Va
Ni menatap wanita berambut merah di depannya itu dengan tatapan penuh tanya.
Wanita itu memiliki sepasang mata dengan bulu lentik dan dia mengenakan pakaian
glamour yang mengesankan bahwa dia adalah seorang sosialita. Tapi sikapnya agak
dingin dan tidak ramah saat bertatap muka dengan Va Ni pagi ini.
“Jadi,
Anda Tiffany-ssi?” tanya Va Ni dengan nada sopan. Dia tersenyum ramah ke arah
Tiffany.
“Yah.
Tidak perlu memanggilku dengan sesopan itu. Bukankah kita akan tinggal serumah
setelah ini?” tanya Tiffany.
Va
Ni menelan ludahnya dengan susah payah.
“Kau
benar. Jadi, apakah kau sudah menyiapkan semua barang-barangmu?” tanya Va Ni lagi,
mencoba berbasa-basi.
“Aku
sudah menyiapkannya sejak kemarin. Suamimu yang membantuku membereskannya,”
jawab Tiffany.
Va
Ni tersenyum samar.
“Va
Ni, semua sudah siap?” Hyun Joong tiba-tiba muncul di belakang Va Ni, dengan
membawa sebuah tas besar.
“Yah.
Aku sudah memasukkannya ke bagasi,” jawab Va Ni, seraya membantu laki-laki itu
memakaikan jaketnya.
“Kau
sudah menghubungi mereka?” tanya Hyun Joong lagi.
“Mereka
sepertinya marah karena kita pergi mendadak sekali,” jawab Va Ni.
Hyun
Joong tampak menghela napas panjang sebelum akhirnya mengusap ujung kepala Va
Ni dengan lembut.
“Tidak
apa-apa. Nanti aku yang akan menjelaskannya. Ayo, pesawat akan terbang satu jam
lagi,” ujar Hyun Joong seraya berjalan mendahului mereka menuju pintu keluar.
Va
Ni hampir menyusulnya saat Tiffany tiba-tiba mendahuluinya. Wanita itu berjalan
tepat di belakang Hyun Joong dan menghilang setelah pintu apartemen menutup.
Sebuah
helaan panjang keluar dari mulut Va Ni.
‘Aku
pikir, semua tidak akan semulus kelihatannya. Iya kan?’ batinnya perih seraya
berjalan menyusul mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bristol. Inggris.
“Kau
belum tidur?” suara bariton milik Hyun Joong membuyarkan lamunan Va Ni, yang
sedang sibuk memperhatikan pemandangan kota Bristol di malam hari. Va Ni segera
menolehkan kepalanya ke arah Hyun Joong. Wajah Hyun Joong tampak lelah sekali
dan kemejanya sudah kusut dengan dua kancing atas terlepas.
“Kau
tidak bilang kalau sudah pulang,” ujar Va Ni seraya berjalan mendekati Hyun
Joong.
“Ternyata
memulai usaha di tempat baru itu tidak semudah kelihatannya. Bagaimana
menurutmu?” tanya Hyun Joong seraya melepas jasnya. Va Ni menerimanya dan
memasukkanya ke dalam keranjang cucian yang ada di pojok kamar.
“Yah.
Kau bisa memintaku kalau butuh bantuan,” ujar Va Ni.
“Dan
kau tahu, aku tidak akan melakukan itu,” kata Hyun Joong, seraya duduk di tepi
ranjang mereka seraya melepas sepatu kerjanya. Setelah itu dia segera
merebahkan tubuhnya ke tempat tidur seraya melepas kancing kemejanya.
“Kau
sudah makan malam?” tanya Va Ni.
“Yah.
Klien baruku menjamuku. Dengan kentang tumbuk di dalam menunya. Kau tahu? Aku
hampir muntah saat memakannya,” ujar Hyun Joong dengan raut wajah jijik. Va Ni
tertawa geli dan duduk di sampingnya.
“Kau
harus membiasakan diri untuk makan yang seperti itu kan, oppa?”
tanyanya.
“Aku
rindu masakanmu, Va Ni. Aku bahkan rindu sup wortel buatanmu,” ujar Hyun Joong.
“Oh,
ya? Kau bahkan tidak mau menyentuhnya saat kita tinggal di Korea,” kata Va Ni.
“Tapi
sekarang aku ingin. Tinggal selama satu bulan di Bristol membuatku hampir mati
karena tidak tahan dengan menu makanannya,” kata Hyun Joong. Va Ni kembali
tertawa.
“Kau
berlebihan, oppa. Kurasa kau yang keterlaluan karena meninggalkanku
sendirian di rumah sepanjang hari,” kata Va Ni. Hyun Joong mendengus pelan.
“Bagaimana...
hubunganmu dengan wanita itu?” tanya Hyun Joong kemudian. Va Ni ikut merebahkan
dirinya di samping Hyun Joong.
“Namanya
Tiffany. Dan berhenti memanggilnya dengan panggilan ‘wanita itu’. Bagaimanapun
juga, pada akhirnya nanti, dia yang akan–“
Kalimat
Va Ni terhenti saat dia merasakkan kedua lengan Hyun Joong menarik tubuhnya dan
merengkuhnya ke dalam pelukannya.
“Jangan
katakan itu lagi,” katanya dingin.
“Tapi,
kau harus–“
“Aku
belum bisa. Aku tidak bisa membayangkan akan melakukannya dengan orang lain
selain dirimu,” ujar Hyun Joong, seraya mengeratkan pelukannya.
“Aku
percaya padamu, oppa,” ujar Va Ni singkat. Dia balas memeluk tubuh Hyun
Joong dengan erat. Sama halnya dengan Hyun Joong, jauh di lubuk hatinya, dia
tidak ingin hal ini terjadi. Tapi hanya ini jalan satu-satunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tiffany
menatap wanita muda di depannya itu dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa
dia mengatakan hal itu dengan senyum terulas seperti itu?
“Apa
kau yakin?” tanya Tiffany.
“Sudah
satu bulan lebih dan belum ada hasil apapun. Oppa sepertinya malah
sepertinya sengaja menghindarimu. Dia
bekerja dari pagi dan pulang larut malam. Hanya ini yang bisa aku lakukan,”
jawab Va Ni seraya mengeratkan jaketnya.
Tiffany
tidak mengatakan apapun saat melihat wanita muda itu berjalan mengelilingi
rumah itu dan mengambil beberapa barang yang dia butuhkan. Dia tidak
menunjukkan raut wajah keberatan saat mengatakan hal itu beberapa saat yang
lalu. Seolah-olah dia hanya bilang pada Tiffany untuk menjaga rumahnya
sementara dia pergi.
“Ingat
pesanku, ya? Jangan katakan apapun padanya. Dan... aku sudah menyiapkan
semuanya untukmu di lemari pakaianku. Pakai yang warna pink. Itu adalah hadiah
dari Hyun Joong oppa. Dia sangat menyukainya saat aku memakainya. Aku
harap, semua baik-baik saja sampai besok. Semoga sukses, Tiffany-ssi,” ujar Va
Ni seraya menenteng tasnya dan berjalan keluar dari apartemen.
Tiffany
menatap sosok tubuh berbalut jaket berwarna marun itu dengan tatapan yang sulit
diartikan. Sosok Va Ni menghilang dari balik pintu setelah terdengar bunyi
‘pip’ yang menandakan kalau pemanggang di dapur sudah berbunyi dan artinya
rotinya untuk sarapan sudah siap untuk dimakan.
Melangkah
menuju dapur untuk mengambil roti panggangnya, kepala Tiffany dipenuhi dengan
keputusan Va Ni beberapa saat yang lalu. Wanita macam apa dia?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hyun
Joong pulang ke apartemennya lebih awal dari sebelumnya. Dia tampak lelah
dengan rambut yang sedikit berantakan dan kemeja yang tampak kusut. Saat
melihat hanya ada Tiffany yang tampak di apartemennya, dahinya berkerut.
Biasanya Va Ni yang akan menyambutnya kalau dia pulang lebih awal seperti ini.
Tapi dia tidak melihat tanda-tanda istrinya.
“Va
Ni?” panggil Hyun Joong, melewati Tiffany yang tampak serius menonton televisi
di ruang tengah.
“Dia
pergi berbelanja,” jawab Tiffany, tanpa menoleh ke arah Hyun Joong, dan masih
sibuk memindahkan chanel televisi.
“Tidak
denganmu?” tanya Hyun Joong.
“Katanya
ada tempat yang harus dia kunjungi. Jadi dia tidak bisa mengajakku,” jawab
Tiffany.
Hyun
Joong mendecih pelan.
Dia
berjalan ke kamarnya seraya mengambil ponsel dari saku jasnya. Telinganya
samar-samar mendengar tentang berita ramalan cuaca yang mengatakan kalau malam
ini akan ada badai lebat di wilayah ini. Mengingat kalau ini sudah memasuki
pertengahan musim dingin, cuaca sering menjadi lebih ekstrim pada pertengaham
musim seperti ini. Apalagi akhir-akhir ini, cuaca sedang tidak stabil di
beberapa daerah di dunia.
“Halo?”
terdengar suara Va Ni yang menyahut dari seberang telepon.
“Kau
di mana?” tanya Hyun Joong dengan nada tajam.
“Aku
sedang berbelanja kebutuhan kita, oppa. Kau bilang kau ingin masakanku
kan? Aku akan membeli beberapa bahan,” jawab Va Ni. Suaranya tidak begitu jelas
karena ada banyak orang bercakap-cakap di belakangnya.
“Katakan
kau ada di mana sekarang dan aku akan menjemputmu,” kata Hyun Joong.
Tidak
ada sahutan untuk beberapa saat.
“Aku
akan segera pulang,” jawab Va Ni kemudian.
“Akan
ada badai malam ini, Va Ni. Cepat katakan padaku kau di mana dan aku akan
segera ke sana,” ujar Hyun Joong seraya melepaskan sepatu kerjanya.
“Sinyal
di sini jelek sekali. Aku akan segera menghubungimu lagi nanti. Sudah, ya? Kau
istirahat saja di rumah. Aku akan pulang dengan segera,” jawab Va Ni.
“Va
Ni, kau–“
Kalimat
Hyun Joong terpotong oleh bunyi saluran telepon yang terputus. Va Ni menutup
sambungan telepon begitu saja tanpa menunggunya menyelesaikan kalimatnya.
Hyun
Joong menghidupkan sistem GPS untuk mencari posisi Va Ni saat ini. Tapi dia
tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Va Ni dalam jangkauan GPS-nya.
“Sial!”
desisnya penuh kekesalan.
.
.
.
.
.
.
.
Tiffany
sedang menyeduh kopi untuknya saat sosok Hyun Joong muncul dari kamarnya dengan
rambut hitamnya yang masih sedikit basah. Dia hanya mengenakan kaos panjang dan
celana tidur berwarna abu-abu. Kepalanya menunduk seraya mengutak-atik ponsel
di tangannya saat berjalan menuju dapur.
“Butuh
sesuatu?” tanya Tiffany, mencoba menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
Hyun Joong mendongak dari ponselnya dan tampak terkejut karena Tiffany sudah
ada di sana.
“A,
tidak perlu,” jawab Hyun Joong, seraya kembali mengotak-atik ponselnya.
“Aku
sudah membuatkan sup wortel untukmu,” kata Tiffany.
Hyun
Joong kembali mendongak dan kini menatapnya dengan tatapan heran sekaligus
kaget.
“Kau
bisa memasak?” tanyanya, dengan nada sedikit tak percaya.
“Penampilan
seseorang kadang menipu kan? Aku bisa memasak, tentu saja. Dan cukup enak,
kalau kau mau mencoba. Va Ni-ssi bilang kalau kau ingin makan sup ayam dengan
banyak wortel,” ujar Tiffany.
Hyun
Joong tidak menjawab dan hanya mengedikkan bahunya.
“Baiklah,
nanti aku akan mencobanya,” katanya seraya berjalan menuju lemari es.
“Apa
tidak ada kabar dari Va Ni-ssi? Sepertinya di luar sudah mulai badai,” kata
Tiffany, seraya meneguk kopinya. Hyun Joong menghela napas panjang.
“Ponselnya
sama sekali tidak bisa dihubungi,” jawabnya dengan nada cemas. Meskipun
ekspresi wajahnya masih kelihatan datar, tapi nada suaranya dan kilat di
matanya tidak bisa disembunyikan. Dia sangat mencemaskan istrinya.
“Va
Ni-ssi bilang kalau dia akan baik-baik saja kan? Aku harap sekarang dia juga
baik-baik saja di suatu tempat,” ujar Tiffany.
“Yah,
aku rasa begitu,” sahut Hyun Joong.
“Mau
aku buatkan kopi untuk sedikit menenangkan pikiranmu?” tanya Tiffany.
“Boleh.
Aku akan ke ruang tengah,” jawab Hyun Joong seraya berjalan meninggalkan
Tiffany di dapur.
Sepeninggal
Hyun Joong, Tiffany segera merogoh saku bajunya. Dia menggenggam sebuah botol
kecil transparan yang berisi serbuk putih. Tiffany menatap botol itu dengan
pandangan yang sulit diartikan.
Ini
adalah pertama kalinya dia melakukan hal ini. Sebelumnya, walaupun pekerjaannya
memang melayani hasrat birahi para laki-laki hidung belang, tapi Tiffany tidak
pernah berbuat selicik ini. Dia tidak pernah memasukkan obat perangsang ke
dalam minuman mereka agar mereka terangsang padanya. Mereka yang datang kepadanya
dengan sukarela. Dan membayarnya dengan sukarela juga.
Tapi
kali ini, dia harus melakukan hal ini pada laki-laki yang sudah membayarnya
sangat mahal itu.
Entah
kenapa dia tidak tega melakukannya.
Dia
sudah tinggal selama satu bulan dengan pasangan suami istri itu di sini, tanpa
melewatkan seharipun kehidupan mereka di apartemen ini. Awalnya dia memang
bilang senang-senang saja saat ditawari uang sebanyak itu untuk melahirkan anak
Hyun Joong. Dia menyukai uang banyak dan dia suka berfoya-foya dengan uang itu.
Dia tidak butuh suami maupun keluarga selama dia bisa membeli apapun dengan
uang-uang itu.
Tapi
setelah dia tinggal di rumah ini, dia merasa kalau kehidupan yang dijalaninya
selama ini tidak lebih dari kekosongan belaka. Dia melihat sosok Hyun Joong
sebagai suami yang selalu melindungi istrinya dan sosok Va Ni sebagai istri
penurut yang melakukan apa saja untuk suaminya. Mereka berdua adalah gambaran
keluarga bahagia yang selalu dilihatnya di televisi dan dibacanya di beberapa
novel romantis. Dan tanpa terasa, Tiffany menyadari kalau dia merindukan
kehidupan yang seperti itu.
Dia
butuh suami seperti Kim Hyun Joong. Dia ingin menjadi seorang istri seperti Va
Ni. Dan bukannya seorang pelacur kelas tinggi yang selalu melayani para pria
kesepian dan hidung belang setiap malam dan berfoya-foya dengan uang hasil
kerjanya itu. Dia lelah dengan semua itu. Dia menginginkan kehidupan yang lebih
baik.
Dan
saat Va Ni mengijinkannya untuk melakukan ini pagi tadi, naruninya sedikit
memberontak. Va Ni adalah wanita baik-baik yang tidak pernah memandangnya
sebelah mata meskipun dia tahu kalau profesinya adalah sebagai wanita penggoda.
Selama tinggal di apartemen ini, Va Ni selalu menganggapnya sebagai rekan kerja
dan sering meminta saran untuk beberapa hal yang tidak dia mengerti. Tiffany mengerti
sedikit Bahasa Inggris, dan Va Ni yang lulusan bahasa asing sering mengajaknya
berbagi tentang pengetahuan bahasa asing. Rasanya aneh sekali kalau dia harus
melakukan ini sementara Va Ni tidak ada di sini. Dia seperti pengkhianat busuk.
Tapi
di sisi lain, dia juga menyukai Hyun Joong. Ya, dia tidak menampiknya. Dia
menyukai pria itu dari awal pertemuan mereka. Hyun Joong tidak sama dengan pria
lain yang dia temui. Dia menghargai Tiffany sebagai seorang wanita dan bukannya
sebagai seorang wanita malam rendahan. Dia mengantarkan Tiffany pulang ke
apartemennya setelah mereka pergi berbelanja segala kebutuhannya sehari sebelum
keberangkatan mereka ke Inggris. Hyun Joong bilang kalau dia tidak akan
membiarkan seorang wanita pulang malam sendirian. Dan saat itulah Tiffany
menyadari kalau tidak semua laki-laki itu brengsek seperti para pelanggannya.
Hyun Joong berbeda dan Tiffany menyukainya.
Tapi
dia tahu kalau laki-laki itu tidak akan pernah menyukainya. Dia sangat
mencintai istrinya dan tidak akan berpaling dari istrinya apapun yang terjadi.
Dan itu sangat menyakitkan sekali untuk Tiffany. Dia tahu keberadaannya di sini
hanyalah sebatas kontrak kerja. Setelah kontrak selesai, dia harus pergi dari
rumah ini. Bisakah dia melakukan itu?
Tiffany
menggenggam erat botol minuman yang dia pegang.
‘Hanya
malam ini saja.. Ijinkan aku merasakan cinta dari orang yang aku sukai,’ batin
Tiffany.
Dia
membuka botol berisi serbuk itu ke dalam cangkir yang sudah berisi kopi hitam
yang masih mengepul dan menuangkannya ke dalam cangkir.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hyun
Joong menyandarkan kepalanya pada sandara sofa yang ada di belakangnya.
Kepalanya jadi pusing sekali dengan tiba-tiba. Rasanya ada yang meremas-remas
otak di dalam kepalanya dengan tangan yang kuat sekali. Dan nafasnya jadi
sedikit terengah tanpa alasan.
‘Apa
yang terjadi padaku? Kenapa aku jadi tidak enak badan tiba-tiba seperti ini?’
batinnya seraya meremas rambutnya.
Tubuhnya
mulai memanas dan ada yang meledak-ledak dalam dirinya. Hyun Joong tidak bisa
menjelaskannya dengan detail. Tapi dia merasa seluruh tubuhnya saat ini seperti
sedang terkena sengatan listrik dengan voltage tinggi.
Hyun
Joong akhirnya bangkit dari sofa dengan tubuh terhuyung. Dia berjalan menuju
kamarnya dengan mata setengah terpejam.
‘Ya,
Tuhan. Apa yang terjadi padaku?’ batinnya.
Dia
membuka pintu kamarnya dengan napas memburu. Tubuhnya semakin memanas dan dia
tahu sensasi apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Dia
butuh Va Ni saat ini.
Hyun
Joong merasakan pandangannya mulai mengabur dan dia harus menyandarkan tubuhnya
pada dinding kamarnya agar tubuhnya tidak terjatuh.
“Oppa?”
Sebuah
suara lembut terdengar samar di dekatnya. Hyun Joong mendongakkan kepalanya dan
memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa yang baru saja berbicara
itu.
“Oppa?
Kau tidak apa-apa?” tanya suara itu lagi.
Hyun
Joong melihat siluet seseorang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini.
Indra penciuman Hyun Joong mencium sesuatu yang sangat dikenalnya. Parfum Va
Ni. Aroma buah cherry yang selalu menguar dari tubuhnya.
“Va
Ni?” panggil Hyun Joong dengan suara sesak.
Matanya
menangkap sosok wanita yang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Hyun
Joong mengenalnya. Lingerie berwarna merah muda yang melekat pada tubuh wanita
itu, membuat tubuhnya semakin menegang. Wanita berbalut lingerie merah muda itu
berjalan menghampirinya.
“Apa
yang kau inginkan, oppa?” suaranya semakin dekat di telinga Hyun Joong.
“Va
Ni, itu kau?” tanya Hyun Joong.
“Ya,
ini aku,” jawab suara itu. Hyun Joong merasakan sebuah tangan mengusap wajahnya
dengan lembut dan itu membuat saraf di seluruh tubuhnya semakin menegang.
Darahnya mulai mendidih dan yang lebih parah, sesuatu dalam tubuhnya seolah
mendesak ingin segera keluar.
Dengan
gerakan gesit, kedua tangan Hyun Joong langsung mengunci wajah wanita di
depannya dan langsung mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir wanita itu. Dia
mencium bibir itu dengan gerakan penuh hasrat. Sementara wanita itu mengikuti
setiap gerakan bibirnya tanpa kesulitan dan mulai menyentuh beberapa bagian
tubuh Hyun Joong dengan tangan lentiknya. Tubuh Hyun Joong semakin menegang
hebat dan napasnya semakin menderu.
Dia
meraih tubuh setengah telanjang wanita itu dan menghempaskannya di atas ranjang
yang berada di dekatnya. Terdengar pekikan kaget yang keluar dari bibir wanita
itu.
Hyun
Joong langsung menghentikan gerakannya. Meskipun hasratnya sedang tidak
terbendung saat ini, tapi dia masih bisa menggunakan akal sehatnya. Dia
mengabaikan gelora yang semakin memanas di tubuhnya dan menatap wanita yang
kini ada di bawah tubuhnya dengan tatapan tajam. Kedua dahinya berkerut menatap
sosok wanita itu dengan seksama.
Hyun
Joong mengerjapkan matanya beberapa kali sampai matanya bisa melihat dengan
lebih jelas apa yang ada di hadapannya saat ini. Saat matanya menangkap helaian
rambut berwarna merah menyala, dia langsung tersentak.
Kedua
matanya membulat dan Hyun Joong segera turun dari ranjang.
“Apa
yang kau lakukan di sini? Dan kenapa kau mengenakan–?” kalimat Hyun Joong
terhenti saat dia bisa melihat lebih jelas apa yang ada di hadapannya saat ini.
Tiffany
mengenakan lingerie milik Va Ni yang memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya
dan dia kelihatan seksi sekali.
‘Sialan!’
desis Hyun Joong seraya berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.
“Keluar dari kamarku sebelum terjadi sesuatu!”
seru Hyun Joong seraya menutup pintu kamar mandi sampai menimbulkan bunyi
berdebam keras.
.
.
Ada
rasa kecewa saat Tiffany melihat laki-laki itu berjalan membelakanginya dan
menghilang di balik pintu kamar mandi. Yang lebih menyakitkan adalah caranya
melihatnya dengan tatapan luar biasa kaget saat menyadari kalau yang sedang
dicumbunya adalah Tiffany dan bukannya istrinya. Tiffany merasakan ada yang
menohok ulu hatinya saat Hyun Joong menyuruhnya untuk keluar dari kamar ini.
Rasanya menyesakkan sekali. Bahkan saat dirinya sedang dikuasai hasrat
menggebu, dia masih teringat dengan istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Va
Ni berkali-kali menghela napas panjang dan meyakinkan dirinya sendiri kalau
semua akan baik-baik saja saat dia tiba di apartemennya pagi ini. Dia terpaksa
menginap di salah satu gereja di dekat swalayan tempatnya berbelanja karena
badai benar-benar tidak bisa diterobos. Dia sudah berniat akan menyewa hotel
murah untuk semalam, tapi ternyata keadaan sangat tidak memungkinkan. Sepanjang
malam dia mematikan teleponnya dan sebisa mungkin untnuk tidak memikirkan apa yang
sedang dilakukan suaminya dengan Tiffany. Dia terluka, tentu saja. Dan dia juga
menangis karena merasa dikhianati. Tapi bukankah ini adalah keputusannya
sendiri? Jadi, dia harus tetap tegar apapun yang terjadi.
Pintu
apartemen segera terbuka setelah Va Ni memencet bel satu kali. Hyun Joong yang
membukakan pintu. Penampilannya sudah kelihatan rapi sekali.
“Selamat
pagi, oppa,” sapa Va Ni ramah. Wajah Hyun Joong mengeras dan
pandangannya menatap Va Ni dengan tatapan tajam. Dia tidak mengatakan apa-apa
untuk beberapa saat dan langsung menarik lengan Va Ni masuk ke dalam apartemen
dengan kasar.
“Oppa,
apa yang –?”
Kalimat
Va Ni terpotong saat dia merasakan sesuatu yang hangat dan basah menempel di
bibirnya. Va Ni terbelalak kaget saat menyadari kalau Hyun Joong sedang
menciumnya saat ini.
“Apa
yang kau lakukan.. sampai tidak pulang, hah?” tanya Hyun Joong, tanpa
melepaskan ciumannya pada bibir Va Ni. Hyun Joong mengecup bibir Va Ni berkali-kali.
“Ada...
badai-mph,” jawab Va Ni. Hyun Joong mulai menggunakan lidahnya untuk mencumbu
bibir Va Ni dengan gerakan tak terkendali.
“Aku
bilang akan menjemputmu kan?” desis Hyun Joong, di sela-sela pagutannya.
Va
Ni tidak menjawab. Dia tidak bisa menjawab tepatnya. Ciuman Hyun Joong semakin
liar dan panas. Lidahnya mulai membelit lidah Va Ni di dalam mulutnya seolah
tidak ingin melepaskannya. Va Ni berkali-kali memukul dadanya untuk
melepaskannya karena dia belum siap dan napasnya sudah hampir habis.
Hyun
Joong akhirnya melepaskan ciumannya dan menatap Va Ni dengan tatapan kesal.
Nafas keduanya mulai menderu tak teratur.
“Kita
harus bicara,” ujar Hyun Joong seraya menarik tangan Va Ni ke dalam. Dia
melewati Tiffany yang baru saja keluar dari kamarnya dengan mengenakan piyama
musim dingin. Tiffany menatap mereka dengan tatapan bingung. Va Ni sama
bingungnya dengannya. Kenapa Tiffany baru keluar dari kamarnya sendiri dan
mengenakan piyama musim dingin seperti itu?
Belum
sempat Va Ni bertanya pada Tiffany, Hyun Joong sudah menariknya ke dalam kamar
dan menutup pintu kamar dengan keras. Hyun Joong melemparkan tubuh Va Ni ke
atas ranjang.
“Apa
yang kau lakukan, oppa?” tanya Va Ni, dengan nada kaget sekaligus takut.
“Seharusnya
aku yang bertanya seperti itu padamu, Va Ni. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau
pergi semalam ? Kau melakukannya dengan sengaja kan?” Hyun Joong kini menatapnya
dengan tajam. Kedua matanya sama sekali tidak beralih dari tubuh Va Ni yang
kini terduduk di tepi ranjang dengan sikap kikuk.
Sementara
Va Ni hanya terdiam untuk beberapa saat.
“Demi
kebaikan kita semua. Kau tidak akan bisa melakukannya kalau ada aku di sini,”
katanya kemudian.
Hyun
Joong berjalan menghampiri Va Ni. Dia mendudukkan dirinya untuk berhadapan
dengan Va Ni.
“Aku
hampir melakukannya, Va Ni. Aku hampir... mencumbunya di ranjang ini. Apa kau
tahu? Aku sudah kehilangan akal sehatku dan aku pikir itu kau,” ujar Hyun
Joong.
Va
Ni mendongak dan menatap Hyun Joong dengan dahi berkerut.
“Kalian
tidak jadi melakukannya?” tanyanya. Antara lega dan kecewa.
“Hampir.
Kalau dia tidak berteriak dan membuatku tersadar, aku bisa kehilangan kendali
dan bercinta dengannya semalaman di ranjang ini,” kata Hyun Joong.
Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik.
“Oppa,
tapi kau–“ Va Ni menghentikan
kalimatnya.
“Kau
tahu apa yang aku lakukan setelah itu? Aku terpaksa membuat diriku orgasme
sendiri dengan membayangkan wajahmu karena aku tidak mungkin menyentuh wanita
itu. Apa wanita itu memberi obat perangsang dalam minumanku?” Hyun Joong
mengerutkan dahinya.
Va
Ni tidak menjawab dan hanya menggigit bibir bawahnya dengan gugup.
“Kau
yang menyuruhnya?” tanya Hyun Joong dengan pandangan penuh selidik.
“Karena
aku pikir, hanya itu cara yang akan berhasil membuatmu... melakukannya,” jawab
Va Ni dengan suara lirih.
“Astaga!
Aku tidak peduli dengan itu. Aku tidak bisa melakukannya dengan wanita lain dan
aku tidak akan pernah melakukan itu lagi. Sudah cukup sampai di sini,” ujar
Hyun Joong dengan geram.
“Tapi
kontraknya...”
“Aku
akan tetap membayar wanita itu sesuai dengan perjanjian,” timpal Hyun Joong.
Va
Ni menatapnya dengan tatapan sayu.
“Tapi
kau tidak akan pernah memiliki keturunan dariku. Dan orangtua kita...” Va Ni
tidak melanjutkan perkataannya. Terlalu menyakitkan mengingat hal itu.
Hyun
Joong menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Dia meraih tangan Va Ni
dan menggenggamnya dengan erat.
“Kita
akan jujur pada mereka. Memang seharusnya ini yang harus kita katakan pada
mereka dari awal kan? Sama saja kita membohongi mereka kalau kita tetap
melanjutkan ini,” kata Hyun Joong.
Va
Ni menunduk.
“Aku
takut... Orangtuamu akan...”
Hyun
Joong mengeratkan genggamannya pada tangan Va Ni.
“Kita
akan melewati ini bersama-sama,” katanya kemudian.
Va
Ni tidak mengatakan apapun lagi. Dadanya rasanya sesak sekali saat ini. Dia
memang menginginkan seorang anak dari Hyun Joong, tapi dia juga tidak yakin
dirinya akan sanggup membesarkan anak Hyun Joong dari seorang perempuan lain.
Meskipun kelihatannya mudah, tetap saja hubungan anak dan ibu kandung tidak
bisa dihapuskan selamanya. Anak itu tetap bukan anaknya. Dan itu sedikit tidak
adil untuknya.
“Kita
akan mengadopsi anak,” ujar Hyun Joong kemudian.
Va
Ni mendongak untuk menatapnya. Matanya mengerjap menatap Hyun Joong yang saat
ini menatapnya dengan tatapan lembut.
“Adil,
kan? Bukan dariku maupun darimu. Tapi anak orang lain yang akan kita besarkan
bersama. Anak itu akan menjadi anak kita selamanya,” lanjut Hyun Joong.
Va
Ni mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya sebuah senyum lega
tampak di wajahnya. Akhirnya dia tidak perlu mengeluarkan apa yang menjadi
ganjalannya akhir-akhir ini. Hyun Joong sendiri yang mengatakannya dan secara
tidak sadar, perasaan mereka terhubung karena itu.
“Aku
mencintaimu,” kata Va Ni seraya berhambur untuk memeluk tubuh Hyun Joong. Dia
melingkarkan kedua tangannya mengelilingi pinggang Hyun Joong dan membenamkan
wajahnya di dada bidang Hyun Joong.
Hyun
Joong balas merengkuhnya.
“Tapi
kau harus membayarku karena sudah membuatku menderita semalaman,” kata Hyun
Joong.
Va
Ni mendongakkan kepalanya untuk menatap langsung wajah Hyun Joong dengan
ekspresi bingung.
“Apa?”
tanyanya. Kedua mata hijau emerald-nya yang besar itu tampak lucu sekali kalau
sedang menatap Hyun Joong dengan tatapan polos seperti itu.
“Aku
seperti pria putus asa yang tidak punya kekasih karena melakukan itu
sendirian,” jawab Hyun Joong.
“Ja-jadi?”
Va Ni mulai mencium ada yang tidak beres dalam nada suara Hyun Joong.
“Jadi...”
Hyun Joong merebahkan tubuh Va Ni dengan sedikit memaksa ke atas ranjang.
“Sekarang giliranmu memuaskanku,” lanjutnya dengan suara desahan yang membuat
tubuh Va Ni bergidik geli.
“Kau
harus masuk kerja,” kata Va Ni dengan nada mengingatkan.
“Aku
bisa ijin sehari,” sahut Hyun Joong tidak mau tahu. Dia mendekap tubuh Va Ni ke
dalam tubuhnya. Membanmakan wajahnya ke dada Va Ni dan menikmati aroma yang
menguar dari tubuh istrinya itu.
“Pintunya
belum dikunci.”
“Biarkan
saja.”
.
.
.
.
.
.
“Kau
akan mengatakan padanya hari ini kan?” tanya Va Ni yang sedang menyiapkan
sarapan untuk Hyun Joong.
“Hm,”
Hyun Joong yang duduk di depannya sambil memeriksa ponselnya hanya menjawabnya
dengan dengusan pelan.
“Jangan
hanya menjawab seperti itu. Kau kelihatan menyebalkan sekali kalau sudah
seperti itu,” kata Va Ni seraya menaruh secangkir kopi panas di depan Hyun
Joong.
“Ya,
istriku sayang,” ujar Hyun Joong, seraya mendongak dari ponselnya dan menatap
Va Ni.
“Sebenarnya
apa yang kau lihat sejak tadi? Apa pekerjaanmu menjadi sepenting itu sekarang?”
tanya Va Ni, dengan nada setengah kesal.
Hyun
Joong menatapnya dengan pandangan heran.
“Ada
apa denganmu akhir-akhir ini? Kau jadi sering marah-marah tanpa alasan,” kata
Hyun Joong seraya menyeruput kopinya. “Oh, ya, kau sudah jadi pergi ke dokter?”
tanyanya.
“Aku
sudah minum obat. Aku rasa maagku kambuh,” jawab Va Ni seraya duduk di samping
Hyun Joong.
“Jangan
disepelekan. Cepat periksakan. Kalau sampai ada apa-apa bisa bahaya kan?” kata
Hyun Joong.
“Baiklah,”
sahut Va Ni. “Asal kau menemaniku.”
Hyun
Joong kembali menatap Va Ni dengan tatapan bingung.
“Biasanya
kau akan pergi sendiri. Tumben kau memintaku menemaniku,” katanya.
“Jadi
kau tidak mau?” Va Ni menatap Hyun Joong dengan tatapan protes.
“Bukan
begitu. Baiklah, baiklah. Aku akan ijin untuk pulang lebih awal nanti. Setelah
itu kita pergi ke dokter,” kata Hyun Joong.
Va
Ni tersenyum ke arahnya.
“Terimakasih,
oppa,” katanya seraya mengecup bibir Hyun Joong.
Tapi
saat hidungnya mencium bau parfum yang dipakai Hyun Joong, dia merasakan
perutnya tiba-tiba mual. Seperti ada yang mengaduk-ngaduk isi perutnya dengan
cepat sekali.
Va
Ni segera turun dari kursinya dan berlari menuju kamar mandi dengan tangan
menutup mulutnya.
Dahi
Hyun Joong berkerut saat dia mendengar suara muntahan Va Ni dari dalam kamar
mandi. Dia turun dari kursinya dan menyusul Va Ni dengan cemas.
“Ada
apa?” tanyanya dengan suara cemas saat melihat Va Ni sedang menunduk di atas
wastafel seraya berusaha memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya.
“Aku
tidak tahu–“ kalimat Va Ni terhenti saat dia kembali memuntahkan sesuatu ke
dalam wastafel.
“Dia seperti itu terus akhir-akhir ini,”
Tiffany tiba-tiba muncul di belakang Hyun Joong. Hyun Joong menatap penampilannya
dengan dahi berkerut. Tiffany tampak rapi sekali dengan rambut yang sudah
diikat ke belakang dan baju bepergian dengan warna ungu muda.
Dia
ingin menanyakan kenapa Tiffany berpakaian seperti itu, saat suara Va Ni yang
hampir muntah kembali terdengar.
“Benarkah?”
tanya Hyun Joong kepada Tiffany.
Tiffany
mengedikkan bahunya.
“Mungkin
kalian perlu pergi ke dokter untuk memeriksakannya. Mungkin dia hamil,” kata
Tiffany dengan nada enteng. Hyun Joong menggeleng pelan.
“Tapi
dokter bilang kalau...”
“Dokter
tidak bilang kalau dia mengangkat semua kantung ovariumnya kan? Katamu dokternya
bilang kalau Va Ni-ssi tidak bisa hamil lagi. Tapi kalau masih ada satu kantung
yang belum diambil, kemungkinan dia hamil bisa saja terjadi,” terang Tiffany
panjang lebar.
Hyun
Joong menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
“Saranku,
segera periksakan saja sebelum semua terlambat lagi,” kata Tiffany, seraya
berbalik dan meninggalkan mereka berdua.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Selamat.
Anda hamil. Usianya sudah empat minggu.”
Butuh
waktu beberapa lama bagi otak Va Ni untuk mencerna kalimat itu dan
memprosesnya. Barulah saat dokter cantik di depannya itu mengulurkan lembar USG
kepadanya, Va Ni segera tersadar dari lamunannya. Dari foto hitam putih yang
tampak absurd itu, dia bisa melihat sesuatu berbentuk gumpalan kecil yang mirip
kacang polong ada di tengah-tengahnya.
Va
Ni keluar dari ruangan dokter itu dengan pikiran masih setengah tak sadar.
Dia
tidak mempercayai ini. Ada janin dalam perutnya.
“Va
Ni?” suara Hyun Joong yang ada di dekatnya membuatnya tersadar.
Va
Ni menoleh ke arah Hyun Joong dengan mata yang sudah basah. Dia tidak tahan
lagi untuk tidak menangis. Ini benar-benar kejutan untuknya. Kejutan yang tidak
pernah dia duga sebelumnya. Sebelumnya dia selalu percaya kalau dirinya tidak
akan bisa hamil lagi. Dia tidak akan bisa mengandung dan melahirkan seorang
anak dari rahimnya. Tapi hari ini, kepercayaannya itu runtuh begitu saja.
“Positif,
oppa. Aku benar-benar mengandung. Aku mengandung anak kita!” kata Va Ni
dengan nada antusias. Dia memeluk tubuh Hyun Joong dengan tidak sabar.
Kebahagiaannya seakan meluap tak terkendali dan dia ingin membaginya dengan
orang lain saat ini juga. Hyun Joong balas memeluknya dengan erat. Dia sama
kagetnya dengan Va Ni saat ini.
“Aku
akan jadi ibu!” Va Ni hampir melompat bahagia saking senangnya.
“Va
Ni, hentikan!” Hyun Joong segera menahan tubuh Va Ni sebelum Va Ni benar-benar
melompat karena bahagia.
“Aku
tidak sedang bermimpi kan?” Va Ni menangkupkan kedua tangannya di kedua sisi
wajah Hyun Joong.
“Tidak.
Ini kenyataan. Kita akan jadi orangtua,” jawab Hyun Joong. Dia tersenyum.
Senyum paling lebar yang pernah dilihat Va Ni selama ini.
Hyun
Joong lalu menundukkan tubuhnya dan meletakkan telinganya di atas perut Va Ni
yang masih rata.
“Halo.
Cepat besar, ya? Papa menunggumu lahir,” kata Hyun Joong.
Va
Ni terkikik geli.
“Dia
masih sebesar kacang polong. Belum punya mata dan telinga. Mana mungkin dia
mendengarmu,” kata Va Ni.
Hyun
Joong kembali berdiri dan menatap wajah Va Ni dengan tatapan intens.
“Va
Ni...”
“Ehem.
Maaf menganggu kebahagiaan kecil kalian.”
Sebuah
suara yang tidak asing terdengar di dekat mereka dan mau tidak mau membuat Va
Ni maupun Hyun Joong menoleh ke arahnya. Tiffany berdiri tak jauh dari tempat
mereka berdiri.
“Jadi..
Selamat atas kehamilanmu, Va Ni-ssi,” ujar Tiffany seraya berjalan mendekati
mereka dengan langkah pelan.
“Terimakasih
karena kau menyarankan kami untuk segera datang ke sini. Walaupun awalnya aku
kaget karena kau tahu hal seperti itu,” kata Va Ni.
Tiffany
terkekeh.
“Untuk
wanita sepertiku kan? Memang mengagetkan, ya? Aku pernah kuliah di jurusan k
edokteran.. mm, beberapa tahun yang. Jadi aku sedikit tahu
tentang hal itu,” katanya. Raut wajahnya menjadi sedikit muram saat mengatakan
itu.
Va
Ni mengangkat alisnya.
“Yah,
aku tahu kau pasti akan bertanya kenapa aku bisa bekerja menjadi... wanita
malam seperti sekarang. Ceritanya panjang dan aku rasa tidak cukup untuk
menceritakannya karena pesawatku akan berangkat satu jam lagi,” kata Tiffany.
Va
Ni mengernyitkan dahi menatapnya.
“Pesawat?”
tanyanya.
Tiffany
mengangguk.
“Ya,
pesawat. Aku akan kembali ke Korea dan... memulai kehidupan baru di sana,”
jawabnya kemudian.
“Tapi..
kenapa tiba-tiba sekali?” Va Ni menatapnya bingung.
“Tidak
tiba-tiba. Aku sudah merencanakannya sejak beberapa hari yang lalu. Sejak kau
mulai menunjukkan gejala-gejala wanita hamil, saat itulah aku merasa kalau aku
sudah tidak dibutuhkan lagi di apartemen kalian,” terang Tiffany.
Va
Ni tidak segera menyahut. Dia menoleh ke arah Hyun Joong yang hanya menatap
Tiffany dengan wajah datar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hubungannya
dengan Tiffany menjadi lebih kaku semenjak malam itu. Dia benar-benar
menghindari untuk bertatap muka dengan Tiffany maupun berada dalam satu ruangan
dengan wanita itu.
“Tapi
kontraknya...”
“Anggap
saja, kontraknya sudah habis. Lagipula, aku tidak melakukan apapun kan? Aku
hanya menumpang di apartemen kalian. Makan, tidur, melamun... Hanya itu yang
aku lakukan sepanjang hari,” kata Tiffany.
“Aku
tetap akan memberimu uang sesuai perjanjian kita,” ujar Hyun Joong.
Tiffany
tertawa pelan.
“Aku
rasa aku tidak berhak menerima uang itu selagi aku tidak berhasil melakukan
apapun,” katanya.
“Perjanjian
tetap perjanjian. Aku akan mengirimkan uang ke rekeningmu setelah ini,” ujar
Hyun Joong.
Tiffany
akhirnya angkat bahu.
“Baiklah,
kalau kalian memaksa,” katanya kemudian.
“Jadi,
Tiffany-ssi.. Terimakasih karena kau sudah meluangkan waktumu untuk kami selama
ini. Aku minta maaf kalau ada hal-hal yang membuatmu merasa tidak enak selama
ini. Kau orang baik. Aku harap kau dapat kehidupan yang lebih layak dari ini,”
ujar Va Ni panjang lebar.
Tiffany
tersenyum pada mereka.
“Seharusnya
aku yang berterimakasih pada kalian. Kalian mengajarkan cinta yang tulus
padaku. Tidak ada wanita yang setegar Va Ni-ssi yang rela melihat suaminya bercinta
dengan orang lain. Dan kau, Hyun Joong-ssi, kau benar-benar hebat bisa
mengendalikan hasratmu saat itu. Kau sangat mencintai istrimu sampai tidak bisa
melakukannya degan orang lain. Aku benar-benar salut dengan kalian. Dan aku
harap, anak kalian akan lahir dan tumbuh dengan sehat nanti,” ujar Tiffany.
Va
Ni balas tersenyum padanya.
“Semoga
perjalananmu menyenangkan dan kau sampai tujuan dengan selamat,” katanya.
Tiffany
melambaikan tangan pada mereka sebelum akhirnya berbalik pergi dan berjalan menyusuri
lorong rumah sakit.
“Setelah
ini pasti akan sepi, ya?” gumam Va Ni.
“Aku
rasa tidak. Anak ini pasti akan sedikit merepotkan beberapa bulan ini,” kata
Hyun Joong seraya mengusap perut Va Ni dengan lembut.
“Jadi,
kau mau bilang kalau aku merepotkan?” tanya Va Ni dengan nada protes.
Hyun
Joong hanya menggeleng seraya membawa Va Ni pergi dari tempat itu. Wanita hamil
akan benar-benar merepotkan kan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
EPILOG
Lorong
rumah sakit itu terlihat sibuk dengan adanya beberapa orang yang berlalu lalang
sambil membawa beberapa peralatan. Ada juga beberapa pasien yang sekedar
berjalan-jalan untuk menghindari kejenuhan.
Dua
orang perawat tampak membawa sebuah tempat tidur dorong dengan seorang pasien
hamil di atasnya. Beberapa orang yang mengikutinya di belakang tampak sama
cemasnya dengan pasien yang sedang berusaha menahan sakit di atas tempat tidur
dorong itu.
“Bertahanlah,
Va Ni!” kata seorang perempuan paruh baya yang berjalan mengikuti para perawat
mendorong pasien itu.
Wanita
muda yang ada di atas ranjang dorong itu hanya bisa mengatur napasnya
berkali-kali untuk mengurangi rasa sakit yang kini berpusat di pangkal pahanya.
Keringat sudah membasahi hampir seluruh tubuhnya karena dia menahan sakit sejak
tadi.
“Kau
sudah menghubungi Joongie, Suamiku?” tanya perempuan paruh baya itu.
“Hyun
Joong sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi mungkin dia akan sampai,” jawab
laki-laki paruh itu itu.
Perawat
sampai di depan sebuah ruang persalinan dan langsung disambut dengan beberapa
perawat lain.
“Mohon
kerabat menunggu di luar ruangan,” kata salah satu perawat saat ranjang dorong
itu sudah dimasukkan ke dalam ruang persalinan.
“Siapa
yang bertanggung jawab di sini?” tanya salah seorang perawat yang wajahnya
ditutup masker.
“Saya!”
jawab seseorang yang baru muncul di ruangan itu.
Seseorang
berpakaian dokter lengkap dengan masker dan penutup kepala, segera bergabung di
meja persalinan. Rambut hitamnya tampak mencuat dari penutup kepalanya.
Kedua
mata coklatnya yang lentik menatap pasien di depannya dengan tatapan kaget.
Va
Ni yang menyadari hal itu ikut membelalakkan matanya.
“Tiffany-ssi?”
tanyanya kaget. Tiffany tersenyum ke arahnya, meskipun percuma karena wajahnya
tertutupi masker saat ini. Tapi kedua matanya yang menyipit itu menandakan dia
sedang tersenyum ke arahnya.
“Senang
berjumpa denganmu lagi. Kau siap? Agak menyakitkan memang. Kau bisa menahannya
kan? Akan segera kami mulai persalinannya,” kata Tiffany.
Va
Ni mengangguk. Dia memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Dia sudah
siap menerima resiko apapun.
‘Jadilah
anak baik dan keluarlah dengan tenang, Nak,’ batin Va Ni seraya meremas sprei
di bawahnya begitu dia merasakan dorongan itu kembali mendesak keluar.
.
.
.
.
.
.
SELESAI dengan agak mekso ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar