasa berhubungan dengan anak-anak. Membangun atmosfer
yang baik dengan anak-anak yang ketakutan seperti ini adalah ahlinya.
“Aku
... Eomma meninggalkanku,” jawab anak itu.
Ji
Ho mengerutkan dahi menatapnya bingung.
“Kenapa
ibumu bisa meninggalkanmu di sini? Jahat sekali. Ayo, ikut aku ke dalam. Akan
aku obati lukamu dulu. Mm, lebih baik jangan panggil aku Bibi. Bagaimana kalau
kau panggil aku unnie? Ji Ho unnie?” kata Ji Ho seraya mengulurkan
tangannya kepada anak itu.
Anak
itu masih menatapnya dengan tatapan ragu-ragu.
“Tapi
aku harus pulang. Appa pasti akan mencariku,” kata anak itu.
“Di
mana rumahmu? Akan aku antarkan. Tapi setelah aku mengobati lukamu,” kata Ji
Ho.
“Itaewon,”
jawab anak itu.
“Itaewon?
Jauh sekali. Bagaimana bisa ibumu tidak sadar sudah meninggalkanmu di sini
sendirian? Di Apgujong?” tanya Ji Ho heran.
Anak
itu tidak segera menjawab.
“Karena
... karena aku membuatnya marah besar,” jawab anak itu dengan nada mencicit.
Ji
Ho menarik napas dan menghelanya masygul.
‘Hm,
apapun alasannya, meninggalkan anak sendiri di tempat sejauh ini adalah
tindakan yang jahat kan? Ibu macam apa dia?’ batinnya kesal.
“Baiklah!
Malam ini tidurlah di apartemenku dulu. Besok pagi-pagi aku akan mengantarmu
dan akan aku pastikan ayahmu tidak akan memarahimu. Ayo! Aku memasak sup kerang
yang enak, lho,” kata Ji Ho. Dia tersenyum lebar pada anak perempuan itu dengan
wajah riang seperti biasanya.
Anak
perempuan itu berdiri dengan sikap tertatih.
“Kau
kesulitan berjalan, ya?” tanya Ji Ho. Dia lalu berbalik dan memunggungi anak
itu. “Ayo, naik ke punggungku. Aku akan menggendongmu sampai ke apartemen,”
katanya kemudian.
Ji
Ho merasakan kaki-kaki kecil anak itu mulai merangkak ke punggungnya. Dan
dengan sekali gerakan, Ji Ho menggendong anak itu dengan sigap.
“Wah,
kau berat sekali ternyata. Omong-omong, siapa namamu?” tanya Ji Ho. Dia merasa
kedua lengan kecil anak itu mengelilingi lehernya dengan erat.
“Sarang”
jawab anak itu.
Ji
Ho mengerutkan dahinya dengan heran.
“Ah,
Sarangie.”
“Unnie,
kalau saja aku mempunyai eomma yang baik sepertimu,” suara kecil anak itu
berkata pelan tepat di belakang telinga Ji Ho.
“Ibumu
pasti juga orang yang baik kan?” sahut Ji Ho. Meskipun dalam hati dia tidak
yakin dengan hal itu. Meninggalkan anak sendirian di tempat yang jauh selarut
ini, bukan tindakan yang mencerminkan predikat “Ibu yang baik”.
“Dia
cantik. Tapi tidak baik. Dia selalu memarahiku,” ujar Sarang.
Ji
Ho tersenyum simpul.
“Mungkin
dia sedang dalam suasana hati yang sedang tidak baik. Makanya, jadilah anak
yang baik untuknya. Kau pasti tidak akan dimarahi lagi,” kata Ji Ho dengan nada
bijak. Dia seolah seperti sedang menasehati dirinya sendiri. Dia teringat kalau
hubungannya dengan ibunya sendiri tidak terlalu baik.
Tidak
terlalu baik dalam hal berpendapat. Dia selalu mempunyai pendapat yang berbeda
dengan ibunya dan itu kadang membuat mereka bertengkar karena hal itu.
“Nah,
sudah sampai. Kau bisa beristirahat di tempatku malam ini,” kata Ji Ho seraya
membuka pintu apartemennya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ji
Ho memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana di pinggiran distrik
Itaewon. Rumah-rumah di jalan itu berderet rapi dan memiliki bentuk yang hampir
sama. Rumah yang ada di depannya sekarang memiliki bentuk yang hampir sama
dengan beberapa rumah di dekatnya. Yang membedakannya, ada sebuah ayunan di
halaman depannya. Dan kandang anjing yang kosong di salah satu sisi halaman.
Sarang
segera berlari menuju pintu depan rumah itu setelah Ji Ho membukakan pintu
mobil untuknya.
“Hati-hati.
Kakimu masih sakit kan?” seru Ji Ho begitu melihat Sarang hampir jatuh karena
tersandung batu kerikil di halaman rumahnya. Sarang langsung berhenti berlari
dan menunggu Ji Ho.
“Unnie,
bagaimana kalau Appa marah?” tanya Sarang dengan sikap ragu-ragu. Ketakutan tampak
jelas di wajahnya saat ini.
“Kau
peluk dan cium dia. Katakan padanya kalau kau tidak apa-apa. Lalu minta maaf
padanya karena sudah membuatnya khawatir,” jawab Ji Ho seraya tersenyum pada
anak itu.
Sarang
mengangguk. Ji Ho menggandeng lengan kecilnya seraya berjalan menuju pintu
depan rumah itu.
Butuh
waktu beberapa lama dan beberapa ketukan keras di pintu, sebelum akhirnya pintu
kayu itu mengayun terbuka.
Seorang
perempuan muda berambut coklat pucat panjang yang digelung ke atas dengan asal
muncul di depan pintu. Wajahnya masih tampak sangat mengantuk, dia bahkan tidak
segan-segan menguap lebar di depan Ji Ho. Pakaian tidurnya masih terlihat
berantakan. Meskipun begitu, wajahnya masih kelihatan cantik.
“Ada
apa?” tanyanya dengan nada malas.
“Saya
kemari untuk mengantar anak ini,” jawab Ji Ho ragu-ragu.
Perempuan
berambut coklat itu menunduk dan melihat anak perempuan yang berdiri di samping
Ji Ho. Kedua matanya membelalak lebar saat melihat Sarang berdiri sambil
menggenggam tangan Ji Ho erat-erat.
“Kau!
Ke mana saja kau semalaman? Aku mencarimu, kau tahu? Gara-gara kau, Appa-mu
marah-marah padaku semalaman!” perempuan itu mendesis marah ke arah Sarang. Dan
itu membuat Sarang langsung bersembunyi di belakang tubuh Ji Ho dengan wajah
takut.
“Siapa,
Soo Jin-ah?”
Sebuah
suara berat milik seorang laki-laki terdengar di belakang perempuan berambut
coklat itu. Wajah perempuan yang dipanggil Soo Jin itu tiba-tiba melunak.
“Sarang
sayang. Ke mana saja kau semalam? Aku benar-benar mencemaskanmu sampai tidak
bisa tidur,” katanya seraya mengulurkan tangannya untuk meraih Sarang. Tapi
anak perempuan itu semakin mengeratkan tubuhnya pada tubuh Ji Ho dan
menghindari uluran tangan Soo Jin.
“Sarang-ah?”
Suara
laki-laki itu terdengar kaget. Beberapa saat kemudian muncul sosok lain di
belakang perempuan berambut pirang itu. Seorang laki-laki muda berpenampilan
rapi berdiri di sana. Rambut hitam sebahunya yang sewarna dengan Sarang, kedua
mata hitam kelam yang menatapnya dengan tatapan tajam itu, benar-benar mirip
dengan gadis kecil itu.
Untuk
beberapa saat, Ji Ho hanya menatap laki-laki di depannya itu dengan tatapan
kagum. Dia adalah tipe lelaki idaman Ji Ho.
“Kim
Ji Ho?”
EH?!
Tidak
menduga kalau kata-kata pertama yang diucapkan laki-laki itu adalah memanggil
namanya dengan nada terkejut yang luar biasa, Ji Ho balas menatapnya dengan
tatapan kaget. Soo Jin langsung menoleh ke arahnya dengan cepat.
“Kau
mengenalnya?” tanyanya dengan nada tidak terima.
Laki-laki
itu tidak menjawab pertanyaannya dan masih menatap Ji Ho dengan tatapan tajam.
“Kau
... mengenalku?” Ji Ho tidak tahu kata apa lagi yang harus diucapkan selain
kata-kata itu. Dan dia merasa sangat bodoh karena dia hanya mengulang
pertanyaan Soo Jin.
“Kau
tidak mengenalku?” laki-laki itu balas menatapnya dengan pandangan kaget.
Ji
Ho tidak segera menjawab. Dia mengerutkan dahinya dan menatap laki-laki di
depannya dengan seksama.
“Apa
kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Ji Ho bingung.
Laki-laki
di depannya itu tampak semakin kaget mendengar pertanyaan Ji Ho baru saja.
Pandangannya lalu beralih pada Sarang yang masih bersembunyi di belakang Ji Ho.
Ketakutan di wajah anak itu sudah menghilang dan digantikan dengan tatapan
heran melihat reaksi ayahnya.
“Kau
benar-benar tidak ingat?” tanya laki-laki itu.
Ji
Ho kembali tidak segera menjawab.
Dia
hanya menatap laki-laki itu dengan tatapan bingung dan ragu.
‘Kenapa
aku tidak bisa menjawabnya? Bukankah aku tidak mengenalnya? Tapi kenapa aku
tidak bisa menjawabnya?’ batinnya panik dan kalut.
“Siapa
kau?” hanya kalimat itu yang kemudian terucap dari bibirnya.
Laki-laki
itu masih kelihatan bingung melihat reaksi Ji Ho. Tapi dia lalu menarik panjang
dan menghelanya perlahan.
“Jung
Min. Park Jung Min. Kau ingat nama itu?” tanya laki-laki itu kemudian.
Ji
Ho menatap laki-laki di depannya itu dengan tatapan bingung.
Dia
pernah mendengar nama itu.
Di
suatu tempat.
Tapi
dia tidak mengingatnya.
‘Ya,
Tuhan, apa yang terjadi padaku?’
******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar