Wanita
itu terbaring di ranjang rumah sakit itu seraya menatap langit-langit di
atasnya dengan tatapan kosong sekaligus nanar. Kedua matanya tampak
berkaca-kaca tapi dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengeluarkan airmata
lagi. Walaupun saat ini dia merasakan perih yang luar biasa di dadanya. Kedua
tangannya diletakkan di atas perutnya dan diusapnya dengan gerakan pelan.
Percakapan
yang tidak sengaja dia dengar beberapa waktu yang lalu antara suaminya dan
dokter yang menanganinya kembali terngiang di telinganya.
“Dengan
sangat terpaksa kami mengangkat kantung ovarium-nya. Kami melakukan tindakan
pencegahan agar infeksi tidak menyebar ke rahimnya,” ujar dokter dengan suara
penuh penyesalan. Saat itu, dia yang sudah tersadar dari pengaruh biusnya hanya
memejamkan mata dan berpura-pura masih tertidur saat percakapan itu
berlangsung.
“Kalau
kantung ovariumnya diambil, itu artinya—” suara suaminya terhenti.
“Ya.
Maafkan kami. Istri Anda tidak akan bisa hamil lagi.”
DEG!
Setelah
mendengar vonis dokter itu, dunianya seakan sudah berakhir.
Dia
tidak akan bisa hamil.
Dia
tidak akan bisa melahirkan anak dari suaminya.
Airmata
kembali menetes dari sudut matanya dan dia mulai terisak kembali. Wanita itu menutup kedua mulutnya dengan
tangannya dan berusaha untuk tidak menangis. Dia tidak mau suaminya melihatnya
seperti ini.
Pintu
kamar terbuka bersamaan dengan suara isak tangisnya yang semakin keras. Dia
tidak tahan lagi. Dadanya benar-benar sesak dan terasa perih saat ini.
“Va
Ni?”
Wanita
yang dipanggil Va Ni itu langsung melihat ke arah suara. Seorang laki-laki
berambut hitam pendek sedang berjalan menghampirinya dengan tergesa. Kedua mata
hitam kelamnya menatap wanita itu dengan pandangan khawatir.
Hwang
Va Ni semakin tidak bisa menahan tangisnya lagi. Mengingat kalau dia tidak akan
bisa membahagiakan laki-laki di depannya ini, benar-benar membuatnya merasa
tidak berguna lagi.
“Va
Ni-a, ada apa?” tanya laki-laki itu. Dia adalah Kim Hyun Joong,
suaminya.
Va
Ni tidak bisa menjawab. Dia ingin mengatakan sesuatu pada suaminya. Banyak hal
yang terlintas dalam kepalanya saat ini. Bukan sesuatu yang bagus memang. Dia
ingin mengeluarkan semuanya pada suaminya, agar laki-laki itu tahu apa yang
mengganjal pikirannya saat ini. Tapi yang hanya bisa dilakukannya hanyalah menangis.
“Va
Ni, hei,” Hyun Joong mendekatinya dan duduk di pinggiran ranjang seraya mengusap
tangannya dengan lembut.
“Maafkan
aku, oppa,” Va Ni akhirnya mendapatkan suaranya lagi. Suaranya terdengar
parau di tengah-tengah tangisnya yang semakin keras.
Hyun
Joong menghela napas panjang. Tanpa dia bertanya lebih lanjut lagi, dia sudah
menduga kalau Va Ni pasti mendengar percakapannya dengan dokter tadi.
Va
Ni menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangisnya masih terus pecah.
“Kenapa
kau harus minta maaf padaku?” tanya Hyun Joong.
“Karena
aku tidak akan bisa membahagiakanmu,” jawab Va Ni.
Hyun
Joong menarik napas panjang dan menghelanya. Baginya, mendengar vonis dari
dokter beberapa saat yang lalu memang merupakan salah satu pukulan terberat
untuknya. Tapi melihat istrinya menjadi frustasi seperti ini, ini menjadi hal
paling melukainya seumur hidupnya.
“Sudahlah,”
ujarnya, seraya menarik tangan Va Ni. Dia melihat wajah istrinya sudah basah
karena airmata dan matanya memerah karena tangisannya. Dengan perlahan,
laki-laki itu menarik tubuh Va Ni dan
merengkuhnya ke dalam pelukannya.
“Aku
tidak akan bisa hamil kan? Aku akan mandul selamanya. Iya kan? Katakan padaku, oppa.
Aku tidak akan bisa memiliki anak kan?” tanya Va Ni di dalam pelukan Hyun Joong.
Bahunya berguncang dan dia kembali terisak.
“Kita
bisa memikirkannya nanti,” jawab Hyun Joong seraya mengusap punggung Va Ni
dengan lembut.
Va
Ni segera melepaskan dirinya dari pelukan suaminya. Dengan wajah terluka, dia menatap
Hyun Joong dengan tatapan nanar.
“Aku
tidak akan bisa memiliki anak, oppa. Aku sudah mengecewakanmu. Aku
benar-benar tidak berguna sekarang. Aku... Kau bisa mencari penggantiku kalau
kau menginginkannya. Aku tidak bisa melakukan apapun untukmu! Aku hanya wanita
yang–“
“Hwang
Va Ni, dengar!” Hyun Joong segera meraih wajah Va Ni dan menangkupkan kedua
tangannya di kedua sisi wajahnya. Apa yang dia lakukan itu langsung membuat Va
Ni berhenti bicara dan menatapnya dengan tatapan kaget.
“Aku
tahu kau sedih karena ini. Kita sama-sama terluka karena ini. Tapi kalau kau
mengatakan padaku untuk meninggalkanmu karena hal ini.. jawabanku tidak. Aku
tidak akan meninggalkanmu. Kita akan mencari solusi untuk masalah ini,” kata
Hyun Joong, seraya menatap Va Ni dengan tatapan tajam.
Airmata
Va Ni masih belum berhenti turun dari matanya, tapi dia sudah tidak terisak
lagi. Dia menatap suaminya dengan tatapan sedih dengan kedua mulut mengatup
rapat. Hyun Joong mengusap airmata yang membasahi wajah Va Ni dengan lembut.
“Aku
menikahimu bukan untuk melukaimu dengan meninggalkanmu dalam keadaan seperti
ini. Kau ingat janji pernikahan kita? Akan melewati semua bersama-sama. Jadi,
jangan pernah memintaku untuk meninggalkanmu lagi,” katanya kemudian. Dia
kembali merengkuh tubuh Va Ni dan memeluknya dengan lebih erat.
Va
Ni membenamkan kepalanya di dada Hyun Joong dan kembali menangis sesunggukan.
Dia memeluk tubuh Hyun Joong dengan erat, seolah tidak ingin melepaskannya
lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rumah
keluarga Kim adalah rumah dengan desain tradisional. Meskipun keluarga Kim
adalah keluarga terpandang di kota ini karena kesuksesannya yang turun menurun
di beberapa dunia bisnis, tapi mereka tidak pernah meninggalkan kesan
tradisional yang melekat dalam generasi mereka. Rumah bergaya tradisional
dengan bangunan yang terbuat dari kayu berkualitas berdiri dengan megah di
kawasan distrik Kangnam yang terkenal elit itu.
Terlihat
beberapa pelayan dengan busana modern berlalu lalang di beberapa sudut rumah
itu. Ada beberapa yang terlihat menyapu halaman yang dipenuhi dengan guguran
daun dari beberapa pohon berbeda jenis yang tumbuh di halamannya yang luas.
Di
ruang keluarga yang menghadap langsung dengan halaman yang dipenuhi beberapa
tanaman itu, terlihat seorang wanita paruh baya berambut hitam sebahu, duduk
sambil menyeduh tehnya. Seorang lagi adalah wanita muda yang duduk menghadapnya
sambil melihat halaman dengan tatapan takjub.
“Bagaimana
menurutmu? Aku berencana menambahkan satu tanaman lagi. Kira-kira, pohon sakura butuh
berapa tahun untuk bisa tumbuh besar, ya?” tanya Nyonya Kim, wanita paruh baya
berambut hitam sebahu itu. Va Ni yang duduk di depannya tersenyum.
“Eomonim,
tanpa bertanya pun kau tahu kalau pohon sakura membutuhkan waktu berpuluh-puluh
tahun untuk bisa tumbuh sebesar itu,” katanya. Nyonya Kim tersenyum.
“Seharusnya
kau tidak perlu menanam pohon sakura lagi. Bukankah menantumu juga mirip dengan
pohon sakura? Kau tidak perlu menunggu sakura mekar di musim semi,” sebuah suara
besar dan dalam mengejutkan mereka. Dua wanita beda generasi itu langsung
menoleh ke belakang dan mendapati Tuan Kim, kepala rumah tangga di rumah itu,
berdiri di belakang mereka. Perawakannya tinggi dan besar. Hanya melihat wajah
dan matanya saja, semua orang tahu kalau dia adalah tipikal pria yang keras dan
galak. Tapi sepertinya pandangan itu tidak berlaku untuk Hwang Va Ni, dan juga
menantunya yang lain.
“Abeoji,”
Va Ni menundukkan kepalanya dengan hormat saat Tuan Kim duduk di samping
istrinya.
“Bukankah
kau bilang akan pulang sore ini?” tanya Nyonya Kim.
“Apa
kau tidak suka kalau aku pulang lebih awal? Lagipula, cucuku akan ke sini
kan? Young Joong dan Hana akan sampai di sini jam berapa?” Tuan Kim melihat jam
tangannya.
“Oppa
sedang menjemput mereka di bandara,” jawab Va Ni.
Tuan
Kim beralih menatapnya.
“Ah,
begitu? Kau tidak ikut menjemputnya? Young Jae pasti akan senang sekali kalau
melihatmu menyambut kedatangannya,” kata Tuan Kim. Young Jae adalah anak
pertama dari Kim Young Joong, kakak Hyun Joong sekaligus anak sulung di
keluarga Kim ini. Dia dan keluarganya menetap di Busan untuk meneruskan usaha
yang dirintisnya sendiri di sana. Anak laki-laki pertamanya yang berusia enam
tahun itu sangat menyukai Va Ni dan selalu menempel padanya tiap dia bertemu
dengan Va Ni.
“Joongie
melarangnya ikut,” jawab Nyonya Kim seraya meletakkan cangkir tehnya di atas
meja.
Suaminya
menatapnya dengan dahi berkerut.
“Kenapa
begitu?” tanyanya.
Nyonya
Kim menghela napas panjang.
“Va
Ni baru saja sakit dan dia perlu banyak istirahat,” jawabnya kemudian. Tuan Kim
kembali menatap Va Ni.
“Benarkah?
Aku tidak tahu. Kau tidak apa-apa, Nak?” tanyanya cemas.
Va
Ni hanya tersenyum geli.
“Aku
baik-baik saja, abeoji. Kesehatanku sedang menurun akhir-akhir ini.
Mungkin karena aku terlalu lelah bekerja,” jelasnya.
“Kau
harus banyak beristirahat. Seharusnya kau tidak perlu bekerja. Bukannya kami
mau menyombongkan diri. Tapi selama Hyun Joong bisa memberimu apa yang kau
inginkan, kau tidak perlu memaksakan diri,” ujar Nyonya Kim.
Va
Ni mengulas senyum lagi.
“Aku
tidak bisa hanya berdiam diri di rumah. Tapi setelah ini, mungkin aku memang
harus meninggalkan pekerjaan yang melelahkan itu,” katanya lagi.
“Lagipula,
kalau kau terlalu bekerja sekeras itu, kau tidak akan segera dapat momongan
nantinya,” ujar Nyonya Kim.
DEG!
Va
Ni mencoba menahan perasaan menusuk yang mulai membuat dadanya perih lagi. Dia
mencoba tersenyum di depan mertuanya, meskipun dadanya kini serasa diremas kuat
sekali oleh tangan tak kelihatan.
“Ah,
ya. Atau jangan-jangan.. Kesehatanmu yang menurun itu karena kau sudah hamil?”
tebak Tuan Kim. Dan itu membuat Va Ni semakin terpojok.
“Tid-tidak.
Belum,” sahutnya dengan nada terbata.
“Lalu
kapan kau akan memberi kami cucu yang lucu? Hana bahkan sudah hamil anak kedua.
Aku tidak sabar melihat bayi laki-laki atau perempuan dari menantuku yang ini.
Pasti lucu sekali,” ujar Nyonya Kim seraya tersenyum pada Va Ni dengan penuh
damba.
Va
Ni hanya bisa membalas senyumannya dengan canggung. Tenggorokannya mulai
tercekat dan rasanya sakit sekali menahan tangis seperti ini.
‘Maafkan
aku. Aku tidak pernah bisa mengabulkan permintaan kalian,’ batinnya perih.
“Kami
baru menikah beberapa bulan. Dan belum ada rencana untuk memiliki anak sejauh
ini.”
Sebuah
suara yang sangat dikenal Va Ni terdengar di belakang mereka.
Va
Ni segera menoleh ke belakang dan mendapati Hyun Joong sudah berdiri di
belakang kursinya seraya memegang tangan seorang anak laki-laki berambut hitam.
Anak itu langsung membelalakkan matanya yang mirip Hyun Joong dengan tatapan
antusias.
“Bibi
Va Ni!” serunya senang. Dia melepaskan tangannya dari tangan Hyun Joong dan
berhambur untuk memeluk Va Ni.
“Hei,
hati-hati! Jangan memeluknya keras-keras!” seru Hyun Joong dengan nada
protektif.
Tapi
sepertinya anak laki-laki itu tidak peduli dan semakin mengeratkan pelukannya
pada tubuh Va Ni.
Va
Ni hanya tertawa geli dan membalas pelukan anak itu sambil menanyakan kabarnya.
Beberapa
saat kemudian, seorang pria muncul di belakang Hyun Joong diikuti seorang wanita berambut coklat berjalan di
belakangnya dengan perut membuncit.
“Young
Jae-a, kau membuat Hyun Joong cemburu,” ujar Young Joong seraya terkekeh geli.
Va
Ni menundukkan kepalanya dengan hormat ke arahnya. Hana, wanita berambut coklat
tadi, langsung disambut dengan sambutan hangat Nyonya Kim. Wanita itu langsung
beranjak dari duduknya dan membantu Hana berjalan.
Va
Ni melihat pemandangan itu dengan tatapan nanar. Hatinya rasanya kembali
seperti diremuk saat melihat pemandangan itu.
Lalu
matanya bertemu dengan mata Hyun Joong yang balas menatapnya dengan tatapan
tajam. Va Ni segera mengalihkan pandangannya dari Hyun Joong dan beralih
menatap Young Jae yang sedang menceritakan sesuatu padanya dengan antusias.
Meskipun dia merasa terluka saat ini, tapi dia tidak ingin melibatkan suaminya.
Sudah cukup baginya membuat Hyun Joong lelah melihatnya menangis seminggu ini.
Dia tidak ingin membuat pria itu cemas lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Apa
anak itu membuatmu lelah seharian ini?” tanya Hyun Joong, seraya memeluk
pinggang Va Ni dari belakang. Mereka sedang berbaring di atas tempat tidur
malam ini dengan posisi Va Ni membelakanginya.
“Tidak
terlalu,” jawab Va Ni singkat.
Hyun
Joong menghela napas seraya membenamkan kepalanya di bahu Va Ni. Aroma khas
buah cherry menguar dari tubuh dan rambut Va Ni. Hyun Joong menghirup aroma itu
dan menikmatinya untuk beberapa saat.
“Apakah
kau lelah?” tanyanya lagi.
“Tidak,
oppa. Apa kau sedang mengkhawatirkanku?” tanya Va Ni dengan nada
bercanda.
“Aku
serius,” jawab Hyun Joong, dengan nada datar.
Va
Ni menolehkan wajahnya ke belakang dan menatap suaminya dengan tatapan
menenangkan.
“Aku
baik-baik saja,” jawabnya seraya mengusap wajah Hyun Joong dengan lembut.
“Kau
tahu kau tidak bisa membohongiku dengan senyummu itu,” kata Hyun Joong.
Wajah
Va Ni langsung berubah. Senyum riang di wajahnya perlahan lenyap dan digantikan
raut wajah kesedihan
Va
Ni kembali membelakangi Hyun Joong dan tidak menatapnya.
“Oppa..
Apa yang ada di benakmu saat kita bertemu pertama kali saat itu? Saat orangtua
kita mengatakan kalau kita akan dijodohkan?” tanya Va Ni beberapa saat
kemudian.
Hyun
Joong tidak segera menjawab dan hanya menghela napas pelan. Dia mengeratkan
pelukannya di pinggang Va Ni.
“Aku
tidak pernah setuju dengan yang namanya perjodohan selama ini. Aku selalu
menolak untuk dijodohkan dengan siapapun sebelum itu. Tapi saat aku melihat
kalau kau adalah gadis yang dijodohkan untukku, entah kenapa aku tidak bisa
menolaknya. Gadis yang selama ini satu sekolah denganku selama di SMA, gadis
yang membuatku kesal karena selalu dapat nilai tertinggi di kelas, gadis yang
menolak ajakan pria paling kaya di sekolah dan memilih untuk bertemu denganku.
Satu-satunya gadis yang berani menyatakan perasaannya padaku di depan seluruh
sekolahan. Gadis gila yang nekat menamparku karena aku mengatakan hal-hal buruk
tentangnya. Dan gadis itu sekarang menjadi istriku, dan saat ini aku sedang
memeluknya,” ujar Hyun Joong panjang lebar.
Tubuh
Va Ni berguncang dan dia mulai terkikik geli.
“Ini
adalah kedua kalinya aku mendengarmu bicara selama itu, sejak kau mengucapkan
janji pernikahan kita,” katanya, di sela-sela tawanya.
“Apakah
aku berbicara sepanjang itu adalah hal yang lucu bagimu?” tanya Hyun Joong dengan
nada tak terima.
“Bagiku,
iya. Dan jangan ingatkan aku tentang kejadian di depan seluruh sekolah itu. Itu
adalah hal paling memalukan sepanjang hidupku,” ujar Va Ni.
“Kau
pikir ditampar di depan umum oleh seorang gadis bukan hal yang memalukan?” Hyun
Joong masih bertanya dengan nada tak terima.
“Kau
menolakku dengan cara yang menyebalkan. Kau menyebutku menyebalkan,
berkali-kali. Dan kau menyebutku dada rata. Itu pelecehan, kau tahu?” Va Ni menyahut
dengan nada tak kalah kesalnya.
“Karena
aku berbicara sesuai kenyataan,” kata Hyun Joong.
“Ya,
Tuhan. Oppa! Itu pelecehan seksual namanya,” Va Ni hampir berbalik tapi Hyun
Joong semakin merapatkan pelukannya sehingga Va Ni tidak jadi membalikkan
badannya.
“Yang
penting bukan itu kan? Itu adalah masa lalu kita. Kalau tidak ada kejadian itu,
mungkin saja kita jadi tidak saling kenal. Lagipula, si dada rata itu sekarang
sudah jadi milik si pangeran tampan,” ujar Hyun Joong, tepat di telinga Va Ni. Va
Ni terkikik geli.
“Hentikan.
Kau tahu aku sedang marah saat ini. Dan mendengarmu merayuku itu menggelikan, tahu?”
katanya.
“Oh,
ya? Lalu apa yang membuat si dada rata ini akhirnya menyetujui perjodohan itu?”
tanya Hyun Joong.
Va
Ni kembali menolehkan wajahnya ke arah Hyun Joong.
“Kau
tahu jawabannya, oppa. Karena aku menyukaimu. Dan perasaan itu tidak
pernah luntur sampai sekarang,” jawabnya kemudian.
Hyun
Joong tersenyum tipis ke arahnya.
“Tapi
aku khawatir perasaan ini akan menyakiti kita semua suatu saat nanti,” ujar Va
Ni. Senyum perlahan kembali menghilang dari wajahnya.
Hyun
Joong mulai bisa membaca situasi. Kalau raut wajah Va Ni menjadi seperti ini,
dia tahu ke mana arah pembicaraannya setelah ini.
“Tidurlah.
Sudah malam. Aku tidak mau kau kelelahan,” ujar Hyun Joong seraya mengusap
ujung kepala Va Ni dengan lembut.
Va
Ni tidak mengatakan apapun lagi setelah itu. Dia kembali menyamankan posisi
berbaringnya, tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Hyun Joong. Keduanya mulai
memejamkan mata masing-masing. Meskipun mereka berusaha untuk segera tidur,
tapi pikiran mereka sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama. Hyun Joong baru
bisa tidur dengan lelap, setelah satu jam berkutat dengan pikirannya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebulan
semenjak operasi pengangkatan ovarium itu, Va Ni tampak lebih banyak
menghabiskan waktunya di rumah. Dia terpaksa keluar dari pekerjaannya atas
desakan Hyun Joong yang sedikit memaksa. Hyun Joong mengancam akan menguncinya
seumur hidup di apartemen mereka kalau Va Ni bersikeras untuk melanjutkan
pekerjaannya. Va Ni akhirnya menyetujuinya, meskipun dia agak kesal dengan
ancaman Hyun Joong yang tidak adil itu.
Sebenarnya
dia lebih suka bekerja dibanding tinggal di apartemen sepanjang waktu tanpa
melakukan apapun. Oh, tentu saja dia mengerjakan pekerjaan rumah tangganya.
Tapi setelah itu dia tidak melakukan apapun selain nonton TV sambil makan
cemilan dan itu membuatnya merasa tertekan lagi tiap dia melihat tayangan TV
yang menampilkan ibu-ibu hamil dan bayi mereka yang lucu-lucu. Akhirnya Va Ni memilih
untuk tidak menonton apapun dan memilih berselancar.
Setelah
seminggu menjadi pengangguran, Va Ni akhirnya memutuskan keluar dari kehidupan
menyedihkannya. Dia mencari-cari solusi untuk masalahnya sendiri di saat Hyun
Joong sibuk bekerja. Meskipun Hyun Joong bilang kalau mereka akan menghadapi
ini bersama, tapi dia tidak bisa menggantungkan semuanya pada Hyun Joong sementara
suaminya itu sudah bekerja keras di luar sana untuk kehidupan mereka.
Akhirnya
setelah mencari-cari beberapa artikel dan berkonsultasi dengan banyak orang
yang ditemuinya di internet, Va Ni menemukan jawabannya. Dia sudah menyiapkan
mental dan fisiknya saat memutuskan untuk menggunakan cara ini dan sebelum
mengatakannya pada Hyun Joong.
Malam
ini, Hyun Joong memutuskan untuk pulang lebih awal karena Va Ni bilang
memasakkan makanan spesial untuknya. Va Ni sengaja memasakkan makanan kesukaan Hyun
Joong dan menata meja makan dengan kesan berbeda dari sebelumnya. Ada lilin
yang dinyalakan agar suasana lebih romantis.
“Kenapa
ada lilin di sini?” tanya Hyun Joong, seraya menunjuk lilin yang menyala di
atas meja.
“Ayolah.
Jangan rusak mood-ku, oppa. Kau tahu ini yang dilakukan para pelayan di
restoran mewah untuk makan malam yang romantis kan?” kata Va Ni, seraya duduk
berhadapan dengan Hyun Joong.
“Kau
masak banyak malam ini,” ujar Hyun Joong seraya melihat hidangan yang tersaji
di depannya.
“Apa
tidak boleh?” Va Ni menatapnya dengan wajah pura-pura cemberut.
“Kau
boleh menghabiskan uangku untuk memasak untukku, Hwang Va Ni,” jawab Hyun Joong
dengan nada sarkastik.
Va
Ni membalasnya dengan tersenyum geli.
“Jadi,
apa yang ingin kau bicarakan sampai bersusah payah membuat hidangan sebanyak
ini?” tanya Hyun Joong seraya mengambil gelas yang berisi minuman yang sudah
dituangkan Va Ni untuknya sebelumnya. Dia menyesapnya sedikit. Aroma beras
bercampur alkohol tercium indra penciumannya.
“Aku
sudah menemukan solusi untuk masalah kita,” kata Va Ni kemudian.
Hyun
Joong menatapnya sesaat sebelum akhirnya meletakkan gelasnya di atas meja lagi.
Matanya sama sekali tidak beralih dari pandangan Va Ni.
“Apa
itu?” tanyanya dengan nada ingin tahu. Kedua alisnya terangkat.
“’Ibu
Sewaan’,” jawab Va Ni dengan cepat.
Hyun
Joong mengernyitkan dahinya. Dia menatap Va Ni dengan pandangan bingung.
“Apa?
Aku baru mendengar hal itu,” kata Hyun Joong.
Va
Ni menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Ini memang berat. Tapi ini
satu-satunya cara dan dia harus rela melakukannya.
“Ada
beberapa artikel yang mengatakan, ada beberapa wanita yang bersedia dibayar
tinggi untuk mengandung anak seseorang,” jawab Va Ni.
“Maksudmu,
seperti bayi tabung, begitu?” Hyun Joong masih tidak mengerti arah pembicaraan Va
Ni.
Va
Ni menggeleng cepat.
“Bukan.
Bukan seperti itu. Tapi seseorang yang mau mengandung anak seseorang dan...
melahirkannya. Dengan bayaran tinggi,” jawab Va Ni. Dia menatap Hyun Joong dengan
tatapan takut.
Hyun
Joong kini mulai mengerti.
“Apa
kau memintaku untuk... Tidak, Va Ni. Demi apapun! Aku tidak akan melakukan
itu,” ujar Hyun Joong tegas. Wajahnya mengeras. Kedua matanya menatap Va Ni dengan
tajam.
“Tapi
hanya itu satu-satunya cara, oppa,” kata Va Ni.
“Kita
bisa mengadopsi anak,” kata Hyun Joong.
“Tapi
orangtuamu menginginkan anakmu. Cucu dari dari darah dagingnya. Mereka pasti
akan tahu kalau kita mengadopsi anak orang dan itu akan mengecewakan mereka,”
kata Va Ni. Pandangannya mulai mengabur sekarang dan dia mulai merasakkan
tenggorokannya kembali tercekat.
Ya,
Tuhan, aku tidak boleh menangis sekarang, batinnya.
“Kita
bisa melakukan cara lain. Tapi tidak dengan ini. Aku tidak akan melakukannya!” Hyun
Joong berdiri dari kursinya dan mulai membelakangi Va Ni.
Va
Ni terdiam untuk beberapa saat, menatap punggung bidang Hyun Joong dengan
pandangan nanar.
“Aku..
Aku bersedia, oppa. Demi orangtuamu. Demi semua orang. Kau harus bahagia.
Paling tidak, kau memiliki anak kandung,” ujar Va Ni dengan suara parau. Dia
menahan dirinya untuk tidak menangis saat ini.
“Kenapa
kau yang harus terluka sendirian untuk semua ini?” Hyun Joong berbalik dan
menatap Va Ni dengan tatapan yang sulit diartikan.
Va
Ni mencoba tersenyum untuk menenangkan perasaan Hyun Joong.
“Karena
aku menyayangimu,” jawabnya kemudian.
Hyun
Joong menghela napas putus asa.
“Va
Ni,” panggilnya dengan suara pelan.
“Aku
sudah siap, oppa. Jangan mengkhawatirkanku,” kata Va Ni kemudian.
Hyun
Joong mencoba menahan gemuruh yang terjadi di dalam dirinya saat ini. Dia
memejamkan matanya seraya menarik napas panjang untuk kesekian kalinya. Kalau
ini adalah keputusan Va Ni, itu artinya dia harus rela melakukannya. Va Ni sudah
membuat keputusan besar dengan mengorbankan perasaannya sendiri. Untuk
kebahagiaan orangtua mereka, dan juga untuk dirinya.
“Baiklah.
Akan aku lakukan,” katanya kemudian.
Hyun
Joong melihat senyuman lebar di wajah cantik istrinya. Dia tahu, senyuman lebar
itu hanya topeng untuk menutupi perasaan terluka yang bercokol di dalam diri Va
Ni.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara
dentuman keras dan bau alkohol bercampur rokok serta suara cekikikan dan
teriakan manusia menyambut Hyun Joong saat dia masuk ke dalam pub malam itu.
Beberapa orang sedang menari dengan gerakan liar saat dia melangkah menuju meja
bartender.
Hyun
Joong sudah jarang datang ke tempat ini semenjak dia menikah. Dulu sekali, saat
dia masih menjadi remaja labil, kadang dia datang ke tempat ini bersama dengan
teman-temannya. Tidak terlalu sering. Karena dia juga tidak suka mabuk. Tidak
selama ibunya masih suka mengomelinya dan membuatnya jadi anak kecil saat
ketahuan pulang dengan keadaan mabuk.
“Ada
yang ingin dipesan?” tanya si bartender begitu Hyun Joong sudah duduk di sana.
“Sebenarnya,
iya. Tapi aku sedang buru-buru saat ini,” jawab Hyun Joong, seraya mengedarkan
pandang ke sekelilingnya.
Bartender
itu meninggalkannya dan beralih melayani seorang pelanggan lain.
“Bisa
aku minta tolong padamu?” tanya Hyun Joong kemudian, saat bartender itu selesai
melayani pelanggannya yang lain.
Bartender
yang masih tampak muda itu menghampirinya.
“Di
mana aku bisa menemukan seorang wanita... wanita yang mau disewa dengan harga
tinggi untuk melakukan suatu tugas?” tanya Hyun Joong. Bartender itu menatapnya
dengan senyuman mengejek.
“Melayanimu?
Itu maksudmu?” tanyanya.
“Jadi?”
Hyun Joong menatap pemuda itu dengan tatapan tidak suka.
“Namanya
Tiffany. Cari saja yang berambut merah panjang. Dia yang paling mencolok di
antara semuanya. Kau tahu? Dia juga rela dibayar untuk... sedikit ‘disakiti’.
Kau tahu maksudku kan? Asal kau mau membayarnya mahal saja,” jelas bartender
itu.
Hyun
Joong memutar matanya dan segera beranjak dari tempat itu.
Dia
lalu kembali turun ke lantai dansa dan berusaha mencari seorang wanita berambut
merah yang dimaksud itu.
Tidak
sulit untuk menemukan seseorang dengan rambut merah mencolok di antara ratusan
orang yang ada di tempat itu. Hyun Joong menemukan wanita berambut merah yang
dimaksud di antara beberapa laki-laki hidung belang yang sedang
mengelilinginya. Wanita itu terkikik genit saat ada seseorang yang mencoba
menyentuh tubuhnya.
Hyun
Joong menarik napas panjang dan menghelanya sebelum akhirnya menghampiri meja
itu.
“Tiffany-ssi?”
tanyanya dengan suara yang dibuat setenang mungkin.
Tidak
hanya wanita berambut merah itu yang mendongak tapi beberapa orang yang berada
di tempat itu langsung menoleh ke arahnya dengan pandangan bingung.
“Kau
memanggilku, Tuan... Seksi?” tanya Tiffany dengan wajah menggoda.
“Bisa
kita bicara?” tanya Hyun Joong.
Tiffany
menatapnya dengan bingung.
“Bicara?
Apa aku mengenalmu? Aku sedang bekerja,” ujar wanita itu.
“Aku
akan membayarmu dua kali lipat,” ujar Hyun Joong tanpa basa basi.
Wanita
itu kelihatan berpikir untuk beberapa saat.
“Hm.
Baiklah. Dua kali lipat. Untuk.. Satu malam yang panas?” tanya Tiffany seraya
berdiri dari duduknya. Dia hanya menggunakan gaun ketat dengan belahan dada
rendah dan rok pendek sekali, yang memperlihatkan hampir seluruh pahanya.
Beberapa pelanggannya langsung kecewa saat dia beranjak dari tempat itu.
“Tapi
tidak di sini. Kita keluar,” ujar Hyun Joong seraya berjalan mendahuluinya.
“Wow,
kau benar-benar tidak sabaran, Tuan,” ujar Tiffany.
Hyun
Joong tidak menjawab dan hanya berjalan mendahului wanita itu keluar dari
tempat laknat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wanita
berambut merah itu membulatkan matanya menatap Hyun Joong yang kini duduk
berhadapan dengannya. Awalnya dia sudah membelalakkan matanya saat pria yang
mengaku bernama Hyun Joong itu mengajaknya ke restoran dan bukannya hotel
mewah. Dan pria itu memang benar-benar mengajaknya berbicara dalam artian
sebenarnya. Bukan ‘bicara’ di atas ranjang seperti yang selalu dilakukan pelanggan-pelanggannya.
Dan
begitu dia menunggu pria muda itu menyelesaikan perkataannya, barulah Tiffany menyadari
apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini. Apa? Apa yang baru saja pria ini
katakan? Dia sudah menikah dan dia memintanya untuk –
“Jadi,
kau memintaku untuk melahirkan anakmu?” tanyanya dengan nada bingung. Meski
bingung dan penasaran, tapi membayangkan ‘membuat anak’ dengan pria ini membuat
Tiffany menjadi terangsang dengan sendirinya.
“Begitulah,”
jawab Hyun Joong singkat.
“Oke.
Biar aku ulangi. Kau memintaku melayanimu dan mengandung anakmu lalu
melahirkannya. Dan kau akan membayarku mahal untuk itu? Mahal sekali?” tanya
Tiffany, memastikan pendengarannya. Meskipun dia yakin pendengarannya masih
bagus, tapi dia tidak yakin otaknya masih bisa mencerna informasi dengan cukup
bagus.
“Yah,”
Hyun Joong mengedikkan bahunya. “Berapapun yang kau minta,” lanjutnya.
Kedua
mata Tiffany membelalak lebar.
“Benarkah?
Aku bisa kaya dan tidak perlu bekerja keras lagi setelah melahirkan anakmu?”
tanya Tiffany.
“Dengan
syarat, anak itu akan jadi anakku seutuhnya. Kau cukup melahirkannya dan pergi
dari kehidupanku setelah anak itu lahir,” ujar Hyun Joong dengan nada tegas.
Tiffany
angkat bahu.
“Tidak
masalah. Aku juga tidak mau direpotkan dengan urusan anak. Baiklah. Aku setuju,”
ujar Tiffany dengan nada enteng.
Hyun
Joong menatapnya sesaat sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah kertas dari dalam
tasnya.
“Kau
harus menandatangani kontrak ini. Kontrak ini akan berakhir setelah anakmu
lahir. Setelah itu, kau boleh pergi,” ujar Hyun Joong seraya menyerahkan kertas
itu pada Tiffany.
Mendengar
dia akan mendapatkan banyak uang sesuai dengan keinginannya, Tiffany segera
membubuhkan tanda tangan di atas kertas perjanjian itu.
“Dan
ini... Adalah ponsel untukmu. Besok aku akan menjemputmu untuk membeli
baju-baju untukmu. Kau tidak boleh kelihatan seperti wanita murahan di depan
istriku. Istriku sangat disiplin untuk urusan penampilan. Dan dua hari dari
sekarang, kita akan pindah ke Inggris. Kita akan tinggal di sana sampai
kelahiran anakmu,” jelas Hyun Joong panjang lebar seraya menyerahkan sebuah
ponsel pintar pada wanita itu.
Tiffany
langsung merebut ponsel pintar itu dari tangan Hyun Joong dengan wajah
antusias.
“Ya,
ampun. Ini keluaran terbaru!” serunya.
Hyun
Joong hanya menghela napas panjang.
“Dan
jangan coba-coba melarikan diri,” ujarnya seraya berdiri dari tempat duduknya.
“Aku
tidak akan lari dari uang sebanyak ini. Yang benar saja!” kata Tiffany, seraya
menghidupkan ponsel barunya.
“Baiklah.
Besok pagi. Jam tujuh,” kata Hyun Joong seraya pergi dari tempat itu.
Tiffany
menatap punggung laki-laki itu seraya angkat bahu dengan gaya tak acuh. Dia
kembali menatap ponsel baru di tangannya dengan tatapan senang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Continueà
Part 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar