expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

OPENING

Opening

Blog ini berisi konten-konten terlarang.. Hehehe. Bo'ong, diiiing.. Blog ini khusus buat para Triple S dan orang-orang yang dengan sukarela menghargai karya orang lain.. Dikhususkan buat para penggemar fanfiction yang gak suka bashing dan suka menghargai karya orang lain. If you don't like it, JUST LEAVE THIS PAGE!! We don't need bashing.. Kalau kritikan, fine.. Tapi bukan untuk dicaci maki dan dihina. Jadi, sekali lagi.. We need your supports. Dan yang terpenting dari segala yang terpenting adalah.. DILARANG MENGCOPY TANPA IJIN APALAGI MENGKLAIM DENGAN SENANG HATI KALAU INI ADALAH HASIL KARYANYA. Semua yang ada di sini ditulis oleh kami sendiri. Bukan saduran maupun plagiat dari mana-mana. Atas perhatiannya. Saya ucapkan terima kasih..


NOTE: Komen dan kritikan dan saran saaaaangaaat ditunggu.. ^^

Author

Rabu, 19 April 2017

Stay 2

Va Ni menatap wanita berambut merah di depannya itu dengan tatapan penuh tanya. Wanita itu memiliki sepasang mata dengan bulu lentik dan dia mengenakan pakaian glamour yang mengesankan bahwa dia adalah seorang sosialita. Tapi sikapnya agak dingin dan tidak ramah saat bertatap muka dengan Va Ni pagi ini.
“Jadi, Anda Tiffany-ssi?” tanya Va Ni dengan nada sopan. Dia tersenyum ramah ke arah Tiffany.
“Yah. Tidak perlu memanggilku dengan sesopan itu. Bukankah kita akan tinggal serumah setelah ini?” tanya Tiffany.
Va Ni menelan ludahnya dengan susah payah.
“Kau benar. Jadi, apakah kau sudah menyiapkan semua barang-barangmu?” tanya Va Ni lagi, mencoba berbasa-basi.
“Aku sudah menyiapkannya sejak kemarin. Suamimu yang membantuku membereskannya,” jawab Tiffany.
Va Ni tersenyum samar.
“Va Ni, semua sudah siap?” Hyun Joong tiba-tiba muncul di belakang Va Ni, dengan membawa sebuah tas besar.
“Yah. Aku sudah memasukkannya ke bagasi,” jawab Va Ni, seraya membantu laki-laki itu memakaikan jaketnya.
“Kau sudah menghubungi mereka?” tanya Hyun Joong lagi.
“Mereka sepertinya marah karena kita pergi mendadak sekali,” jawab Va Ni.
Hyun Joong tampak menghela napas panjang sebelum akhirnya mengusap ujung kepala Va Ni dengan lembut.
“Tidak apa-apa. Nanti aku yang akan menjelaskannya. Ayo, pesawat akan terbang satu jam lagi,” ujar Hyun Joong seraya berjalan mendahului mereka menuju pintu keluar.
Va Ni hampir menyusulnya saat Tiffany tiba-tiba mendahuluinya. Wanita itu berjalan tepat di belakang Hyun Joong dan menghilang setelah pintu apartemen menutup.
Sebuah helaan panjang keluar dari mulut Va Ni.
‘Aku pikir, semua tidak akan semulus kelihatannya. Iya kan?’ batinnya perih seraya berjalan menyusul mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bristol. Inggris.
“Kau belum tidur?” suara bariton milik Hyun Joong membuyarkan lamunan Va Ni, yang sedang sibuk memperhatikan pemandangan kota Bristol di malam hari. Va Ni segera menolehkan kepalanya ke arah Hyun Joong. Wajah Hyun Joong tampak lelah sekali dan kemejanya sudah kusut dengan dua kancing atas terlepas.
“Kau tidak bilang kalau sudah pulang,” ujar Va Ni seraya berjalan mendekati Hyun Joong.
“Ternyata memulai usaha di tempat baru itu tidak semudah kelihatannya. Bagaimana menurutmu?” tanya Hyun Joong seraya melepas jasnya. Va Ni menerimanya dan memasukkanya ke dalam keranjang cucian yang ada di pojok kamar.
“Yah. Kau bisa memintaku kalau butuh bantuan,” ujar Va Ni.
“Dan kau tahu, aku tidak akan melakukan itu,” kata Hyun Joong, seraya duduk di tepi ranjang mereka seraya melepas sepatu kerjanya. Setelah itu dia segera merebahkan tubuhnya ke tempat tidur seraya melepas kancing kemejanya.
“Kau sudah makan malam?” tanya Va Ni.
“Yah. Klien baruku menjamuku. Dengan kentang tumbuk di dalam menunya. Kau tahu? Aku hampir muntah saat memakannya,” ujar Hyun Joong dengan raut wajah jijik. Va Ni tertawa geli dan duduk di sampingnya.
“Kau harus membiasakan diri untuk makan yang seperti itu kan, oppa?” tanyanya.
“Aku rindu masakanmu, Va Ni. Aku bahkan rindu sup wortel buatanmu,” ujar Hyun Joong.
“Oh, ya? Kau bahkan tidak mau menyentuhnya saat kita tinggal di Korea,” kata Va Ni.
“Tapi sekarang aku ingin. Tinggal selama satu bulan di Bristol membuatku hampir mati karena tidak tahan dengan menu makanannya,” kata Hyun Joong. Va Ni kembali tertawa.
“Kau berlebihan, oppa. Kurasa kau yang keterlaluan karena meninggalkanku sendirian di rumah sepanjang hari,” kata Va Ni. Hyun Joong mendengus pelan.
“Bagaimana... hubunganmu dengan wanita itu?” tanya Hyun Joong kemudian. Va Ni ikut merebahkan dirinya di samping Hyun Joong.
“Namanya Tiffany. Dan berhenti memanggilnya dengan panggilan ‘wanita itu’. Bagaimanapun juga, pada akhirnya nanti, dia yang akan–“
Kalimat Va Ni terhenti saat dia merasakkan kedua lengan Hyun Joong menarik tubuhnya dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.
“Jangan katakan itu lagi,” katanya dingin.
“Tapi, kau harus–“
“Aku belum bisa. Aku tidak bisa membayangkan akan melakukannya dengan orang lain selain dirimu,” ujar Hyun Joong, seraya mengeratkan pelukannya.
“Aku percaya padamu, oppa,” ujar Va Ni singkat. Dia balas memeluk tubuh Hyun Joong dengan erat. Sama halnya dengan Hyun Joong, jauh di lubuk hatinya, dia tidak ingin hal ini terjadi. Tapi hanya ini jalan satu-satunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tiffany menatap wanita muda di depannya itu dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu dengan senyum terulas seperti itu?
“Apa kau yakin?” tanya Tiffany.
“Sudah satu bulan lebih dan belum ada hasil apapun. Oppa sepertinya malah sepertinya sengaja menghindarimu.  Dia bekerja dari pagi dan pulang larut malam. Hanya ini yang bisa aku lakukan,” jawab Va Ni seraya mengeratkan jaketnya.
Tiffany tidak mengatakan apapun saat melihat wanita muda itu berjalan mengelilingi rumah itu dan mengambil beberapa barang yang dia butuhkan. Dia tidak menunjukkan raut wajah keberatan saat mengatakan hal itu beberapa saat yang lalu. Seolah-olah dia hanya bilang pada Tiffany untuk menjaga rumahnya sementara dia pergi.
“Ingat pesanku, ya? Jangan katakan apapun padanya. Dan... aku sudah menyiapkan semuanya untukmu di lemari pakaianku. Pakai yang warna pink. Itu adalah hadiah dari Hyun Joong oppa. Dia sangat menyukainya saat aku memakainya. Aku harap, semua baik-baik saja sampai besok. Semoga sukses, Tiffany-ssi,” ujar Va Ni seraya menenteng tasnya dan berjalan keluar dari apartemen.
Tiffany menatap sosok tubuh berbalut jaket berwarna marun itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Sosok Va Ni menghilang dari balik pintu setelah terdengar bunyi ‘pip’ yang menandakan kalau pemanggang di dapur sudah berbunyi dan artinya rotinya untuk sarapan sudah siap untuk dimakan.
Melangkah menuju dapur untuk mengambil roti panggangnya, kepala Tiffany dipenuhi dengan keputusan Va Ni beberapa saat yang lalu. Wanita macam apa dia?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hyun Joong pulang ke apartemennya lebih awal dari sebelumnya. Dia tampak lelah dengan rambut yang sedikit berantakan dan kemeja yang tampak kusut. Saat melihat hanya ada Tiffany yang tampak di apartemennya, dahinya berkerut. Biasanya Va Ni yang akan menyambutnya kalau dia pulang lebih awal seperti ini. Tapi dia tidak melihat tanda-tanda istrinya.
“Va Ni?” panggil Hyun Joong, melewati Tiffany yang tampak serius menonton televisi di ruang tengah.
“Dia pergi berbelanja,” jawab Tiffany, tanpa menoleh ke arah Hyun Joong, dan masih sibuk memindahkan chanel televisi.
“Tidak denganmu?” tanya Hyun Joong.
“Katanya ada tempat yang harus dia kunjungi. Jadi dia tidak bisa mengajakku,” jawab Tiffany.
Hyun Joong mendecih pelan.
Dia berjalan ke kamarnya seraya mengambil ponsel dari saku jasnya. Telinganya samar-samar mendengar tentang berita ramalan cuaca yang mengatakan kalau malam ini akan ada badai lebat di wilayah ini. Mengingat kalau ini sudah memasuki pertengahan musim dingin, cuaca sering menjadi lebih ekstrim pada pertengaham musim seperti ini. Apalagi akhir-akhir ini, cuaca sedang tidak stabil di beberapa daerah di dunia.
“Halo?” terdengar suara Va Ni yang menyahut dari seberang telepon.
“Kau di mana?” tanya Hyun Joong dengan nada tajam.
“Aku sedang berbelanja kebutuhan kita, oppa. Kau bilang kau ingin masakanku kan? Aku akan membeli beberapa bahan,” jawab Va Ni. Suaranya tidak begitu jelas karena ada banyak orang bercakap-cakap di belakangnya.
“Katakan kau ada di mana sekarang dan aku akan menjemputmu,” kata Hyun Joong.
Tidak ada sahutan untuk beberapa saat.
“Aku akan segera pulang,” jawab Va Ni kemudian.
“Akan ada badai malam ini, Va Ni. Cepat katakan padaku kau di mana dan aku akan segera ke sana,” ujar Hyun Joong seraya melepaskan sepatu kerjanya.
“Sinyal di sini jelek sekali. Aku akan segera menghubungimu lagi nanti. Sudah, ya? Kau istirahat saja di rumah. Aku akan pulang dengan segera,” jawab Va Ni.
“Va Ni, kau–“
Kalimat Hyun Joong terpotong oleh bunyi saluran telepon yang terputus. Va Ni menutup sambungan telepon begitu saja tanpa menunggunya menyelesaikan kalimatnya.
Hyun Joong menghidupkan sistem GPS untuk mencari posisi Va Ni saat ini. Tapi dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Va Ni dalam jangkauan GPS-nya.
“Sial!” desisnya penuh kekesalan.
.
.
.
.
.
.
.
Tiffany sedang menyeduh kopi untuknya saat sosok Hyun Joong muncul dari kamarnya dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah. Dia hanya mengenakan kaos panjang dan celana tidur berwarna abu-abu. Kepalanya menunduk seraya mengutak-atik ponsel di tangannya saat berjalan menuju dapur.
“Butuh sesuatu?” tanya Tiffany, mencoba menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Hyun Joong mendongak dari ponselnya dan tampak terkejut karena Tiffany sudah ada di sana.
“A, tidak perlu,” jawab Hyun Joong, seraya kembali mengotak-atik ponselnya.
“Aku sudah membuatkan sup wortel untukmu,” kata Tiffany.
Hyun Joong kembali mendongak dan kini menatapnya dengan tatapan heran sekaligus kaget.
“Kau bisa memasak?” tanyanya, dengan nada sedikit tak percaya.
“Penampilan seseorang kadang menipu kan? Aku bisa memasak, tentu saja. Dan cukup enak, kalau kau mau mencoba. Va Ni-ssi bilang kalau kau ingin makan sup ayam dengan banyak wortel,” ujar Tiffany.
Hyun Joong tidak menjawab dan hanya mengedikkan bahunya.
“Baiklah, nanti aku akan mencobanya,” katanya seraya berjalan menuju lemari es.
“Apa tidak ada kabar dari Va Ni-ssi? Sepertinya di luar sudah mulai badai,” kata Tiffany, seraya meneguk kopinya. Hyun Joong menghela napas panjang.
“Ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi,” jawabnya dengan nada cemas. Meskipun ekspresi wajahnya masih kelihatan datar, tapi nada suaranya dan kilat di matanya tidak bisa disembunyikan. Dia sangat mencemaskan istrinya.
“Va Ni-ssi bilang kalau dia akan baik-baik saja kan? Aku harap sekarang dia juga baik-baik saja di suatu tempat,” ujar Tiffany.
“Yah, aku rasa begitu,” sahut Hyun Joong.
“Mau aku buatkan kopi untuk sedikit menenangkan pikiranmu?” tanya Tiffany.
“Boleh. Aku akan ke ruang tengah,” jawab Hyun Joong seraya berjalan meninggalkan Tiffany di dapur.
Sepeninggal Hyun Joong, Tiffany segera merogoh saku bajunya. Dia menggenggam sebuah botol kecil transparan yang berisi serbuk putih. Tiffany menatap botol itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Ini adalah pertama kalinya dia melakukan hal ini. Sebelumnya, walaupun pekerjaannya memang melayani hasrat birahi para laki-laki hidung belang, tapi Tiffany tidak pernah berbuat selicik ini. Dia tidak pernah memasukkan obat perangsang ke dalam minuman mereka agar mereka terangsang padanya. Mereka yang datang kepadanya dengan sukarela. Dan membayarnya dengan sukarela juga.
Tapi kali ini, dia harus melakukan hal ini pada laki-laki yang sudah membayarnya sangat mahal itu.
Entah kenapa dia tidak tega melakukannya.
Dia sudah tinggal selama satu bulan dengan pasangan suami istri itu di sini, tanpa melewatkan seharipun kehidupan mereka di apartemen ini. Awalnya dia memang bilang senang-senang saja saat ditawari uang sebanyak itu untuk melahirkan anak Hyun Joong. Dia menyukai uang banyak dan dia suka berfoya-foya dengan uang itu. Dia tidak butuh suami maupun keluarga selama dia bisa membeli apapun dengan uang-uang itu.
Tapi setelah dia tinggal di rumah ini, dia merasa kalau kehidupan yang dijalaninya selama ini tidak lebih dari kekosongan belaka. Dia melihat sosok Hyun Joong sebagai suami yang selalu melindungi istrinya dan sosok Va Ni sebagai istri penurut yang melakukan apa saja untuk suaminya. Mereka berdua adalah gambaran keluarga bahagia yang selalu dilihatnya di televisi dan dibacanya di beberapa novel romantis. Dan tanpa terasa, Tiffany menyadari kalau dia merindukan kehidupan yang seperti itu.
Dia butuh suami seperti Kim Hyun Joong. Dia ingin menjadi seorang istri seperti Va Ni. Dan bukannya seorang pelacur kelas tinggi yang selalu melayani para pria kesepian dan hidung belang setiap malam dan berfoya-foya dengan uang hasil kerjanya itu. Dia lelah dengan semua itu. Dia menginginkan kehidupan yang lebih baik.
Dan saat Va Ni mengijinkannya untuk melakukan ini pagi tadi, naruninya sedikit memberontak. Va Ni adalah wanita baik-baik yang tidak pernah memandangnya sebelah mata meskipun dia tahu kalau profesinya adalah sebagai wanita penggoda. Selama tinggal di apartemen ini, Va Ni selalu menganggapnya sebagai rekan kerja dan sering meminta saran untuk beberapa hal yang tidak dia mengerti. Tiffany mengerti sedikit Bahasa Inggris, dan Va Ni yang lulusan bahasa asing sering mengajaknya berbagi tentang pengetahuan bahasa asing. Rasanya aneh sekali kalau dia harus melakukan ini sementara Va Ni tidak ada di sini. Dia seperti pengkhianat busuk.
Tapi di sisi lain, dia juga menyukai Hyun Joong. Ya, dia tidak menampiknya. Dia menyukai pria itu dari awal pertemuan mereka. Hyun Joong tidak sama dengan pria lain yang dia temui. Dia menghargai Tiffany sebagai seorang wanita dan bukannya sebagai seorang wanita malam rendahan. Dia mengantarkan Tiffany pulang ke apartemennya setelah mereka pergi berbelanja segala kebutuhannya sehari sebelum keberangkatan mereka ke Inggris. Hyun Joong bilang kalau dia tidak akan membiarkan seorang wanita pulang malam sendirian. Dan saat itulah Tiffany menyadari kalau tidak semua laki-laki itu brengsek seperti para pelanggannya. Hyun Joong berbeda dan Tiffany menyukainya.
Tapi dia tahu kalau laki-laki itu tidak akan pernah menyukainya. Dia sangat mencintai istrinya dan tidak akan berpaling dari istrinya apapun yang terjadi. Dan itu sangat menyakitkan sekali untuk Tiffany. Dia tahu keberadaannya di sini hanyalah sebatas kontrak kerja. Setelah kontrak selesai, dia harus pergi dari rumah ini. Bisakah dia melakukan itu?
Tiffany menggenggam erat botol minuman yang dia pegang.
‘Hanya malam ini saja.. Ijinkan aku merasakan cinta dari orang yang aku sukai,’ batin Tiffany.
Dia membuka botol berisi serbuk itu ke dalam cangkir yang sudah berisi kopi hitam yang masih mengepul dan menuangkannya ke dalam cangkir.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hyun Joong menyandarkan kepalanya pada sandara sofa yang ada di belakangnya. Kepalanya jadi pusing sekali dengan tiba-tiba. Rasanya ada yang meremas-remas otak di dalam kepalanya dengan tangan yang kuat sekali. Dan nafasnya jadi sedikit terengah tanpa alasan.
‘Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku jadi tidak enak badan tiba-tiba seperti ini?’ batinnya seraya meremas rambutnya.
Tubuhnya mulai memanas dan ada yang meledak-ledak dalam dirinya. Hyun Joong tidak bisa menjelaskannya dengan detail. Tapi dia merasa seluruh tubuhnya saat ini seperti sedang terkena sengatan listrik dengan voltage tinggi.
Hyun Joong akhirnya bangkit dari sofa dengan tubuh terhuyung. Dia berjalan menuju kamarnya dengan mata setengah terpejam.
‘Ya, Tuhan. Apa yang terjadi padaku?’ batinnya.
Dia membuka pintu kamarnya dengan napas memburu. Tubuhnya semakin memanas dan dia tahu sensasi apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Dia butuh Va Ni saat ini.
Hyun Joong merasakan pandangannya mulai mengabur dan dia harus menyandarkan tubuhnya pada dinding kamarnya agar tubuhnya tidak terjatuh.
Oppa?”
Sebuah suara lembut terdengar samar di dekatnya. Hyun Joong mendongakkan kepalanya dan memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa yang baru saja berbicara itu.
Oppa? Kau tidak apa-apa?” tanya suara itu lagi.
Hyun Joong melihat siluet seseorang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Indra penciuman Hyun Joong mencium sesuatu yang sangat dikenalnya. Parfum Va Ni. Aroma buah cherry yang selalu menguar dari tubuhnya.
“Va Ni?” panggil Hyun Joong dengan suara sesak.
Matanya menangkap sosok wanita yang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Hyun Joong mengenalnya. Lingerie berwarna merah muda yang melekat pada tubuh wanita itu, membuat tubuhnya semakin menegang. Wanita berbalut lingerie merah muda itu berjalan menghampirinya.
“Apa yang kau inginkan, oppa?” suaranya semakin dekat di telinga Hyun Joong.
“Va Ni, itu kau?” tanya Hyun Joong.
“Ya, ini aku,” jawab suara itu. Hyun Joong merasakan sebuah tangan mengusap wajahnya dengan lembut dan itu membuat saraf di seluruh tubuhnya semakin menegang. Darahnya mulai mendidih dan yang lebih parah, sesuatu dalam tubuhnya seolah mendesak ingin segera keluar.
Dengan gerakan gesit, kedua tangan Hyun Joong langsung mengunci wajah wanita di depannya dan langsung mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir wanita itu. Dia mencium bibir itu dengan gerakan penuh hasrat. Sementara wanita itu mengikuti setiap gerakan bibirnya tanpa kesulitan dan mulai menyentuh beberapa bagian tubuh Hyun Joong dengan tangan lentiknya. Tubuh Hyun Joong semakin menegang hebat dan napasnya semakin menderu.
Dia meraih tubuh setengah telanjang wanita itu dan menghempaskannya di atas ranjang yang berada di dekatnya. Terdengar pekikan kaget yang keluar dari bibir wanita itu.
Hyun Joong langsung menghentikan gerakannya. Meskipun hasratnya sedang tidak terbendung saat ini, tapi dia masih bisa menggunakan akal sehatnya. Dia mengabaikan gelora yang semakin memanas di tubuhnya dan menatap wanita yang kini ada di bawah tubuhnya dengan tatapan tajam. Kedua dahinya berkerut menatap sosok wanita itu dengan seksama.
Hyun Joong mengerjapkan matanya beberapa kali sampai matanya bisa melihat dengan lebih jelas apa yang ada di hadapannya saat ini. Saat matanya menangkap helaian rambut berwarna merah menyala, dia langsung tersentak.
Kedua matanya membulat dan Hyun Joong segera turun dari ranjang.
“Apa yang kau lakukan di sini? Dan kenapa kau mengenakan–?” kalimat Hyun Joong terhenti saat dia bisa melihat lebih jelas apa yang ada di hadapannya saat ini.
Tiffany mengenakan lingerie milik Va Ni yang memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya dan dia kelihatan seksi sekali.
‘Sialan!’ desis Hyun Joong seraya berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.
 “Keluar dari kamarku sebelum terjadi sesuatu!” seru Hyun Joong seraya menutup pintu kamar mandi sampai menimbulkan bunyi berdebam keras.
.
.
Ada rasa kecewa saat Tiffany melihat laki-laki itu berjalan membelakanginya dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Yang lebih menyakitkan adalah caranya melihatnya dengan tatapan luar biasa kaget saat menyadari kalau yang sedang dicumbunya adalah Tiffany dan bukannya istrinya. Tiffany merasakan ada yang menohok ulu hatinya saat Hyun Joong menyuruhnya untuk keluar dari kamar ini. Rasanya menyesakkan sekali. Bahkan saat dirinya sedang dikuasai hasrat menggebu, dia masih teringat dengan istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Va Ni berkali-kali menghela napas panjang dan meyakinkan dirinya sendiri kalau semua akan baik-baik saja saat dia tiba di apartemennya pagi ini. Dia terpaksa menginap di salah satu gereja di dekat swalayan tempatnya berbelanja karena badai benar-benar tidak bisa diterobos. Dia sudah berniat akan menyewa hotel murah untuk semalam, tapi ternyata keadaan sangat tidak memungkinkan. Sepanjang malam dia mematikan teleponnya dan sebisa mungkin untnuk tidak memikirkan apa yang sedang dilakukan suaminya dengan Tiffany. Dia terluka, tentu saja. Dan dia juga menangis karena merasa dikhianati. Tapi bukankah ini adalah keputusannya sendiri? Jadi, dia harus tetap tegar apapun yang terjadi.
Pintu apartemen segera terbuka setelah Va Ni memencet bel satu kali. Hyun Joong yang membukakan pintu. Penampilannya sudah kelihatan rapi sekali.
“Selamat pagi, oppa,” sapa Va Ni ramah. Wajah Hyun Joong mengeras dan pandangannya menatap Va Ni dengan tatapan tajam. Dia tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa saat dan langsung menarik lengan Va Ni masuk ke dalam apartemen dengan kasar.
Oppa, apa yang –?”
Kalimat Va Ni terpotong saat dia merasakan sesuatu yang hangat dan basah menempel di bibirnya. Va Ni terbelalak kaget saat menyadari kalau Hyun Joong sedang menciumnya saat ini.
“Apa yang kau lakukan.. sampai tidak pulang, hah?” tanya Hyun Joong, tanpa melepaskan ciumannya pada bibir Va Ni. Hyun Joong mengecup bibir Va Ni berkali-kali.
“Ada... badai-mph,” jawab Va Ni. Hyun Joong mulai menggunakan lidahnya untuk mencumbu bibir Va Ni dengan gerakan tak terkendali.
“Aku bilang akan menjemputmu kan?” desis Hyun Joong, di sela-sela pagutannya.
Va Ni tidak menjawab. Dia tidak bisa menjawab tepatnya. Ciuman Hyun Joong semakin liar dan panas. Lidahnya mulai membelit lidah Va Ni di dalam mulutnya seolah tidak ingin melepaskannya. Va Ni berkali-kali memukul dadanya untuk melepaskannya karena dia belum siap dan napasnya sudah hampir habis.
Hyun Joong akhirnya melepaskan ciumannya dan menatap Va Ni dengan tatapan kesal. Nafas keduanya mulai menderu tak teratur.
“Kita harus bicara,” ujar Hyun Joong seraya menarik tangan Va Ni ke dalam. Dia melewati Tiffany yang baru saja keluar dari kamarnya dengan mengenakan piyama musim dingin. Tiffany menatap mereka dengan tatapan bingung. Va Ni sama bingungnya dengannya. Kenapa Tiffany baru keluar dari kamarnya sendiri dan mengenakan piyama musim dingin seperti itu?
Belum sempat Va Ni bertanya pada Tiffany, Hyun Joong sudah menariknya ke dalam kamar dan menutup pintu kamar dengan keras. Hyun Joong melemparkan tubuh Va Ni ke atas ranjang.
“Apa yang kau lakukan, oppa?” tanya Va Ni, dengan nada kaget sekaligus takut.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Va Ni. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau pergi semalam ? Kau melakukannya dengan sengaja kan?” Hyun Joong kini menatapnya dengan tajam. Kedua matanya sama sekali tidak beralih dari tubuh Va Ni yang kini terduduk di tepi ranjang dengan sikap kikuk.
Sementara Va Ni hanya terdiam untuk beberapa saat.
“Demi kebaikan kita semua. Kau tidak akan bisa melakukannya kalau ada aku di sini,” katanya kemudian.
Hyun Joong berjalan menghampiri Va Ni. Dia mendudukkan dirinya untuk berhadapan dengan Va Ni.
“Aku hampir melakukannya, Va Ni. Aku hampir... mencumbunya di ranjang ini. Apa kau tahu? Aku sudah kehilangan akal sehatku dan aku pikir itu kau,” ujar Hyun Joong.
Va Ni mendongak dan menatap Hyun Joong dengan dahi berkerut.
“Kalian tidak jadi melakukannya?” tanyanya. Antara lega dan kecewa.
“Hampir. Kalau dia tidak berteriak dan membuatku tersadar, aku bisa kehilangan kendali dan bercinta dengannya semalaman di ranjang ini,” kata Hyun Joong. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik.
Oppa, tapi  kau–“ Va Ni menghentikan kalimatnya.
“Kau tahu apa yang aku lakukan setelah itu? Aku terpaksa membuat diriku orgasme sendiri dengan membayangkan wajahmu karena aku tidak mungkin menyentuh wanita itu. Apa wanita itu memberi obat perangsang dalam minumanku?” Hyun Joong mengerutkan dahinya.
Va Ni tidak menjawab dan hanya menggigit bibir bawahnya dengan gugup.
“Kau yang menyuruhnya?” tanya Hyun Joong dengan pandangan penuh selidik.
“Karena aku pikir, hanya itu cara yang akan berhasil membuatmu... melakukannya,” jawab Va Ni dengan suara lirih.
“Astaga! Aku tidak peduli dengan itu. Aku tidak bisa melakukannya dengan wanita lain dan aku tidak akan pernah melakukan itu lagi. Sudah cukup sampai di sini,” ujar Hyun Joong dengan geram.
“Tapi kontraknya...”
“Aku akan tetap membayar wanita itu sesuai dengan perjanjian,” timpal Hyun Joong.
Va Ni menatapnya dengan tatapan sayu.
“Tapi kau tidak akan pernah memiliki keturunan dariku. Dan orangtua kita...” Va Ni tidak melanjutkan perkataannya. Terlalu menyakitkan mengingat hal itu.
Hyun Joong menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Dia meraih tangan Va Ni dan menggenggamnya dengan erat.
“Kita akan jujur pada mereka. Memang seharusnya ini yang harus kita katakan pada mereka dari awal kan? Sama saja kita membohongi mereka kalau kita tetap melanjutkan ini,” kata Hyun Joong.
Va Ni menunduk.
“Aku takut... Orangtuamu akan...”
Hyun Joong mengeratkan genggamannya pada tangan Va Ni.
“Kita akan melewati ini bersama-sama,” katanya kemudian.
Va Ni tidak mengatakan apapun lagi. Dadanya rasanya sesak sekali saat ini. Dia memang menginginkan seorang anak dari Hyun Joong, tapi dia juga tidak yakin dirinya akan sanggup membesarkan anak Hyun Joong dari seorang perempuan lain. Meskipun kelihatannya mudah, tetap saja hubungan anak dan ibu kandung tidak bisa dihapuskan selamanya. Anak itu tetap bukan anaknya. Dan itu sedikit tidak adil untuknya.
“Kita akan mengadopsi anak,” ujar Hyun Joong kemudian.
Va Ni mendongak untuk menatapnya. Matanya mengerjap menatap Hyun Joong yang saat ini menatapnya dengan tatapan lembut.
“Adil, kan? Bukan dariku maupun darimu. Tapi anak orang lain yang akan kita besarkan bersama. Anak itu akan menjadi anak kita selamanya,” lanjut Hyun Joong.
Va Ni mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya sebuah senyum lega tampak di wajahnya. Akhirnya dia tidak perlu mengeluarkan apa yang menjadi ganjalannya akhir-akhir ini. Hyun Joong sendiri yang mengatakannya dan secara tidak sadar, perasaan mereka terhubung karena itu.
“Aku mencintaimu,” kata Va Ni seraya berhambur untuk memeluk tubuh Hyun Joong. Dia melingkarkan kedua tangannya mengelilingi pinggang Hyun Joong dan membenamkan wajahnya di dada bidang Hyun Joong.
Hyun Joong balas merengkuhnya.
“Tapi kau harus membayarku karena sudah membuatku menderita semalaman,” kata Hyun Joong.
Va Ni mendongakkan kepalanya untuk menatap langsung wajah Hyun Joong dengan ekspresi bingung.
“Apa?” tanyanya. Kedua mata hijau emerald-nya yang besar itu tampak lucu sekali kalau sedang menatap Hyun Joong dengan tatapan polos seperti itu.
“Aku seperti pria putus asa yang tidak punya kekasih karena melakukan itu sendirian,” jawab Hyun Joong.
“Ja-jadi?” Va Ni mulai mencium ada yang tidak beres dalam nada suara Hyun Joong.
“Jadi...” Hyun Joong merebahkan tubuh Va Ni dengan sedikit memaksa ke atas ranjang. “Sekarang giliranmu memuaskanku,” lanjutnya dengan suara desahan yang membuat tubuh Va Ni bergidik geli.
“Kau harus masuk kerja,” kata Va Ni dengan nada mengingatkan.
“Aku bisa ijin sehari,” sahut Hyun Joong tidak mau tahu. Dia mendekap tubuh Va Ni ke dalam tubuhnya. Membanmakan wajahnya ke dada Va Ni dan menikmati aroma yang menguar dari tubuh istrinya itu.
“Pintunya belum dikunci.”
“Biarkan saja.”
.
.
.
.
.
.
“Kau akan mengatakan padanya hari ini kan?” tanya Va Ni yang sedang menyiapkan sarapan untuk Hyun Joong.
“Hm,” Hyun Joong yang duduk di depannya sambil memeriksa ponselnya hanya menjawabnya dengan dengusan pelan.
“Jangan hanya menjawab seperti itu. Kau kelihatan menyebalkan sekali kalau sudah seperti itu,” kata Va Ni seraya menaruh secangkir kopi panas di depan Hyun Joong.
“Ya, istriku sayang,” ujar Hyun Joong, seraya mendongak dari ponselnya dan menatap Va Ni.
“Sebenarnya apa yang kau lihat sejak tadi? Apa pekerjaanmu menjadi sepenting itu sekarang?” tanya Va Ni, dengan nada setengah kesal.
Hyun Joong menatapnya dengan pandangan heran.
“Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Kau jadi sering marah-marah tanpa alasan,” kata Hyun Joong seraya menyeruput kopinya. “Oh, ya, kau sudah jadi pergi ke dokter?” tanyanya.
“Aku sudah minum obat. Aku rasa maagku kambuh,” jawab Va Ni seraya duduk di samping Hyun Joong.
“Jangan disepelekan. Cepat periksakan. Kalau sampai ada apa-apa bisa bahaya kan?” kata Hyun Joong.
“Baiklah,” sahut Va Ni. “Asal kau menemaniku.”
Hyun Joong kembali menatap Va Ni dengan tatapan bingung.
“Biasanya kau akan pergi sendiri. Tumben kau memintaku menemaniku,” katanya.
“Jadi kau tidak mau?” Va Ni menatap Hyun Joong dengan tatapan protes.
“Bukan begitu. Baiklah, baiklah. Aku akan ijin untuk pulang lebih awal nanti. Setelah itu kita pergi ke dokter,” kata Hyun Joong.
Va Ni tersenyum ke arahnya.
“Terimakasih, oppa,” katanya seraya mengecup bibir Hyun Joong.
Tapi saat hidungnya mencium bau parfum yang dipakai Hyun Joong, dia merasakan perutnya tiba-tiba mual. Seperti ada yang mengaduk-ngaduk isi perutnya dengan cepat sekali.
Va Ni segera turun dari kursinya dan berlari menuju kamar mandi dengan tangan menutup mulutnya.
Dahi Hyun Joong berkerut saat dia mendengar suara muntahan Va Ni dari dalam kamar mandi. Dia turun dari kursinya dan menyusul Va Ni dengan cemas.
“Ada apa?” tanyanya dengan suara cemas saat melihat Va Ni sedang menunduk di atas wastafel seraya berusaha memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya.
“Aku tidak tahu–“ kalimat Va Ni terhenti saat dia kembali memuntahkan sesuatu ke dalam wastafel.
 “Dia seperti itu terus akhir-akhir ini,” Tiffany tiba-tiba muncul di belakang Hyun Joong. Hyun Joong menatap penampilannya dengan dahi berkerut. Tiffany tampak rapi sekali dengan rambut yang sudah diikat ke belakang dan baju bepergian dengan warna ungu muda.
Dia ingin menanyakan kenapa Tiffany berpakaian seperti itu, saat suara Va Ni yang hampir muntah kembali terdengar.
“Benarkah?” tanya Hyun Joong kepada Tiffany.
Tiffany mengedikkan bahunya.
“Mungkin kalian perlu pergi ke dokter untuk memeriksakannya. Mungkin dia hamil,” kata Tiffany dengan nada enteng. Hyun Joong menggeleng pelan.
“Tapi dokter bilang kalau...”
“Dokter tidak bilang kalau dia mengangkat semua kantung ovariumnya kan? Katamu dokternya bilang kalau Va Ni-ssi tidak bisa hamil lagi. Tapi kalau masih ada satu kantung yang belum diambil, kemungkinan dia hamil bisa saja terjadi,” terang Tiffany panjang lebar.
Hyun Joong menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
“Saranku, segera periksakan saja sebelum semua terlambat lagi,” kata Tiffany, seraya berbalik dan meninggalkan mereka berdua.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Selamat. Anda hamil. Usianya sudah empat minggu.”
Butuh waktu beberapa lama bagi otak Va Ni untuk mencerna kalimat itu dan memprosesnya. Barulah saat dokter cantik di depannya itu mengulurkan lembar USG kepadanya, Va Ni segera tersadar dari lamunannya. Dari foto hitam putih yang tampak absurd itu, dia bisa melihat sesuatu berbentuk gumpalan kecil yang mirip kacang polong ada di tengah-tengahnya.
Va Ni keluar dari ruangan dokter itu dengan pikiran masih setengah tak sadar.
Dia tidak mempercayai ini. Ada janin dalam perutnya.
“Va Ni?” suara Hyun Joong yang ada di dekatnya membuatnya tersadar.
Va Ni menoleh ke arah Hyun Joong dengan mata yang sudah basah. Dia tidak tahan lagi untuk tidak menangis. Ini benar-benar kejutan untuknya. Kejutan yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Sebelumnya dia selalu percaya kalau dirinya tidak akan bisa hamil lagi. Dia tidak akan bisa mengandung dan melahirkan seorang anak dari rahimnya. Tapi hari ini, kepercayaannya itu runtuh begitu saja.
“Positif, oppa. Aku benar-benar mengandung. Aku mengandung anak kita!” kata Va Ni dengan nada antusias. Dia memeluk tubuh Hyun Joong dengan tidak sabar. Kebahagiaannya seakan meluap tak terkendali dan dia ingin membaginya dengan orang lain saat ini juga. Hyun Joong balas memeluknya dengan erat. Dia sama kagetnya dengan Va Ni saat ini.
“Aku akan jadi ibu!” Va Ni hampir melompat bahagia saking senangnya.
“Va Ni, hentikan!” Hyun Joong segera menahan tubuh Va Ni sebelum Va Ni benar-benar melompat karena bahagia.
“Aku tidak sedang bermimpi kan?” Va Ni menangkupkan kedua tangannya di kedua sisi wajah Hyun Joong.
“Tidak. Ini kenyataan. Kita akan jadi orangtua,” jawab Hyun Joong. Dia tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah dilihat Va Ni selama ini.
Hyun Joong lalu menundukkan tubuhnya dan meletakkan telinganya di atas perut Va Ni yang masih rata.
“Halo. Cepat besar, ya? Papa menunggumu lahir,” kata Hyun Joong.
Va Ni terkikik geli.
“Dia masih sebesar kacang polong. Belum punya mata dan telinga. Mana mungkin dia mendengarmu,” kata Va Ni.
Hyun Joong kembali berdiri dan menatap wajah Va Ni dengan tatapan intens.
“Va Ni...”
“Ehem. Maaf menganggu kebahagiaan kecil kalian.”
Sebuah suara yang tidak asing terdengar di dekat mereka dan mau tidak mau membuat Va Ni maupun Hyun Joong menoleh ke arahnya. Tiffany berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Jadi.. Selamat atas kehamilanmu, Va Ni-ssi,” ujar Tiffany seraya berjalan mendekati mereka dengan langkah pelan.
“Terimakasih karena kau menyarankan kami untuk segera datang ke sini. Walaupun awalnya aku kaget karena kau tahu hal seperti itu,” kata Va Ni.
Tiffany terkekeh.
“Untuk wanita sepertiku kan? Memang mengagetkan, ya? Aku pernah kuliah di jurusan kedokteran.. mm, beberapa tahun yang. Jadi aku sedikit tahu tentang hal itu,” katanya. Raut wajahnya menjadi sedikit muram saat mengatakan itu.
Va Ni mengangkat alisnya.
“Yah, aku tahu kau pasti akan bertanya kenapa aku bisa bekerja menjadi... wanita malam seperti sekarang. Ceritanya panjang dan aku rasa tidak cukup untuk menceritakannya karena pesawatku akan berangkat satu jam lagi,” kata Tiffany.
Va Ni mengernyitkan dahi menatapnya.
“Pesawat?” tanyanya.
Tiffany mengangguk.
“Ya, pesawat. Aku akan kembali ke Korea dan... memulai kehidupan baru di sana,” jawabnya kemudian.
“Tapi.. kenapa tiba-tiba sekali?” Va Ni menatapnya bingung.
“Tidak tiba-tiba. Aku sudah merencanakannya sejak beberapa hari yang lalu. Sejak kau mulai menunjukkan gejala-gejala wanita hamil, saat itulah aku merasa kalau aku sudah tidak dibutuhkan lagi di apartemen kalian,” terang Tiffany.
Va Ni tidak segera menyahut. Dia menoleh ke arah Hyun Joong yang hanya menatap Tiffany dengan wajah datar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hubungannya dengan Tiffany menjadi lebih kaku semenjak malam itu. Dia benar-benar menghindari untuk bertatap muka dengan Tiffany maupun berada dalam satu ruangan dengan wanita itu.
“Tapi kontraknya...”
“Anggap saja, kontraknya sudah habis. Lagipula, aku tidak melakukan apapun kan? Aku hanya menumpang di apartemen kalian. Makan, tidur, melamun... Hanya itu yang aku lakukan sepanjang hari,” kata Tiffany.
“Aku tetap akan memberimu uang sesuai perjanjian kita,” ujar Hyun Joong.
Tiffany tertawa pelan.
“Aku rasa aku tidak berhak menerima uang itu selagi aku tidak berhasil melakukan apapun,” katanya.
“Perjanjian tetap perjanjian. Aku akan mengirimkan uang ke rekeningmu setelah ini,” ujar Hyun Joong.
Tiffany akhirnya angkat bahu.
“Baiklah, kalau kalian memaksa,” katanya kemudian.
“Jadi, Tiffany-ssi.. Terimakasih karena kau sudah meluangkan waktumu untuk kami selama ini. Aku minta maaf kalau ada hal-hal yang membuatmu merasa tidak enak selama ini. Kau orang baik. Aku harap kau dapat kehidupan yang lebih layak dari ini,” ujar Va Ni panjang lebar.
Tiffany tersenyum pada mereka.
“Seharusnya aku yang berterimakasih pada kalian. Kalian mengajarkan cinta yang tulus padaku. Tidak ada wanita yang setegar Va Ni-ssi yang rela melihat suaminya bercinta dengan orang lain. Dan kau, Hyun Joong-ssi, kau benar-benar hebat bisa mengendalikan hasratmu saat itu. Kau sangat mencintai istrimu sampai tidak bisa melakukannya degan orang lain. Aku benar-benar salut dengan kalian. Dan aku harap, anak kalian akan lahir dan tumbuh dengan sehat nanti,” ujar Tiffany.
Va Ni balas tersenyum padanya.
“Semoga perjalananmu menyenangkan dan kau sampai tujuan dengan selamat,” katanya.
Tiffany melambaikan tangan pada mereka sebelum akhirnya berbalik pergi dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
“Setelah ini pasti akan sepi, ya?” gumam Va Ni.
“Aku rasa tidak. Anak ini pasti akan sedikit merepotkan beberapa bulan ini,” kata Hyun Joong seraya mengusap perut Va Ni dengan lembut.
“Jadi, kau mau bilang kalau aku merepotkan?” tanya Va Ni dengan nada protes.
Hyun Joong hanya menggeleng seraya membawa Va Ni pergi dari tempat itu. Wanita hamil akan benar-benar merepotkan kan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
EPILOG
Lorong rumah sakit itu terlihat sibuk dengan adanya beberapa orang yang berlalu lalang sambil membawa beberapa peralatan. Ada juga beberapa pasien yang sekedar berjalan-jalan untuk menghindari kejenuhan.
Dua orang perawat tampak membawa sebuah tempat tidur dorong dengan seorang pasien hamil di atasnya. Beberapa orang yang mengikutinya di belakang tampak sama cemasnya dengan pasien yang sedang berusaha menahan sakit di atas tempat tidur dorong itu.
“Bertahanlah, Va Ni!” kata seorang perempuan paruh baya yang berjalan mengikuti para perawat mendorong pasien itu.
Wanita muda yang ada di atas ranjang dorong itu hanya bisa mengatur napasnya berkali-kali untuk mengurangi rasa sakit yang kini berpusat di pangkal pahanya. Keringat sudah membasahi hampir seluruh tubuhnya karena dia menahan sakit sejak tadi.
“Kau sudah menghubungi Joongie, Suamiku?” tanya perempuan paruh baya itu.
“Hyun Joong sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi mungkin dia akan sampai,” jawab laki-laki paruh itu itu.
Perawat sampai di depan sebuah ruang persalinan dan langsung disambut dengan beberapa perawat lain.
“Mohon kerabat menunggu di luar ruangan,” kata salah satu perawat saat ranjang dorong itu sudah dimasukkan ke dalam ruang persalinan.
“Siapa yang bertanggung jawab di sini?” tanya salah seorang perawat yang wajahnya ditutup masker.
“Saya!” jawab seseorang yang baru muncul di ruangan itu.
Seseorang berpakaian dokter lengkap dengan masker dan penutup kepala, segera bergabung di meja persalinan. Rambut hitamnya tampak mencuat dari penutup kepalanya.
Kedua mata coklatnya yang lentik menatap pasien di depannya dengan tatapan kaget.
Va Ni yang menyadari hal itu ikut membelalakkan matanya.
“Tiffany-ssi?” tanyanya kaget. Tiffany tersenyum ke arahnya, meskipun percuma karena wajahnya tertutupi masker saat ini. Tapi kedua matanya yang menyipit itu menandakan dia sedang tersenyum ke arahnya.
“Senang berjumpa denganmu lagi. Kau siap? Agak menyakitkan memang. Kau bisa menahannya kan? Akan segera kami mulai persalinannya,” kata Tiffany.
Va Ni mengangguk. Dia memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Dia sudah siap menerima resiko apapun.
‘Jadilah anak baik dan keluarlah dengan tenang, Nak,’ batin Va Ni seraya meremas sprei di bawahnya begitu dia merasakan dorongan itu kembali mendesak keluar.
.
.
.
.
.
.
SELESAI dengan agak mekso ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar