expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

OPENING

Opening

Blog ini berisi konten-konten terlarang.. Hehehe. Bo'ong, diiiing.. Blog ini khusus buat para Triple S dan orang-orang yang dengan sukarela menghargai karya orang lain.. Dikhususkan buat para penggemar fanfiction yang gak suka bashing dan suka menghargai karya orang lain. If you don't like it, JUST LEAVE THIS PAGE!! We don't need bashing.. Kalau kritikan, fine.. Tapi bukan untuk dicaci maki dan dihina. Jadi, sekali lagi.. We need your supports. Dan yang terpenting dari segala yang terpenting adalah.. DILARANG MENGCOPY TANPA IJIN APALAGI MENGKLAIM DENGAN SENANG HATI KALAU INI ADALAH HASIL KARYANYA. Semua yang ada di sini ditulis oleh kami sendiri. Bukan saduran maupun plagiat dari mana-mana. Atas perhatiannya. Saya ucapkan terima kasih..


NOTE: Komen dan kritikan dan saran saaaaangaaat ditunggu.. ^^

Author

Kamis, 27 April 2017

Split (1)

(Lima tahun yang lalu)
“Jadi, apa keluhan Anda?” perempuan muda berambut sebahu itu menatap lurus pada laki-laki muda yang kini duduk berhadapan dengannya.
Laki-laki muda itu tidak segera menjawab pertanyannya. Tubuhnya kelihatan menegang di atas kursi yang dia duduki sekarang. Kedua mata hitamnya tidak menatap perempuan itu secara langsung. Dia hanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menghela napas panjang.
“Aku ... tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku,” jawabnya kemudian, dengan suara lirih.
Perempuan muda itu mengerutkan dahi menatapnya.
“Lalu apa yang membawa Anda kemari?” tanyanya, kali ini dengan suara yang lebih lembut.
Dia tidak melepaskan pandangannya dari laki-laki di depannya itu dan tampak sibuk mengamati setiap gerak-gerik yang dilakukan laki-laki itu.
Laki-laki muda itu kembali bergerak pelan dengan sikap kaku. Kedua matanya menatap perempuan muda di depannya itu dengan tatapan kosong.
Perempuan itu tampak bingung dengan tatapan yang diberikan laki-laki itu padanya. Kedua matanya tampak kosong dan untuk beberapa saat, laki-laki itu hanya terdiam dengan sikap diam tanpa mengatakan apapun.
“Tuan ...?” perempuan itu memanggil kliennya dengan hati-hati. Pasalnya, sejak masuk ke dalam kantornya beberapa saat yang lalu, laki-laki itu belum mengatakan namanya.
Dan seolah seperti terkena kejutan listrik, tubuh laki-laki itu tiba-tiba melonjak ke belakang. Tidak membuat tubuhnya sampai jatuh, tapi berhasil membuat perempuan muda itu ikut terkejut.
Laki-laki itu kembali bergerak dan sekarang dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi di belakangnya. Dia bahkan merubah posisi duduknya, dan menyilangkan kedua kakinya serta menaruh salah satu tangannya pada sandaran kursi di belakangnya. Kedua mata hitamnya kembali menatap perempuan muda di depannya. Tapi kali ini berbeda dari sebelumnya. Mata itu memancarkan sesuatu yang membuat perempuan itu bergidik.
Sebuah seringaian tipis tampak di wajah laki-laki itu. Sikapnya kali ini berbeda dari sikapnya beberapa saat yang lalu.
“Maaf merepotkan Anda. Dia memang selalu seperti itu,” ujar laki-laki itu dengan nada santai.
Dan itu membuat dahi perempuan itu semakin berkerut kebingungan.
“Dia?” tanyanya.
Laki-laki itu mengedikkan bahunya dengan santai.
“Yah. Dia. Kepribadian alter-ku,” sahut laki-laki itu.
Kedua mata perempuan itu membelalak lebar. Kepribadian alter? Jangan-jangan laki-laki ini ...?
“Aku rasa kau tahu apa yang terjadi pada kami, Nona,” kata laki-laki itu lagi.
Perempuan itu tidak segera menyahut.
“Well, dia belum memperkenalkan dirinya. Aku tidak terlalu suka dengan namanya, sih. Tapi orang-orang selalu menyebut kami dengan nama yang sama. Perkenalkan, namaku... Park Jung Min. Dan dia, atau kami–terserah bagaimana kau memanggilnya –butuh bantuanmu.”
Laki-laki itu menjelaskan dengan panjang lebar seraya menatap perempuan di depannya dengan tatapan tajam yang menggoda.
Kim Ji Ho, perempuan muda itu, tidak menyahut untuk beberapa saat dan hanya menelan ludahnya dengan susah payah.
.
.
.
.
.
.
.

Pulang larut malam dalam keadaan lelah adalah hal yang biasa baginya. Kim Ji Ho sangat mencintai pekerjaannya sebagai konselor dan meluangkan hampir seluruh waktunya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak peduli dengan pendapat orang-orang padanya yang masih bertahan untuk melajang pada umur 30 tahun seperti ini. Di saat beberapa teman seumurannya sudah memiliki suami dan anak, Ji Ho masih memikirkan karir dan pekerjaannya. Bagi Ji Ho, pekerjaannya adalah segalanya dibanding apapun. Dia juga harus susah payah menulikan telinganya saat kedua orangtuanya terus mendesaknya untuk segera menikah karena mereka ingin segera menimang cucu dari anak perempuan mereka.
Seperti yang mereka lakukan pagi ini. Ji Ho sendiri tidak terlalu memikirkan itu. Dia tidak terlalu memikirkan bagaimana masa depannya dan apakah dia akhirnya akan menikah dengan pria yang dicintainya atau yang dipilih orangtuanya. Yang terpenting sekarang, semua pekerjannya beres dan dia bisa menikmati hidupnya yang menyenangkan ini.
Ji Ho memasukkan berkas terakhirnya ke dalam sebuah map sebelum akhirnya memasukkannya lagi ke dalam sebuah laci yang terletak dekat dengan meja kerjanya. Dia melirik jam tangannya. Sudah pukul sepuluh malam.
Jam prakteknya sudah selesai satu jam yang lalu. Tapi dia masih harus tinggal untuk melengkapi data kliennya hari ini. Ji Ho kembali mengedarkan pandang ke sekeliling ruang kerjanya. Tidak ada siapapun di sana, kecuali dirinya sendiri. Asistennya sudah pamit beberapa menit yang lalu dan Ji Ho mengijinkannya. Tentu saja. Dia tidak mau terlihat seperti bos otoriter yang selalu memaksa bawahannya untuk bekerja lembur. Selama dia bisa menyelesaikannya sendiri, dia akan mengerjakannya sendiri. Lagipula dia tidak pernah menganggap asistennya sebagai bawahannya. Mereka adalah rekan kerjanya.
Ji Ho akhirnya beranjak dari kursinya setelah membereskan semua barang-barangnya.
Dia mengunci semua laci dan mejanya sebelum akhirnya keluar dari kantornya dan memastikan kalau semua dalam kondisi aman untuk ditinggalkan.
Kakinya melenggang pelan menuju halaman depan kantornya yang tidak terlalu besar. Kantornya tidak terlalu jauh dari apartemen yang dia sewa jadi Ji Ho selalu pulang pergi dengan berjalan kaki.
Saat kakinya melangkah menuju apartemennya dan melewati jalanan yang ramai, Ji Ho menghela napas panjang. Dia melihat beberapa pemuda pemudi tampak berjalan hilir mudik di sekitarnya. Dia melihat beberapa pasangan lawan jenis dan sejenis yang lewat sambil saling bergandengan tangan tanpa malu-malu. Ji Ho berusaha untuk mengabaikan mereka. Beberapa penjual kaki lima masih tampak berjualan di beberapa sudut jalan itu.
Saat langkahnya semakin mendekati apartemennya, dia baru menyadari sesuatu. Ini adalah akhir pekan dan besok adalah hari libur. Ji Ho menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Saking seriusnya bekerja, dia bahkan tidak sadar kalau besok adalah hari libur.
‘Aku benar-benar butuh liburan, aku rasa,’ batinnya.
Ji Ho mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia akan menghubungi Kim Hye Ri, sahabatnya yang kini tinggal di Busan. Hye Ri adalah sahabatnya sejak di sekolah dasar dan mereka masih berhubungan dekat sampai sekarang. Bahkan setelah Hye Ri menikah dan memiliki seorang anak, Ji Ho selalu menghubunginya. Baginya, tidak ada yang bisa menggantikan posisi sahabat seperti Hye Ri.
Ji Ho akan memencet nomor Hye Ri dan menelponnya, saat kedua matanya menangkap siluet seseorang yang tengah meringkuk di dekat pintu masuk apartemennya.
Ji Ho memicingkan matanya untuk mengamati sosok itu dengan lebih jelas.
Saat langkahnya sudah semakin mendekati sosok itu, matanya membelalak lebar. Seorang anak perempuan yang berusia sekitar empat tahun, tampak meringkuk di dekat pintu masuk apartemennya. Anak perempuan itu tampak ketakutan dan menggigil. Walaupun dia tidak mengeluarkan suara sekecil apapun, tampak sekali kalau dia sedang ketakutan.
“Halo?” sapa Ji Ho dengan nada ramah, seraya berjalan mendekati anak perempuan itu.
Anak perempuan itu langsung mendongak ke arah Ji Ho. Dia menatap Ji Ho dengan tatapan curiga sekaligus takut saat Ji Ho berjalan mendekatinya.
Ji Ho menatap anak itu dengan tatapan iba. Dia langsung berjongkok di depan anak itu.
Anak perempuan itu tampak tidak nyaman dengan kehadiran Ji Ho yang tiba-tiba mendekatinya seperti ini. Tapi Ji Ho tidak peduli.
Anak perempuan itu menatapnya dengan kedua mata hitamnya yang sipit. Rambut hitam pendeknya tampak sedikit berantakan. Dan kaos yang dipakainya tampak sedikit kotor.
“Kau terluka, anak manis,” kata Ji Ho seraya menunjuk luka yang mengering di lutut anak perempuan itu.
Anak perempuan itu ikut menatap lukanya.
“Kenapa kau di sini sendirian? Apa kau tersesat? Di mana orangtuamu?” tanya Ji Ho, dengan nada ramah. Dia sudah terbiasa berhubungan dengan anak-anak. Membangun atmosfer yang baik dengan anak-anak yang ketakutan seperti ini adalah ahlinya.
“Aku ... Eomma meninggalkanku,” jawab anak itu.
Ji Ho mengerutkan dahi menatapnya bingung.
“Kenapa ibumu bisa meninggalkanmu di sini? Jahat sekali. Ayo, ikut aku ke dalam. Akan aku obati lukamu dulu. Mm, lebih baik jangan panggil aku Bibi. Bagaimana kalau kau panggil aku unnie? Ji Ho unnie?” kata Ji Ho seraya mengulurkan tangannya kepada anak itu.
Anak itu masih menatapnya dengan tatapan ragu-ragu.
“Tapi aku harus pulang. Appa pasti akan mencariku,” kata anak itu.
“Di mana rumahmu? Akan aku antarkan. Tapi setelah aku mengobati lukamu,” kata Ji Ho.
“Itaewon,” jawab anak itu.
“Itaewon? Jauh sekali. Bagaimana bisa ibumu tidak sadar sudah meninggalkanmu di sini sendirian? Di Apgujong?” tanya Ji Ho heran.
Anak itu tidak segera menjawab.
“Karena ... karena aku membuatnya marah besar,” jawab anak itu dengan nada mencicit.
Ji Ho menarik napas dan menghelanya masygul.
‘Hm, apapun alasannya, meninggalkan anak sendiri di tempat sejauh ini adalah tindakan yang jahat kan? Ibu macam apa dia?’ batinnya kesal.
“Baiklah! Malam ini tidurlah di apartemenku dulu. Besok pagi-pagi aku akan mengantarmu dan akan aku pastikan ayahmu tidak akan memarahimu. Ayo! Aku memasak sup kerang yang enak, lho,” kata Ji Ho. Dia tersenyum lebar pada anak perempuan itu dengan wajah riang seperti biasanya.
Anak perempuan itu berdiri dengan sikap tertatih.
“Kau kesulitan berjalan, ya?” tanya Ji Ho. Dia lalu berbalik dan memunggungi anak itu. “Ayo, naik ke punggungku. Aku akan menggendongmu sampai ke apartemen,” katanya kemudian.
Ji Ho merasakan kaki-kaki kecil anak itu mulai merangkak ke punggungnya. Dan dengan sekali gerakan, Ji Ho menggendong anak itu dengan sigap.
“Wah, kau berat sekali ternyata. Omong-omong, siapa namamu?” tanya Ji Ho. Dia merasa kedua lengan kecil anak itu mengelilingi lehernya dengan erat.
“Sarang” jawab anak itu.
Ji Ho mengerutkan dahinya dengan heran.
“Ah, Sarangie.
“Unnie, kalau saja aku mempunyai eomma yang baik sepertimu,” suara kecil anak itu berkata pelan tepat di belakang telinga Ji Ho.
“Ibumu pasti juga orang yang baik kan?” sahut Ji Ho. Meskipun dalam hati dia tidak yakin dengan hal itu. Meninggalkan anak sendirian di tempat yang jauh selarut ini, bukan tindakan yang mencerminkan predikat “Ibu yang baik”.
“Dia cantik. Tapi tidak baik. Dia selalu memarahiku,” ujar Sarang.
Ji Ho tersenyum simpul.
“Mungkin dia sedang dalam suasana hati yang sedang tidak baik. Makanya, jadilah anak yang baik untuknya. Kau pasti tidak akan dimarahi lagi,” kata Ji Ho dengan nada bijak. Dia seolah seperti sedang menasehati dirinya sendiri. Dia teringat kalau hubungannya dengan ibunya sendiri tidak terlalu baik.
Tidak terlalu baik dalam hal berpendapat. Dia selalu mempunyai pendapat yang berbeda dengan ibunya dan itu kadang membuat mereka bertengkar karena hal itu.
“Nah, sudah sampai. Kau bisa beristirahat di tempatku malam ini,” kata Ji Ho seraya membuka pintu apartemennya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ji Ho memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana di pinggiran distrik Itaewon. Rumah-rumah di jalan itu berderet rapi dan memiliki bentuk yang hampir sama. Rumah yang ada di depannya sekarang memiliki bentuk yang hampir sama dengan beberapa rumah di dekatnya. Yang membedakannya, ada sebuah ayunan di halaman depannya. Dan kandang anjing yang kosong di salah satu sisi halaman.
Sarang segera berlari menuju pintu depan rumah itu setelah Ji Ho membukakan pintu mobil untuknya.
“Hati-hati. Kakimu masih sakit kan?” seru Ji Ho begitu melihat Sarang hampir jatuh karena tersandung batu kerikil di halaman rumahnya. Sarang langsung berhenti berlari dan menunggu Ji Ho.
“Unnie, bagaimana kalau Appa marah?” tanya Sarang dengan sikap ragu-ragu. Ketakutan tampak jelas di wajahnya saat ini.
“Kau peluk dan cium dia. Katakan padanya kalau kau tidak apa-apa. Lalu minta maaf padanya karena sudah membuatnya khawatir,” jawab Ji Ho seraya tersenyum pada anak itu.
Sarang mengangguk. Ji Ho menggandeng lengan kecilnya seraya berjalan menuju pintu depan rumah itu.
Butuh waktu beberapa lama dan beberapa ketukan keras di pintu, sebelum akhirnya pintu kayu itu mengayun terbuka.
Seorang perempuan muda berambut coklat pucat panjang yang digelung ke atas dengan asal muncul di depan pintu. Wajahnya masih tampak sangat mengantuk, dia bahkan tidak segan-segan menguap lebar di depan Ji Ho. Pakaian tidurnya masih terlihat berantakan. Meskipun begitu, wajahnya masih kelihatan cantik.
“Ada apa?” tanyanya dengan nada malas.
“Saya kemari untuk mengantar anak ini,” jawab Ji Ho ragu-ragu.
Perempuan berambut coklat itu menunduk dan melihat anak perempuan yang berdiri di samping Ji Ho. Kedua matanya membelalak lebar saat melihat Sarang berdiri sambil menggenggam tangan Ji Ho erat-erat.
“Kau! Ke mana saja kau semalaman? Aku mencarimu, kau tahu? Gara-gara kau, Appa-mu marah-marah padaku semalaman!” perempuan itu mendesis marah ke arah Sarang. Dan itu membuat Sarang langsung bersembunyi di belakang tubuh Ji Ho dengan wajah takut.
“Siapa, Soo Jin-ah?”
Sebuah suara berat milik seorang laki-laki terdengar di belakang perempuan berambut coklat itu. Wajah perempuan yang dipanggil Soo Jin itu tiba-tiba melunak.
“Sarang sayang. Ke mana saja kau semalam? Aku benar-benar mencemaskanmu sampai tidak bisa tidur,” katanya seraya mengulurkan tangannya untuk meraih Sarang. Tapi anak perempuan itu semakin mengeratkan tubuhnya pada tubuh Ji Ho dan menghindari uluran tangan Soo Jin.
“Sarang-ah?”
Suara laki-laki itu terdengar kaget. Beberapa saat kemudian muncul sosok lain di belakang perempuan berambut pirang itu. Seorang laki-laki muda berpenampilan rapi berdiri di sana. Rambut hitam sebahunya yang sewarna dengan Sarang, kedua mata hitam kelam yang menatapnya dengan tatapan tajam itu, benar-benar mirip dengan gadis kecil itu.
Untuk beberapa saat, Ji Ho hanya menatap laki-laki di depannya itu dengan tatapan kagum. Dia adalah tipe lelaki idaman Ji Ho.
“Kim Ji Ho?”
EH?!
Tidak menduga kalau kata-kata pertama yang diucapkan laki-laki itu adalah memanggil namanya dengan nada terkejut yang luar biasa, Ji Ho balas menatapnya dengan tatapan kaget. Soo Jin langsung menoleh ke arahnya dengan cepat.
“Kau mengenalnya?” tanyanya dengan nada tidak terima.
Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaannya dan masih menatap Ji Ho dengan tatapan tajam.
“Kau ... mengenalku?” Ji Ho tidak tahu kata apa lagi yang harus diucapkan selain kata-kata itu. Dan dia merasa sangat bodoh karena dia hanya mengulang pertanyaan Soo Jin.
“Kau tidak mengenalku?” laki-laki itu balas menatapnya dengan pandangan kaget.
Ji Ho tidak segera menjawab. Dia mengerutkan dahinya dan menatap laki-laki di depannya dengan seksama.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Ji Ho bingung.
Laki-laki di depannya itu tampak semakin kaget mendengar pertanyaan Ji Ho baru saja. Pandangannya lalu beralih pada Sarang yang masih bersembunyi di belakang Ji Ho. Ketakutan di wajah anak itu sudah menghilang dan digantikan dengan tatapan heran melihat reaksi ayahnya.
“Kau benar-benar tidak ingat?” tanya laki-laki itu.
Ji Ho kembali tidak segera menjawab.
Dia hanya menatap laki-laki itu dengan tatapan bingung dan ragu.
‘Kenapa aku tidak bisa menjawabnya? Bukankah aku tidak mengenalnya? Tapi kenapa aku tidak bisa menjawabnya?’ batinnya panik dan kalut.
“Siapa kau?” hanya kalimat itu yang kemudian terucap dari bibirnya.
Laki-laki itu masih kelihatan bingung melihat reaksi Ji Ho. Tapi dia lalu menarik panjang dan menghelanya perlahan.
“Jung Min. Park Jung Min. Kau ingat nama itu?” tanya laki-laki itu kemudian.
Ji Ho menatap laki-laki di depannya itu dengan tatapan bingung.
Dia pernah mendengar nama itu.
Di suatu tempat.
Tapi dia tidak mengingatnya.
‘Ya, Tuhan, apa yang terjadi padaku?’

****** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar